• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Komunikasi

Komunikasi adalah kata yang indah. Semua orang mengharapkan terampil dalam hal itu, serupa harapan mer01awca9gohjfaaaaabaaaaaaaaaaa_1eka tentang cinta dan perdamaian. Komunikasi adalah garis hidup cinta. Makna dasariahnya merujuk pada tindakan berbagi. Kebahagiaan hanya nyata dalam berbagi bersama orang lain. Hal ini mengandaikan adanya dua atau lebih orang yang memiliki sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan bersama karena telah saling dibagikan. Pada umumnya komunikasi dipahami sebagai kegiatan saling berbagi di antara para pelakunya. Dalam komunikasi yang berlanjut, engkau menjadi lebih tahu tentang aku dan demikian pula aku tentang engkau. Kita memiliki satu hal yang telah menjadi biasa: diri kita. Tentu saja komunikasi tak selalu berjalan mulus dan tanpa rasa sakit. Apabila engkau ingin mengetahui diriku, aku harus mau berbagi denganmu tentang kemarahan-kemarahan yang tersembunyi entah di mana, tetapi ada di dalam diriku. Aku harus memberitahumu segala hal remeh yang mungkin akan merendahkan diriku di hadapanmu. Seiring dengan itu pula, mungkin saja ada kecemburuan yang tumbuh subur di antara kita. Akan ada godaan di antara kita untuk memasuki perjuangan menang-kalah agar bisa menguasai yang lain. Bagaimanapun juga aku harus yakin bahwa engkau berkomitmen untuk jujur dan mengembangkan komunikasi yang terbuka sebagaimana aku telah melakukannya kepadamu. Aku tidak ingin engkau memanfaatkan keterbukaanku untuk menolak atau meninggalkan aku. Dan aku harus siap untuk menjamin bahwa keterbukaanmu takkan pernah membuatku merendahkanmu. Aku juga harus siap untuk menunda kegiatan pribadiku agar aku bisa mendengarkanmu dan merasakan bagaimana menjadi dirimu.

Kekhawatiran terhadap keintiman

Apabila kita sungguh-sungguh berkomitmen dalam berkomunikasi, keintiman di antara kita adalah sesuatu yang tak terelakkan. Namun, setiap orang memiliki kekhawatiran terhadap keintiman, dan karenanya juga memiliki ketakutan naluriah terhadap komunikasi. Salah satu masalah dalam hal ini adalah karena ketakutan setiap orang adalah unik seperti sidik jari. Gurat ketakutanmu akan keintiman berbeda dengan ketakutanku. Beberapa di antara kita takut akan perpisahan. “Aku tidak ingin dekat denganmu karena sesudahnya kau mungkin akan meninggalkan aku. Kau mungkin akan mati atau pergi dariku. Lebih aman tidak mencintai daripada kehilangan.” Yang lain mungkin takut akan lebur dan kehilangan jatidiri. “Jika aku berbagi tentang segala hal denganmu, apa yang tersisa padaku? Apakah aku masih akan memiliki peluang untuk bisa menyendiri? Aku tidak ingin menjadi seperti segumpal lilin yang meleleh, menyatu denganmu sebagai gumpalan yang lebih besar. Aku tidak menyukai hubungan saling memengaruhi sehingga tidak jelas kapan berakhirnya dan kapan bisa mulai dengan yang lain. Itu perangkap, bukan keintiman.”

Sebagian yang lain lagi takut ditolak. “Jika kau benar-benar tahu tentang diriku, kau takkan menyukaiku. Semakin banyak yang kau ketahui tentang diriku secara bertahap akan membuatmu kehilangan minat. Kau akan menemukan alasan atau kesempatan untuk pergi kepada orang lain.” John Powell cs. (1995) mengakui bahwa ia khawatir terhadap tanggung jawab keintiman. “Jika aku terlalu dekat dengan seseorang, aku akan merasa bertanggung jawab untuk selalu bersamanya setiap saat dibutuhkan. Aku hampir selalu merasa tindakanku berlebihan, dan mudah terlibat terlalu dalam. Padahal aku tidak ingin menjanjikan lebih daripada kesanggupanku. Apalagi aku juga merasa malu jika harus menunjukkan kelemahan dan segala kekuranganku. Aku seolah-olah memiliki semua itu dan harus memberitahukan semuanya kepadamu. Sangat sulit bagiku untuk mengungkapkan keseluruhanku. Aku tak ingin orang lain tahu betapa kacau aku ini sebenarnya. Aku harus tampil sempurna dan biarlah yang tidak baik tentang aku tersimpan bagi diriku sendiri.”

Kebanyakan orang – dengan alasan masing-masing – membatasi keintiman sebelum sempat berakar lebih dalam. Gerutu dongkol, mencibir, memendam sakit hati maupun anggapan bahwa orang lain tak layak untuk diakrabi adalah penghalang sempurna terhadap terbentuknya keintiman. Mungkin saja masalah utama dalam hal ini adalah bagaimana meyakinkan para pelakunya. Kita tidak mengakui – bahkan kepada diri sendiri – bahwa keintiman adalah masalah yang nyata. Kita menyelubungi kekhawatiran kita terhadap keintiman dengan terus berpura-pura tulus, tanpa kemarahan apalagi kebencian. Kekhawatiran kita itu menempatkan orang lain di kejauhan. Tak seorang pun bisa benar-benar mendekati seekor landak, bukan? Sesungguhnya, keintiman benar-benar membuat kita khawatir.

Komunikasi sebagai seni mencintaicouple61908

Ada dua prasyarat utama komunikasi cinta. Pertama: kita harus yakin bahwa kita adalah hadiah bagi orang lain. Kedua: kita berharap bahwa orang lain adalah hadiah yang ditawarkan kepada kita, kendati kadang-kadang ini gampang berubah dan membuat kita meragukan keyakinan kita sendiri. Pertukaran hadiah inilah yang disebut komunikasi. Jelaslah bahwa komunikasi adalah tindakan yang ramah: menyambut orang lain masuk ke relung-relung tersembunyi dalam hidup kita. Seiring dengan itu, kita pun disambut dengan keramahtamahan yang serupa: memasuki tempat-tempat orang lain hidup dan bekerja, juga ke dalam ruang-ruang rahasianya. Namun hal itu terjadi hanya bila komunikasi dilihat sebagai tindakan cinta. Hadiah terbaik di antara segala kebaikan yang harus kuberikan kepadamu adalah diriku sendiri. Hadiah terbaik di antara hal-hal bernilai yang harus kau berikan kepadaku adalah pengungkapan dirimu sendiri. Jika kita tak ingin menempuh segala risiko yang terjadi akibat pertukaran hadiah itu, sesungguhnya kita tidak memberikan apa-apa. Kita bisa berhubungan hanya karena saling membutuhkan, tetapi bukan karena cinta. Jika cinta kita satu sama lain menuntut perjuangan, maka komunikasi sesungguhnya bukan suatu kemewahan, melainkan kebutuhan.

Jika kita menjadikan saling berbagi itu sebagai kesenangan karena di dalamnya kita bisa menipu satu sama lain, maka kesenangan itu akan merusak segalanya. Aku tidak berkomunikasi denganmu agar bisa merasa lebih baik, melainkan hanya agar kau bisa lebih mengerti aku. Aku tak berbagi denganmu agar kau bisa melakukan semua yang kupikirkan. Bersamamu aku tak berbagi dengan harapan agar kau merasa bertanggung jawab terhadapku atau untuk mengatasi masalah-masalahku, atau merasa bersalah karena aku. Aku berbagi denganmu untuk membiarkanmu mengetahui siapakah aku dan bagaimana rasanya menjadi aku. Aku memintamu untuk berlaku lembut dan penuh perasaan. Meskipun demikian, aku tidak memiliki rencana tersembunyi. Lakukan apa saja yang kau kehendaki. Itulah yang kuhadiahkan kepadamu.

Hendaklah kita tidak menipu pikiran kita bahwa komunikasi membuat seseorang menjadi dua. Kau harus tetap menjadi dirimu sendiri, dan demikian pula aku dengan kepribadianku. Engkau adalah engkau dan aku adalah aku. Kita masing-masing memiliki pikiran kita sendiri, kepribadian kita sendiri, menentukan pilihan-pilihan kita sendiri (dan berkompromi hanya bila diperlukan). Begitulah terjadi sejak awal, sekarang, dan selalu. Dalam berkomunikasi denganmu, aku tidak ingin bercermin dan melihat wajahmu di dalamnya. Demikian pula aku tidak ingin kau ikut melakukan apa saja yang kulakukan. Komunikasi kita akan menjadi indah bila kita merayakan keberbedaan yang kita bagikan satu sama lain. Kita masing-masing adalah unik. Yang baik bagiku belum tentu baik pula bagimu. Bagaimanapun, jika kau akan membawaku masuk ke dalam keunikan duniamu dan membaginya denganku, aku akan diperkaya oleh kesediaanmu berbagi denganku. Dan bila aku mempersilakanmu masuk ke dalam dunia pribadiku, engkau akan semakin mengenal aku.

Bicara

Ada banyak hal yang harus kubagi denganmu. Di antaranya adalah masa laluku. Tidaklah mudah untuk menyatakan kebenaran-kebenaran sejarah hidupku. Aku harus memberitahukan kepadamu tentang tawa dan tangisku, tentang keberhasilan dan kegagalanku. Aku harus mengatakan kepadamu kenangan yang sebagian di antaranya telah terhapus dan juga yang telah mengarahkan hidupku. Beberapa di antaranya telah lenyap karena waktu. Sebagian lainnya masih terpendam dalam kegelapan dan hanya kembali teringat tatkala aku sedang sedih. Aku harus menceritakan kepadamu tentang keunikan pandanganku mengenai kenyataan hidup, caraku melihat segala sesuatu: tentang diriku sendiri, orang-orang lain di dalam hidupku, apa kata orang tentangku, dan tentang Tuhan yang kusembah serta yang kepada-Nya aku berdoa. Aku juga harus membagikan rahasia-rahasiaku yang tersembunyi, harapan-harapan dan nilai-nilai yang kuyakini.

Namun, lebih penting dari semuanya itu, aku harus mengatakan kepadamu tentang perasaan-perasaanku. Beberapa di antaranya jelas, yang lain gelap; ada yang indah, ada pula yang bagiku sangat buruk. Semuanya itu ada padaku. Tapi aku tidak bisa benar-benar menjelaskan semuanya. Yang bisa kulakukan sekadar menggambarkannya kepadamu. Aku tahu bahwa hal itu rumit. Beberapa perasaanku berakar di kedalaman. Perasaan-perasaan itu terpendam jauh di dalam lubuk hatiku, sehingga aku tak pernah sungguh-sungguh dapat menggalinya. Meskipun begitu aku tahu bahwa perasaan-perasaanku itu adalah milikku. Dan ketika berbagi denganmu, aku merasakan telah membagikan hal-hal yang sensitif. Perasaan-perasaanku itu membungkus semua sejarah hidupku, pengalaman-pengalaman yang telah mempertajam cara pandangku. Perasaan-perasaanku itu bergantung juga pada kondisi tubuhku, makanan dan istirahatku. Dan kendati kita terbiasa memaklumi beberapa hal – seperti kemarahan dan perhatian – tak seorang pun yang sungguh-sungguh pernah merasa seperti aku. Maka aku tahu bahwa ketika membagikan perasaan-perasaanku kepadamu, aku membagikan milikku dan diriku sendiri.

Demikianlah dalam mengkomunikasikan perasaan-perasaanku itu, aku merasa bertanggung jawab penuh. Aku tahu bahwa aku harus – dalam komunikasiku – menjadi pemilik, bukan penggugat. Pemilik selalu menyatakan “Aku” sedangkan penggugat cenderung menyatakan “Kau”. Inilah pernyataan seorang pemilik yang mengetahui bahwa kemarahan tentang sesuatu tengah membara di dalam dirinya: “Kau membuatku marah!” adalah tuduhan seorang penggugat. Pernyataan itu menjadikan pendengarnya sebagai tertuduh, mengalihkan tanggung jawab akan kemarahan dari si pembicara kepada pendengarnya. Sedangkan seorang pemilik mengetahui diri mereka sendiri, dan mereka dewasa. Penggugat hidup di dunia kepura-puraan dan kepahitan, terpisah dari kenyataan oleh karena kebiasaannya menuduh orang lain. Penggugat tak pernah benar-benar mengenal dirinya sendiri maupun orang lain. Celakanya, ia tak pernah belajar menjadi lebih dewasa.

Ketika berusaha berbagi denganmu, aku akan tergoda untuk menutupi luka-luka batinku. Aku akan terus menutup relung-relung kelemahan yang selama ini kurahasiakan. Dengan mudah aku dapat menunjukkan keberhasilanku, tetapi aku tidak ingin engkau mengetahui jejak-jejak kegagalanku. Apabila aku terus menyembunyikan luka-lukaku, kelemahan-kelemahanku, kegagalan-kegagalanku, aku tidak benar-benar membagikan keseluruhan diriku kepadamu. Aku sudah menyunting diriku sedemikian rupa agar engkau hanya melihat bagian-bagian yang aku ingin tunjukkan kepadamu. Engkau akan merasakan hal itu, aku yakin, dan kau pun akan melakukan hal yang serupa. Engkau pun akan menyunting dirimu. Namun, apabila aku membuka keseluruhan diriku, menggambarkan semuanya sejelas-jelasnya, engkau akan merasa bahwa aku telah melakukannya dengan susah payah dan bahwa aku memercayaimu. Adalah manusiawi bila keterbukaanku menularimu untuk melakukan hal yang sama. Seperti cinta, komunikasi adalah sebuah keputusan dan komitmen.

Mendengarkan

persJarang ada orang yang mau mengembangkan kemampuan mendengarkan dengan empati. Sudah sangat baik bila kita bisa menemukan lima orang pendengar yang baik sepanjang hidup kita.

Aku mendengarkanmu karena aku sungguh-sungguh ingin mengetahui bagaimana menjadi dirimu. Ini berarti aku akan mendengar lebih daripada perkataan yang kau ucapkan. Aku akan mendengar emosi yang bergetar dalam suaramu. Aku akan melihat roman wajahmu dan memperhatikan gerak tubuh yang mengiringi perkataanmu. Aku tak akan menyiapkan diriku untuk menanggapimu. Pada akhirnya aku mungkin hanya akan mengangguk dan berterima kasih sewajarnya. Aku akan mengatakan betapa beruntungnya aku karena kepercayaanmu. Aku akan berjanji untuk memelihara dengan hormat kepercayaanmu itu.

Kendati Tuhan menganugerahkan dua telinga dan hanya satu mulut, banyak di antara kita justru bukan pendengar yang baik. Kebanyakan dari kita hanya mau mendengarkan seperlunya, kemudian memotong dan menawarkan nasihat, menceritakan sebuah anekdot lama, dan atau mengisahkan beberapa pengalaman kita sendiri. Kadang-kadang kita menampilkan diri kita sendiri sebagai penasihat yang mampu mengatasi segala masalah. Atau kita membelokkan pembicaraan ke berbagai hal tentang diri kita sendiri. Kadang-kadang kita menunjukkan ketidakmampuan kita untuk mendengarkan dengan membuat si pembicara berhenti membuka dirinya. Kita menguap, bermalas-malasan, menunjukkan ketidaktertarikan kita, mengajukan pertanyaan yang tak ada kaitannya, atau dengan mudah mengganti pokok pembicaraan. Beberapa di antara kita merasa bahwa keheningan sangat tidak nyaman sehingga cepat bertindak mengisi kesenjangan.

Sebelum menjadi pendengar yang baik, agaknya kita perlu berusaha untuk menjadi pembicara yang baik pula. Dengan demikian pendengar yang baik mengetahui betapa tidak mudahnya bicara secara terbuka, sejujur-jujurnya. Jika aku seorang pendengar yang baik, aku hanya akan memotong pembicaraan orang lain untuk meminta penjelasan tentang arti atau rincian yang terasa kurang lengkap. Interupsiku tak pernah bermaksud menghentikan ceritamu. Aku akan berusaha untuk memberimu keleluasaan yang kau perlukan untuk bisa membagikan dirimu kepadaku. Tentu saja diperlukan usaha dan latihan untuk bisa menjadi seorang pendengar yang baik. Namun yang terutama adalah empati yang nyata dan secukupnya, serta keingintahuan yang sabar untuk ikut merasakan bagaimana sesungguhnya menjadi dirimu.

“Mendengarkan dengan kepala dan hati” adalah frasa yang akrab di telinga kita. Mendengarkan dengan kepala hanyalah untuk pikiran logis dan pemahaman serangkaian gagasan. Ini akan menjadi kendala terbesar bagi sebagian pembicara. Hampir setiap orang memiliki naluri untuk memahami keluhan “Mohon dengarkanlah yang tidak saya katakan.” Ada kalanya kita tidak bisa menemukan kata yang tepat maupun keyakinan yang cukup untuk mengatakannya. Kita berharap agar hati pendengar kita mampu memaknainya sendiri. Nyaris tak disangkal bahwa hal yang paling tidak penting dalam komunikasi adalah kata-kata. Kegembiraan atau penderitaan, perhatian dan keraguan, harapan dan keputusasaan dapat terungkap melalui berbagai cara selain dengan kata-kata. Kenyataan itu hanya bisa ditangkap oleh hati. Dan semua itu hanya dapat ditangkap oleh hati yang berkomitmen mencintai.

Masalah semantik dan lain-lain

Kata-kata adalah pertanda. Sayangnya, kebenaran yang dinyatakan dengan kata atau tanda yang sama bisa saja berbeda maknanya bagi orang yang berbeda. Seseorang mungkin bahagia dipanggil “Manis” sementara yang lain mungkin benar-benar tidak menyukainya. Inilah kenyataannya: kata-kata bisa bermakna beda bagi orang yang berbeda. Setiap orang yang sudah pernah berbicara kepada suatu kelompok tahu benar bahwa para pendengarnya bisa menerima pesan yang sama dengan makna yang berbeda. Pernyataan “Aku mencintaimu” oleh pembicara mungkin saja ditangkap berbeda oleh hadirin yang berbeda.

Baik pembicara maupun pendengar hendaknya berhati-hati tentang masalah ini. Latihan makna berbagi mungkin bisa menjelaskannya. Pembicara meminta para pendengar untuk menghubungkan kembali yang mereka dengar. Berpuaslah bila pesan yang disampaikan sama dengan yang diterima.

Kemudian ada pula masalah praduga. Agaknya tak seorang pun dari kita bisa benar-benar bebas dari kecenderungan berpraduga tentang segala sesuatu. Contoh: nama-nama yang kita sukai sekarang sangat mungkin adalah nama-nama orang yang kita sukai sebelumnya. Demikian pula sebaliknya. Kita cenderung berpraduga hampir tentang segala sesuatu, termasuk makanan, warna, gaya, ras, dan agama. Praduga adalah penghakiman yang terlalu dini, karena terbentuk oleh kesalahan atau keterangan yang tak lengkap. Praduga menutup akal sehat kita dengan keputusan tentang sesuatu yang belum nyata kebenarannya. Biasanya hal ini terjadi disebabkan oleh tekanan emosional yang disadari maupun yang tak disadari.

Jelaslah bahwa praduga bisa merasuk dan jadi gangguan dalam berkomunikasi. Jika aku mencatat setiap pembicaraan, aku akan mendengar untuk mengetahui apakah engkau setuju denganku dan aku akan menandai catatanku. Alih-alih mendengarkan untuk belajar bagaimana menjadi dirimu, aku akan disibukkan oleh daftar catatanku untuk mengetahui apakah engkau salah satu dari yang kugolongkan orang baik. Praduga juga akan menutup pikiranku terhadap segala hal baik di dalam dirimu karena aku mengingat yang kau katakan dan atau lakukan beberapa tahun lalu. Saat itu aku sudah memberimu nilai pukulrata dan tidak mau meninjaunya lagi saat ini. Pada akhirnya, ada sesuatu yang tak kusukai tentang dirimu. Paling-paling, memang begitulah penampilanmu, perilakumu, atau garis politikmu. Jika aku menjadikannya sebagai satu-satunya sumber tentang dirimu, maka aku takkan pernah membiarkan diriku untuk mendengarkanmu dengan empati dan jadilah aku korban pradugaku sendiri.

Cara pandang lain dalam komunikasi adalah imajinasi. Jika sesuatu tak dikatakan secara tegas, mungkin imajinasi bisa mengisi semua hal yang tak terkatakan. Misalnya, kau punya masalah dalam hal penglihatan. Ketika melihat orang lain, kau cenderung berkedip-kedip atau justru tampak menyelidik. Jika kau tidak mengatakan kepadaku bahwa kau menyukai aku, mungkin aku akan mengira kau tidak menyukai aku. Aku bisa tahu dari caramu melihatku. Tetapi, apabila hanya imajinasi yang mendukung komunikasi, mungkin saja kesalahpahaman tidak dapat dihindari. Inilah kemungkinan yang bisa merenggangkan komunikasi. Pembicara hendaknya berusaha untuk mengurangi kesenjangan yang mungkin terjadi akibat imajinasi pendengar. Namun, pendengar semestinya juga perlu meyakini pemahamannya, misalnya dengan mengatakan: “Tampaknya kau sedang marah. Apakah kau marah kepadaku atau aku yang salah mengira begitu?”

Godaan untuk berhenti

Mungkin motto “Pemenang tak pernah berhenti. Yang keluar dari arena tak pernah menang” sudah pernah kita baca atau dengar. Terlepas dari maknanya yang lain, ada kebenaran dalam motto itu jika diterapkan pada komunikasi. Ada saatnya drive-men-mainkomunikasi yang semula berlangsung baik tiba-tiba jatuh ke tengah-tengah sambaran petir. Kesalahpahaman, alasan, penghakiman yang sembrono bisa dengan mudah membendung aliran komunikasi yang baik. Hal semacam ini sesekali terjadi dalam pasang-surut komunikasi.

Krisis adalah ujian bagi daya tahan seseorang. Krisis juga merupakan saat mengakui kesalahan diri sendiri ketimbang menggugat dan menyalahkan orang lain. Penggugat selalu tergoda untuk berpikir bahwa krisis dalam berkomunikasi adalah pertanyaan tentang baik atau buruk, benar atau salah. Ia ingin menunjuk siapa dan mengapa ia bermasalah. Padahal, jika aku menyerah pada komunikasi, aku harus bertanggung jawab penuh. Aku harus mengatakan hal itu terjadi karena sesuatu dalam dirikulah yang membuatku menghentikan usahaku untuk mengerti bagaimana menjadi dirimu. Sangat mungkin salah satu atau bahkan kita sama-sama memiliki pendapat yang keliru atau penghakiman yang salah. Tetapi itu bukan alasan untuk terus merajuk atau menuntut maaf. Cinta tak sekerdil itu, dan komunikasi adalah tindakan cinta. Jika tidak, itu bukanlah cinta. Bagian dari keputusan untuk berkomitmen dalam cinta adalah keputusan untuk terus berusaha dan berkomitmen tanpa syarat dalam berkomunikasi.

Suatu hubungan justru menjadi lebih erat ketika dua orang sama-sama berjuang dalam menghadapi krisis. Halnya serupa dengan tulang yang patah. Secara alamiah kalsium tambahan akan mengalir lebih banyak ke tulang yang patah dan karenanya tulang itu akan berangsur-angsur menjadi lebih kuat setelah proses perekatannya sempurna. Sebagian besar di antara kita sering tergoda untuk berhenti, menyerah, menyalahkan, kemudian mencari penghiburan dan pengertian dari orang lain. Sangatlah penting untuk menegakkan kembali komunikasi agar kita tak berhenti berusaha. Hubungan selamanya akan lebih kuat dan bertahan karena usaha dan komitmen kita.

Selamat berkomunikasi dan mencintai!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: