• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Agustus 2008
    S S R K J S M
    « Jul   Sep »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Mengapa takut mencintai?

Seorang pembaca buku-buku rohani yang rajin suatu saat mengakui kesulitannya memahami perkataan J. Nouwens, MSC bahwa: “Love means opennes, vulnerability, availability and confession”. Cinta itu mengembangkan sikap terbuka – tanpa perisai – kesediaan dan pengakuan. Terjemahan yang diusahakan hingga kening berkerut selama beberapa saat pun ternyata tak memuaskan rasa ingin tahunya. Maka, ternyatalah bahwa mencintai itu tak semudah mengatakannya!

Betapa kita sering merasa sulit terbuka maupun menerima keterbukaan orang lain. Keterbukaan tak jarang justru menakutkan. Kejujuran bisa menyakiti. Bayangkan bagaimana suasana hati kita kalau orang yang kita cintai menyanyikan melodi indah bersyair: “Please release me, let me go, for I don’t love you anymore …” Bagaimana pula kita sanggup benar-benar melepas perisai atau topeng dalam pergaulan dengan sesama? Dalam diri kita masing-masing ada self-defence mechanism, mekanisme pembelaan diri, agar minimal kita tak terluka dan jika mungkin justru dapat membalikkan ‘serangan’ lawan. Kesediaan untuk bersikap apa adanya alias bersahaja juga sulit hinggap apalagi menetap dalam diri kita. Keterusterangan bahkan bisa dianggap sebagai kesombongan, dan tak jarang justru dialami sebagai bumerang yang memukul balik. Sekadar demi sopan santun dan jangan sampai dianggap kurang ajar atau nglamak hanya karena menyatakan ketidaksetujuan terhadap orangtua, pemimpin atau pembesar, kita sering terlalu permisif terhadap kesalahan orang lain dan apalagi diri sendiri. Sementara itu, kendati bersungut-sungut kita berusaha menjunjung tinggi kebohongan atau ketidakbenaran, seolah-olah itu adalah amanat. Mengakui kesalahan sendiri dan tidak menghembuskan napas kebohongan juga bukan suatu hal yang mudah.

Tetapi kesadaran semacam itu, nyatanya, sering tak cukup kuat untuk mendorong kita berusaha mengurangi kelemahan daging kita. Alangkah besar ketakutan kita untuk mencintai sesama, karena kita lebih suka membelenggu diri sendiri dalam ketidakbebasan. Padahal, “Cinta yang benar berarti ketidaktakutan untuk mencintai. Di dalam cinta yang benar tidak boleh ada ketakutan, sebab ketakutan menunjukkan adanya keterikatan. Sebaliknya, ketidaktakutan menandakan adanya kebebasan dari segala ketakutan luar. Hanya dalam diri orang yang bebaslah terdapat cinta yang murni, dan hanya orang yang sungguh bebaslah dapat mencintai sesama dengan benar,” kata Mahatma Gandhi.

Nah, mengapa kita takut mencintai?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: