• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Kenali untuk Dihindari

Tinjauan Medis Klinis HIV/AIDS, Kenali untuk Dihindari

Oleh: Dr. Alphinus R. Kambodji

Pendahuluan

Sebagaimana diketahui, dunia saat ini sedang dilanda ‘kecemasan’ akan globalisasi AIDS. Berbagai seminar baik lokal, regional, nasional dan bahkan kongres internasional digelar di berbagai penjuru. Hal ini menunjukkan betapa AIDS sangat menggelisahkan sehingga perlu kesiapsiagaan dan kewaspadaan menghadapi bahaya besar yang menentukan mati-hidupnya manusia, sebab:

  1. AIDS merupakan penyakit menular yang cepat ‘mendunia’ dan tidak ada suku atau bangsa yang kebal terhadap HIV/AIDS.
  2. Angka kasus AIDS masih merupakan fenomena ‘gunung es’.
  3. Belum ditemukan obat pembunuh HIV atau vaksin untuk imunisasi.
  4. Perilaku yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS bervariasi di semua negara.
  5. Seseorang mungkin telah terinfeksi HIV tanpa disadarinya, sehingga menjadi sumber penularan secara diam-diam.
  6. Sebagian besar yang terinfeksi HIV akhirnya menjadi AIDS.
  7. Masih kurangnya informasi yang memadai sehingga terus berkembang mitos-mitos dalam masyarakat tentang penyakit ini.

AIDS akan menjadi penyebab utama kematian pada usia dewasa muda, yaitu pada masa produktif antara 15-60 tahun. Hal yang patut kita catat bahwa menurut WHO-GPA, pada tahun 2000 di negara-negara berkembang 90% dari seluruh infeksi akan terjadi pada heteroseksual sehingga akan menggeser mitos/ anggapan bahwa AIDS adalah penyakit homoseksual.

Bagaimana AIDS di Indonesia?

Sampai Maret 1996, jumlah pengidap HIV yang tercatat di Indonesia menurut Dirjen PPM & PLP Depkes RI, mencapai 390 orang terdiri atas pengidap HIV (belum ada gejala), sebanyak 295 orang dan penerita AIDS sebanyak 95 orang, telah meninggal 59 orang. Keadaan ini akan terus bertambah dari waktu ke waktu. Angka-angka tersebut diperoleh dari hasil penelitian dan pemeriksaan yang masih sangat terbatas. Walaupun demikian diyakini bahwa angka sebenarnya jauh di atas angka-angka resmi tersebut (fenomena gunung es), karena menurut para ahli penyebaran penyakit, penularan HIV/AIDS di masyarakat memakai rasio 1:100. Artinya, bila ditemukan kasus HIV positif, maka telah terjadi penularan sebanyak 100 orang di masyarakat. Apa yang terjadi di Indonesia saat ini menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan, terutama bila kewaspadaan masyarakat tidak segera ditingkatkan. Hal ini disebabkan karena:

1. fakta-fakta menunjukkan bahwa industri seks komersial sudah tersebar luas hampir di seluruh daerah perkotaan;

2. tingginya angka penyakit kelamin di kalangan pekerja seks komersial sedangkan penggunaan kondom sangat rendah;

3. tingginya mobilitas pekerja seksual antarkota bahkan antarpulau;

4. tingginya angka penyakit kelamin di kota-kota pelabuhan yang notabene disinggahi para pelaut dari berbagai penjuru nusantara dan dunia;

5. peningkatan promiskuitas dan terjadinya pergeseran nilai terhadap seksualitas.

Apakah AIDS itu?

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang artinya: kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang didapat (ketularan). Kasus AIDS pertama kali dilaporkan pada tahun 1981, menimpa kaum homoseksual (gay) di San Fransisco, USA.

Pada bulan Januari 1983 seorang ilmuwan Prancis dari Institut Pasteur, Luc Montaigner berhasil menemukan virus AIDS dan menamakannya LAV (Lymphadenopathy Associated Virus). Sementara itu, peneliti Amerika, Robert Gallo dari National Institute of Cancer mengklaim bahwa HTLV III (Human T Lymphotropic Virus type III) sebagai penyebabnya.

Untuk mencegah kesimpangsiuran, maka pada tahun 1986 WHO memutuskan penamaan virus penyebab AIDS sebagai HIV (Human Immunodeficiency Virus). HIV adalah virus yang terdiri dari gumpalan program genetik (pembawa sifat keturunan) yang diliputi oleh protein dan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia terdapat sistem kekebalan yang mempertahankan tubuh dari serangan berbagai kuman penyakit atau benda asing masuk. Sistem kekebalan tubuh terdiri atas berbagai sel dan salah satunya adalah sel limfosit T4. HIV terutama menyerang sel limfosit T4 yang merupakan komponen utama sistem kekebalan tubuh. HIV masuk ke dalam pembuluh darah melalui ‘pintu masuk’ berupa luka yang ada di tubuh, dan melekatkan diri pada dinding sel limfosit T4. Dengan enzym reverser transkriptase, virus mampu memasuki inti sel T4 dan dapat melakukan perubahan-perubahan genetik yang memungkinkannya melakukan pembelahan sel (berkembang biak) untuk kemudian menyerang sel limfosit T4 lainnya, sehingga terjadilah kelumpuhan sistem pertahanan tubuh. Akibatnya, timbullah gejala penyakit yang disebabkan oleh bakteri, jamur, virus dan protozoa yang memanfaatkan organ tubuh lainnya.

Sumber dan Cara Penularan

Infeksi HIV/AIDS bukan penyakit turunan, tetapi didapat, artinya oleh sumber penularan, yaitu pengidap HIV. Pada dasarnya hampir di seluruh cairan tubuh pengidap HIV mengandung virus, tetapi dengan jumlah yang berbeda-beda. Walaupun demikian, yang terbukti dapat menularkan adalah HIV yang terdapat di darah, air mani dan cairan cervix/ vagina. Penularan AIDS memerlukan ‘pintu masuk’ berupa luka, lesi atau ulcus yang memungkinkan terjadinya pertukaran cairan tubuh yang mengandung virus ke peredaran darah/ limpa orang yang belum mengandung virus. Oleh karena itu, penularan HIV dapat terjadi melalui tiga jalur:

a. Melalui hubungan seks,

Homoseksual : pria dengan pria

Biseksual : dengan pria maupun wanita

Heteroseksual : pria dengan wanita

Hubungan homoseksual berisiko terbesar karena mukosa rectum (anus) dengan epitel silindris lebih mudah mengalami luka dibandingkan dengan mukosa vagina yang punya epitel squmosa, sehingga aborsinya menjadi lebih besar. Selain itu, penularan HIV akan dipermudah dengan adanya penyakit kelamin.

b. Melalui darah terinfeksi (yang mengandung HIV),

transfusi darah/ transplantasi organ atau jaringan,

alat suntik/ alat tidak steril dan dipakai bergantian.

c. Dari ibu pengidap HIV kepada bayinya.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bayi terinfeksi dari ibu pengidap HIV rata-rata 30%. Penularan itu dapat terjadi pada:

saat bayi masih dalam kandungan

saat persalinan

saat menyusui (ASI)

Mengingat bahwa penularan HIV memerlukan pertukaran cairan yang harus masuk ke sistem peredaran darah atau limpa seseorang, maka HIV tidak menular dalam kehidupan sosial sehari-hari, seperti: berjabat tangan, memeluk, cium pipi, penggunaan alat-alat rumah tangga, tempat duduk yang sama, batuk, bersin, berbicara, gigitan serangga.

Diagnosis

Untuk mengetahui apakah seseorang mengidap HIV perlu dilakukan pemeriksaan darah untuk mendeteksi ada-tidaknya antibodi yang spesifik terhadap HIV dengan metoda ELISA dan Western-Blot. Hasil positif (sero positif) berarti bahwa seseorang telah terinfeksi HIV. Hasil negatif (sero negatif) belum berarti bahwa seseorang tidak mengidap HIV, karena mungkin pada saat pemeriksaan tubuh masih dalam proses pembentukan antibodi (window period). Jadi masih diperlukan pemeriksaan ulang dalam tiga sampai enam bulan kemudian.

Perjalanan Penyakit dan Gejala

Pada umumnya perjalan penyakit infeksi HIV berlangsung dalam beberapa tahap beserta gejala yang menyertainya, yaitu:

1. Fase Akut

Dalam dua atau enam minggu setelah terinfeksi HIV pada 20% pengidap timbul gejala akut menyerupai ‘flu’, berupa: demam 38-40 derajat Celcius., pembesaran kelenjar limpa (getah bening) di leher serta ketiak, nyeri tenggorokan, nyeri otot, diare, muntah, bahkan adanya bercak-bercak kemerahan pada kulit yang berlangsung kurang lebih sepuluh hari dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Dasarnya adalah adanya reaksi antibodi yang dibuat oleh tubuh (sistem kekebalan) terhadap masuknya virus. Gejala-gejala tersebut bukanlah gejala yang spesifik.

2. Reaksi Tanpa Gejala (Asimtomatik)

Pada tahap ini seorang pengidap HIV dapat hidup sehat tanpa gejala apa-apa. Ia bisa bekerja seperti layaknya orang sehat. Hal ini dapat berlangsung antara tiga sampai lima tahun atau bahkan lebih. Walaupun demikian, virus tetap aktif dan orang tersebut dapat menjadi sumber penularan yang efektif (carrier).

3. Fase Pembesaran Kelenjar (PGL: Persistent Generalized Lymphadenopathy)

Gejala yang muncul berupa pembesaran kelenjar getah bening di daerah inguinal (selangkang), leher, belakang telinga, yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih. Gejala-gejala ini biasanya disertai dengan kelainan-kelainan ringan sampai berat lainnya.

4. Fase Sakit Berat (ARC: AIDS Related Complex)

Manifestasi gejala yang timbul terutama akibat infeksi oportunistik (yang memanfaatkan kesempatan menurunnya kekebalan tubuh), antara lain:

infeksi jamur di rongga mulut/ lidah dan atau alat kelamin

infeksi oleh Herpes Simplex/ Zoster

infeksi kulit

demam dan keringat malam

pembesaran kelenjar yang menyeluruh

diare yang terus menerus

penurunan berat badan lebih dari 10%

Fase ini dapat berlangsung satu sampai dua tahun, gejalanya berlangsung secara kumat-kumatan.

5. Fase AIDS

Pada dasarnya manifestasi gejala penyakit yang timbul bergantung pada seberapa banyak sel limfosit T4 sudah berkurang, yang mengakibatkan munculnya infeksi oportunistik yang parah. Fase ini ditandai dengan gejala-gejala:

infeksi saluran pernafasan dan pencernaan yang parah

infeksi paru pneumocystis carini pneumoni, TBC

adanya tumor ganas, antara lain sarkoma kaposi

kelainan syaraf otak

Fase ini berlangsung tak lebih dari satu tahun dan merupakan penyebab kematian.

Kelompok yang Berisiko Ketularan

Yang dimaksud adalah mereka yang sangat berisiko untuk tertular HIV baik karena perilaku seksual maupun perilaku kesehatan. Yang tergolong kelompok ini adalah:

1. mereka yang suka berganti-ganti pasangan seksual (multipartner sex)

2. penerima transfusi darah/ transplantasi organ

3. pecandu narkotik suntik

4. pasangan dari pengidap AIDS/HIV

5. bayi yang lahir dari ibu pengidap AIDS/HIV positif

Upaya Pengobatan dan Penanggulangan

Obat dan Vaksin

Sampai saat ini belum ditemukan obat anti AIDS maupun vaksin untuk mencegah HIV, walaupun telah banyak jumlah dollar yang dikeluarkan oleh berbagai negara untuk penelitian. Kesulitannya adalah karena virus ini senantiasa melakukan mutasi. Obat-obatan yang digunakan saat ini (Zidovudine/ AZT, ddI, ddC, d4T, 2TC dan beberapa obat terbaru seperti Saquinavir, Ritonavir, Indinavir, Nelfinavir dan lain-lain) merupakan obat yang hanya dapat memperlambat proses berkembang biaknya HIV dengan menghambat kerja enzym reverse transkriptase dan enzym protease. Namun karena HIV mudah melakukan mutasi, maka masih diperlukan waktu bertahun-tahun lagi sebelum obat pilihan ditemukan.

Terhadap penyakit yang menyertainya diberikan pengobatan sesuai jenis penyakit. Usaha ini akan makin terbatas manakala jumlah jenis kekebalan tubuh makin menurun.

Sterilisasi

HIV dapat disterilisasi dengan:

pemanasan dengan suhu 56 derajat Celcius selama 30 menit

alkohol 70% atau 90%

lysol 3%

H2O2 3%

Formalin 1%

Chlorox, Bayclin

Mengubah Perilaku

Indonesia agaknya masih punya sedikit kesempatan untuk melakukan usaha-usaha pencegahan/ penurunan risiko tertular penyakit ‘maut’ ini. Dalam Strategi Nasional Penanggulangan (SNP) AIDS yang ada saat ini, dikatakan bahwa masyarakat memegang peran utama dalam upaya mencegah penyebaran HIV, dengan upaya memperkuat ketahanan keluarga, kesejahteraan keluarga serta mempraktikkan nilai-nilai keagamaan dan sosial-budaya yang benar dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan sarana pendidikan sebagai mediator.

Beberapa hal praktis yang perlu dilakukan:

· taati dan jalankan norma agama dan budaya yang baik dan benar,

· hanya punya satu pasangan seks dalam ikatan pernikahan yang sah,

· hindari berganti-ganti alat yang berhubungan dengan darah orang lain tanpa sterilisasi,

· obati sampai sembuh bila ketularan penyakit kelamin,

· hindari penggunaan transfusi darah/ transplantasi organ yang tidak bebas HIV,

· pakai kondom bila ‘terpaksa’ sengaja berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan;

· jadilah sumber informasi yang benar, juga kepada anggota keluarga,

· dukunglah pengidap HIV secara moral dan material agar mereka tidak dikucilkan/ dimusuhi dan tidak melakukan hal-hal yang berisiko terhadap orang lain,

· pengidap HIV dianjurkan untuk tidak kawin/ menikah,

· wanita pengidap HIV dianjurkan untuk tidak hamil/ melahirkan,

· ibu pengidap HIV dianjurkan untuk tidak menyusui,

· menjadi sumber informasi bagi teman sebaya,

· menyalurkan informasi HIV/AIDS dan perilaku hidup sehat melalui poster, majalah, leaflet dan lain-lain.

Tanggung jawab Sekolah

SNP-AIDS juga mengisyaratkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan hendaknya menjadi sarana penyebarluasan perilaku hidup dan berperilaku yang bertanggung jawab. Agaknya sudah perlu dikembangkan di dalam kurikulum sekolah mengenai pendidikan seks/ kesehatan reproduksi.

Sekolah dapat pula memberikan suasana yang kondusif agar siswa dapat mengembangkan program Gerakan Peduli AIDS di Sekolah (GERPAS).

Satu Tanggapan

  1. thanks yyy….
    udh kshhh tau informasi tntng hiv aids….

    Sama-sama.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: