• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Oktober 2008
    S S R K J S M
    « Sep   Nov »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Kewajiban: ikatan yang membebaskan

Tuhan menciptakan manusia berkehendak bebas. Maka kebebasan adalah hak azasi manusia. Tetapi tidak ada kebebasan yang sungguh-sungguh bebas dalam arti setiap orang boleh berbuat apa pun yang disukainya, karena manusia dilengkapi dengan suara hati dan kemampuan akal budi. Dan sebagai makhluk sosial, manusia memiliki ketergantungan satu sama lain.

Suara hati (Lat. Conscientia; Ing. Conscience) melekat pada diri manusia, karena suara hati adalah suara Tuhan sendiri, Causa Prima yang menciptakannya. Dalam Serat Centhini, hubungan antara Tuhan dan manusia digambarkan dengan sangat indah, yang mengungkapkan kesadaran manusia terhadap asal dan tujuannya, sangkan paraning dumadi, yakni kebersatuan dan kebersamaannya dengan Tuhan, manunggaling kawula kaliyan Gusti.

Dalam masyarakat tradisional, setiap anggotanya memiliki kesadaran moral untuk melaksanakan adat istiadat tanpa paksaan karena ia telah menginternalisasi norma-norma adat itu dalam batinnya. Ketaatan terhadap norma-norma itu tidak didasarkan pada ketakutan pada sanksi/ hukuman yang akan diterima dari masyarakat bila ia melanggarnya, melainkan karena norma-norma itu telah bertumbuhkembang dalam batin setiap orang sebagai norma moral. Maka tidak ada perbedaan antara norma-norma moral yang dipasang masyarakat (yang menimbulkan kesadaran moral heteronom, menurut Immanuel Kant) dengan norma-normal moral dalam kesadaran individu (kesadaran moral otonom). Mengenai hal itu Franz von Magnis (1977:69) berpendapat: “Yang melanggar norma-norma itu dengan sendirinya akan merasa bersalah. Ia tidak bisa menentang adat istiadat itu dan mencari pembenarannya pada suara hati karena suara hati justru mengumandangkan norma-norma tersebut.”

Namun, perkembangan zaman dan kemajuan penalaran manusia menyebabkan norma-norma moral tradisional itu diberi nilai baru, untuk tidak mengatakannya terkikis habis. Maka kesadaran akan nilai mutlak kemanusiaan, yaitu menghargai manusia qua talis, manusia sebagai manusia – ia harus bertingkah laku dan bertindak sesuai harkat dan martabatnya – semestinya menggerakkan manusia untuk melaksanakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sebagai kewajiban yang merupakan ikatan yang membebaskan.

Kewajiban adalah ikatan, artinya tidak boleh disangkal dan harus dilaksanakan. Mengapa demikian? Pertanyaan ini dijawab Drijarkara (1978:29): “Karena wajib pada dasarnya adalah kebaikan yang dengan keharusan dibebankan kepada kehendak kita yang merdeka untuk dilaksanakan.” Atau dengan perkataan lain, seperti diungkapkan oleh S.P. Lili Tjahjadi (1991:47) yang telah mengupas ajaran Immanuel Kant tentang etika dan imperatif kategoris sebagai berikut: “Nilai moral baru diperoleh di dalam moralitas. Yang dimaksudkan Kant dengan moralitas (Moralitat/ Sittlichkeit) adalah kesesuaian sikap dan perbuatan kita dengan norma atau hukum batiniah kita, yakni apa yang kita pandang sebagai kewajiban kita. Moralitas akan tercapai apabila kita menaati hukum lahiriah bukan lantaran takut pada kuasa sang pemberi hukum, melainkan kita sendiri menyadari bahwa hukum itu merupakan kewajiban kita.”

Pendapat Immanuel Kant (1724-1804) itu disempurnakan oleh Max Scheler (1874-1924) yang menyatakan bahwa: “… manusia menaati kewajibannya bukan demi kewajiban itu sendiri; melainkan ia menyadari sesuatu sebagai kewajiban karena sesuatu itu mempunyai nilai.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: