• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Agustus 2008
    S S R K J S M
    « Jul   Sep »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Verba docent, exempla trahunt

mummyangelAda kisah mengharukan sekaligus menarik karena – konon – tokoh utamanya adalah seorang uskup, pimpinan Gereja lokal. Kisah ini tampaknya hendak menggambarkan bahwa seorang uskup pun tetap manusia biasa, yang mungkin karena rutinitas pekerjaannya atau kegiatan seremonial yang selalu mengagungkannya, ternyata justru mudah terjebak ke dalam egosentrisme, bahkan egoisme. Perasaan saya yang sangat lama sebelumnya pernah membaca dan mendengarkan perulangan cerita itu pun masih sesekali teraduk-aduk oleh getaran “Verba docent, exempla trahunt” (Perkataan – yang bijaksana – mengajarkan sesuatu, tetapi teladanlah yang memberikan makna perubahan). Perkataan seseorang yang seolah-olah bijaksana sering tak berguna dalam suatu peristiwa yang membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata.

Kisahnya begini. Seorang uskup yang saleh sedang berdoa di pelataran gereja kathedralnya. Di luar pagar ada seorang ibu yang sedang beristirahat bersama dua anaknya yang masih kecil dan bayi di dalam pelukannya yang tak berhenti menangis dengan suara keras. Si ibu dan anak-anaknya itu sibuk menghibur bayi di dalam gendongannya. Tetapi bayi itu semakin keras menangis sehingga sang uskup merasa kekhusyukan doanya terganggu. Maka ia menghampiri si ibu dan mengatakan, “Ibu, anakmu lapar. Susuilah!” Si ibu mengangguk hormat, “Iya, Bapak Uskup.” Kemudian sang uskup melanjutkan doanya.

Tetapi bayi di gendongan si ibu tak juga berhenti menangis. Sekali lagi sang uskup menghampiri mereka dan mengatakan anjuran yang sama. Dengan hormat yang tak dibuat-buat, si ibu lagi-lagi mengangguk. Namun, selagi sang uskup kembali menekuni doanya, bayi di gendongan ibu itu kembali menangis keras. Karena jengkel, sang uskup menghardik ibu itu dengan perkataan yang sama. “Bapak Uskup,” sahut si ibu dengan wajah bersimbah airmata. “saya sudah tak kuat lagi menyusuinya. Yang keluar bukan lagi air susu, melainkan darah!”

Sang uskup sangat terkejut dan jatuh berlutut di hadapan ibu itu. Ia menyesali kekasarannya tadi. Ia merasa, bahwa perkataannya yang biasa ditanggap hormat oleh semua orang, sekarang seolah-olah kehilangan wibawanya. Betapa mudahnya ia tadi mengajari ibu itu tentang tangis anaknya, sedangkan sesungguhnya ia tidak tahu apa-apa. Seandainya benar tangis anak itu karena lapar, dan air susu ibunya akan dapat menghentikan tangisnya, ia telah mengeliminasi dirinya sendiri dalam pengetahuan praktis-pragmatis, kebanyakan, umum. Semua orang tahu. Bayi menangis, artinya lapar, dan air susu ibunya akan menghentikan tangisnya. Seorang ibu – apalagi yang sudah ‘sangat berpengalaman’ – tak perlu diajari tentang hal itu.

Peringatan simpatik yang pertama dari sang uskup seolah-olah akan begitu saja menyelesaikan masalah. Tetapi ternyata tidak. Maka disusulinya dengan peringatan kedua, yang lebih merupakan ungkapan ketidakpuasan karena nasihatnya tidak mempan. Dan yang ketiga adalah amarah yang tak tertahankan karena kepentingan pribadinya telah terusik.

Begitulah umumnya orang yang kepentingan pribadinya terusik. Tak peduli ia orang kebanyakan atau seorang uskup sekalipun. Keadaan di luar diri sendiri dengan mudah akan disalahkan. Tetapi penyesalan sang uskup setelah menyadari semangat berkorban si ibu yang memberikan dirinya secara total kepada anaknya dan tetap tak memuaskan karena ketidakmampuannya, telah menawarkan pertobatan. Sang uskup berjanji akan menanggung biaya mereka yang telah mengajarinya suatu makna yang terlalu sulit dilukiskan hanya dengan kata-kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: