• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Seandainya Saya Seorang Guru

Seandainya sekarang saya seorang guru di sekolah dan boleh memilih, saya lebih suka mengajar di Play Group atateacheru TK. Tapi karena sudah tak leluasa lagi memanggil anak-anak balita dan baseta “Adik-adik …”, jika mengajar di SD/ SMP/ SMA, saya ingin mengampu Pendidikan Seni atau Bahasa. Mengapa? Saya suka membantu orang lain bahagia, sejahtera. Lebih dari itu, pendidikan seharusnya memang sesuatu yang menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan. Saya sudah mengalami sulitnya menyenangkan, membuat murid asyik dan berpikir cerdas ketika mengajarkan Tata Negara, apalagi PPKn! Padahal, salah satu prasyarat negara demokratis adalah pendidikan kewarganegaraan (Civics Education). Kepada teman-teman muda saya yang sering mengritik “Pak, kita kok belajar teori melulu? Kapan praktiknya? Di sini kita bicara tentang hal-hal ideal, padahal kenyataan dalam masyarakat bangsa dan negara tak seperti itu!” saya sering terpaksa mengulangi sisi excuse akhir bait sebuah lagu nasional: “Itulah Indonesia …”

Maka, ketimbang membiarkan anak-anak bangsa ini frustrasi, saya membalik badan di kelas. Saya bukan pengajar, melainkan pembelajar (motivator, fasilitator), tak lebih dari teman-teman (pebelajar) kecuali kenyataan bahwa saya sudah lebih dulu lahir, belajar dan hidup. Konsekuensinya berat-ringan: jadi teladan. Maka pekerjaan guru sesungguhnya sangat melelahkan, bahkan sesekali juga bisa memalukan ketika pelakunya mau menyadari parikan “Gajah diblangkoni, wani kocah nora nglakoni”.

Konstruktivisme Ernst von Glassersfeld yang mengelaborasi diktum Giambatista Vico: “Verum ipsum factum” (Kebenaran menyatakan dirinya sendiri), maupun adagium terkenal Rene Descartes: “Cogito, ergo sum” (Aku berpikir, maka aku ada) atau ucapan senada oleh George Berkeley: “Esse est percipi” (Ada adalah akibat persepsi) menggerakkan pebelajar untuk berkolaborasi dan membentuk pengetahuan mereka sendiri guna meningkatkan aneka kompetensi untuk ‘hidup’ di era kesemrawutan global (I Nyoman S. Degeng): berpikir kreatif-produktif, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, belajar bagaimana belajar, kolaborasi, dan pengelolaan/ pengendalian diri.

Pendidikan seni mencerdaskan budi, mengasah nurani, mengelola emosi. Bahasa menunjukkan ‘bangsa’. Nah, kedua bidang itu menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan. Kompetensi rerata yang diharapkan dari pebelajar seni adalah kemampuan menikmati dan mengapresiasi seni. Yang berbakat, berminat, dan bergiat di dalamnya dapat merintis pilihan menjadi pekerja seni, bahkan seniman (sebagai sambilan maupun karir). Sementara itu, kompetensi yang diharapkan dari pebelajar Bahasa (tertentu) adalah keterampilan menggunakannya dalam masyarakat ilmiah maupun umum; berpikir, membaca, menulis dan bertutur ‘beres’ dengan bahasa yang dikuasainya.

Tetapi, dalam kurikulum kita, bidang yang lain terkesan memaksa pebelajarnya untuk menjadi ilmuwan semua, sehingga yang tak berminat atau yang berbakat beda sungguh tersiksa mempelajarinya, bersiap untuk dicap bodoh. Ironisnya, guru pada umumnya justru menjadi pengantar paket pembelajaran belaka dan tak peduli jika bungkusnya robek dan isinya tercecer di sebarang tempat, tak utuh lagi (karena begitu jugalah guru dididik dan setelah berpredikat guru justru berhenti belajar seolah-olah sudah menguasai semuanya!). Sekolah pun tak lebih dari sekadar lembaga bimbingan belajar ‘formal’. Agar mendapatkan nilai bagus (seperti diharapkan orangtua), murid harus menempuh berbagai cara. Les privat, ini, itu, atau ini dan itu atau les berjamaah di sekolah atau lembaga bimbingan belajar lain yang menawarkan ‘cara instan untuk sukses menghadapi ujian’.

Maka saya menolak untuk men-drill teman-teman muda pebelajar dengan soal-soal latihan ujian, menunjukkan jawaban yang benar menurut saya. Ketimbang berbuat begitu, karena terpaksa mengikuti arus wajib, saya lebih suka mengajak mereka menganalisis soal-soal ujian menurut pola berpikir pembuatnya. Setiap soal pilihan ganda punya indicator, sub-indicator, dan distractor. Kalimat soal standar yang mengandung negasi (tidak, bukan, kecuali) biasanya menempatkan indikator (jawaban yang dikehendaki pembuat soal) pada item pilihan terakhir (maksudnya, supaya semua pilihan dibaca). Dan seterusnya. Apakah itu menjamin mereka akan mendapatkan nilai baik? Tidak. Tetapi, terjadinya diskusi di antara mereka menurut hemat saya justru jauh lebih bermanfaat daripada menyalin jawaban yang dianggap benar oleh gurunya. Bayangkan jika soal-soal ujian yang mirip dengan latihan langsung dijawab tanpa pikir panjang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: