• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Agustus 2008
    S S R K J S M
    « Jul   Sep »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Merdeka!

Seperti mata uang, ‘merdeka’ punya dua sisi: ‘merdeka dari’ dan ‘merdeka untuk’.

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah pernyataan kemerdekaan dari aneka bentuk penjajahan oleh pihak asing yang telah berabad-abad menguasai bangsa Nusantara. Satu sisi kemerdekaan telah dicapai secara gemilang oleh bangsa Indonesia melalui keputusan cerdas para pendiri republik kita.

Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sangat singkat namun padat makna. Hanya dua kalimat operasional. Yang pertama adalah pernyataan ‘merdeka dari’ dan kalimat kedua adalah konsekuensi logis dari kalimat pertama: ‘merdeka untuk’. Jelaslah bahwa ‘merdeka dari’ saja tidak cukup. Hal-hal pemindahan kekuasaan sudah dilakukan secara seksama dan benar-benar dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bagaimana dengan frasa padat ‘dan lain-lain’?

‘Dan lain-lain’ (yang justru biasa disingkat: dll.) tak dirinci dalam Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, melainkan dalam Pembukaan UUD 1945 (alinea keempat) yang juga serba singkat. Penjabarannya sudah amat sering dipidatokan, dirumuskan dalam serangkaian Undang-Undang dan peraturan-peraturan lain di bawahnya, bahkan kini semakin gencar diiklankan dengan ongkos yang luar biasa besarnya. Namun, implementasinya justru sering membuat bangsa ini kecewa terhadap orang-orang yang berebut jadi pemimpinnya. Batas negara tergerus sedikit demi sedikit, dan yang salah hanya dibilang dedemit. Sesudah itu dilupakan tanpa pamit. Nelayan kita ditembaki di wilayah sendiri dan kapal kreditannya ditenggelamkan supaya ‘mati’ dimasukkannya sebagai salah satu pilihan masa depan. Anak bangsa yang tinggal di perbatasan merasa lebih kenal tetangga daripada saudaranya sendiri. Kesejahteraan hanya milik mereka yang mau dan mampu menggunakan akal dan pokal untuk menyiasati bangsa sendiri dengan berbagai impian yang tak pernah jadi kenyataan, mengajak terbang melayang dan lupa pijakan.

Padahal – seperti tanaman – kita memerlukan akar yang kuat menyerap untuk bisa terus bertumbuhkembang dalam kerjasama yang wajar dengan sinar mentari, sekaligus mencengkeram bumi agar tak mudah tumbang dilanda angin dan banjir bandang yang lebih sering datang karena alpa adalah penyakit kita pula. Hic et nunc, di sini dan sekarang, jarang dipandang sebagai akibat masa lampau dan sebab bagi masa depan. Para remaja pemenang berbagai olimpiade keilmuan sudah pastilah cerdas karena didampingi orangtua dan guru-guru yang bergas, bernas dan juga cerdas. Sementara itu, sebagian besar rekan-rekan mereka terpaksa baru bisa mengembangkan kecerdasan awali: bertahan hidup di antara berbagai himpitan yang mengesampingkan hak-hak mereka untuk ikut mencicipi manisnya kemerdekaan.

Sungguh, bangsa ini sudah menjadi terlalu besar (jumlahnya) untuk berbuat lebih besar (mutunya) daripada kebutuhan dasarnya. Kebijakan para pemimpinnya – formal maupun informal – lebih sering reaktif ketimbang proaktif. Dalam mengatasi masalah bangsa, kita lebih mengedepankan cara-cara provokatif ketimbang komunikatif. Jika ada pun, hari ini kita bisa bikin konsensus dan esok hari nglepus

Reproklamasi: perlukah? Mungkin kita terlalu cepat mengakhiri revolusi yang dicanangkan Bung Karno ketika kontrarevolusi dipandang sebagai oase yang sekejap menyegarkan. ‘Merdeka dari’ masih belum diimbangi ‘merdeka untuk’. Penjajahan sekian lama tampaknya masih terus dikenang sebagai keniscayaan yang sekejap lebih menenteramkan di hadapan berbagai tantangan masa depan yang penuh ketidakpastian. Sementara jalan panjang ‘merdeka untuk’ masih harus dijelajahi, sebagian dari kita sudah merasa cukup dengan upacara di lapangan dan resepsi kenegaraan.

Merdeka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: