• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Agustus 2008
    S S R K J S M
    « Jul   Sep »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Visi-Misi SMA Dempo

Non scholae, sed vitae discimus

Secara singkat dalam ilmu manajemen, visi dimaksudkan sebagai arah dasar suatu lembaga dalam mengomunikasikan keinginan dan harapan lembaga itu dengan kenyataan di lapangan. Visi mempertanyakan “What are we going?” dan atau “What the organization want to become?” sedangkan misi adalah penjabaran keberadaan lembaga itu dalam mengupayakan pemenuhan kebutuhan seluruh stakeholders. Pertanyaan dasar dalam misi adalah “Why do we exist?” Visi dan misi menyandang serangkaian nilai “What do we stand for?”, “How will we treat each other?”, “What will be the basic guidelines or decision making?”, “What will we behave toward our customers/ stakeholders?” dalam strategi yang ditetapkan untuk mencapai visi-misi-nilai tersebut.

Visi yang baik bersifat menantang, inspiratif, terjangkau oleh setiap individu yang terlibat, dalam arti positif bahkan harus menjadi self-interest, menciptakan arah, tujuan dan komitmen bersama sehingga benar-benar menjadi bagian integral dari budaya organisasi, sedapat mungkin tidak terlalu kompleks sehingga komunikatif dan mudah dipahami. Atau menurut Agus Sunario, pendiri dan CEO ITTC: jelas, membangun inspirasi dan motivasi, mudah diingat, fokus, menghasilkan leverage yang terukur.  Visi perlu pengejawantahan. Maka kalimat misi harus pula berfokus pada satu tujuan atau makna utama (one common purpose) keberadaan organisasi; spesifik pada kompetensi organisasi; sederhana dan mudah diingat (tak lebih dari satu atau dua kalimat); mencerminkan keyakinan dan nilai organisasi; memberikan makna/ misi mulia pada setiap anggota organisasi sehingga setiap anggota mau (karep), mampu (kaop), punya waktu (kober) menumbuhkembangkan komitmen dan inovasi dalam upaya kolektif mencapai tujuan organisasi. Selanjutnya, strategi pencapaian visi melalui pelaksanaan misi seharusnya juga berfokus pada sasaran yang jelas, bisa dicapai, cukup bermanfaat untuk bisa meraih hasil tertinggi dalam rentang waktu tertentu (SMART: Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Time). Efektivitas setiap bentuk kegiatan yang (semestinya) juga terorganisasi bergantung sepenuhnya pada kemampuan organisasi itu mencapai tujuannya, memenuhi kebutuhan para anggotanya, mengelola dirinya sendiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Jika gagal, organisasi itu bisa disebut tidak sehat atau belum efektif. Jika sebaliknya, ia sehat dan dapat belajar melalui serangkaian pengalamannya dan dengan demikian leluasa berubah untuk menjawab berbagai tantangan baru.

Sampai dengan pensiun, Pater E. Siswanto, O.Carm. setahu saya tak pernah mengalimatkan visi-misi SMA Katolik St.Albertus. Beliau memang dikenal bukan orang yang suka bicara. Siswanto is a talk less, do more person. Yang sesekali disebutnya hanyalah sebuah proverb abadi: “Non scholae, sed vitae discimus.” (Kita belajar bukan demi sekolah, melainkan demi kehidupan). Maka mudah dimaklumi mengapa Romo Sis tak hanya dihormati selama melaksanakan tugasnya sebagai Direktur/ Kepala Sekolah, melainkan juga dalam kehidupan alumni, kapan dan di mana pun mereka berada.

Recens (baru, segar, muda): Religius, Cendekia, Solider

Pater Michael M. Hartomo, O.Carm., pengganti Romo Sis, telah mengintroduksi visi-misi sekolah dalam rangkaian tiga kata: Religiositas, Kecendekiaan, Solidaritas. Artinya, sekolah ini hendak mengantarkan para siswanya menjadi pribadi-pribadi yang religius, cendekia dan solider. Maka dapat dipahami mengapa Romo Michael cukup memerhatikan aneka kegiatan kerohanian sekolah dengan melibatkan lebih banyak guru dan siswa, kegiatan sosial-kemasyarakatan (melalui live-in, misalnya) maupun menanting sekaligus menantang para siswa dengan: “Boleh gaya, asal sembada!” Demokratisasi yang hendak dibangunnya, misalnya mengizinkan seorang siswi yang tidak mau berpakaian seragam (dan kemudian mengalami sendiri keterasingannya) ternyata justru meresahkan sebagian orang dan mencapai puncaknya dengan pemberhentiannya sebagai Kepala Sekolah.

Sejujurnya, saya tak menyalahkannya ketika “Kalian bermental tempe!” diucapkannya kepada baik siswa maupun guru yang saat itu menunjukkan kebingungan terhadap kemauan mereka sendiri dan kebebasan yang dikembangkannya. Namun, nasi sudah jadi bubur. Ia tak mampu sendirian mengatasi berbagai keluhan yang diinventarisasi ‘orang dalam’ sebagai satu-satunya menu bagi Romo Sis, atasan langsungnya. Saya mencatatnya sebagai fallacea bahkan antinomi yang terjadi karena ketidakseimbangan komunikasih (!) di antara stakeholders SMA Dempo.

Leader in education. Education for leader.

Pater Albertus Herwanta T.W.N., MA, O.Carm. tak dimungkiri adalah seorang yang berpikiran sangat maju. Sertifikat ISO 9000:2001 (Manajemen Mutu) segera diraih SMA Katolik St.Albertus (2005). Ia memperkenalkan semboyan baru yang bombastik: Leader in education. Education for leader. Ia juga menggagas Dempo International Cooperation antara sekolah dengan alumni dan stakeholders dalam cakupan yang mendunia. Pada akhir masa kepemimpinannya, SMA Dempo adalah salah satu dari tiga RSBI di kota Malang. Sekolah ini hendak dirintisnya untuk beratribut Sekolah Ber-standar/ taraf Internasional, kendati kurikulumnya tetap nasional dan berbagai dan lain-lain dan sebagainya.

Tak berpanjang lebar lagi, kalimatisasi visi yang dinyatakannya berpedoman pada ISO 9000:2001 itu sangat kacau. Demikian pula Dempo International Cooperation yang tampak jelas disusunnya sendiri sebagai impian masa depan yang menuntut kerja keras sepanjang zaman dan tanpa sambilan. Tak kurang menyedihkan, dana hibah ratusan juta guna menjadikan SMA Dempo sebagai RSBI justru berpotensi mengubah sekolah ini seperti barang gadaian yang menuntut tebusan kalau tak ingin hilang ditelan zaman. Bagaimana implementasinya di lapangan? Ternyata kekhawatiran tentangnya bukan milik saya sendiri. Tahun lalu – dan sekarang masih bisa dijelajah di blogspot – terbit buletin Gong! yang diawaki lulusan 2007. Menurut hemat saya, isinya sangat bermanfaat untuk berperilaku lebih positif-introspektif ketimbang sekadar mengelus dada dan membatin penulisnya sebagai orang yang tak tahu berterimakasih. Saya justru berharap pencetus Gong! itu kelak akan berada di garis terdepan dalam upaya kolektif mereformasi pendidikan bangsa ini. Bagaimana pengalaman ‘orang dalam’? Silakan bertanya sendiri.

Sekarang apa?

Kepala Sekolah saat ini, Pater M.K. Agung Wahyudianto, O.Carm., barangkali bukan pilihan yang diharapkan. Mungkin ada orang lain yang sudah lama menunggu hasratnya diresmikan. Semoga hal itu tidak mengurangi semangat Romo Agung untuk mengabdikan diri beserta seluruh kemauan dan kemampuannya bagi kejayaan SMA Dempo.

Saya berharap Romo Agung banyak belajar dari para Kepala Sekolah sebelumnya, banyak membaca, mendengar dan menyaksikan aneka pengalaman orang lain dan dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas bersama: mendampingi anak-anak bangsa yang diserahkan sebagai tanggung jawab bersama pula, dan mengantar mereka untuk menjadi orang-orang yang berguna bagi masa sekarang dan masa depan keluarga masing-masing, masyarakat, bangsa dan negara maupun dunia.

Saya tak berharap Romo Agung akan terhanyut dalam gejala umum ‘ganti pejabat, ganti kebijakan’. Yang perlu dilakukannya adalah belajar untuk bisa membelajarkan rekan-rekan kerjanya sekaligus para pebelajar dalam garis dan arahan Yayasan Sancta Maria/ Ordo Karmel Provinsi Indonesia. Kalau pun harus ada perubahan, lakukanlah secara baik dan benar agar selanjutnya memudahkan siapa pun yang menerima tongkat estafet kepemimpinan SMA Dempo. Mulailah dengan menelaah visi-misi sekolah dan tetap setia kepada ruh kependidikan Ordo Karmel sambil terus menyesuaikannya dengan parameter kemajuan zaman tanpa menafikan nilai-nilai luhur yang selayaknya terus ditumbuhkembangkan demi buah-buah yang layak dibanggakan. Hindari self-interest pribadi. Jadikan visi-misi sekolah sebagai kalimat yang operasional dalam komunikasi sehari-hari dan kerja kolektif yang menginternalisasi visi-misi bersama itu sebagai self-interest bersama. “Zelo zelatus sum pro Domino Dei exercituum” (semboyan Ordo Karmel) ? Bolehlah, tapi … untuk sebuah institusi pendidikan tingkat menengah atas, cukup jelaskah?

Selamat berjuang dan sukses!

Satu Tanggapan

  1. Katolik dapat diartikan sebagai universal……mungkin pendidikan universal dapat dijadikan landasan bagi visi SMUK St. Albertus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: