• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Oktober 2008
    S S R K J S M
    « Sep   Nov »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Teknologi, Industrialisasi, dan Modernisasi

Teknologi dan perkembangannya

Teknologi (applied science) menampakkan sifat kemenduaannya (ambiguity): bersifat positif dan negatif. Istilah ‘teknologi’ pertama kali diperkenalkan pada tahun 1706 oleh Philips dalam buku berjudul “Technology: A Description of the Arts, Especially the Mechanical.”

Secara tradisional, teknologi berkembang bersama dengan perkembangan kebudayaan. Manusia menggunakan teknologi tradisional sejak sejuta tahun yang silam, Waktu itu manusia mulai membuat alat-alat dan menjinakkan api. “With tools and weapons of wood, stone, and bone, man killed and skinned animals and made cothes and tents.” Delapan hingga sepuluh ribu tahun yang lalu, manusia mengenal teknologi pertanian yang menyebabkan revolusi di bidang pertanian. Sampai dua atau tiga abad yang lalu, teknologi terus menerus mengalami kemajuan. Kita kenal arsitektur Mesir, pertanian di Mesopotamia (lembah sungai Eufrat dan Tigris), lembah sungai Nil dan Indus. Orang Yunani yang menemukan mesin-mesin sederhana memberikan sumbangan yang amat mempermudah hidup manusia. Encyclopedia Americana, Grolier Incorporated, Danburry, Connecticut, 1986, vol26, hal.361: “However one Greek discovery, the use and study of machines, was fundamental and this in turn gave rise the concept of natural power.” Perkembangan selanjutnya, orang menemukan bubuk mesiu yang sangat bermanfaat dalam teknologi persenjataan. Mesin uap memajukan transportasi dan industri, listrik memberikan energi dan penerangan, telepon mempermudah komunikasi, dan sebagainya.

Teknologi benar-benar merupakan revolusi bagi kehidupan manusia sejak dunia ilmu diguncang oleh terobosan pembuktian pemikiran Galileo Galilei ( 1564-1642 ) tentang tata surya. Ia mendukung pendapat heliocentrisme Copernicus ( 1473-1543 ) dan Johannes Keppler ( 1546-1601 ) dengan teropong bintang yang dapat digunakan untuk melihat beberapa peristiwa di angkasa secara langsung. Karena itu pantaslah bila Galileo Galilei dianggap sebagai pelopor perkembangan ilmu dan penemu dasar ilmu modern, karena penemuannya didasarkan pada soal-soal obyektif.

Dari perkembangan antropo-budaya, ( Sutarjo Adisusilo Jr., 1983:102-103 ) dikenal tiga fase proses teknik hingga dewasa ini, yaitu:

a) Fase “Teknik Destruktif”

Dalam fase primitif ini bahan teknik diambil langsung dari alam dan tidak ada usaha mengembalikannya ke alam lagi. Orang-orang pada zaman batu hidup dalam fase teknik ini, yakini mengambil apa saja dari alam tanpa usaha menanam sendiri.

b) Fase “Teknik Konstruktif”

Sejak zaman batu baru sampai abad pertengahan, manusia mulai menciptakan hasil-hasil kebudayaan yang sebelumnya tidak terdapat di alam, seperti: rumah, alat-alat memasak, senjata logam, ladang/ sawah, peternakan dan sebagainya. Dengan demikian mereka menciptakan suatu lingkungan baru (the second nature) demi kesejahteraan hidup mereka.

c) Fase “Teknik Modern”

Dalam fase modern ini teknologi selalu mendorong penciptaan atau tambahan ilmu baru yang lebih maju, dan demikian seterusnya secara berulang dan saling mengait, sehingga perkembangan ilmu modern tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi modern. Science without technology has no fruit, technology without science has no root.

Antropolog J.J. Honigmann dan A.L. Kroeber ( 1958:582-583 ) menyatakan tiga wujud utama kebudayaan, yaitu: wujud ideal (culture system), sistem sosial (social system), dan wujud fisik (material/ physical culture). Teknologi adalah wujud terakhir kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan masyarakat, ketiga wujud kebudayaan itu tak terpisahkan dan saling memengaruhi.

Sutarjo Adisusilo Jr. ( 1983:15 ) menjelaskan hubungan itu sebagai berikut: “Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia. Baik pikiran dan ide-ide, maupun tindakan dan karya manusia, menghasilkan benda-benda kebudayaan fisik. Sebaliknya, kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan alamiahnya sehingga memengaruhi pula pola-pola perbuatannya, bahkan juga cara berpikirnya.”

Menurut dimensi isinya, kebudayaan dapat dipilah menjadi tujuh cabang, yakni: 1) bahasa, 2) kesenian, 3) religi, 4) sistem pengetahuan, 5) sistem teknologi, 6) organisasi sosial, dan 7) sistem ekonomi. Keseluruhan isi kebudayaan itu tidak dapat dianalisis secara terpisah, sebab pada hakikatnya setiap komponennya saling tumpang tindih secara komplementer.

Jelaslah bahwa sistem pengetahuan dan teknologi merupakan bagian integral dari kebudayaan secara universal. Hal itu lebih nyata dalam pengertian kebudayaan yang beredar di kalangan para ahli Unesco, sebagaimana pernah diungkapkan oleh Marsetio Donoseputro: “Kebudayaan adalah seluruh kekayaan warisan sosial (inheritance social wealth) yang didapatkan melalui proses historis yang panjang, berupa semua pandangan, pikiran, kebendaan, kemahiran, nilai-nilai hidup, dan organisasi sosial tertentu, yang didapatkan melalui suatu proses pengalaman dan proses belajar serta tidak karena sekadar naluri.”

Dengan demikian proses historis perkembangan teknologi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan historis kebudayaan. Keberhasilan Galileo Galilei tampaknya merupakan konsekuensi logis dari proses pemutarbalikan orientasi pemikiran teologis ke ‘antroposentrisme’ pada masa pembaruan Renaissance, yang berlangsung selamat lebiuh kurang dua abad ( 1400-1600 ). Para filsuf terpenting pada masa itu adalah Niccolo Machiavelli ( 1469-1527 ), Thomas Hobbes ( 1588-1679 ), Thomas Moore ( 1478-1535 ) dan Francis Bacon ( 1561-1626 ) yang mencari inspirasi mereka dalam warisan Yunani-Romawi antik, untuk menjadikan manusia sebagai titik fokus kenyataan.

Pembebasan dari dominasi agama itu menyebabkan manusia ‘lahir kembali’ secara kultural. Zaman Renaissance disusul dengan zaman Barok yang lebih menekankan kemungkinan akal budi (ratio) manusia. Tokoh-tokoh yang terkenal pada zaman ini adalah Rene Descartes ( 1596-1650 ) dengan ucapannya: Cogito, ergo sum! Juga B. Spinoza ( 1632-1677 ) dan G. Leibniz ( 1646-1710 ). Mereka lebih menegaskan pencarian rasionalitas manusia dalam kedudukan dan martabatnya selain yang dijelaskan oleh agama bahwa ia adalah makhluk Tuhan.

Abad XVIII memperlihatkan perkembangan baru, yang menyusul reformasi zaman Renaissance dan rasionalisme zaman Barok. Dalam sejarah filsafat Barat, periode ini dikenal dengan ‘Zaman Pencerahan’ atau ‘Fajar Budi’ (Ing. Enlightenment; Jer. Aufklarung). Filsuf-filsuf terkenal pada masa ini antara lain: John Locke ( 1632-1704 ), G. Berkeley ( 1684-1753 ), David Hume ( 1711-1776 ) dari Inggris, Jean Jacques Rousseau ( 1712-1778 ) dari Prancis dan Immanuel Kant ( 1724-1804 ) dari Jerman. Mereka menciptakan sintesis dari rasionalisme dan empirisme.

Pada masa itulah Revolusi Industri dimulai, yakni dengan diketemukannya karya tembikar ilmiah oleh Josiah Wedgewood, disusul dengan John Smeaton yang memperdalam penemuan ledakan dalam tungku perapian. Tahun 1769 James Watt menemukan mesin uap, dan tahun 1785 Cartwright berhasil menemukan alat tenun untuk pabrik tekstil. Berbagai penemuan berikutnya saling menyusul, sehingga membangkitkan optimisme bahwa teknologi akan mampu memakmurkan dan meningkatkan taraf hidup manusia.

Sirkulasi teknologi pada masa itu dianggap sebagai keterampilan yang membebaskan manusia dari pekerjaan fisik yang melelahkan. Bertolak dari kenyataan inilah kiranya teknologi dapat dipandang sebagai sintesis dari rasionalisme dan empirisme.

Tantangan masa depan Indonesia

Jumlah penduduk yang sangat besar ‘memakan’ pendapatan nasional Indonesia, sehingga porsi pembangunan menjadi sangat terbatas. Pendapatan perkapita tak bisa begitu saja digunakan untuk mengukur kemajuan kesejahteraan suatu bangsa. Ketika puluhan juta rakyat (menurut data dari BPS maupun Bank Dunia – silakan saja – tentu dengan parameter masing-masing) berada di bawah garis batas hidup layak minimal alias miskin, beberapa orang Indonesia tercatat sebagai orang-orang terkaya di dunia. Demikian pun kita masih terus dihantui mentalitas korup yang tak mudah diberantas oleh banyak dan beragamnya peraturan, undang-undang dan pembentukan aneka komisi.  Bahkan korupsi itu kian marak pula di antara para penegak hukum dan lembaga-lembaga  yang semestinya menjadi garda terdepan upaya kolektif pemberantasan korupsi.

Penyediaan lapangan kerja dan pangan yang cukup bagi penduduk adalah tantangan yang luar biasa beratnya. Demikian pula pengendalian sentra-sentra perumahan yang padat (over-crowded) dan mobilitas warga. Daratan Indonesia (lebih kurang 1.919.443 km persegi) tak akan bertambah luas. Sumber alam yang selama ini digali dari dalam tanah, hutan, dan sungai terancam habis bila tidak ada usaha konservasi yang memadai. Berkat kemajuan teknologi, lingkungan buatan manusia (man made environment) semakin mendesak lingkungan alam. Persawahan yang beberapa tahun sebelumnya subur, produktif dan sekaligus menjadi tandon air, sebagian besar sudah ditumbuhi gedung-gedung, dan jalan di depannya sering tergenang air.  Taman dan hutan kota pun mudah sekali beralih fungsi. Hal ini menimbulkan aneka masalah lingkungan hidup, sehingga usaha pemeliharaannya pun semakin penting dan mendesak.

Dalam menghadapi tantangan kependudukan dan lingkungan tersebut, peranan ilmu dan teknologi semakin dibutuhkan. Ilmu dan teknologi harus bisa menjawab pertanyaan bagaimana menghidupi jumlah manusia yang sedemikian besar dengan sumber alam dan lingkungan yang tersedia. Indonesia pun menghadapi tantangan gelombang ‘revolusi genetika’ (sesudah revolusi di bidang pertanian, industri dan informasi). Kesempatan berperanserta aktif dalam revolusi keempat itu terbuka lebar karena sesungguhnya kekayaan areal hutan tropis yang luas dan memuat banyak sumber plasma nutfah (genetic resources). Demikian disarankan oleh Emil Salim ( 1989 ) agar “Indonesia memelihara keutuhan seluas mungkin hutannya bagi perkembangan pembangunan di masa depan.” Penyilangan berbagai plasma nutfah dapat meningkatkan produksi dan menghasilkan produk-produk baru. Dalam hal terakhir ini – selain contoh-contoh serupa lainnya di bidang percepatan pembangunan yang didukung ilmu dan teknologi modern – heboh tentang varietas padi unggul beberapa waktu lalu mungkin merupakan sebuah ‘kecelakaan’ yang tak perlu terjadi bila semua pihak mematuhi aturan dan bisa mengendalikan diri.

Penguasaan sumber alam serta pengembangan teknologi berlangsung dalam iklim persaingan yang semakin ketat. Dalam situasi persaingan itu, negara-negara maju lebih beruntung karena jumlah penduduknya sudah stationer dan ditopang pula oleh ilmu dan teknologi modern yang mendorong pendapatan perkapita penduduknya. Sementara itu negara-negara berkembang masih sibuk membendung laju pertambahan penduduknya dan dengan mentalitas yang kurang mendukung ditambah pendapatan perkapita yang nyata masih belum tergolong layak untuk hidup di tengah pesatnya perkembangan zaman yang semakin menuntut kemampuan bersaing.

Segala tantangan berikut kelemahan dan atau kekurangan pada bangsa ini semestinya mendorong upaya bersama seluruh komponen bangsa untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain ketimbang tak pernah berhenti saling menyalahkan karena merasa diri dan kelompoknya yang paling benar. Sayang apabila kita mengabaikan tantangan-tantangan yang nyata di depan mata dan justru menciptakan tantangan-tantangan maya di bidang ini dan itu untuk sekejap bermimpi menjadi bangsa yang besar sambil terus bertengkar sehingga nilai-nilai persatuan – sebagai prasyarat kesejahteraan bersama seluruh bangsa – justru semakin longgar.

Hubungan kausalitas teknologi, industrialisasi dan modernisasi

Janji awal teknologi yang memberikan pengetahuan teknis dan latihan tentang know-how keterampilan dan kerajinan tangan, memungkinkan manusia mampu secara pribadi maupun kolektif mencari nafkah dengan menguasai lingkungannya. Namun pada perkembangan selanjutnya, kemajuan ekonomis yang diperoleh melalui Revolusi Industri itu juga menimbulkan lompatan-lompatan yang sulit terkejar oleh perkembangan sistem sosial-kemasyarakatan, sehingga pada gilirannya dapat juga menelurkan akibat-akibat yang tidak dikehendaki. Salah satu akibat yang dibuktikan oleh kenyataan sejarah antara lain bahwa kemajuan teknologi membuat bangsa dan negara penemu atau tempat penerapannya menjadi bangsa dan negara yang bersifat imperialis/ kolonialis. Ketika sumber daya alam yang dimilikinya menipis, negara-negara itu mengalihkan eksplorasinya ke negara-negara lain yang kaya sumber daya alam penunjang industrinya. Eksplorasi sumber daya alam di negeri-negeri jajahan pada perkembangan selanjutnya maupun bersamaan dengan itu menimbulkan eksploitasi sumber daya manusia yang diabdikan kepada teknologi.

Maka negara-negara bekas jajahan seperti Indonesia, yang baru diberi kesempatan sejak tahun 1945 untuk secara bebas menentukan sendiri identitasnya dan mengembangkan sendiri potensinya sebagai suatu kesatuan ekonomi, kultural dan politik, tidak bisa diharapkan dapat berdiri atas dasar yang sama dengan negara-negara yang telah memulai pembangunannya sejak ratusan tahun lalu. Mengenai hal itu B.J. Habibie ( 1986:13 ) mengatakan: “Untuk dapat menjadi suatu negara-bangsa yang merdeka secara ekonomis, negara itu harus mampu menghasilkan barang-barang, jasa-jasa yang diperlukannya sendiri atau yang diperlukan oleh dunia pada umumnya, sehingga kelebihan produksinya dapat ditukarkannya dengan barang-barang dan jasa yang diperlukannya tetapi tidak mampu dihasilkannya sendiri.”

Kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa perkembangan kerajinan tangan dan keterampilan itu telah menumbuhkan cara berpikir produktif yang disertai pandangan dan sikap hidup teknokratis. Cara berpikir produktif tersebut mempercepat proses industrialisasi yang diperlukan untuk meningkatkan dan atau mempertahankan eksistensi suatu bangsa dan negara yang mandiri secara ekonomis, politis dan kultural.

Demikianlah teknologi telah merembes ke dalam kehidupan manusia sehari-hari sehingga dapat dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Dalam hal ini industrialisasi berperan sebagai produsen yang membanjiri masyarakat dengan berbagai produk teknologi yang terbukti mampu memenuhi kebutuhan manusia. Dengan bantuan teknologi, industrialisasi mampu menyediakan sebagian besar barang-barang dan jasa yang memberikan kenikmatan material bagi masyarakat modern.

Mengomentari gejala hubungan kausalitas antara teknologi, industrialisasi dan modernisasi itu Fuad Hassan ( 1977:27 ) mengungkapkan bahwa manusia-manusia tropis pun kini merasa tak mampu melakukan kegiatan produktif kalau ruang kerjanya tidak air conditioned. Pada bagian lain telaah filosofisnya yang dirangkum dalam buku berjudul Heteronomia, ia pun menyatakan: “Tidak kalah penting artinya pengaruh teknologi modern terhadap perubahan status mental manusia yang dikenai oleh teknologi modern itu. Tanpa sadar kita berangsur-angsur menghadapi kenyataan hidup baru; menyempitnya penghayatan Ruang dan Waktu adalah salah satu di antaranya. Dan ini berarti bahwa teknologi telah menciptakan suatu Ruang Hidup (life-space) dan Tempo Hidup (life-pace) yang radikal berbeda dengan apa yang kita hayati dalam kehidupan masyarakat tradisional.”

Perbedaan yang jelas antara hidup tradisional dengan pola hidup modern itu tampak pada kemajuan teknologi dan industrialisasi yang melayani kebutuhan manusia. Oleh karena itu sikap antipati terhadap teknologi modern tidaklah adil. Sebagaimana kita alami, untuk mengetahui segi positif dari perkembangan teknologi dan hubungan kausalitasnya dengan industrialisasi dan modernisasi tidaklah sesukar mengenali dampak negatif yang dapat ditimbulkannya melalui penampilan fisik teknologi itu.

Dalam kenyataannya, kini tak sebuah bidang kehidupan manusia yang tidak disentuh teknologi modern. Di bidang pertambangan, pertahanan dan keamanan, pertanian, informasi dan komunikasi, kedokteran, maupun dan terutama dalam berbagai macam industri dengan mesin-mesin dan robot-robot elektroniknya, dan sebagainya, teknologi modern menampakkan keunggulannya.

Semakin nyatalah hubungan kausalitas antara teknologi, industrialisasi dan modernisasi. Dunia semakin maju (modern) karena industrialisasi yang didukung oleh teknologi modern. Teknologi telah menjadi kunci keberhasilan pembangunan bangsa-bangsa dalam menghadapi tantangan masa depan masing-masing.

Namun, peningkatan kuantitas pembangunan untuk menanggapi pertambahan penduduk yang semakin besar dalam keadaan semakin berkurangnya sumber alam serta lingkungan alam, pengembangan teknologi dan persaingan dunia yang semakin ketat tidak boleh mengabaikan peningkatan kualitas sumber daya manusia (human resources). Hal itu disebabkan oleh karena pada hakikatnya pembangunan ditujukan pada manusia sebagai satu kesatuan yang utuh. Manusia tidak dapat dipuaskan oleh kebutuhan material belaka seperti pangan, sandang, perumahan dan sebagainya. Selain pemenuhan kebutuhan materialnya, manusia juga menuntut pemenuhan kebutuhan non-material seperti keadilan, kebebasan, keterbukaan dan sebagainya.

Industrialisasi menyebabkan tumbuhnya perikehidupan perkotaan, yang budaya keduanya jelas berlainan dengan budaya desa dan pertanian. Perbenturan budaya ini – sebagaimana sudah dan akan terus dialami – menimbulkan dampak yang sangat luas, sehingga kualitas pembangunan perlu mendapatkan tumpuan iman, moral, dan rasionalitas. Peningkatan kualitas pembangunan hendaknya tidak dimaksudkan sebagai tindakan progresif untuk dapat mengikuti arus perkembangan pembangunan fisik atau material belaka, melainkan juga sebagai tindakan defensif untuk melindungi kepentingan bangsa dan negara Indonesia atas dasar kepribadian Pancasila.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: