• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Oktober 2008
    S S R K J S M
    « Sep   Nov »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Kota Malang Selintas

Sesanti “Malang Kucecwara” berarti “Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang benar”. Perisai berbentuk segilima bermakna semangat perjuangan kepahlawanan, kondisi geografis, pegunungan, serta semangat membangun untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Warna merah-putih adalah lambang bendera nasional Indonesia. Kuning berarti keluhuran dan kebesaran. Hijau adalah kesuburan. Biru muda berarti kesetiaan kepada Tuhan, negara dan bangsa.

DPRGR mengukuhkan lambang Kotamadya Malang dengan Perda No.4/1970. Semboyan “Malang Kucecwara” diusulkan oleh Prof.Dr. R.Ng. Poerbatjaraka berdasarkan keeratan hubungannya dengan asal mula Kota Malang pada masa Ken Arok. Semboyan itu mulai digunakan pada peringatan 50 tahun berdirinya Kotapraja Malang (1964). Motto yang digunakan sebelumnya adalah “Malang Nominator, Sursum Moveor” (Malang Namaku, Maju Tujuanku”) yang disahkan dengan Gouvernement Besluit dd 25 April 1938 No.027.

Kota Malang – seperti kota-kota lain di Indonesia pada umumnya – baru tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan keluarga-keluarga bangsa Belanda. Kesan diskriminatif itu masih berbekas hingga sekarang.

Misalnya kawasan Ijen Boulevard (Jalan Besar Ijen) dan sekitarnya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Lingkungan perumahan elit itu sekarang bagai monumen yang menyimpan misteri dan sering mengundang keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim di sana sekadar untuk bernostalgia.

Tahun 1879, di Kota Malang mulai beroperasi kereta api dan sejak itu Kota Malang berkembang semakin pesat. Berbagai kebutuhan masyarakat pun meningkat, terutama kebutuhan akan ruang gerak untuk melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah. Daerah yang terbangun bermunculan tak terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

Seiring perkembangan tersebut, urbanisasi terus berlangsung dan kebutuhan masyarakat akan perumahan meningkat di luar kemampuan pemerintah, sementara tingkat ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang di sekitar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hijau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan.

Selang beberapa lama kemudian daerah itu menjadi perkampungan, dan degradasi kualitas lingkungan hidup pun mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya. Gejala itu cenderung terus meningkat, dan sulitlah dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya masalah itu diabaikan.

Sekilas Sejarah Pemerintahan

Malang merupakan sebuah Kerajaan yang berpusat di wilayah Dinoyo, dengan rajanya Gajayana.

· 1767 Kompeni memasuki Kota.

· 1821 kedudukan Pemerintah Belanda dipusatkan di sekitar kali Brantas.

· 1824 Malang punya Asisten Residen.

· 1882 rumah-rumah di bagian barat Kota didirikan dan alun-alun dibangun.

· 1 April 1914 Malang ditetapkan sebagai Kotapraja.

· 8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang.

· 21 September 1945 Malang masuk Wilayah Republik Indonesia.

· 22 Juli 1947 Malang diduduki Belanda.

· 2 Maret 1947 Pemerintah RI kembali memasuki Kota Malang.

· 1 Januari 2001, menjadi Pemerintah Kota Malang.

Malangkucecwara

Semboyan “Malang Kucecwara” erat kaitannya dengan asal mula Kota Malang yang pada masa Ken Arok lebih kurang delapan abad yang lampau menjadi nama tempat di sekitar candi bernama Malang.

Letak candi itu masih menjadi tanda tanya dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Daerah Malang dan sekitarnya termasuk Singosari merupakan pusat kegiatan politik dan budaya sejak tahun 760 s.d. tahun 1414 berdasarkan tulisan batu di Dinoyo. Kegiatan selama masa itu diikuti oleh kegiatan budaya tidak dapat digambarkan sebagai perkembangan satu dinasti saja, melainkan merupakan rangkaian kegiatan politik dan budaya dari beberapa turunan. Demikian diungkapkan oleh almarhum Prof. Drs. S. Wojowasito dalam tulisannya tentang sejarah dan asal mula Kota Malang.

Lebih jauh diungkapkan dari beberapa keturunan itu, ada yang jelas terpisah dalam arti tidak ada hubungan antara satu keturunan dengan keturunan lainnya, seperti keturunan Dewasimba, Gajayana di Dinoyo dengan keturunan Balitung, Daksa, Tulodong dan Hawa, akhirnya Sindhok. Keturunan berlanjut kepada Dharmawangsa, Airlangga hingga yang terakhir yaitu Kertajaya (1215 -1222).

Kemudian timbullah dinasti Ken Arok yang merupakan estafet pertama dari raja-raja Majapahit sampai raja terakhir Bhre Tumapel (1447-1451). Ketika Ken Arok mulai melancarkan kegiatannya, Tumapel hanya merupakan semacam kabupaten dari daerah Jenggala yang pada waktu itu praktis berada di bawah kekuasaan Kertajaya dari Kediri. Batara Malangkucecwara, disebut di dalam piagam tahun 908 dekat Singosari. Piagam itu menerangkan bahwa orang-orang yang mendapatkannya adalah para pemuja batara dari Malangkucecwara, Putecwara Kutusan, Cilebhedecwara dan Tulecwara. Penyebutan nama-nama seperti Batara dari Malangkucecwara, Putecwara dan sebagainya membuktikan bahwa nama-nama itu adalah nama raja-raja yang pernah memerintah dan pada saat dimakamkan di dalam candi lalu disebut Batara.

Dengan disebutkannya Piagam Dinoyo, sekarang adalah Kelurahan Dinoyo, maka masuk akal jika candi Malangkucecwara itu ada dekat Kota Malang sekarang.

Gelar yang disandang Kota Malang

1. Parijs van Java

Karena kondisi alamnya yang indah, iklimnya yang sejuk dan kotanya yang bersih, bagaikan kota Paris-nya Jawa Timur.

2. Kota Pesiar

Kondisi alam yang elok menawan, bersih, sejuk, tenang dan fasilitas wisata yang memadai merupakan ciri-ciri sebuah kota tempat berlibur

3. Kota Peristirahatan

Suasana Kota yang damai sangat sesuai untuk beristirahat, terutama bagi orang dari luar kota Malang, baik sebagai turis maupun dalam rangka mengunjungi keluarga/famili.

4. Kota Pendidikan

Situasi kota yang tenang, penduduknya ramah, harga makanan yang relatif murah dan fasilitas pendidikan yang memadai sangat cocok untuk belajar/ menempuh pendidikan.

5. Kota Militer

Terpilih sebagai kota Kesatrian. Di Kota Malang ini didirikan tempat pelatihan militer, asrama dan mess perwira di sekitar lapangan Rampal, dan pada zaman Jepang dibangun lapangan terbang Sundeng di kawasan Perumnas sekarang.

6. Kota Sejarah

Sebagai kota yang menyimpan misteri cikal bakal tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar seperti Singosari, Kediri, Majapahit, Demak dan Mataram. Di Kota Malang juga terukir awal kemerdekaan Republik. Kota Malang bahkan tercatat masuk nominasi akan dijadikan Ibukota Negara Republik Indonesia.

7. Kota Bunga

Cita-cita yang merebak di hati setiap warga kota senantiasa menyemarakkan sudut kota dan tiap jengkal tanah warga dengan warna warni bunga.

Penduduk dan Sosiologi

Kota Malang memiliki luas 110.06 km. persegi dengan jumlah penduduk sampai akhir Juni 2005 sebesar 782.110 jiwa. Kepadatan penduduk kurang lebih 7.106 jiwa perkilometer persegi, tersebar di lima (5) Kecamatan (Klojen = 125.824 jiwa, Blimbing = 167.301 jiwa, Kedungkandang = 152.285 jiwa, Sukun = 174.184 jiwa, dan Lowokwaru = 162.516 jiwa), terdiri dari 57 Kelurahan, 10 Desa, 505 RW dan 3.649 RT.

Etnik masyarakat Malang terkenal religius, dinamis, suka bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA). Komposisi penduduk asli berasal dari berbagai etnik (terutama suku Jawa, Madura, sebagian kecil keturunan Arab dan Cina).

Masyarakat Malang sebagian besar adalah pemeluk Islam kemudian Kristen dan Katolik, serta sebagian kecil Hindu dan Budha. Umat beragama di Kota Malang terkenal rukun dan saling bekerja sama dalam memajukan Kotanya. Bangunan tempat ibadah banyak yang telah berdiri semenjak zaman kolonial antara lain Masjid Jami’ (Masjid Agung), Gereja (Alun-alun, Kayutangan dan Ijen) serta Klenteng di Kota Lama. Malang juga menjadi pusat pendidikan keagamaan dengan banyaknya Pesantren dan Seminari Alkitab yang sudah terkenal di seluruh Nusantara.

Kekayaan etnik dan budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisonal yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah Tari Topeng, namun sayang, kini semakin terkikis oleh kesenian modern. Gaya kesenian ini adalah wujud pertemuan gaya kesenian Jawa Tengahan (Solo, Jogja), Jawa Timur-Selatan (Ponorogo, Tulungagung, Blitar) dan gaya kesenian Blambangan (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi).

Kebanyakan pendatang adalah pedagang, pekerja dan pelajar / mahasiswa yang tidak menetap dan dalam kurun waktu tertentu kembali ke daerah asalnya. Sebagian besar berasal dari wilayah di sekitar Kota Malang untuk golongan pedagang dan pekerja. Sedang untuk golongan pelajar/ mahasiswa banyak yang berasal dari luar daerah (terutama wilayah Indonesia Timur) seperti Bali, Nusa Tenggara, Timor Timur, Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan.

Visi dan Misi

Pemerintah Kota Malang dalam pelaksanaan pembangunan berpedoman pada Propeda yang memuat Visi Kota Malang, yaitu: “Terwujudnya Kota Malang yang mandiri, berbudaya, sejahtera dan berwawasan lingkungan”. Mandiri, artinya bahwa ke depan Kota Malang diharapkan mampu membiayai sendiri seluruh penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan dengan memanfaatkan segala sumber daya lokal (SDA, Potensi Daerah, SDM yang dimiliki). Berbudaya, artinya bahwa pelaksanaan otonomi daerah tetap mengedepankan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kehidupan sosial masyarakat Kota Malang dan mengembangkan pendidikan untuk mengantisipasi perkembangan Kota Malang menuju kota Metropolis. Sejahtera, artinya bahwa pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan di Kota Malang semuanya diarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota, baik secara material maupun spiritual. Berwawasan lingkungan, artinya bahwa pelaksanaan pembangunan tetap diupayakan untuk sekaligus menjaga kelestarian alam dan kualitas lingkungan serta pemukiman Kota Malang.

Dalam rangka mewujudkan Visi Kota Malang tersebut, Misi Kota Malang untuk tahun 2004 – 2008 dijabarkan sebagai berikut:

  • mewujudkan Kota Malang sebagai kota pendidikan melalui peningkatan kualitas pendidikan bagi masyarakat miskin perkotaan;
  • mewujudkan Kota Malang sebagai Kota Sehat melalui peningkatan kualitas kesehatan masyarakat bagi masyarakat kurang mampu dan meningkatkan penghijauan kota;
  • mewujudkan semangat dan cita-cita reformasi dalam upaya pemulihan ekonomi kota menuju terwujudnya Indonesia baru berlandaskan pada: negara dengan pondasi sistem kehidupan ekonomi, sosial, budaya yang dijiwai prinsip-prinsip demokrasi kebangsaan dan keadilan sosial dalam ikut serta menertibkan persatuan dan kesatuan, serta kerukunan Kota Malang;
  • mewujudkan tuntutan reformasi dalam tatanan sistem politik pemerintahan dan tatanan paradigma pembangunan berdasarkan pada: wawasan kebangsaan, demokrasi, persatuan dan kesatuan, otonomi daerah, iman dan takwa, budi pekerti, hak azasi manusia, dan keadilan sosial;
  • mewujudkan upaya reformasi melalui pembenahan sistem administrasi publik dan sistem administrasi kebijakan publik, dengan syarat rasa kebersamaan seluruh masyarakat yang pluralistik, persatuan dan kesatuan, kerjasama dan merupakan gerakan rakyat;
  • menjadikan tekad mengentaskan kemiskinan sebagai landasan prioritas pembangunan dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa;
  • mendayagunakan secara optimal potensi penduduk, posisi georafis strategis, dan sumberdaya alam yang memadai untuk memajukan masyarakat kota Malang dan kontribusi maksimal bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Pada tahun 1962, dalam salah satu Sidang Paripurna Gotong Royong Kotapraja Malang pada tahun 1962 ditetapkan Kota Malang sebagai: Kota Pelajar/ Kota Pendidikan, Kota Industri, dan Kota Pariwisata.

Ketiga pokok tersebut menjadi cita-cita masyarakat Kota Malang yang harus dibina. Oleh karena itu kemudian disebut: Tribina Cita Kota Malang.

Sebagai Kota Pendidikan, Kota Malang memiliki potensi daerah yang bernilai jual dan berdaya saing baik di tingkat regional maupun nasional. Dalam era globalisasi dunia pendidikan menghadapi berbagai tantangan dalam menghadapi perubahan yaitu dengan adanya tuntutan masyarakat memperoleh fasilitas pendidikan yang baik dan berkualitas. Upaya yang dilaksanakan adalah dengan menciptakan visi dan misi pendidikan Kota Malang, menjalin kemitraan dengan lembaga perguruan tinggi baik dalam bidang pengkajian, pengembangan ilmu dan teknologi maupun dalam pengembangan kualitas Kota Malang pada umumnya. Kota Malang dipenuhi oleh berbagai sekolah, kampus perguruan tinggi, lembaga pendidikan non formal atau tempat-tempat kursus, serta sejumlah pondok pesantren.

Selain itu juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang cukup memadai seperti tempat pemondokan (kos), toko buku, super market, plaza, pusat pelayananan kesehatan masyarakat serta fasilitas penunjang lainnya. Yang tak kalah penting adalah adanya angkutan umum (transportasi) yang tersedia ke seluruh penjuru kota (memiliki 25 jalur), yang menghubungkan tiga terminal yang ada di Kota Malang, yaitu: Arjosari (arah ke Surabaya), Gadang (arah ke Blitar), dan Landungsari (arah ke Batu, Jombang/ Kediri).

Krisis ekonomi yang berkepanjangan membawa dampak ekonomi yang sangat berat bagi warga Kota Malang. Hal ini ditandai dengan meningkatnya angka pengangguran dan menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi.

Namun dengan segala keyakinan dan senantiasa memanjatkan doa kepada Tuhan yang mahakuasa, maka krisis yang berkepanjangan ini sedikit demi sedikit dapat teratasi. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi krisis tersebut adalah dengan menciptakan lapangan kerja dan usaha yang seluas-luasnya serta menciptakan tenaga kerja yang berkualitas dan memiliki daya saing di pasar kerja.

Sebagai Kota Industri, Kota Malang sejak dulu sangat dikenal dengan industri rokok kreteknya. Diversifikasi produk industri kecil dan menengah yang mulai bangkit sejak berlangsungnya krisis ekonomi, masih memerlukan bimbingan dalam hal peningkatan mutu, teknis dan penanam modal untuk mempercepat pemulihan pembangunan ekonomi yang berbasis pada ekonomi kerakyatan, serta untuk perkembangannya di masa mendatang. Sedangkan industri besar yang ada di Kota Malang masih perlu adanya wahana untuk diperkenalkan secara luas, sehingga semakin mendukung produktivitas Kota Malang sebagai Kota Industri.

Sebagai Kota Pariwisata, Kota Malang kaya akan pemandangan alam yang elok serta hawa yang sejuk, teduh dan asri serta bangunan-bangunan kuno peninggalan Belanda, Kota Malang layak menjadi tujuan wisata bagi wisatawan dalam maupun luar negeri. Berbagai pilihan tempat perbelanjaan, baik yang bersifat tradisional maupun modern yang tersebar di berbagai penjuru kota sangat menunjang Kota Malang sebagai Kota Pariwisata. Perkembangan berbagai pusat perbelanjaan modern ini seiring dengan perkembangan kawasan perumahan yang melaju dengan pesat seakan tidak ada lagi lahan yang tersisa di Kota Malang. Di era otonomi daerah dan era globalisasi saat ini upaya pembangunan di segala bidang yang telah dilaksanakan merupakan sebuah langkah awal peningkatan citra, posisi dan peran Kota Malang dalam percaturan hubungan antarkota, antarprovinsi, maupun antarbangsa. Sekaligus merupakan sebuah peluang dan harapan yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Kota Malang sendiri. (Sumber: kpde@pemkot-malang.go.id, Pemkot Malang, Jl. Tugu 1 Malang 65119, Telp: 62.341.329659, Fax: 62.341.352070)

Boso Walikan

Bahasa Jawa dialek Jawa Timuran dan bahasa Madura adalah bahasa sehari-hari masyarakat Malang. Namun, terutama di kalangan generasi muda berlaku dialek khas Malang yang disebut ‘boso walikan’ yaitu cara pengucapan kata secara terbalik. Bahkan orang yang berbahasa Jawa pun akan mengrenyitkan dahi ketika mendengar kera Ngalam (Arek Malang, Arema) menggunakan bahasa khasnya. Padahal, bahasa Jawa Timur Malangan sendiri terkenal ‘kasar’, nyaris tanpa unggah-ungguh (ngoko Jawa Timuran). Hal ini menunjukkan sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tidak menyukai basa-basi.

Konon, asal muasal bahasa walikan ini dimulai pertama kali pada zaman perjuangan Gerilya Rakyat Kota. Pada saat itu bahasa walikan dipergunakan sebagai alat komunikasi di antara para pejuang untuk menjamin kerahasiaan, efisiensi dan efektivitas perjuangan sekaligus sarana untuk mengenal kawan atau lawan. Dengan kata lain bahasa walikan ini menjadi kata sandi bagi para pejuang pada masa itu, walaupun sebenarnya bahasa walikan bukanlah kata sandi karena bahasa ini lebih kaya perbendaharaan kata daripada kata sandi dan tidak terikat pada aturan-aturan tertentu. Selain itu bahasa walikan juga tidak mengikuti istilah yang umum dan baku, karena menyerap pula istilah-istilah yang tak tentu asalnya (dari berbagai bahasa maupun bentukan baru) sehingga sulit dipahami dan dimengerti orang ‘awam’. Menurut penutur, bahasa walikan dipergunakan karena pada saat itu banyak sekali mata-mata Belanda yang juga dapat menggunakan bahasa Jawa. Penggunaan bahasa walikan diharapkan dapat meminimalisasi bocornya rencana para gerilyawan ke telinga penjajah Belanda.

Hingga saat ini penggunaan osob kiwalan (bahasa terbalik) kera Ngalam masih terus dipergunakan.

Berikut beberapa contoh istilah dan ‘artinya’:

hamur : rumah

nakam : makan

aides : sedia

lecep : pecel

oges : sego, nasi

oyi, ojrit : iyo, iya

osob : boso, bahasa

kiwalan : walikan, terbalik

ngingub : bingung

sam : mas, kakak laki-laki, abang

adapes : sepeda

landas : sandal

kampes : sempak (Bld. zwempak), celana dalam

ketam : matek, mati/ meninggal

kubam : mabuk

likis : sikil, kaki

libom : mobil

utem : metu, keluar

ngetem : meteng, hamil

Beberapa kalimat dalam cerkak ini kiranya bisa memberikan gambaran lebih jelas (atau latihan?) tentang osob kiwalan kera/ genaro Ngalam (Silakan mengartikannya sendiri, ya?):

Ndhik wingenane onok genaro nganal tutuk Ngalam ketam ndhik Utab mergo kakean asrop Tomi (Topi Miring, merk mi-numan keras lokal). Wanyok ancene asaib ditemokno kubam. Pokoke koyok oges jangan. Lahadap wanyok idrek ndhik sakwijine halokes ngetop ndhik Ngalam.

Bathange ditemokno odhum muk nggae kampes, mlungker koyok wong rudit ndhik njero ramak sakwijine hotel sing nayamul ngaral taripe. Nawak kodew genaro iku yo ditemokno koyok wong ngingub ndhik jok mirub libom sing ngglundhung ewed tutuk parkiran, mandheg njegreg nabrak wit asem sakwise nyenggol adapes rotom duweke ngakut parkir sing katene hilum nang hamure. Likis ngenet ngakut parkir iku remek kelindhes libom. Sa’aken nemen nasibe genaro licek sing kadit itreng opo’o kok dheweke nandang soro koyok ngono.

Repote silup sing oket ndhik TKP ngandhakno lek wanyik adum sing ketok kadit tahes blas ndhik njero libom iku lagi ngetem omil nawul.

Waduh Ker, ayas wis lesek nemen, kadit osi nerusno crito iki mergo mripat ayas wis ‘liem mang hwat’. Opo maneh ayas lagi roket, gak osi ukut oker. Jik tas ae ayas ukud rayab aud sutar tekes ewus gae kana’e nawak sing tanus eros maeng. Bot-bote wong wis janji. Ojrit? Hehehe …

Tempat makan pot, eh, top!

Selain food-court di berbagai mal (yang terbaru: Matos – Malang Town Square – di Jalan Veteran dan MOG – Malang Olympic Garden – di kawasan stadion), resto lawas yang sudah terkenal kelezatan menunya, mungkin ada manfaatnya mengenalkan beberapa tempat mangkal dan makan yang tergolong unik di Malang. Siapa tahu pendatang atau kera Ngalam yang sudah lama tidak pulang kampung memerlukan informasi ini. Sebab, Malang juga terkenal punya banyak tempat makan yang sajiannya dikangeni banyak orang luar kota pula.

Warung Subuh di Jalan Raya Langsep, sesuai namanya buka sampai pagi dengan berbagai menu khas Kota Malang. Ada wedang ronde dan angsle juga di situ, cocok untuk menghangatkan tubuh. Silakan coba pula Rawon Setan di warung sebelahnya dan kalau Anda alumni Dempo, katakan kepada pemiliknya, maka Anda akan mendapatkan layanan istimewa.

Warung Bakso Samud di pertokoan kawasan Tidar dan Bakso Gondhol di Jalan S.P. Sudarmo (di depan SO Isuzu, di ujung jalan ke Yayasan Gotong Royong), Bakso Slipi di Blimbing, Bakso Kota Cak Man (yang punya outlet di banyak tempat) dan Bakso Bakar di Jalan Trowulan adalah tempat yang tak boleh dilewatkan penggemar bakso. Juga rombong bakso bakar di Jalan P. TRIP yang hanya digelar pada malam hari. Tapi para saudara muslim perlu mengingat untuk tidak mengunjungi tiga warung yang disebut pertama.

Pangsit mie? Selain yang sudah lebih dulu terkenal (RM Gajah Mada, Hot Cwie Mie), ‘kelas’ rombong seperti di belakang SMA Dempo (Jalan Gede) atau di sebelah Giant (dulu GOR Pulosari), amatlah sayang bila tak mencoba masuk dan bernostalgia dengan rombong pangsit mie di halaman dalam Klenteng, Jalan Gatot Subroto.

Masih soal mie, kera Ngalam dan pendatang yang bukan muslim mungkin perlu mengingat kembali kelezatan hidangan Depot 21 di Oro-oro Dowo, Depot Gang Jangkrik, Depot Widari dan Depot Akiko di Jalan Kawi (sederet dengan Depot Pecel Kawi, Bakso Cak Gun, Bakso Keju) atau Depot Mie Sawahan. Kalau masih belum kenyang, boleh sekalian mencoba Soto Ayam Jalan Lombok di dekatnya, atau ke cabangnya di Tlogomas. Penggemar Soto Ayam Lamongan pasti tak melupakan tiga warung soto di Oro-oro Dowo. Atau mau soto daging sapi? Silakan coba aneka hidangan khas Jawa Timur di Depot Janur Kuning, Jalan Letjen S.Parman atau Depot 52 di depan Malang Plaza. Atau mau rawon dengkul yang murah meriah? Datanglah ke Rawon Tessy di deretan bedhak di stasiun kota atau di Jalan Sunandar Priyosudarmo. Bandingkan rasanya dengan Rawon Nguling di Kidul Dalem atau Warung Arema di deretan sebelah Hotel Margosuko sambil mesam-mesem membaca menunya dan canda penjualnya yang khas malangan. Yang berusia di atas 50-an tentu masih terkenang pada warung makan di depan Asrama Gaudette RKZ atau MUT di Jalan Tawangmangu. Yang gemar bebek goreng/ bakar, kunjungilah RM Bounty di ujung Jalan Rajekwesi (di jalan yang sama ada Pecel Rajekwesi yang juga terkenal). Aneka minumannya juga menyegarkan. Di jalan itu juga terdapat Tahu Campur Pak Kumis yang cepat habis (pindahan dari Jalan Bromo).

Kalau keluar rumah sudah agak malam, nongkrong saja di Jalan Tangkuban Prahu, kawasan stadion. Di sana ada sate, soto, dan banyak lagi yang lain. Tentu jangan lupakan Warung Pak Djenggot di ujung jalan masuk Kawi Selatan yang hanya buka malam hingga dini hari. Hidangannya murah-meriah, dan kalau sedang sangat ramai, yang  datang naik kendaraan mewah pun rela antri menunggu giliran.

Mau makan di resto yang dikelola alumni Dempo? Depot 59 di Jalan Kawi, Andini di seberang Lanal Malang (sup sehatnya lekker zeg!), atau Padi di Jalan P. TRIP pasti menyenangkan. RM Ringin Asri di Jalan Borobudur juga layak dikunjungi bersama keluarga. Pengunjungnya bisa berkaraoke atau berkonsultasi dengan ahli fengshui dan akupunktur (Bp. Hariadi) yang punya jadwal siar di radio dan televisi lokal. RM Gloria pasti sudah lekat di ingatan Anda! Yang lebih baru? Mampirlah ke Flamboyant di Jalan Letjen Sutoyo.

Layak diingatkan pula bahwa Malang punya tempat nostalgia hidup yaitu Toko Oen di depan Gereja Kayutangan yang es krim, roti dan menu lainnya terkenal hingga di mancanegara. Tampaknya Und Corner di Jalan Ijen juga pantas dikunjungi. Yang gemar steak sekarang tak harus selalu pergi ke Amsterdam Resto (di Jalan P. TRIP), karena bisa menjajal yang lebih murah meriah dan cocok bagi kawula muda, yaitu di warung steak & shake di Jalan Kawi. Coba pula warung di Jalan B.S. Riadi (Oro-oro Dowo) atau di Jalan Sukarno-Hatta. Mau yang lebih ber-‘kelas’? Cobalah ke Resto Indie di Araya, KDS (juga di Araya, RM Sitihinggil di Jalan Tumapel (sekalian mampir ke Lontong Kikil di depan gereja!), RM Barong di Jalan Dieng.

Khusus bagi vegetarian, saya rekomendasikan Gardena di Jalan Dieng. Yang lain? Waduh, masih sangat banyak, tapi sayang, jatah halamannya sudah habis dan saya percaya, yang lain pasti masih Anda ingat!

Mau cari camilan khas Malang? Beli saja kripik singkong aneka rasa di rombong dorong atau ke sentranya di Oro-oro Dowo. Banyak outlet Wicaksono, Sensa dan yang lain di jalan-jalan utama yang menyediakan aneka camilan khas Malang dan kota-kota lain. Kripik tempe khas Malang banyak tersedia di S.P. Sudarmo (Sanan). Mampir juga ke Pia Mangkok atau Lay-Lay di Jalan Semeru Bawah atau outlet Istana Buah. Kalau menginginkan aneka produk olahan Kusuma Agrowisata dalam jumlah banyak, datang saja langsung ke hotelnya di Kota Batu. Sekalian, kalau Anda mau mencari hidangan lezat sambil menikmati pemandangan Kota Batu, jangan lupa mengajak dan menraktir saya … hehehe …

Ada yang mau menambahkan info? Silakan …

Satu Tanggapan

  1. ada teman tanya dari jakarta tentang kuliner kikil setan dimalang, saya bingung jawabnya, mungkin anda tahu lokasinya, tolong infonya ya trims

    Pak Romy, makin banyak yang pakai nama ’setan’ buat masakannya ya? Arema memang josss …🙂 Barangkali (maaf, saya belum membuktikannya sendiri) yang Anda maksud bisa ditemukan di Jalan Brigjen Slamet Riyadi (Oro-oro Dowo). Tapi kalau soal kikil, yang pot, eh, top di Ngalam ya di Jalan Tumapel itu. Selamat berwisata kuliner!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: