• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Empati

catmouseMenurut Bullmer, empati adalah suatu proses ketika seseorang merasakan perasaan orang lain dan menangkap arti perasaan itu, kemudian mengkomunikasikannya dengan kepekaan sedemikian rupa hingga menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengerti perasaan orang lain itu. Bullmer menganggap empati lebih merupakan pemahaman terhadap orang lain ketimbang suatu diagnosis dan evaluasi terhadap orang lain. Empati menekankan kebersamaan dengan orang lain lebih daripada sekadar hubungan yang menempatkan orang lain sebagai obyek manipulatif. Taylor menyatakan bahwa empati merupakan faktor esensial untuk membangun hubungan yang saling memercayai. Ia memandang empati sebagai usaha menyelam ke dalam perasaan orang lain untuk merasakan dan menangkap makna perasaan itu. Empati memberikan sumbangan guna terciptanya hubungan yang saling memercayai karena empati mengkomunikasikan sikap penerimaan dan pengertian terhadap perasaan orang lain secara tepat. Sedangkan Alfred Adler menyebut empati sebagai penerimaan terhadap perasaan orang lain dan meletakkan diri kita pada tempat orang itu. Empathy berarti to feel in, berdiri sebentar dengan kedua kaki di dalam sepatu orang lain untuk merasakan betapa dalamnya perasaan orang itu.

Senada dengan Adler, Tubesing memandang empati merupakan identifikasi sementara terhadap sebagian atau sekurang-kurangnya satu segi dari pengalaman orang lain. Berempati tidak melenyapkan kedirian kita. Perasaan kita sendiri takkan hilang ketika kita mengembangkan kemampuan untuk menerima pula perasaan orang lain yang juga tetap menjadi milik orang itu. Menerima diri orang lain pun tidak identik dengan menyetujui perilakunya. Meskipun demikian, empati menghindarkan tekanan, pengadilan, pemberian nasihat apalagi keputusan. Dalam berempati, kita berusaha mengerti bagaimana orang lain merasakan perasaan tertentu dan mendengarkan bukan sekadar perkataannya melainkan tentang hidup pribadinya: siapa dia dan bagaimana dia merasakan dirinya dan dunianya.

Awal dari Cinta: Empati

lucu

Karena itu dapat dipahami mengapa John Powell menganggap empati sebagai kunci keberhasilan mencintai orang lain. Bagaimana kita bisa berempati terhadap orang lain? Empati dimulai dengan mendengarkan dan memahami keunikan orang lain. Satu-satunya pertanyaan dalam berempati adalah: Bagaimana rasanya menjadi dirimu? Empati berarti meresap di dalam kulit orang lain, berjalan dengan sepatunya, melihat dan mengalami kenyataan melalui matanya. Pada akhirnya, empati bukan menawarkan nasihat, melainkan pengertian. “Oh ya, saya mendengarkanmu.”

Bila esensi empati adalah mendengarkan dan sungguh-sungguh hidup dalam pengalaman orang lain, maka puncak empati menuntut – sekurang-kurangnya untuk sementara – kesediaan untuk ‘hidup’ dalam diri seseorang, dalam pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan, dalam nilai-nilai dan kepercayaannya. Ketika aku berempati kepadamu, maka aku meninggalkan diriku sendiri untuk bersamamu.

Banyak di antara kita yang sudah punya pengalaman bahwa tidaklah banyak orang yang benar-benar bisa menjadi pendengar yang baik. Ketika kita berusaha berbagi bersama orang-orang lain, banyak di antara mereka justru cenderung sekadar menampung, merangkum diri dan semua yang kita bagikan kepada mereka menjadi suatu masalah, kemudian merencanakan solusinya. Mereka lalu hendak berbuat baik lewat upaya memberitahu kita bagaimana kita harus bertindak. Kalau tidak begitu, mereka mungkin meragukan kebenaran komunikasi kita: “Kau tidak sungguh-sungguh bermaksud begitu, ‘kan?” Atau mereka mulai menceritakan perihal mereka sendiri, berusaha meyakinkan kita bahwa masalah serupa itu sudah mereka alami dalam kehidupan mereka. Tak satu pun dari reaksi-reaksi itu merupakan bagian dari mendengarkan secara empatik. Aku tahu bahwa kau benar-benar mendengarkan aku hanya bila raut wajahmu menggambarkan perasaan-perasaanku sekarang, hanya bila suara dan gerak tubuhmu mengatakan, “Oh begitu ya menjadi dirimu … Aku mendengarkanmu.”

Pendengar empatik tidak menghakimi, mengritik maupun mengarahkan, karena dalam tindakan berempati itu ia meninggalkan posisi, persepsi, dan lebih dari semuanya itu: segala praduganya. Segenap konsentrasinya dilimpahkan untuk benar-benar memahami pengalaman orang lain. Ia mengorak rantai yang membelenggu dan keluar dari dalam diri sendiri untuk memasuki pikiran, perasaan dan situasi kehidupan orang lain.

Apabila kita telah mengidentikkan diri dengan orang lain sedemikian, maka kita sudah memberikan kebutuhan utama setiap orang: memiliki seseorang yang sungguh-sungguh memahami bagaimana rasanya menjadi diriku! Hanya sesudah menenggelamkan diri kita ke dalam pengalaman empatik itulah kita mampu mengetahui apa saja yang bisa kita katakan atau lakukan untuk menjadi orang baik yang menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Mencintai adalah suatu seni. Tidak ada keputusan otomatis atau formula yang pasti dan final ketika kita mencoba untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Barangkali kita perlu bersikap tegar atau lembut, bicara atau diam, duduk di sisinya atau membiarkan orang itu menikmati kesendirian yang memperkaya dirinya. Hanya orang empatik yang mampu menguasai seni ini.

Dua Hal Sejati dari Cinta

iloveyou1Apa pun hal lain yang dituntut cinta dari kita dalam hal memberi, ada dua hal tak terpisahkan yang selalu menjadi bagian dari mencintai. Pahamilah bahwa dua hal itu yang terutama dibutuhkan dalam mencintai. Hal pertama yang menjadi hadiah bagi orang yang kita cintai adalah pengungkapan diri kita sendiri. Semua hadiah yang beralas cinta – misalnya bunga, tas, dompet, pakaian atau permen coklat – tak lebih dari sekadar ungkapan simbolik. Hadiah sejati dari cinta adalah memberikan diri kita sendiri. Bila aku tidak memberimu kebenaran sejati tentang diriku, aku tidak memberimu apa-apa. Aku hanya memberikan dalih dan kepura-puraan belaka. Mencintaimu berarti mengizinkanmu mengerti aku, siapa adaku.

Hadiah sejati kedua dari cinta adalah peneguhan terhadap kebutuhan orang yang kita cintai. Apabila aku mencintaimu, bagaimanapun juga aku harus menghargaimu dan menunjukkan penghargaanku terhadap kebaikan dan keunikan pribadimu. Aku tidak bisa mencintaimu tanpa menyumbangkan hal positif maupun negatif terhadap seluruh kepentingan citra dirimu dalam diriku. Demikian pula aku tidak mungkin menanggalkan semua kepentingan pribadiku. Kita serupa cermin satu sama lain, dan di dalamnya kita saling menemukan diri sendiri sebagai bayangan dari reaksi orang lain: engkau bagiku dan aku bagimu. Kita selalu menyumbangkan hal positif maupun negatif terhadap citra diri orang lain. Aku tahu bahwa aku berharga hanya bila aku memantulkan senyum di wajahmu, meresapi kehangatan suaramu dan sentuhan lembut tanganmu. Sebaliknya engkau pun bisa menyadari keberadaan yang serupa pada wajah, suara dan sentuhanku. “Semua yang kita butuhkan hanyalah sedikit pengertian dan sedikit cinta!”

Singkatnya, mata seorang yang mencintai bisa melihat dalam diri setiap orang lain bukan hanya satu melainkan dua kepribadian sekaligus: luka dan kemarahan, kebaikan dan anugerah. Inilah yang disebut pengertian. Inilah cinta yang mengarah pada kebaikan dan berupaya menjadi hadiah bagi sesama. Awal terpenting dalam mencintai adalah empati, yang mencairkan kebekuan cinta diri dan menghadiahkan perasaan yang tiada taranya kepada orang lain karena ia sudah dimengerti. Sambil mendengarkan dan terus membuka hati dalam berempati, kita harus menanggapi kebutuhan-kebutuhan khusus orang yang kita cintai. Dua kebutuhan utama yang tak mungkin diabaikan adalah memberikan diri sendiri – siapa ada kita – dan tak berhenti menjadi hadiah yang meneguhkan hidup orang yang kita cintai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: