• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Oktober 2008
    S S R K J S M
    « Sep   Nov »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Live In

Makna dan Hakikat Live In – SMA Katolik St.Albertus

A. Landasan Kegiatan: Spiritualitas Karmel

SMA Katolik St.Albertus diasuh oleh para imam dan biarawan Karmel. “Para Karmelit memberikan kepada umat dua tokoh untuk memahami kasih dan kebebasan. Kedua tokoh itu adalah Nabi Elia dan Maria, ibu Yesus. Merekalah pencetus pedoman hidup Karmelit … “ (Peter Slaterry, 1993). Elia adalah nabi yang selalu berdiri di hadapan Yahweh seperti seorang pelayan menantikan perintah (1 Raj 7:1; 18:15, 46). Dua ciri khas Elia yang paling menonjol adalah imannya yang kuat dan kreativitasnya dalam beragama. Sedangkan Maria menjadi teladan dalam doa komptemplatif menurut tradisi Karmel. Ia mengajak kita mengikuti tiga macam keterbukaan: a) terbuka terhadap Tuhan dalam doa, b) terbuka terhadap diri sendiri dengan mengerti identitas kita sendiri dan c) terbuka terhadap orang lain melalui pelayanan, terutama terhadap orang-orang miskin dan terlantar. Spiritualitas Karmel mendorong kita untuk selalu hidup dalam kehadiran Allah dan seperti Sang Nabi memperhatikan tanda-tanda zaman, sehingga kita dapat mendengar jeritan kaum miskin.

Para Karmelit hidup menurut Regula St.Albertus sejak tahun 1206. Semula mereka adalah para pertapa dari Gunung Karmel di Palestina. Ketika Tanah Suci jatuh ke tangan kaum Sarasin, mereka pindah ke Eropa dan kemudian tergolong sebagai kaum mendicantes, seperti para Fransiskan, Dominikan dan Agustin.

Secara khusus, SMA Katolik St.Albertus memiliki hubungan batin dengan Beato Titus Brandsma. Beliau dapat dipandang sebagai salah seorang perintis berdirinya sekolah ini. Ia adalah seorang nabi pada zaman modern dalam hal kebebasan berbicara, baik di dalam maupun di luar Gereja. Ia bukan saja seorang Karmelit yang alim, namun lebih terkenal karena keberaniannya menentang segala bentuk penindasan, ketidakadilan, dan ketidakbenaran.

B. Live In (Kebersamaan Hidup)

Kemajuan iptek yang sedemikian pesat ternyata tidak sejalan dengan peningkatan kualitas hidup rohani. Justru padad saat dunia dilanda globalisasi karena kemajuang teknologi informasi, kita merasakan meningkatnya kesulitan dalam masalah komunikasi antarmanusia sebagai pribadi yang unik.

Kenikmatan modernisasi ternyata berakibat tergesernya nilai-nilai sosial budaya yang luhur. Kepekaan terhadap penderitaan dan kesulitan orang lain semakin menipis.

Secara harafiah, to live in berarti “tinggal di dalam”. Istilah ini lebih populer dari terjemahan yang lebih pas dengan maknanya dalam kebudayaan kita: Program Merakyat atau Kebersamaan Hidup (LPPS KWI, 1987). Apalagi, jika dipandang dari kepentingan pesertanya, program ini tidak boleh diotak-atik menjadi to live out. Peserta program ini tidaklah asal ‘mencoba’ tinggal di luar rumah sendiri.

Program ini relevan dengan kecenderungan modernisasi yang selain memberikan semakin banyak kemudahan, juga membawa dampak negatif bagi kelangsungan hidup manusia, khususnya dalam pembinaan/ pembentukan kepribadian yang meandiri, berperilaku dinamis dan berpikiran kritis serta berbudi pekerti luhur. Para remaja pelajar dewasa ini cenderung kurang peka terhadap situasi kemiskinan, penderitaan dan ketidakadilan masih menimpa sebagian besar rakyat. Untuk melatih kepekaan itu, untuk dapat mendengar, melihat dan memahami perjuangan rakyat pedesaan (prototipe kemiskinan yang berbeda dengan asal-usul peserta) orang kota harus mengalaminya sendiri. Barangsiapa ingin dekat dengan hati rakyat, ia harus mengalami sendiri kehidupan rakyat.

Maka dalam kegiatan ini, dari pihak peserta diharapkan kemauan, keberanian dan kerelaan untuk membaur dalam keluarga dan masyarakat setempat. Melalui pembauran itu peserta dapat mengamati, mengalami dan merasakan sendiri segenap harapan, suka dan duka hidup sebagai orang kecil. Ini akan membuka wawasan mereka untuk mulai lebih memperhatikan orang lain dan sekaligus memperbaiki diri.

C. Harapan

Sering dikemukakan bahwa peran pemuda bagi bangsanya mendekati semangat kepahlawanan. Para petua (orang tua) sering mengatakan bahwa pemuda adalah tulang punggung suatu bangsa. Apakah harapan itu sekadar lip-service ataukah sebagai suatu tantangan yang yang memang dipercayakan kepada pemuda?

Untuk memenuhi harapan itu, kaum muda jelas harus berperan! Peran adalah suatu keterlibatan secara langsung pada segala sesuatu dan di setiap waktu di sebarang tempat yang membutuhkannya. Kadar keterlibatan itu bergantung pada semangat dan kesadaran dari dalam diri sendiri, bukan semata-mata sebagai pelampiasan atau pelarian maupun karena keterpaksaan. Keterlibatan yang bermutu akan menunjang diri sendiri dan lingkungan.

Dengan kata lain, keterlibatan itu pertama-tama harus mengalir dari dan demi diri sendiri agar tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah bagi kelangsungan hidup bangsanya. Keterlibatan yang demikian menuntut pengorbanan yang tak layak dielakkan demi anggapan untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri saja.

“Hidup adalah mengalami,” ujar Ludwig Klages. Subyek hidup dihadapkan pada alam dan pengalaman. Dalam hal ini semangat perjuangan perlu terus digelorakan guna menghayati peranan bukan sebatas arti definitif, melainkan lebih jauh, yakni dengan memahami dan mengamalkannya sebagai sikap hidup. Dengan demikian pribadi akan didorong untuk terus maju, tidak pernah puas dan berhenti mencari serta mengalami. Bila demikian, peranan bukan hanya reaksi atas suatu tantangan, melainkan sebuah sikap yang senantiasa diperbarui sekaligus disesuaikan dengan arah dan tujuan hidup.

Bagaimana peran itu dapat dipahami sebagai sikap hidup? Dibutuhkan kedewasaan pribadi dan komitmen dari dalam yang terus berkembang. Artinya, pribadi muda harus berani mengambil sikap dalam menuntut hidupnya!

Film “Three Musketeers” yang mengambil tema All for One and One for All meunjukkan relevansi pengutamaan pengorbanan terhadap mayoritas dengan semangat kembali kepada kesadaran diri sebagai pribadi yang tidak sempurna.

Akankah program Live In di SMA Katolik St.Albertus benar-benar akan terus dikembangkan sebagai kesempatan emas untuk dimanfaatkan sebaik mungkin guna mengungkapkan ada dan keberadaan diri peserta sebagai pribadi dan sebagai putra-putri Elia dan Maria? Semoga. (Yauwana Dempo, 13 Mei 1995)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: