• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Pembangunan: Fenomena Budaya

Kegiatan pembangunan selalu melibatkan manusia sebagai pelaksana sekaligus tujuan. Manusia adalah subyek, bukan obyek pembangunan. Maka dinamika suatu bangsa sesungguhnya tampak dalam usaha-usaha pembangunannya (nation and character building). Sebagai fenomena budaya, pembangunan merupakan suatu proses humanisasi. Menurut Soerjanto Poespowardojo (1989:7-9), ada empat poros dalam pembangunan nasional sebagai fenomena budaya, yaitu: anthropos, oikos, tekne dan ethnos.

Manusia (anthropos) menempati peranan sentral dalam pembangunan. Manusia (individu) adalah makhluk hidup berdimensi religius, etis dan ilmiah yang memiliki kemampuan kreatif dalam mengolah dunia lingkungannya menjadi manusiawi. Namun ia sendiri bukanlah makhluk rasional yang sudah selesai atau sempurna. Ia selalu berada dalam proses menjadi manusia, karena menjadi manusia itu merupakan panggilan (Jer: aufgabe).

Tempat manusia menjadi manusiawi adalah universum kosmis (lingkungan hidup/ oikos). Lingkungan merupakan medan perjuangan hidup manusia yang memberikan kemungkinan-kemungkinan baginya dalam mengusahakan kemanusiaannya.

Untuk maksud tersebut manusia juga mengambil dari alam, alat-alat (tekne) sebagai perpanjangan tangan untuk mengolah dunianya. Dalam perkembangannya, alat-alat itu bahkan mampu menjadi substitusi manusia, menggantikan peranan manusia dalam mengolah oikos. Sepanjang sejarah kemanusiaan sejak Revolusi Industri, hal itu menimbulkan berbagai masalah.

Manusia tidak hidup sendirian di dunia. Selain sebagai individu, ia pun merupakan makhluk sosial. Ia hidup dan berinteraksi dengan manusia lain dalam komunitas manusiawi (ethnos). Oleh karena itu ada interdependensi antara manusia dengan komunitasnya. Dengan demikian, setiap intuisi, interpretasi, maupun karya individual yang unik dan orisinal akan hilang lenyap kalau tidak dikomunikasikan dengan dan di dalam ethnos sebagai warisan bersama.

Berbagai tantangan masa depan bangsa dan negara Indonesia – yang sesungguhnya juga merupakan tantangan internasional – membutuhkan peranan teknologi yang manusiawi. Untuk maksud itu teknologi tidak boleh dilepaskan dari kebudayaan, sebagaimana pernah dikatakan B.J. Habibie (1990): “Lompatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, dalam upaya mengejar kemajuan bangsa-bangsa lain, harus dilakukan tanpa mengorbankan kebudayaan dan tanpa melepaskan kaitan dengan kebudayaan dan identitas kita sebagai bangsa. Karena justru kebudayaan itulah yang melahirkan iptek dan sebaliknya iptek yang memperkaya kebudayaan.”

Kiranya jelas bahwa teknologi dan kebudayaan bukan dua unsur yang berdiri sendiri dalam kehidupan masyarakat dan perilakunya, melainkan merupakan bagian integral dalam peradaban manusia. Josef Banka, seorang filosof berkebangsaan Polandia mengatakan: “Kebudayaan dan teknik adalah dua segi dari pengalaman manusia yang saling melengkapi. Kebudayaan humanis berhubungan erat dengan bidang emosi, dengan dunia penghayatan-penghayatan batin; teknik sebaliknya berkaitan dengan ilmu-ilmu pasti, dengan akal dan sikap yang rasional. Manusia sebagai keseluruhan tidak hanya makhluk yang menggunakan akal, tetapi makhluk yang tersusun oleh kehidupan jiwa yang sangat rumit, namun seperti kita alami sendiri, kedua wilayah itu tidak saling mengucilkan, tetapi saling tindih-menindih dan saling memungkinkan dalam arti komplementer.”

Kebudayaan, mentalitas dan pembangunan

Menurut A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn, definisi tentang kebudayaan yang pernah beredar berjumlah lebih dari 160 macam. Namun dari sekian banyak definisi itu bisa ditarik beberapa gagasan pokok, yaitu bahwa kebudayaan mencakup segala perkembangan dan kemajuan masyarakat, kebudayaan adalah hasil bersama, dan kebudayaan pada hakikatnya adalah humanisasi.

Karena manusia adalah tokoh sentral pembangunan (pelaksana sekaligus tujuan), maka pembangunan itu pun tidak terpisahkan dari kebudayaan. Pembangunan pada hakikatnya adalah usaha sadar manusia untuk mengubah suatu keadaan yang relatif kurang baik menjadi lebih baik. Dalam pengertian tersebut, pembangunan adalah proses kebudayaan. Keadaan yang relatif lebih baik adalah tantangan masa depan (challenge) yang harus dijawab dengan usaha sadar (response) yang seimbang. Ketidakseimbangan tantangan dan jawaban melahirkan masalah.

Industrialisasi dan modernisasi di negara-negara Barat pada umumnya berjalan seiring dengan sikap positif dan kemandirian negara-negara itu. Namun negara-negara berkembang (Timur/ Selatan) pada umumnya belum mengalami hal serupa. Ilmu, teknologi dan industrialisasi bagi negara-negara berkembang – termasuk Indonesia – menurut Soerjanto Poespowardojo (1989:125): “… didatangkan dan dicangkokkan secara eksogen ke dalam kebudayaan bangsa dengan sikap, pola dan cara hidup yang belum sepenuhnya mampu mendukung penguasaan ilmu dan teknologi tersebut.”

Pertanyaan logis yang kemudian muncul adalah: apakah mentalitas kita sudah siap untuk pengembangan dan alih teknologi modern itu? Berbagai dalih bisa dikemukakan untuk menjawab dengan tegas: “ya” atau “tidak” (“belum”). Namun bukan memilih jawaban itu yang menjadi titik masalah. Jawaban “belum” maupun “tidak” tak akan menghentikan pembangunan nasional guna menunggu saja terciptanya masyarakat yang ideal seperti digambarkan oleh Koentjaraningrat (1988) sebagai: “suatu critical mass generasi baru Indonesia yang memiliki orientasi nilai budaya yang ideal untuk ‘lepas landas’”.

Dalam bukunya yang berjudul “Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan” (1974), selain mengakui adanya nilai-nilai dalam kebudayaan tradisional bangsa kita yang dapat menghambat pembangunan, Koentjaraningrat juga memilih beberapa nilai yang sesudah diterapkan secara berbeda – yang sesuai untuk mengantisipasi tuntutan zaman – nilai-nilai itu dapat juga menjadi filter dan penangkal masuknya budaya asing bawaan teknologi dan modernisasi.

Kendati demikian, pada umumnya perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat cepat tampaknya tidak disertai perubahan sikap-mental dan kemampuan manusiawi yang memadai untuk tetap mampu mengendalikannya dalam konteks budaya. Sebagai perbandingan, amatlah menarik untuk disimak usaha mengidentifikasi ciri-ciri Barat dan Timur beserta kelebihan dan kelemahan masing-masing berikut ini:

Ciri-ciri Barat:

  • kemampuan ilmu dan teknologinya yang didukung oleh sikap rasional, kritis, analitis, serta orientasi pada alam;
  • menjunjung martabat manusia sebagai individu/ persona dengan nilai-nilai kebebasan, demokrasi, hak azasi;
  • tertib hukum yang menjamin kerja secara disiplin, sehingga institusi sosial dapat berjalan menuju kesejahteraan;
  • dinamika hidup yang berjalan secara dialektis;
  • namun disertai juga sikap individualisme yang didukung oleh sistem ekonomi yang kapitalistis, sehingga menimbulkan masalah kesenjangan;
  • persepsi hukum yang legalistis, sehingga mendorong pendekatan yang kaku dan kurang memberi tempat yang otentik pada nilai kemanusiaan. Kekerasan dapat dipakai sebagai alasan untuk mempertahankan diri (just war);
  • sikap dan kecenderungan untuk menguasai alam menimbulkan dampak kerusakan serta pencemaran dalam kehidupan masyarakat. Eksploitasi akhirnya diarahkan pada manusia.

Ciri-ciri Timur:

  • meletakkan manusia dalam kesatuan dengan masyarakat dan lingkungannya, sehingga keseimbangan hidup lebih terpelihara;
  • pendekatannya bukan semata-mata rasional, tetapi simbolik dan intuitif, yaitu dengan mengikutsertakan perasaan, imajinasi, dan kesenian yang punya nilai tersendiri. Pendekatan integral (kosmis) lebih tampak;
  • pertimbangan kebijaksanaan memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan;
  • kemampuan adaptasi yang tinggi. Dinamika terletak dalam kemampuan asimilasi, keterbukaan, dan daya absorbsinya;
  • namun Timur kurang terarah kepada alam (lebih inward looking), sehingga kurang mampu memanfaatkan dunia lingkungannya;
  • tidak menguasai ilmu dan teknologi yang berperanan dalam proses modernisasi;
  • kurang tajam dalam pemikiran kritis, analitis, dan rasional.

Yang kita perlukan adalah meningkatkan nilai-nilai budaya yang mendukung pembangunan, dan sebaliknya mengubah sikap-mental yang tidak mendukung. Hal itu perlu dilakukan karena pengembangan ilmu dan teknologi sebagai pemacu industrialisasi yang mengarah ke modernisasi senantiasa harus diupayakan dalam konteks nilai-nilai budaya bangsa. Pengembangan ilmu dan teknologi sama-sama merupakan komitmen pembangunan.

Mengubah orientasi nila budaya yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat bukanlah hal mudah. Karena suatu unsur nilai budaya tidak didasarkan pada pikiran rasional, Koentjaraningrat meragukan peranan pendidikan formal dalam upaya tersebut. Maka ia pun mengusulkan agar perubahan itu diupayakan dengan: “(1) memberi teladan yang benar, (2) sistem perangsang dan anti-perangsang yang sesuai, (3) persuasi dan kampanye, (4) membina dan mengasuh suatu generasi manusia Indonesia baru, yang dilaksanakan secara nasional sejak dini dalam kalangan keluarga …”

Mentalitas “tinggal landas”

Kemajuan ilmu dan teknologi yang sedemikian pesat menyebabkan pula perubahan sosial dan budaya masyarakat. Dalam menghadapi tantangan masa depan yang berupa: 1) tantangan kependudukan, 2) tantangan tekanan pada sumber daya alam dan lingkungan, 3) tantangan pengembangan ilmu dan teknologi, 4) tantangan persaingan yang semakin ketat, dan 5) tantangan pembangunan yang semakin luas wawasannya, manusia akan menjadi penghuni suatu dunia yang sangat kompetitif dan tidak menentu arahnya. Untuk menghadapi situasi global yang sedemikian itu Soedjatmoko menganjurkan: “Manusia harus belajar hidup dengan perubahan terus-menerus, dengan ketidakpastian, dan dengan unpredictability (ketidakmampuan untuk memperhitungkan apa yang akan terjadi).”

Dalam skala regional Asia Pasifik saja, anjuran budayawan tersebut relevan dengan permasalahan yang dihadapi Indonesia dewasa ini. Tingkat produktivitas penduduk Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara-negara industri baru (Newly Industrialized Countries) di wilayah ini yang telah lebih dulu menempuh kebijaksanaan industrialisasi dengan orientasi pada ekspor. Padahal bumi Indonesia dikenal sangat kaya bahan baku berbagai industri. Maka, sebenarnya Indonesia pun bisa mengikuti pola perkembangan Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura. Namun, peniruan pola pengembangan negara-negara industri baru tersebut (NIC) secara total oleh Emil Salim dipandang tidak bijaksana, karena: “Masing-masing NIC memulai proses pembangunan dengan jumlah penduduk yang memiliki kadar kualitas yang sudah cocok dengan keperluan pembangunan …”

Maka tepatlah konsensus politik bahwa tujuan jangka panjang pembangunan nasional Indonesia (!) adalah “membentuk manusia Indonesia seutuhnya”. Dengan demikian, apakah Mochtar Lubis (1980) benar ketika menyebutkan ciri-ciri manusia Indonesia yang antara lain: hipokritis alias munafik; segan dan enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya; berjiwa feodal; masih percaya takhyul; artistik (satu-satunya ciri yang dinilainya positif); berwatak lemah/ karakter kurang kuat; ditambah dengan sifat: tidak hemat, kurang sabar, tukang menggerutu, cepat cemburu dan dengki, malas, dan sebagainya, kita memang dituntut memiliki mentalitas yang ideal untuk dapat ‘tinggal landas’.

Koentjaraningrat menyusun formulasi ‘mentalitas tinggal landas’ tersebut dalam kontradiksi antara mentalitas manusia berperadaban industri atau peradaban komunikasi informasi dengan mentalitas manusia yang berkebudayaan agraris. Menurut antropolog tersebut, manusia yang menghadapi ‘lepas landas’ itu sebaiknya:

  1. berorientasi terhadap pandangan hidup yang positif dan aktif, serta wajib menentukan nasibnya sendiri;
  2. mementingkan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukannya dan atas mutu dari hasil pekerjaannya;
  3. berorientasi ke masa depan, dan belajar merencanakan hidupnya secermat mungkin (sikap hemat);
  4. sejak kecil diajar dan dilatih untuk menjaga keselarasan dengan alam sekelilingnya;
  5. berpegang teguh pada aspek-aspek positif dari gotong royong.

Ditambahkannya pula bahwa manusia dengan mentalitas peradaban industri atau peradaban komunikasi informasi, sebaiknya juga:

  1. lebih mandiri;
  2. lebih berani bertanggung jawab sendiri;
  3. menghindari sikap ekstrem yang berorientasi pada orang-orang yang senior, berpangkat dan berkedudukan tinggi;
  4. menghindari sikap lebih mementingkan ketaatan kepada atasan daripada menghargai orang yang menghasilkan karya bermutu;
  5. tanpa secara ekstrem menuntut hak individu (human rights) serta tak mengagung-agungkan individualisme;
  6. berdisiplin murni (tidak hanya bila ada pengawasan dari atas); serta
  7. lebih terbuka untuk kritik yang positif dan bertanggung jawab.

Untuk bisa kokoh mandiri dalam kancah pergaulan internasional, tampaknya bangsa Indonesia menghadapi pengembangan dan alih teknologi dalam rangka modernisasi sebagai tantangan yang seimbang dengan upaya menciptakakan keadaan yang ideal untuk dapat ‘tinggal landas’ (bukan tetap tertinggal di landasan) secara relatif lebih aman. Maka patutlah dimengerti bahwa pengembangan dan penerapan ilmu dan teknologi harus sejauh mungkin memenuhi kriteria ketepatgunaan (appropriate technology) seperti dikemukakan D.A. Tisna Amidjaja:

  1. segi teknis dapat dilaksanakan;
  2. segi sosial akseptabel;
  3. secara ekonomi dapat dipertanggungjawabkan; dan
  4. secara ekologi tidak menurunkan kualitas hidup.

Maka, apa pun jenis teknologi yang dipilih oleh para pengambil keputusan (decision makers), teknologi itu harus didasarkan pada ketepatgunaannya. Untuk itu diperlukan penempatan setiap alternatif teknologi dalam hubungan dialogal dengan kriteria tersebut agar yang terpilih benar-benar merupakan teknologi yang bersifat tepat guna. Dalam hal ini, kriterium penerimaan sosial-budaya (social and cultural acceptability) adalah prioritas. Pengembangan dan alih teknologi serta pemeliharaan nilai-nilai budaya bangsa adalah dua komitmen pembangunan. Perhatian terhadap keduanya harus seimbang karena sejarah telah menunjukkan besarnya ongkos politik yang harus ditanggung apabila sektor-sektor tradisional dibiarkan tertinggal dalam proses pembangunan. Mengenai hal itu, dalam ceramahnya yang dibukukan dengan judul “Pembangunan dan Kebebasan” (1984), Soedjatmoko menyatakan: “Menempatkan dasar-dasar budaya bagi pembangunan akan merupakan proses yang sulit, tetapi esensial – jika kita ingin menghindarkan modernisasi dan pembangunan dipandang sebagai kesempatan yang dipaksakan dan asing, yang kecil relevansinya bagi apa yang dianggap oleh rakyat sebagai makna esensial dari eksistensi mereka.”

Semakin jelas bahwa pembangunan nasional Indonesia harus diberi dimensi budaya. Ilmu dan teknologi merupakan bagian integral dari kebudayaan. Suatu bangsa yang ingin maju secara harmonis harus mengembangkan kebudayaannya secara serasi dan selaras, baik pengembangan terhadap dimensi wujudnya maupun dimensi isinya. Lebih dari itu, kebudayaan itu sendiri pada hakikatnya adalah strategi kehidupan masyarakat dan negara serta pembangunan nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: