• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Ekstrimisme vs Kebhinnekaan Indonesia

Ekstrimisme vs Kebhinnekaan Indonesia

Oleh: Masdar Farid Mas’udi (Ketua PBNU)

KEBHINNEKAAN adalah karakter bangsa INDONESIA seperti tertera dalam simbol GARUDA PANCASILA. Sebagai negara dengan takdir kebhinnekaan (plurality) baik dalam hal tradisi, etnis, budaya, agama dan keyakinan, jika tidak ditopang oleh kecintaan dan kedewasaan mudah terperosok dalam  bahaya perpecahan yang dapat meruntuhkan bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Dalam konteks ini, munculnya gejala ekstrimisme, lebih-lebih yang bernuansa agama, harus sama-sama dicermati. Gejala ini tidak bisa ditangani dengan baik tanpa penelusuran sebab-musababnya. Karena gejala apa pun, termasuk ekstrimisme tidak lahir di ruang hampa, dan tiba-tiba. Dengan mencoba memahami sebab-musababnya secara komprehensif, baru dimungkinkan kita dapat mengatasi dan mencabut pohon radikalisme kekerasan itu dari akarnya.

Ibarat pohon, radikalisme dan ekstrimisme terlahir karena tiga hal. Pertama, pola pemahaman dan pemikiran yang simplistis, sebagai benihnya. Kedua, kemiskinan dan keterbelakangan umat sebagai tanah atau medianya. Ketiga, ketidakadilan struktural sebagai air dan pupuknya. Ketiga faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang telah melahirkan pohon radikalisme penuh kekerasan.

Pada dasarnya tidak seorang pun bercita-cita sebagai pelaku kekerasan baik sebagai eksekutor lapangan maupun sebagai provokator di belakang layar. Jika akhirnya mereka melakukannya, pasti ada faktor yang mendeterminasi mereka berbuat seperti itu. Sama seperti pecandu narkoba. Perbedaannya, pecandu narkoba hanya menghancurkan diri sendiri, sedangkan ekstrimis/ teroris menghancurkan diri sendiri dan orang lain.

Tiga Faktor Ekstrimisme

Dari perspektif agama, faktor pemicu radikalisme yang pertama, yakni paham keagamaan yang sempit dan dangkal, memang bukan monopoli satu agama/ ideologi saja. Semua komunitas agama/ ideologi memiliki benih-benih radikalisme yang menyeruak ke permukaan sepanjang lingkungan mengundangnya. Pemahaman dimaksud lazimnya yang bercorak harfiyah, hanya memegangi makna literal yang tersurat tanpa merujuk kepada nilai intrinsik yang tersirat. Pemahaman harfiyah seperti itu lazimnya tereskpressikan dalam klaim kebenaran diri yang berlebihan; mereka mengklaim dirinya sebagai satu-satunya yang benar, yang lurus, dan bisa menangkap inti kebenaran mutlak dalam Kitab Suci. Apa yang ada di benak mereka seolah sama absolut dengan yang ada dalam Kitab Suci itu sendiri. Maka siapa pun yang berbeda atau berseberangan dengan keyakinan mereka adalah “kafir, musyrik, murtad”, selayaknya dilempar ke neraka.

Tentang faktor kedua, kemiskinan dan keterbelakangan sebagai tempat persemaian radikalisme, semua orang tahu bahwa yang menjadi pelaku bom bunuh diri dan kekerasan lain adalah mereka yang ada dalam kerapuhan sosial; secara material mereka punya masalah dengan kemiskinan/ kebodohan/ keterbelakangan, dan secara sosial mereka orang-orang yang mengalami tekanan keterasingan dari lingkungannya. Singkatnya mereka adalah anak-anak manusia yang merasa gagal menemukan makna hidupnya, lemah dan terpinggirkan. Dalam situasi seperti itu, ada orang yang dengan ayat-ayat Kitab Suci menjanjikan “makna diri” yang luar biasa, dan instan. “Makna” diri itu, justru dapat direbut bukan pada hidupnya, tapi pada kematiannya. Maka, serta merta mereka pun mengambil tawaran tersebut, meledakkan diri sebagai syahid. Sementara yang cukup terdidik dan yakin bisa survive tetap ingin mencari makna pada hidupnya, bukan pada kematiannya. Maka, meski menyuruh orang lain bunuh diri, mereka sendiri tidak melakukannya.

Di negeri kita, Indonesia, rakyat yang merasa hidupnya tak bermakna karena kemiskinan, kebodohan, serta keterpinggiran semakin hari semakin bertambah banyak. Realitas kehidupan yang seperti itu merupakan tanah yang sangat subur dan siap menerima benih radikalisme melalui indoktrinasi sederhana untuk jalan pintas, dengan memekikkan nama Tuhan dan sorga melakukan kekerasan (jihad) atas orang lain.

Tentang faktor ketiga, ketidakadilan atau kezaliman, yang menyirami radikalisme di negeri kita juga cukup jelas; begitu banyak kasus-kasus hukum yang melibatkan pelaku besar tidak secara sungguh-sungguh ditangani, sementara yang melibatkan pelaku rakyat kecil begitu cepat ditangani, bahkan seringkali diselesaikan di tempat. Muaranya adalah juga sikap korup dari oknum-oknum penegak hukum. Cemoohan masyarakat ramai bahwa semua masalah di republik ini ujung-ujungnya duit (UUD) sungguh bukan isapan jempol. Ini jelas bahan bakar lain yang dengan mudah dapat menyulut api kekerasan rakyat.

Tiga Penanggungjawab

Siapa yang paling bertanggungjawab untuk mengendalikan ketiga faktor radikalisme dan kekerasan di atas? Yang pertama, terkait dengan pandangan dan sikap keberagamaan yang sempit dan picik, yang paling bertanggungjawab untuk menetralisir adalah para ulama/ teolog/ ruhaniwan di masing-masing komunitas agama yang bersangkutan. Merekalah yang punya kemampuan, otoritas dan tanggungjawab untuk mendewasakan pemahaman keagamaannya. Intervensi pihak lain justru akan memperkeras sikap dan pandangan keagamaan mereka yang sudah keras.

Sementara itu, perihal kesenjangan sosial yang semakin menganga antara gugusan rakyat miskin di satu pihak dan yang kaya di lain pihak tentu saja adalah pihak pemerintah dan pengambil kebijakan terutama di bidang pembangunan sosial ekonomi. Dalam kaitan ini, kebijakan Anggaran di pusat (APBN) maupun daerah (APBD) yang lebih pro-rakyat wajib menjadi prioritas. Sebagaimana diketahui bahwa sekarang ini, anggaran negara (pusat/ daerah) rata-rata 75% habis untuk biaya rutin dan bayar utang; sementara hanya hanya sekitar 25% untuk biaya pembangunan. Jika dikurang dengan sunatannya di jalan, bisa-bisa hanya tinggal 10 – 5% saja. Jadi jelas, sebenarnya negara (dengan segala fasilitasnya) sebenarnya untuk melayani kepentingan siapa?

Perihal rasa keadilan yang timpang, tentu saja yang paling bertanggungjawab adalah segenap pejabat pembuat hukum/ perundang-undangan dan jajaran penegaknya, mulai dari aparat polisi-jaksa-peradilan dan yang terkait dengan kerja ketiga lembaga utama penegak hukum tersebut. Pembongkaran kasus korupsi yang melibatkan jaksa-hakim-legislator dan lainnya merupakan indikasi gunung es belaka yang kita tidak tahu berapa dalamnya. Hanya dengan kesungguhan ketiga pihak tersebut di atas untuk memikul tanggung jawab masing-masing, maka kekerasan dan radikalisme tidak akan tumbuh di INDONESIA dan juga di BUMI MANUSIA YANG MEMANG BHINNEKA ini.

  • Disampaikan dalam Seminar “Mencintai Tanah Air Indonesia yang Bhinneka”, oleh Alumni  Menwa UK Maranatha, Bandung, 11 Oktober 2008.

Satu Tanggapan

  1. Kalau kita mau berpikir lebih politis lagi, FPI merupakan “unregistred underbouw” dari partai PKS, terbukti dari pernyataan Riziq bahwa PKS akan menjadi tempat limpahan suara mereka.
    Dan PKS sendiri yang mengetahui hal ini tentunya mengambil advantage dari pernyataan tersebut, tapi tidak berupaya untuk menyetir polah “underbouw” mereka ini. Wallahualam…

    🙂 Contoh Anda kok ke ’situ’ toh, Mas? Wallahualam (juga) …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: