• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Penyalahgunaan Zat Psikoaktif

Beberapa Pokok Pikiran tentang Pencegahan Penyalahgunaan Zat Psikoaktif

Oleh: Dr. Limas Sutanto, Sp.K.J.

I

Penggunaan ‘zat psikoaktif’, baik yang berupa obat-obatan maupun zat lain, semisal alkohol, memang bisa membuahkan pengalaman ‘aneh’ yang ‘menggetarkan’ (tremendum) namun sekaligus ‘mengasyikkan’ (fascinans).

II

Sesungguhnya hasrat manusia untuk mengalami ‘yang menggetarkan’ dan ‘yang mengasyikkan’ tidak senantiasa buruk, tak selalu destruktif. Hasrat itu, seperti dikatakan Rudolf Otto, terbentuk karena adanya ‘kesadaran dan perasaan insani’ wajar, yang justru bisa pula menjadi landasan awal untuk perwujudan jalinan relasi personal dengan Tuhan.

III

Namun dunia masa kini adalah dunia yang penuh dengan ‘perangkap nafsu’ yang dikreasikan oleh kondisi masyarakat yang amat getol pada ‘tontonan’. Oleh karena itu kondisi masyarakat masa kini disebut dengan istilah ‘masyarakat tontonan’ (society of spectacle). Dominasi ranah-ranah penampakan/ tontonan kini semakin mengondisikan keberadaan – meminjam istilah Giles Deleuze dan Felix Guattari – ‘mesin nafsu’ (desiring machine). Tak pelak lagi, hasrat manusia akan ‘yang menggetarkan’ dan ‘yang mengasyikkan’ serta merta bermuara pada pencarian pengalaman-pengalaman aneh duniawi yang lengket pada nafsu-nafsu sesaat. Aneka zat psikoaktif memberikan peluang untuk itu.

IV

Penggunaan zat psikoaktif untuk tujuan nonmedis secara umum disebut ‘penyalahgunaan zat’. Beberapa zat yang dapat disalahgunakan antara lain:

  1. zat-zat opioid: heroin, morfin, metadon, meperidin, propoksifen, hidromorfon, oksikodon, pentazosin, kodein;
  2. depresan (zat penekan) sistem saraf pusat: benzodiazepin, barbiturat, meprobamat, etklorvino, glutetimid, metaqualon;
  3. stimulan (zat perangsang) sistem saraf pusat: amfetamin, kokain;
  4. zat halusinogen: LSD, meskalin, psilosobin;
  5. arilsikloheksilamin: fensiklidin;
  6. zat-zat kanabinoid: marijuana, hashish;
  7. alkohol dan aneka zat pelarut semisal aseton dan toluen.

V

Beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan fenomena penyalahgunaan zat:

  1. rasa ingin tahu yang terbelokkan menjadi tindak coba-coba mengonsumsi zat psikoaktif di luar tujuan medis;
  2. tekanan oleh teman-teman dalam kelompok sebaya;
  3. keinginan menghilangkan perasaan tak sejahtera (dysphoric feelings);
  4. keinginan meningkatkan fungsi tubuh secara tak realistik;
  5. kondisi sosial-ekonomi rendah yang berdampakkan kurangnya pilihan peran sosial/ pekerjaan yang pantas dan mampu memberikan kepuasan;
  6. ketidakstabilan keluarga; anak ditolak oleh orangtua, perceraian;
  7. gangguan jiwa.

VI

Upaya pencegahan terhadap penyalahgunaan zat amat penting dilakukan secara terus menerus, berkesinambungan, tak kenal henti. Upaya pencegahan dampaknya lebih besar dan hasilnya lebih memuaskan ketimbang upaya pengobatan (kuratif) atas kasus-kasus penyalahgunaan zat yang sudah terlanjur terjadi.

VII

Peran inti dan kunci upaya pencegahan diemban oleh komunitas pendidikan manusia yang hakiki, yaitu keluarga. Keluarga mesti harmonis, mampu terus menerus berfungsi sebagai ajang dialog komunikatif (wacana rasional yang bebas dominasi) antara setiap anggota keluarga. Lewat keharmonisan dan fungsi dialog komunikatif itu, nilai-nilai (baik, nilai-nilai kodrati) bisa didarahdagingkan (diinternalisasikan) pada diri setiap anggota keluarga.

VIII

Sekolah dan masyarakat juga merupakan tempat-tempat dilakukannya upaya pencegahan. Sekolah dan masyarakat mesti mampu mewujudkan peluang dan daya tarik untuk: pengembangan aneka hobi konstruktif, apresiasi dan kecintaan terhadap seni, olahraga dan keindahan/ keagungan alam raya serta seluruh ranah ciptaan Tuhan, keterlibatan manusia muda pada aneka kegiatan organisasi sosial dan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: