• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Oktober 2008
    S S R K J S M
    « Sep   Nov »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Petikan Masalah dari Buku Kerja Epistemologi

Hubungan antara metafisika, asumsi dan peluang dalam ontologi

Ontologi adalah cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, yang menggunakan kategori-kategori: ada/ menjadi, aktualitas/ potensialitas, nyata/ tampak, perubahan, waktu, eksistensi/ noneksistensi, esensi, keniscayaan, yang-ada sebagai yang-ada, ketergantungan pada diri sendiri, hal mencukupi diri sendiri, hal-hal terakhir, dasar.

Sedangkan metafisika sesungguhnya merupakan studi tentang yang-ada, namun bukan tentang yang-ada dalam bentuk suatu keberadaan partikular (barang, obyek, entitas, aktivitas). Dalam arti ini, metafisika sinonim dengan Ontologi dan Filsafat Pertama. Tetapi metafisika juga dimengerti sebagai kajian menyeluruh, koheren dan konsisten tentang realitas (keberadaan, alam semesta) sebagai suatu keseluruhan. Dalam arti ini, metafisika digunakan secara bergantian dengan sebagian besar arti Filsafat Sinoptik dan Kosmologi. Secara konseptual, metafisika sering dideskripsikan sebagai sesuatu yang ‘melampaui’ fisika.

Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindra manusia. Pengetahuan keilmuan mengenai obyek empiris itu pada dasarnya merupakan suatu abstraksi yang menyederhanakan kompleksitas kejadian alam. Untuk mendapatkan pengetahuan itu, ilmu membuat beberapa asumsi (andaian) mengenai obyek-obyek empiris. Pernyataan asumtif itulah yang memberikan arah dan landasan bagi kegiatan penelaahan ilmu, karena suatu pengetahuan baru dapat dianggap benar jika asumsi yang dikemukakannya dapat diterima akal sehat.

Secara terinci, ilmu memiliki tiga asumsi

  1. obyek tertentu memiliki keserupaan satu sama lain;
  2. suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu; dan
  3. determinisme, yakni bahwa setiap gejala bukan merupakan kejadian yang bersifat kebetulan, melainkan memiliki pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan kejadian yang sama.

Determinasi dalam pengertian ilmu berkonotasi peluang (probabilistik). Ilmu tidak menuntut adanya hubungan sebab-akibat yang mutlak sehingga suatu kejadian tertentu harus selalu diikuti oleh suatu kejadian lainnya. Yang bisa dikatakan ilmu adalah bahwa kejadian yang satu memberikan peluang terjadinya sesuatu yang lain.

Hubungan antara ilmu, pengetahuan dan metode ilmiah

Ilmu adalah pengetahuan yang disusun secara sistematis, analitis, berpola logico-hypothetico-verificatio. Karena itu, sebagai species dari pengetahuan yang menjadi genus-nya, ilmu berbeda dengan pengetahuan biasa. Ilmu bersifat terbuka, demokratis, publik. Dengan perkataan lain, ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang dinamai metode keilmuan. Sedangkan pengetahuan biasa pada umumnya diperoleh secara empiris saja.

Hubungan antara bahasa, matematika dan statistika dalam metode ilmiah

Bahasa, matematika dan statistika merupakan sarana berpikir ilmiah. Ketiganya mengembangkan logika masing-masing dan berperan mendukung langkah-langkah prosedural tertentu dalam metode ilmiah. Bahasa (verbal) merupakan sarana komunikasi ilmiah yang efektif, tetapi kurang efisien dibandingkan dengan bahasa simbolik matematika dan statistika. Dengan logika induktif yang dimungkinkan melalui statistika, kita dapat menghitung besar peluang kebenaran secara kuantitatif. Demikian pula yang kita dapat lakukan dengan logika deduktif yang dikembangkan dalam matematika.

Apakah yang dimaksud dengan teori, asumsi, postulat, hukum/ kaidah, ilmiah?

Teori merupakan kumpulan dalil atau hipotesis yang didasarkan pada azas tertentu sebagai langkah untuk meramalkan dan menentukan cara mengontrol kegiatan keilmuan guna memperoleh hasil yang diharapkan.

Asumsi adalah pernyataan yang kebenarannya dapat diuji atau praduga yang kebenarannya masih harus dibuktikan.

Postulat adalah asumsi dasar yang kebenarannya diterima tanpa melalui pembuktian atau suatu dugaan yang menjadi dasar argumen logis.

Hukum adalah pernyataan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih yang berfungsi meramalkan suatu gejala alam.

Ilmiah adalah sifat ilmu yang merupakan proses atau hasil berpikir nalar (logis, analitis, sistematis) yang bersifat eksplisit, obyektif, faktual, instrumental, praktis, pragmatis, verifikatif, dengan menggunakan metode tertentu.

Batas ilmu yang terkait dengan moral

Ilmu, terlebih teknologi (applied science) semestinya adalah sarana untuk meningkatkan derajat hidup umat manusia. Tetapi sejarah keilmuan telah menjadi saksi bagaimana perkembangan pesat ilmu dan teknologi telah membuat hidup manusia menjadi semakin comfortable dan pada sisi lain membawa dampak negatif yang berpotensi menghancurkan peradaban manusia sendiri. Padahal, ilmu tidak bebas nilai. Maka ilmu tak terpisahkan dari etika. Karena itu pula ilmu dan perkembangan serta penerapannya dalam praksis hidup manusia harus dibatasi dengan moral.

Pemenuhan kebutuhan satu dimensi sambil mengabaikan dimensi lainnya dalam hidup manusia sebagai makhluk multidimensional akan mengoyak keutuhan pribadinya. Dimensi rasional manusia terlalu kering dan tidak mencukupi kebutuhan hidup. Ilmu bukan satu-satunya sumber kebenaran. Sifat mutlak dan abadi agama serta sifat nisbi dan pragmatis ilmu saling melengkapi seperti dikatakan Albert Einstein: “Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh.” Tanpa agama yang berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan manusia dan ditujukan untuk meningkatkan martabat manusia, kemajuan pesat ilmu dan teknologi mudah kehilangan arah. Tanpa landasan moral, revolusi genetika yang kini merambah bidan prokreasi, misalnya, mengandung bahaya bagi esensi dan eksistensi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mahaesa. Kesombongan ilmuwan bisa membutakannya tentang keterbatasan manusia dan dengan demikian menganggap dirinya berkuasa untuk berbuat sekehendak hatinya.

Ilmu baru berguna bagi manusia jika diabdikan untuk meningkatkan martabat kemanusiaan. Terjadinya perang dunia pertama dan kedua merupakan contoh sejarah kelam keilmuan karena ilmu dan teknologi telah dimanfaatkan untuk memusnakan kehidupan yang merupakan hak dan anugerah Allah bagi seluruh umat manusia. Pesan Albert Einstein kepada mahasiswa California Institute of Technology pada tahun 1938 itu merupakan ungkapan keprihatinan seorang ilmuwan besar tentang perkembangan ilmu yang justru sering mengabaikan faktor manusia dan kemanusiaan.

Tanggung jawab ilmuwan dalam pengembangan ilmu

Tanggung jawab ilmuwan dalam pengembangan ilmu sekurang-kurangnya berdimensi religius atau etis dan sosial. Pada intinya, dimensi religius dan atau etis seorang ilmuwan hendaknya tidak melanggar kepatutan yang dituntut darinya berdasarkan etika umum dan etika keilmuan yang ditekuninya.

Sedangkan dimensi sosial pengembangan ilmu mewajibkan ilmuwan berlaku jujur: mengakui keterbatasannya bahkan kegagalannya, mengakui temuan orang lain, menjalani prosedur ilmiah tertentu yang sudah disepakati dalam dunia keilmuan dan atau mengkomunikasikan ‘hal baru’ dengan para sejawatnya atau kajian pustaka yang sudah ada untuk mendapatkan konfirmasi, menjelaskan hasil-hasil temuannya secara terbuka dan sebenar-benarnya sehingga dapat dimengerti orang lain sebagaimana ia juga memperoleh bahan-bahan dari orang lain guna mendukung teori-teori yang dikembangkannya. Dalam hal ini dapat dipahami mengapa setiap ilmuwan layak berterimakasih kepada para ilmuwan lain, bahkan kepada mereka yang mengritik atau menentang temuannya.

Karena ilmu bersifat eksplisit dan impersonal, maka seorang ilmuwan juga wajib mempublikasikan temuannya agar orang lain dapat melakukan verifikasi terhadapnya. Dalam hal hasil temuannya itu dapat diperkirakan akan meresahkan masyarakat, ia perlu berlaku bijaksana untuk meminimalisasi kemungkinan tersebut dengan berbagai cara tanpa mengabaikan tanggung jawab sosialnya sekaligus tidak bersikap jujur tentang temuannya. Akhirnya, karena peranannya yang besar dalam upaya kolektif membangun dunia yang lebih baik demi kesejahteraan lahir-batin umat manusia, bukankah wajar ungkapan “Scientist never die”?

Hubungan antara ilmu dan kebudayaan

Ilmu adalah salah satu unsur kebudayaan. Karena itu keduanya berada dalam posisi saling bergantung dan saling memengaruhi. Pengembangan ilmu tidak hanya bergantung pada kondisi kebudayaan, tetapi juga memengaruhi perkembangan kebudayaan masyarakat setempat, sebagaimana dikatakan oleh Talcot Parsons: “Dalam beberapa tipe masyarakat, ilmu dapat berkembang dengan pesat, sedemikian pula sebaliknya, masyarakat tersebut tak dapat berfungsi dengan wajar tanpa didukung perkembangan yang sehat dari ilmu dan penerapannya.”

Dalam pengembangan kebudayaan, ilmu berperanan ganda, yaitu sebagai sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan dan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa. Inilah kiranya maksud Mochtar Lubis ketika ia mengatakan bahwa: “Pendidikan harus mampu membuka perspektif baru bagi manusia, dan harus mampu membuat orang melihat masalah-masalah lama dalam kerangka perubahan-perubahan besar di dunia akibat kemajuan ilmu dan teknologi. Pendidikan baru harus pula dengan secara sadar menegakkan kembali nilai-nilai dan kemuliaan orang sebagai manusia. Kita harus mampu menemukan kembali kemuliaan dan martabat manusia yang pokok, dan mempraktikkannya dalam hubungan manusiawi kita, dalam hubungan kemasyarakatan, dan dalam hubungan antara bangsa-bangsa. Pendidikan baru harus dapat mengembangkan manusia yang beradab dan berbudaya.” (Y.B. Mangunwijaya, 1985:9).

Sekadar contoh kecil dan sederhana dapat dikemukakan bahwa kemajuan ilmu dan teknologi di bidang kedokteran ternyata telah mengembangkan perilaku seks bebas secara lebih aman dan karenanya juga lebih ‘nyaman’. Penggunaan kondom – hasil rekayasa teknologi – dipandang sebagai alternatif untuk menghindarkan pelaku seks bebas dari kemungkinan terjangkit penyakit menular yang diakibatkan oleh hubungan seks. Bahkan temuan ilmiah metode ovulasi Billings (KBA) yang mengandaikan ‘disiplin pengetahuan dan pengendalian diri’ pun juga ditengarai telah secara bebas dimanfaatkan untuk melakukan hubungan seks tanpa takut terjadinya kehamilan.

Tiga sudut pandang ilmu

Pemahaman yang lengkap terhadap ilmu mengandaikan bahwa ilmu adalah suatu aktivitas, metode dan pengetahuan. Ilmu dapat dipandang hanya sebagai kumpulan sistematis dari pengetahuan (any systematic body of knowledge). Lebih dari itu, John G. Kemeny menyatakan bahwa ilmu adalah semua pengetahuan yang dihimpun dengan perantaraan metode ilmiah (all knowledge collected by means of the scientific method). Maka, pengetahuaan sesungguhnya hanyalah hasil dari suatu proses aktivitas manusia (Charles Singer: “Science is the process which makes knowledge.”). Padahal, setiap aktivitas keilmuan membutuhkan suatu metode guna memperoleh pengetahuan yang obyektif dan dapat diperiksa kebenarannya (Harold W. Titus: a method of obtaining knowledge that is objective and verifiable).

Ketiga sudut pandang itu merupakan kesatuan logis dan sistematis sebagaimana dikatakan oleh The Liang Gie (1999:88): ”Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu dan akhirnya aktivitas metode itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis.” Hal serupa dikatakan oleh I.R. Poedjawijatna dalam bukunya “Tahu dan Pengetahuan” (1982:24-26). Menurut dia, ilmu harus berobyekvitas, bermetodos, universal dan bersistem. Pengetahuan ilmiah adalah obyek/ hasil aktivitas manusia dengan metode yang sistematis sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara universal.

The Liang Gie juga menjelaskan tentang tiga unsur ilmu: proses, prosedur, produk. Dalam bagannya ia menjelaskan bahwa ilmu adalah pengetahuan sistematis yang merupakan produk dari sebuah proses aktivitas penelitian yang menggunakan metode ilmiah sebagai prosedurnya. Dari studinya dan berdasarkan pendapat para ahli, secara lengkap ia mendefinisikan ilmu sebagai suatu total enterprise dari ketiga unsur: aktivitas (proses), metode (prosedur) dan pengetahuan (produk): “Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan.”

Mengapa ilmu sosial tidak dapat didekati dengan rasio saja?

Pembagian ilmu menurut jenis atau ragamnya saja dan penggolongan pengetahuan ilmiah oleh para ahli atau dalam The New Encyclopaedia Britannica dipandang belum cukup memuaskan. Namun secara umum diperoleh pemahaman bahwa obyek ilmu-ilmu kealaman pada umumnya berada di luar diri manusia, sedangkan dalam ilmu-ilmu sosial terdapat keterlibatan manusia secara langsung maupun tak langsung. Sebagai makhluk monodualistik (jiwa-raga) dan bahkan multidimensional, manusia secara individual maupun sosial tidak dapat dipandang hanya sebagai obyek penelitian. Memandang manusia sebagai obyek merendahkan kodrat, harkat, martabat dan derajat manusia sebagai makhluk (subyek) ciptaan Allah. Rasio manusia tidak dapat menyelami misteri jiwa manusia sedalam-dalamnya. Raga manusia adalah materi, tetapi jiwanya adalah misteri. Bahkan ada yang mengatakan bahwa hati manusia memiliki logikanya sendiri. Demikianlah dipahami bahwa aspek rohani manusia menjadikannya subyek yang tidak hanya bersifat rasional, empirik/ indrawi, melainkan juga metafisik.

Maka, pendekatan ilmu-ilmu sosial secara komprehensif tentu harus juga memerhatikan aspek nonfisik manusia. Sehubungan dengan itu dapatlah dimengerti keputusan Wynn Sargeant (antropolog) yang menikahi Obahorok agar dapat mengalami sendiri kehidupan sebagai bagian dari budaya suku Dani di Lembah Baliem, Papua. Secara tidak sama dimengerti pula alasan pelukis Belgia, A.J. Le Mayeur, yang menikahi Ni Polok dan memilih menetap di Bali.

Hubungan antara ontologi suatu ilmu dengan dimensi ilmu dan struktur ilmu

Aspek ontologi suatu ilmu sedapat mungkin bertautan dengan keseluruhan dimensi ilmu sebagai obyek dengan berbagai cabang ilmu, dimensi ilmu sebagai pengetahuan reflektif-abstrak, dan dimensi ilmu sebagai aspek realitas. Penonjolan satu dimensi saja akan kurang memadai dan bahkan dapat menyesatkan pemahaman tetnang ilmu yang bersangkutan. Meskipun demikian dapat dimaklumi bahwa perkembangan dimensi suatu ilmu yang sedemikian pesat dan bergantung pula pada minat serta ketiadaan batas realitas merupakan kendala telaah ilmiah yang multidimensional.

Aspek ontologi suatu ilmu juga berhubungan erat dengan struktur ilmu, teristimewa tentang obyek sebenarnya dari ilmu yang bersangkutan, yakni: a) obyek material yang meliputi ide abstrak, benda fisis, jasad hidup, gejala rohani, peristiwa sosial, proses tanda; b) obyek formal, yang merupakan pusat perhatian atau pokoksoal yang diutamakan dalam telaah ilmu yang bersangkutan.

Kelemahan kebenaran intuitif

  1. Kebenaran intuitif diperoleh tanpa melalui proses penalaran tertentu dan nonanalitik sehingga cara memperolehnya tidak dapat dijelaskan.
  2. Kebenaran intuitif bersifat personal dan tidak dapat diramalkan karena tidak faktual dan cenderung memberikan penilaian (baik-buruk) terhadap obyeknya.
  3. Kebenaran intuitif tak dapat diandalkan untuk menyusun pengetahuan secara teratur (sistematis) antara lain karena tidak konsisten, kendati Maslow menyebut intuisi sebagai pengalaman puncak (peak experience) dan F. Nietzsce bahkan menganggap intuisi sebagai intelegensia tertinggi.

Kelemahan kebenaran spekulatif

  1. Realita alam terlalu pelik untuk dipahami secara benar hanya dengan pemikiran spekulatif.
  2. Kepercayaan terhadap kebenaran spekulatif tidak dapat digeneralisasi karena ketidakpastiannya.
  3. Kebenaran spekulatif bersifat kurang praktikal/ pragmatis dan lebih bersifat metafisik, sehingga serupa dengan kebenaran intuitif, relatif sulit diverifikasi.

Mengapa kebenaran ilmiah tak selamanya benar?

  1. Dalam setiap langkah metode keilmuan terdapat kemungkinan untuk terjadinya kesalahan akibat keterbatasan pancaindra atau inkonsistensi, bahkan fallacea (kesesatan berpikir) atau antinomi (kekacauan berpikir).
  2. Kebenaran ilmiah bersifat relatif, Tidak ada kebenaran ilmiah yang bersifat mutlak.
  3. Teori ilmiah mendorong penelitian lanjutan sehingga kebenaran ilmiah bersifat kontemporer karena akan selalu ada usaha ‘penyempurnaan’ terhadap kebenaran itu.

Apakah yang mendorong terbentuknya filsafat ilmu?

Rasa ingin tahu manusia yang bersifat dinamis-progresif untuk memahami secara benar aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis setiap ilmu. Manusia ingin memiliki pengetahuan yang relatif lengkap tentang hakikat ilmu-ilmu dan:

  1. hubungan teoritis antarilmu dan antara ilmu-ilmu dengan usaha-usaha manusia yang lain untuk memahami, menilai dan mengendalikan dunia;
  2. implikasi teoritis dari kebenaran-kebenaran tertentu dalam ilmu sejauh hal itu berpotensi mengubah pertimbangan-pertimbangan manusia dalam bidang-bidang pengalaman yang lain;
  3. efek-efek praktis dari penemuan-penemuan ilmiah terhadap, misalnya, bentuk pemerintahan, cara/ gaya hidup, kesehatan dan rasa senang;

Perkembangan diskriminatif filsafat seperti disebut oleh Francis Bacon (1561-1626) sebagai the great mother of the sciences (ibu agung dari ilmu-ilmu) dan perkembangan ilmu-ilmu itu sendiri juga memberikan pengaruh besar terbentuknya filsafat ilmu. Selain itu filsafat, ilmu, matematika, bahasa, metafisika dan logika merupakan sumber yang memajukan filsafat ilmu sebagaimana dijelaskan The Liang Gie (1999:201).

Mengapa ada perbedaan antara filsafat alam dengan filsafat pada umumnya?

  1. Filsafat alam (kosmologi) adalah salah satu cabang filsafat. Artinya, filsafat alam adalah obyek, species atau specifica differentia dari filsafat yang merupakan induknya (genus).
  2. Kebenaran ilmiah filsafat alam mudah diuji secara empirik dan indrawi tanpa secara langsung melibatkan manusia, sedangkan sebagian besar cabang filsafat lainnya secara langsung melibatkan manusia.
  3. Obyek filsafat alam nyata (fisik), sedangkan obyek cabang filsafat lain pada umumnya adalah metafisik. Catatan: subyek, khusus filsafat manusia dan yang berhubungan dengan itu.

Mengapa filsafat ilmu menggunakan matematika?

  1. Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dengan menggunakan lambang-lambang artifisial. Matematika memiliki keunggulan dibandingkan dengan bahasa verbal karena dengan bahasa numerik matematika dapat digunakan untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif dan eksak. Kegiatan berpikir ilmiah yang menggunakan logika matematika mencari kebenaran dengan menggunakan lambang-lambang yang khusus, hemat dan cermat untuk menghindari makna ganda atau kekaburan yang terdapat dalam bahasa (verbal) pada umumnya. Simbol numerik yang dikembangkan dalam matematika tidak terikat ruang dan waktu.
  2. Matematika adalah the language of science (bahasa ilmu). Matematika mampu memberikan informasi tentang obyek tertentu dalam dimensi-dimensi pengukuran secara jelas dan eksak.
  3. Matematika adalah logika deduktif yang mengubah pengalaman indrawi menjadi bentuk-bentuk diskriminatif, kemudian bentuk ini diubah menjadi abstraksi dan abstraksi itu kemudian menjadi generalisasi yang dapat diterima oleh setiap orang yang rasional.

Mengapa filsafat ilmu menggunakan bahasa?

  1. Bahasa (verbal) berfungsi sebagai alat berpikir secara teratur dan sistematis, alat untuk mengkomunikasikan pemikiran manusia kepada manusia lain.
  2. Bahasa formal (artifisial, simbolik, ideal) berfungsi sebagai alat berpikir dan alat berkomunikasi logis. Hakikat ilmu, misalnya, dikaji dengan analisis logico-linguistic. Bahasa bukan saja merupakan alat berfilsafat dan berpikir, tetapi bagi Abraham Kaplan bahasa adalah bahan dasar dan dalam hal tertentu merupakan hasil akhir dari filsafat.
  3. Bahasa simbolik itulah, yang bebas dari fungsi emotif dan afektif, dipergunakan dalam komunikasi ilmiah hingga pesan dapat diterima secara reproduktif, jelas dan obyektif.

Mengapa filsafat ilmu menggunakan logika?

  1. Logika adalah teknik berpikir lurus dan benar untuk mencapai kebenaran ilmiah dalam aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis suatu ilmu.
  2. Perkembangan jenis logika yang sedemikian pesat selain logika deduktif dan induktif (logika modern: analisis logis, abstraksi, analogi, pembagian dan penggolongan logis, etc.) merupakan instrumen pendukung kajian filsafat ilmu.
  3. Dalam penarikan kesimpulan (silogismus) terhadap premis-premis yang diajukan, logika deduktif-rasionalis menggunakan teori koherensi. Induktif-empiris menggunakan teori korespondensi. Sedangkan pragmatisme digunakan oleh kaum pragmatis yang karena sifatnya cenderung menggunakan teori korespondensi tanpa menutup kemungkinan menggunakan pula teori koherensi untuk mendukung penyusunan teori ilmiah yang fungsional dalam praksis hidup.

Catatan:

Bila Anda merasa terbantu oleh ringkasan ini dan berminat lebih memahami Filsafat Ilmu, jangan ragu menghubungi saya untuk mendapatkan Buku Kerja – Epistemologi (Filsafat Ilmu), lengkap dengan ilustrasi yang memudahkan pehamaman Anda (dalam format Microsoft Office Word 2003, A4, 35 halaman). Jangan khawatir … Penyusunnya tidak memberikan harga untuk Buku Kerja itu, kendati mungkin saya justru  tak menolak sumbangan Anda …🙂 Mohon maaf, unduh langsung untuk sementara tak bisa Anda lakukan .

6 Tanggapan

  1. Terima Kasih Atas Ilmu yang telah bapak tebarkan. Saya amat terbantu untuk mulai mempelajarinya. Walau jujur…, saya belum bisa menyumbangkan apa-apa neh…, tapi paling tidak kan saya sudah berterima kasih..

    Dan jika berkenan, sudilah tetap menebarkan ilu lainnya, serta sesekali berkunjung ke alamat saya.

    Salam,
    Yhannu setyawan

    Sama-sama, Pak Yhannu.🙂 Selamat belajar dan bekerjasama mencerahkan dunia!

  2. Thanks ya…ringkasannya sedikit banyaknya telah membantu saya dalam memahami
    filsafat ilmu, yang kadang-kadang membuat saya bingung tp dilain waktu merasa membumi ketika membaca dan mempelajarinya.

    Sama-sama. Ilmu lain pun serupa, kok … Maka perasaan Anda wajar saja. Begitulah pengalaman belajar setiap orang, terutama tentang ilmu yang tak sekadar bersifat ‘know how’.🙂

  3. terima kasih info nya saya mendapatkan wawasan yang baik dengan membaca artikel ini

    Sama-sama.🙂

  4. Terima kasih atas ilmunya Pak, belajar filsafat itu sulit, tapi lama-lama asyik ,nd moga ‘ saja dapat bantu kita bersikap lebih arif. Selamat bekerja, kami tunggu materi berikutnya

    Sama-sama. Konon, yang sudi berfilsafat hanya mereka yang tidak sibuk. Selamat belajar …🙂

  5. makasih pa….saya dari ambon,,,,bagaimana caranya saya bisa memahami filsafat dengan baik…. menurut saya,.. ilmu ini sulit untuk bisa dipahami dan mengetahui alur pikir saja udah sulit, mungkin bisa diberikan pencerahan… makasih pa

    Beny yang baik … konon, setiap orang adalah filsuf, terutama bagi dirinya sendiri. Kegiatan utama berfilsafat adalah berpikir. Supaya bisa berpikir bening, hati harus hening, perut tak lapar, dst.🙂 Selamat berfilsafat!

  6. teriima kasih pak atas segala ilmu yang bapak sampaikan.ringkasan ini begitu membantu saya dalam menyelsakan tugas-tugas….dengan begini tentunya bapak ilmu yang bpk sampaikan bermanfaat bagi orang lain.dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya..terima kasih..

    Sama-sama.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: