• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Oktober 2008
    S S R K J S M
    « Sep   Nov »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Masalah Pengembangan dan Alih Teknologi

Pengembangan dan alih teknologi merupakan alternatif yang tidak bisa ditolak untuk menjawab tantangan masa depan kita sebagai bangsa dan negara berkembang. Namun, pengembangan dan terutama alih teknologi itu dapat menimbulkan masalah yang luas dampaknya, karena teknologi modern tidak bebas nilai seperti teknologi tradisional. Pengalaman menunjukkan bahwa teknologi tidak netral lagi. Teknologi telah sering digunakan sebagai alat politik, sosial-ekonomi-budaya dan tendensi lainnya untuk menguasai orang/ bangsa lain. Bahkan teknologi juga sering dimengerti sebagai tujuan.

Maka kita tidak boleh ‘buta teknologi’, bukan hanya dalam arti tidak tahu dan karenanya tidak bisa menerapkannya, melainkan juga mampu mengenali ‘ideologi’ yang berlindung di sebalik kehebatan teknologi modern. Dengan demikian kita mampu meminimalisasi dampak negatif teknologi modern itu, baik yang berasal dari penerapannya per se, maupun dalam upaya menolak ideologi yang muncul di sebaliknya, yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Sehubungan dengan itu pantaslah bila Soedjatmoko ( 1986 ) menegaskan bangsa dan negara Indonesia perlu menumbuhkembangkan suatu perspektif nasionalisme modern, yaitu ‘Nasionalisme Pembangunan’ yang dimaknainya “… suatu nasionalisme modern, yang tidak picik, tidak rasialis, dan tidak takut kepada dunia luar atau pengaruh dunia luar – yang tentunya tetap berpegang kepada rasa harga diri sebagai sebuah bangsa, dan kesadaran akan kepribadian diri sendiri yang dinamis dan kreatif.”

Sementara itu kita pun perlu mewaspadai peringatan yang disampaikan Soerjanto Poespowardojo ( 1989:88 ): “Teknologi tidak lagi merupakan sesuatu di luar manusia, melainkan menjadi substansinya. Teknologi tidak lagi berhadapan dengan manusia, melainkan terintegrasi dengannya, dan bahkan bertahap menelannya. Transformasi yang terjadi dalam masyarakat modern ini merupakan konsekuensi dari kenyataan, bahwa teknologi telah memperoleh otonominya.”

 

Dialektika ideologi dan teknologi

Dalam seminar “Pengkajian Permasalahan Pembangunan dalam Rangka Pencarian Strategi Jangka Panjang” yang diselenggarakan di Jogjakarta, 3 Juni 1989, ahli sejarah Sartono Kartodirdjo menyarankan agar kita memperhatikan proses dialektika antara teknologi dan ideologi sebagai dua kekuatan yang membentuk dan mengubah sistem masyarakat dalam segala aspeknya. Ideologi nasional Pancasila perlu dimobilisasi, dijadikan etos bangsa guna menanggulangi dampak negatif teknologi. Jelasnya, ia hendak meletakkan teknologi dalam hubungan dialektis dengan ideologi Pancasila.

Bagai gayung bersambut, saran tersebut segera mendapat tanggapan dari Isa Ridwan (Konsultan Ahli LIPI-Puspitek) yang akhirnya menimbulkan polemik yang menarik di antara para pakar. Tulisan Isa Ridwan di harian Kompas, 7 Juni 1989, berjudul Ideologi dan Teknologi, ditanggapi antara lain oleh Ignas Kleden (Ideologi dan Teknologi, Kompas 21-22 Agustus 1989), Arief Budiman (Ideologi dan Teknologi, Kompas 6 September 1989), Liek Wilardjo (Imbasan dalam Ilmu, Kompas 15 September 1989, Farid Ruskanda (Ideologi dan Teknologi, Kompas 18 September 1989), Kaelan (Hubungan Ideologi dan Teknologi, Pelita 29 September 1989), F. Budi Hardiman (Teknologi sebagai Ideologi) dan Max Willar (Ideologi dan Teknologi, Basis Februari 1990-XXXIX-2).

Penampilan dialektika ideologi dan teknologi dalam trilogi Hegel (tesis-antitesis-sintesis) tampaknya perlu dilakukan mengingat kemampuan ideologi di satu pihak dan teknologi di pihak lain sebagai dua kekuatan yang membentuk dan mengubah sistem masyarakat dalam segala aspeknya, sebagaimana sudah dikatakan oleh Sartono Kartodirdjo.

Dalam tanggapannya, Max Willar sempat mengemukakan pengertian dialektika (Ing. dialectic): “… istilah untuk falsafah pemikiran yang menekankan pada hakikat adanya pertentangan dan menyelidiki pertentangan tersebut. Falsafah pemikiran itu berbeda dengan cara pemikiran yang rasional konsekuen. Metoda pemikiran dialektik ingin menyatakan diri pada kenyataan yang ada, yang juga mengakui sikap dialektik; bahwa dalam kenyataan dianggap sebagai proses perubahan yang dinamik di mana segala pertentangan saling silih berganti dan silih menyusul.”

Sebagaimana kita ketahui dari berbagai makna definitifnya, ideologi didasarkan pada asumsi-asumsi filosofis dan teoritis. Dengan demikian, ideologi dapat diuji secara logis dan metodologis. Namun pada kenyataannya ideologi termasuk kategori praktis, karena kebenarannya tidak ditentukan oleh verifikasi maupun falsifikasi secara metodologis, melainkan didasarkan pada suatu kriterium relevansi, yaitu apakah ideologi itu dapat memenuhi kebutuhan praktis (politis) sekelompok orang atau suatu negara.

Suatu ideologi dapat ditentukan kebenarannya hanya dalam praksis kehidupan. Dalam hal ini, sekelompok orang dan atau suatu negara dapat menanggapi ideologi sebagai distorsi, legitimasi, atau integrasi. Ideologi menjadi distorsi bila ia ditanggapi sebagai pembalikan atau pemalsuan kenyataan sosial. Setiap sistem kekuasaan menghendaki kemapanan tidak hanya atas dasar dominasi, melainkan juga atas dasar suatu jaminan kepercayaan dari pihak yang dikuasai. Untuk menjembatani kekuasaan dengan kepercayaan dari pihak yang dikuasai itulah ideologi oleh pihak penguasa diterapkan sebagai konsep yang melegitimasi kekuasaannya secara efektif. Dengan berfungsinya ideologi sebagai legitimasi, kekuasaan menjadi mantap, sehingga keseluruhan konfigurasi sosial tidak dipersoalkan lagi, karena sudah terintegrasi ke dalam suatu identitas sosial-budaya.

Dari proses kelahiran dan pemeliharaannya hingga kini, Pancasila jelas merupakan ideologi yang berfungsi integratif, karena diwujudkan sebagai kristalisasi dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia sendiri. Maka dapat dikatakan, kelahiran Pancasila sebagai dasar negara yang bermakna integratif, implementasinya bermakna institusional karena penghayatan dan pengamalannya didasarkan pada posisinya sebagai dasar negara, ideologi dan ajaran tentang nilai-nilai budaya serta pandangan hidup bangsa, sedangkan pewarisannya berlangsung melalui sosialisasinya sebagai kepribadian bangsa. Dalam lingkaran proses itulah Pancasila dihidupi dan menghidupi bangsa Indonesia.

Sejarah membuktikan bahwa teknologi pun dapat memperoleh otonominya dengan mengubah dirinya menjadi ideologi dengan cara: 1) mengubah pandangan dunia mistis menjadi pandangan dunia mekanis, materialistis, dan teknis; 2) pengaturan kehidupan sosial dilandasi prinsip-prinsip teknologi; 3) mengganti tindakan-tindakan komunikatif bertujuan etis-praktis dengan tindakan-tindakan strategis bertujuan teknis.

Sejak awal kehahirannya pada masa Pencerahan, teknologi telah menghancurkan mitos-mitos dan pla pikir masyarakat tradisional yang dibatasi oleh berbagai legitimasi tradisi kebudayaan seperti mitologi, teologi, filsafat, yang semuanya berfungsi integratif. Pola tersebut disadari sebagai ideologi dalam fungsi distorsif karena bertentangan dengan kepentingan Pencerahan yang melahirkan berbagai penemuan yang menjadi cikal bakal Revolusi Industri. Ideologi yang kemudian muncul sebagai legitimasi baru mengganti pola tradisional dengan pola modern yang membentuk sistem integrasi sosial baru, yakni sistem kapitalisme liberal yang mendasarkan diri pada mekanisme pasar bebas dan serangkaian prinsip tentang kebebasan lainnya. Negara-negara yang menguasai teknologi mulai mengadakan ekspansi dan intervensi yang didorong oleh kepercayaan bahwa ilmu dan teknologi adalah solusi berbagai masalah. Negara-negara tersebut mendasarkan diri pada teknologi sebagai legitimasi kekuasaan teknokratis. Dengan demikian, bentuk integrasi sosial yang terjadi adalah masyarakat teknokratis yang memperluas dan melestarikan kekuasaannya melalui teknologi. Dalam masyarakat teknokratis itu hubungan antarmanusia dipermiskin menjadi hubungan instrumental dan dengan demikian mengabaikan nilai-nilai komunikatif manusiawi.

Oleh karena itu, dalam upaya pengembangan dan alih teknologi, kita perlu mengadakan refleksi apakah teknologi itu kemudian muncul sebagai ideologi, sikap, cara dan gaya hidup, yang melakukan infiltrasi, penetrasi atau bahkan invasi terhadap orientasi nilai-nilai budaya dan pandangan hidup bangsa kita. Refleksi dan orientasi itu mesti diwujudkan pula dalam kesadaran sedemikian rupa agar ilmu dan teknologi dapat disikapi sebagai kenyataan budaya yang sangat berharga dan dibutuhkan dengan tetap mempertahankan fungsi dan peranannya sebagai sarana demi kepentingan manusia seperti disarankan Soerjanto Poespowardojo ( 1989:86 ): “Dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan teknologi, kesadaran religius, budaya, dan ilmiah perlu ditanamkan dan dinyalakan, karena dengan demikian orang mendapatkan motivasi kuat untuk menentukan sikap dan menjalankan kegiatannya secara terbina dan terarah.”

Menyadari kemampuan metamorfosa teknologi sebagai ideologi, Farid Ruskanda ( 1989 ) mengusulkan penambahan ideoware ke dalam rangkaian technoware (peralatan), infoware (informasi), humanware (sumber daya manusia), dan orgaware (organisasi). Ideoware merefleksikan ideologi dan cita-cita pembangunan suatu bangsa secara operasional dalam proses pengembangan, pengalihan maupun pengendalian perkembangan teknologi.

Semestinya pemindahan suatu sistem atau pola yang berasal dari kebudayaan asing ke dalam kebudayaan Indonesia memang harus dapat dilakukan tanpa banyak masalah dalam kaitan perbenturan budaya bila pengisiannya disesuaikan dengan kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Pada umumnya dapatlah dikatakan bahwa di masa lampau bangsa Indonesia telah membuktikan diri sebagai bangsa yang cukup kuat kepribadiannya. Haryati Soebadio ( 1988 ) mengatakan bahwa: “Banyak unsur asing yang telah memasuki kehidupan budaya bangsa kita, namun unsur asing itu telah diserap dan terintegrasi dalam kebudayaan Indonesia sedemikian rupa hingga membentuk sesuatu yang menjadi khas Indonesia, berarti merupakan unsur kebudayaan Indonesia secara wajar. Kesanggupan bangsa kita itu pernah dinamakan ‘local genius’ oleh sarjana asing …” (Istilah local genius diperkenalkan oleh tokoh arkeologi Quatrich Wales dalam bukunya berjudul “The Making of Greater India: A Study in South-east Asia Culture Change”. Istilah itu dirumuskannya sebagai: “The sum of the cultural characteristics which the vast majority of a people have in common as a result of their experiences in early life.”)

Peninggalan sejarah bangsa seperti candi Borobudur yang unik di dunia (tidak ditemukan di tempat lain) adalah salah satu contoh perwujudan local genius yang dimaksudkannya. Kita mengetahui bahwa candi Borobudur dipengaruhi budaya India. Demikian pula dengan seni musik keroncong (masukan dari seni musik Portugis), corak batik pesisir utara Jawa (masukan dari motif China dan Belanda), yang telah berkembang sedemikian rupa hingga menjadi milik khas Indonesia.

 

Dampak-dampak teknologi modern

Teknologi modern tidak bebas nilai seperti teknologi tradisional. Namun, pengembangan dan alih teknologi modern merupakan alternatif yang tidak dapat ditolak sebagai sarana modernisasi. Secara langsung, pengembangan dan alih teknologi modern itu berpengaruh pada kehidupan. M.T. Zen ( 1981 ) menyebutkan empat bidang yang dipengaruhinya:

  1. langsung ke bidang intelektual; meninggalkan kebiasaan-kebiasaan, ataupun kepercayaan-kepercayaan tradisional dan mengambil kebiasaan-kebiasaan baru;
  2. pengaruh pada bidang industri dan kemampuan di medan perang;
  3. perubahan yang dibawakannya pada organisasi-organisasi sosial lambat laun merambat dalam kehidupan politik;
  4. perubahan maupun benturan terhadap tata lingkung.

Sedangkan Soerjanto Poespowardojo ( 1989:68-69 ) juga menyebut empat bidang yang dijangkau oleh penerapan teknologi, yaitu: ekonomi, sosial, politik dan pandangan hidup. Diakui amatlah sukar membuat daftar dampak negatif teknologi berdasarkan jenisnya. Hal itu sesuai dengan sifat kemenduaan teknologi. Di bidang informasi dan komunikasi, misalnya, teknologi memiliki dampak negatif sendiri selain kegunaannya bagi manusia dalam segenap aspek kehidupannya. Demikian pula dengan teknologi di bidang pertambangan, pertahanan dan keamanan, maupun jenis-jenis atau bidang pengembangan teknologi lainnya.

 

Bidang Ekonomi

Penerapan teknologi sebagai pendukung modernisasi menumbuhkan mekanisme ekonomi baru dengan pola-pola produksi, distribusi dan konsumsinya. Dalam mekanisme yang demikian, manusia cenderung menjadi alat teknologi dalam arti bahwa ialah yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi, bukan sebaliknya. Dengan demikian manusia seolah-olah dihinggapi penyakit Dr. Frankenstein’s syndrome, karena teknologi modern dan industrialisasi melimpahi kehidupan manusia dengan berbagai macam barang dan fasilitas yang makin mengurangi kerja otak dan fisiknya sedemikian rupa sehingga mampu menelannya. Sedemikian hebatnya pengaruh teknologi modern dalam sistem masyarakat teknologis/ teknokratis sehingga Sutarjo Adisusilo Jr. ( 1983:114 ) pun sampai pada kesimpulan bahwa “Sistem teknokratis yang didukung teknologi condong ke pemusatan dan peningkatan kekayaan ekonomi, kekuatan kekuasaan politik dan technological know-how.”

Dalam kenyataannya, pembagian kekayaan, kekuasaan serta informasi tidak merata karena mereka yang menguasai teknologi memiliki jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak. Penerapan teknologi dan industri modern selalu berkaitan erat dengan perkembangan ekonomi dan pembangunan. Kecenderungan ekonomi-sentris itu sering pula mengabaikan bidang pemeliharaan tata lingkungan, dengan berbagai limbah produksi yang mengikis kuantitas sekaligus kualitas sumber daya alam.

Dalam masyarakat yang demikian, penghargaan kepada manusia pun didasarkan pada pertimbangan ekonomis, yaitu sejauh mana dan seberapa besar prestasinya dengan ukuran matematis. Demi tujuan ekonomis, pola hidup menjadi lebih konsumtif untuk mencapai kebutuhan baru dan keuntungan yang lebih banyak. Tingkah laku manusia (konsumen) diatur sedemikian rupa oleh manusia lain (produsen) dengan pendayagunaan media massa, elektronik maupun cetak.

 

Bidang Sosial

Penerapan teknologi modern menyebabkan stratifikasi sosial yang semakin kompleks. Mekanisme dan konsekuensi rasional instrumentalisme teknologi menempatkan struktur hirarkis, kontrol, dan dominasi teknologi dalam seluruh aspek kehidupan manusia.

Siapa pun yang memilih dan atau menggunakan hasil-hasil teknologi tentu ‘diwajibkan’ mendukung sebagian proses teknis berupa pemilihan dan penggunaan bahan baku, sistem dan cara kerjanya, ongkos reklame sampai akibat konsumtifnya. Dengan perkataan lain, secara teknis bila tiap-tiap individu dalam masryarakat terlibat dan hidup di bawah realitas teknologi tersebut, maka seluruh sistem pengangkutan, peraturan pemerintah, pemasaran barang/ jasa dan struktur sosial-ekonomis secara praktis disesuaikan dengan penggunaan teknologi yang terkait, atau seperti dikatakan oleh Sutarjo Adisusilo Jr. ( 1983:111 ): “… dasar dari pola hidup kita sebenarnya sudah ditentukan oleh teknologi dan teknik.” Maka tepatlah kesan penulis buku The Technological Society, Jacques Ellul dalam prakatanya: “Tak ada kenyataan sosial manusia atau rohani yang demikian penting seperti kenyataan adanya teknologi dalam dunia modern.”

 

Bidang Politik

Penerapan teknologi modern mengakibatkan kekuasaan tidak hanya didasarkan pada status warisan atau legitimasi hukum, melainkan juga (sangat) terbuka bagi mereka yang menguasai ilmu dan teknologi. Dengan demikian, peranan para ahli teknologi/ ilmuwan semakin besar dalam proses pengambilan keputusan, terutama dalam rangka pengembangan dan alih teknologi terkait, termasuk bagaimana dan sejauh mana teknologi mampu mendukung kekuasaan.

Dalam percaturan politik internasional, negara-negara berteknologi supra-modern memegang kendali perekonomian dan politik dunia. Kekuatan militer kini sangat ditentukan oleh pemilikan dan penggunaan teknologi canggih (modern). Hal itu nyata melalui perlombaan penemuan senjata-senjata baru seperti peluru kendali berkepala nuklir, obat-obat kimia untuk keperluan perang, bom neutron dan sebagainya. Teknologi pula yang mengembangkan teknik-teknik cemerlang dari terorisme internasional, sistem intelejen yang praktiknya tidak menghiraukan nilai-nilai kemanusiaan lagi. Soedjatmoko ( 1977:194-195 ) bahkan pernah menyatakan bahwa sebagian besar penelitian ilmiah yang melahirkan teknologi baru dilakukan dalam rangka perkembangan senjata yang pada pokoknya bertujuan untuk menambah kemusnahan bagi umat manusia. Selain itu, sifat sebagian teknologi baru adalah technology of convenience, yang tertuju pada golongan umat manusia yang sudah paling tinggi tingkat kehidupan materialnya.

Kekhawatiran serupa juga diungkapkan E.F. Schumacher ( 1973:34 ) yang merasa prihatin terhadap akibat teknologi terhadap lingkungan hidup dan kaum miskin: “Ever bigger machines, entailing ever bigger concentration of economic power and exerting ever greater violence against the environment, do not represent progress; they are a denial of wisdom. Wisdom demands a new orientation of science and technology toward the organic, the gentle, the now violent, the elegant and beautiful.”

 

Bidang Pandangan Hidup

Penerapan teknologi modern mampu mengubah sistem nilai masyarakat karena benturan budaya dan atau ideologi yang dibawa atau berada di balik teknologi itu. Yang nyata telah kita alamai adalah penyerapan unsur-unsur budaya asing, cara berpikir dan penalaran yang lebih kritis-rasional. Di kalangan perguruan tinggi, misalnya, adagium “Kaki mahasiswa di Timur, kepalanya di Barat” yang sudah lazim sejak awal kemerdekaan pun menunjukkan betapa besar pengaruh budaya asing yang sudah menjadi bagian hidup kita sehari-hari.

Melalui pengamatan yang dilakukannya sejak Repelita I Orde Baru, Soerjanto Poespowardojo menyebutkan empat kecenderungan masyarakat yang merupakan masalah kita bersama, yaitu: reifikasi, manipulasi, fragmentasi dan individualisasi. Segala sesuatu harus diwujudkan dengan dan dalam bentuk-bentuk lahiriah yang nyata agar dapat diukur secara kuantitatif. Kecenderungan reifikasi (Lat. res = benda) mengabaikan dimensi etis dan religius manusia, seolah-olah segala kebenaran hanya dapat dibuktikan secara ilmiah (scientism), sebagaimana telah dinyatakan melalui penemuan-penemuan teknologi yang didasarkan pada pretensi kemampuannya dalam mengubah dan memberikan arah serta arti, makna yang baru dalam kehidupan manusia. Dengan cara yang sama, manipulasi pun berkembang melalui berbagai iklan produk, tontonan dan pemberitaan yang mempermainkan fantasi dan imajinasi masyarakat.

Disiplin dan struktur hirarkis ilmu dan teknologi memengaruhi pembaruan strata sosial masyarakat melalui gejala-gejala fragmentasi yang menyertai proses pembangunan dan modernisasi. Yang terakhir, individualisasi merupakan kecenderungan yang bersifat mendua. Satu mengarah ke individualisme dalam arti positif dengan ciri-ciri kesadaran dan kepercayaan akan kemampuan diri sendiri dalam berinisiatif dan berprestasi, bertindak lebih rasional dan bertanggung jawab. Arah lain yang negatif adalah egoisme yang tidak sehat, sikap mau menang dan benar sendiri, seperti tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari: kesemrawutan lalu-lintas, penyerobotan, over-lapping, dan sebagainya.

 

Dampak teknologi modern dalam semua bidang tersebut berlangsung dalam keterkaitan satu sama lain. Kiranya takkan cukup waktu dan tempat untuk meneliti semua dampak negatif teknologi canggih. Produksi, distribusi, dan konsumsi dalam pola ekonomi modern merusak biosfer. Eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran, selain menguranginya sekaligus juga merusak lingkungan hidup, memanaskan atmosfer, membocorkan lapisan ozon, memperluas padang gurun, menipiskan cadangan air tanah (tawar), dan menjadikan hama semakin resisten. Lebih dari itu teknologi moden terbukti mampu mengubah struktur masyarakat dan tingkah laku yang menyertai modernisasi, mengarah pada dehumanisasi, merusak kesehatan raga dan jiwa manusia. Apalagi, transfer of technology tak pernah hanya sekadar pemindahan teknologi belaka, tetapi juga selalu membawa kultur tempat lahir teknologi itu, seperti dikatakan oleh Jacques Ellul: “Teknik membawa ideologinya sendiri. Dan setiap realisasi teknik menimbulkan pembenaran-pembenaran ideologisnya.”

Sedemikian hebatnya pengaruh teknologi modern itu tampak pula pada kemampuannya menguasai ilmu yang semula dianggap sebagai ibunya. Kini, ilmu mendapatkan bantuan dari teknologi dan bersamaan dengan itu diabdikan pula untuk penyempurnaannya. Sekadar contoh, dapat dikemukakan bahwa ilmuwan kini jauh lebih mudah mengembangkan ilmu berkat teknologi komputer. Berbagai simulasi dapat dilakukan dalam waktu yang jauh lebih cepat dan tepat daripada cara-cara konvensional. Dengan cara yang sama, teknologi mengambil alih kegiatan produktif manusia, dan dengan demikian ia pun menguasai seluruh kegiatan manusia.

Hidup selalu mengandung risiko. Namun risiko yang ditimbulkan oleh teknologi itu menyangkut seluruh eksistensi manusia bersama orientasi, sikap dan pola hidupnya. Tepatlah harapan Soerjanto Poespowardojo ( 1989:15 ): “Teknologi baru akan berjasa apabila diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.”

Satu Tanggapan

  1. Thanks FOR your information
    its very importen for us.

    Your welcome.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: