• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme Indonesia: apa mempunyai masa depan?

Oleh: Franz Magnis-Suseno, SJ

1. Nasionalisme Indonesia

Sepuluh tahun sesudah reformasi, 63 tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan dan 100 tahun sesudah permulaan Kebangkitan Nasional. Intoleransi masih dan bahkan semakin menjadi masalah. Tetap masih 40% bangsa Indonesia hidup dalam kemiskinan atau hanya pas di luar kemiskinan. Tahun berat 2009 sudah melemparkan bayang-bayangnya, menunjukkan bahwa kehidupan demokratis tidak beres. Gregetnya KPK – suatu kemajuan – memperlihatkan betapa kelas politik dan sistem yudisial pun sudah kerasukan korupsi. Rakyat mengharapkan kepemimpinan yang menunjukkan jalan ke luar, tetapi tidak kelihatan. Semakin banyak orang bertanya: Bangsa Indonesia berada di mana? Apa masa depan bangsa yang sepertinya semakin ketinggalan dari beberapa bangsa Asia Timur dan Tenggara lain? Di mana bangsa ini 20 tahun lagi?

Bersumpah merupakan dan akan membuat nyata Indonesia: Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Apakah kesatuan itu 20 tahun lagi, di mana kita diharapkan memperingati 100 tahun Sumpah Pemuda, masih merupakan kenyataan?

Yang jelas, rasa kebangsaan, ya nasionalisme Indonesia ditantang dari kiri kanan. Begitu banyak konflik, begitu banyak kepicikan, begitu banyak intoleransi kasar, begitu banyak egoisme, dan begitu banyak korupsi seakan-akan mencekik perasaan kebangsaan. Padahal, Indonesia itu apa kecuali bangsa Indonesia? Apa yang mempersatukan kemajemukan budaya, bahasa, agama dan nuansa agama yang tersebar di atas lebih dari seribu pulau terhuni, atas wilayah yang dari Timur ke Barat sejauh lima setengah ribu kilometer dan dari Selatan ke Utara lebih dari satu setengah ribu kilometer – kecuali kebangsaan. Nasionalisme, nasionalisme Indonesia, itulah yang mempersatukan kita. Bukan budaya, bukan agama, bukan letak geografis.

Indonesia bukan Uni Soviet, dan bukan Yugoslavia, dua negara yang pernah amat mengesankan dan sekarang tidak ada lagi. Indonesia mempunyai sejarahnya sendiri dan menghadapi tantangan-tantangannya sendiri. Namun bagaimanapun juga, nasib buruk dua negara itu merupakan peringatan bagi kita. Kebangsaan Indonesia pun bukan kebangsaan alami, melainkan kebangsaan yang tumbuh dari pengalaman bersama, pengalaman ketertindasan bersama dan pengalaman perjuangan pembebasan bersama. Pengalaman itu dapat dilupakan, dapat seakan-akan kabur di masa lampau. Kalau persatuan Indonesia tidak dipelihara baik-baik, persatuannya bisa menguap juga.

Jadi Indonesia, sama dengan mayoritas bangsa di dunia, bukan satu bangsa berdasarkan kesatuan etnik seperti bangsa Korea atau Ceko. Indonesia lebih mirip dengan India, Afghanistan atau Zaire. Yang mempersatukan bangsa Indonesia bukan sesuatu yang alami, melainkan tekad untuk bersama. Dalam perjuangan bersama tekad itu tumbuh dan harus tumbuh. Karena itu Bung Karno bicara tentang Nation Building, tentang perlunya membangun Indonesia menjadi sebuah nation, sebuah bangsa.

Kebangsaan itu justru sekarang ditantang dan terancam. Tantangan itu di tingkat nasional, dan juga di hati dan kebiasaan hidup kita masing-masing. Saya mau menjelaskan sedikit apa yang saya maksud.

2. Tiga tantangan di tingkat nasional

Dengan tantangan di tingkat nasional saya maksud tantangan yang menyangkut orientasi bangsa, tekad politiknya, apa yang kita perjuangkan, apa yang menjadi tujuan usaha nasional dalam membangun bangsa dan apa yang menjadi ancamannya. Tantangan dan ancaman tentu banyak. Saya mau berfokus pada tiga tantangan terhadap kesatuan bangsa yang dalam pandangan saya paling mencolok dan paling mengkhawatirkan. Tiga tantangan itu adalah intoleransi dan kepicikan yang semakin meluas, kemiskinan, dan korupsi.

(1) Intoleransi dan kepicikan

Tidak perlu mencari jauh-jauh. Kepicikan bisa bersifat antarkampung dan antardesa, antarsuku dan etnik, antarumat beragama. Lihat saja segala perkelahian. Lihat saja konflik-konflik serius yang dalam 12 tahun terakhir kita alami di beberapa daerah antarsuku maupun antarumat beragama. Yang khususnya mengkhawatirkan adalah kepicikan religius. Kecurigaan antarmasyarakat yang berbeda agama semakin bertambah. Kadang-kadang ada kesan bahwa segala macam kemajuan dalam hubungan antarumat beragama yang telah tercapai dalam 12 tahun terakhir dan tidak dapat disangkal dan sangat menggembirakan disusul di sebelah kiri oleh tambahnya intoleransi, sikap keras dan tertutup, kadang-kadang kebencian terhadap umat lain tanpa tedeng aling-aling. Saya amat menyesalkan bahwa sudah lama mengucapkan selamat pada hari perayaan umat beragama lain diharamkan. Maklumat ini betul-betul menyunat hubungan di tingkat akar rumput antar umat beragama. Ambil intoleransi terhadap minoritas-minoritas, kebrutalan terhadap apa yang dijuluki “ajaran sesat”, kebrutalan massa yang yang justru panas keagamaan.

Bangsa yang majemuk tidak bisa hidup bersama dengan damai apabila kepicikan dan intoleransi menang. Secara sederhana, kita harus mau saling menerima. Untuk itu memang perlu usaha. Mayoritas masing-masing harus menjadi dewasa, mengatasi kecenderungan untuk main boss besar terhadap minoritas dan harus merasa bertanggungjawab, serta bangga, atas kesejahteraan, kebebasan, dan integrasi minoritas-minoritas. Dan minoritas, daripada mau membuktikan kehebatan diri dengan misalnya membangun gereja-gereja yang mentereng, tidak proporsional terhadap kedudukan mereka dalam masyarakat, atau puas diri dalam isolasi dari sisa masyarakat, harus belajar untuk empati, untuk tidak provokasi, untuk memperhatikan perasaan mayoritas, untuk mengambil inisiatif mendekati mereka dan membangun hubungan.

Justru rasa kebangsaan yang kuat, yang memberikan semangat, akan merupakan aset amat penting dalam mempersatukan masyarakat yang beraneka warna.

(2) Ketidakadilan sosial

Tantangan persatuan bangsa kedua, barangkali yang paling terasa dari semua, adalah kemiskinan lebih dari 40 juta saudara dan saudari kita, dan bahwa lebih dari 100 juta orang kita hanya hidup pas-pasan. Kesenjangan ekonomis mengancam memecahkan bangsa Indonesia secara vertikal. Enam puluh tiga tahun kemerdekaan dan hampir setengah warga bangsa masih tetap tidak sejahtera, aman secara ekonomis dan sosial. Dan mereka melihat bagaimana yang lain itu maju terus. Bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di kota-kota besar lain, kekayaan luar biasa bertumpuk-tumpuk. Baru saja di Pasuruan ribuan orang rebutan zakat Rp 30.000,-, ada yang berjalan berkilometer jauhnya untuk menerimanya. Keterinjakan beberapa puluh dari mereka, sebuah kecelakaan tragis, seakan-akan menjadi simbol betapa sebagian bangsa masih terancam oleh kemiskinan. Itu sesuatu yang seharusnya membuat kita tidak dapat tidur. Kok bisa begitu banyak saudara kita masih hidup dalam kesusahan besar.

Kenyataan bahwa ada yang tidak peduli, bahwa pemerintah kita memberi kesan “business as usual”, dan DPR tidak lain, tidak adanya sense of crisis barangkali bisa dimengerti karena krisis keadilan dan solidaritas bangsa ini sudah berjalan begitu lama. Tetapi seharusnya kita malu. Seharusnya kita mengerahkan segala tenaga untuk menjamin kesejahteraan rakyat saudara dan saudari kita.

(3) Korupsi

Secara praktis-konkret saya menganggap korupsi sebagai ancaman terbesar yang dihadapi negara kita. Soalnya, korupsi menggerogoti substansi kebangsaan kita: Substansi moral, substansi sosial, kompetensi-kompetensi yang kita miliki. Korupsi membuat kita dari atas sampai ke bawah menjadi orang yang tidak jujur. Itu fatal. Orang yang tidak jujur tidak lagi tahu apa itu keadilan. Ia tidak tahu apa arti tanggung jawab. Dan ia tidak lagi meminati mutu output-nya. Karena itu kompetensi-kompetensi yang barangkali dimiliki menjadi tidak efektif karena bukan kualitas output-nya, melainkan keuntungan pribadi yang menjadi motivasinya. Kalau kita tidak berhasil memberantas korupsi, bangsa kita akan gagal.

Korupsi itulah yang mengancam hasil reformasi yang paling penting dan paling dibanggakan: demokrasi Indonesia. Demokrasi kita tidak akan runtuh karena segala macam kelemahan yang masih melekat padanya, juga tidak karena ancaman dari kekuatan-kekuatan anti-demokratis, melainkan dari dalam, dalam korupsi kelas politik di negara kita ini. Kalau misalnya 50% anggota DPR seharusnya di penjara, demokrasi kita sudah dalam krisis. Kalau panggilan politik direndahkan menjadi sarana untuk memperkaya diri dan keluarga, kalau demokratisasi pasca Suharto menjadi sama dengan demokratisasi korupsi, demokrasi kita berada dalam situasi gawat.

Catatan keras ini harus cukup. Korupsi erat sekali berkaitan dengan konsumisme yang mengasingkan kita dari diri kita yang sebenarnya. Korupsi juga yang memotori egoisme kedaerahan (dan bukan keinginan untuk memajukan daerah kita). Dan bau kebusukan masyarakat yang korup sampai ke tulang sumsumnya akan membuka pintu bagi mereka yang puritan, picik, fanatik untuk menawarkan sebuah Indonesia yang baru, yang tidak lagi terbuka dan tidak lagi demokratis.

3. Tantangan khusus bagi generasi muda

Tantangan bangsa tadi semuanya juga merupakan tantangan bagi generasi muda. Tetapi di sini saya mau menyebutkan dua ancaman yang memang tidak hanya menyentuh orang-orang muda kita, tetapi akan betul-betul fatal kalau kaum muda kita ketularan. Ancaman itu adalah larut dalam budaya hedonis konsumisme dan menyerah menarik diri dari kehidupan bangsa, alias golput.

(1) Budaya hedonis konsumisme

Secara sederhana: yang dimaksud di sini adalah kecenderungan kelas menengah atas di kota-kota besar, khususnya di Jakarta, untuk memakai kekayaan yang mulai mereka cicipi untuk larut dalam kecemerlangan mall-mall. The golden crowd. Tergantung kemampuan finansialnya, mereka itu kita lihat di mall-mall, berbelanja. Khususnya konsumisme: Konsumisme adalah nafsu untuk membeli demi membeli. Bukan kebutuhan nyata yang menjadi sebab saya membeli sesuatu di mall, melainkan karena saya suka beli-beli. Shopping sebagai bentuk rekreasi. Yang kelihatan asyik, yang trendy, yang in, yang lebih baru, itulah yang mau dibeli. Dunia iklan sebagian besar memainkan nafsu itu. Bukan bahwa orang memerlukan sesuatu, atau memang meminati sesuatu biar agak luks itulah masalah konsumisme, melainkan bahwa dia beli untuk beli. Umpamanya berhasil membeli handy yang betul-betul canggih dan praktis: Berikut kali dia lewat tempat handy yang asyik ia akan membeli lagi. Handy yang sudah dibeli, yang barangkali mahal, tetapi sangat cocok dengan semua kebutuhannya, dilupakan. Yang menarik adalah membeli handy, bukan handy-nya. Mereka tentu tidak tahu bahwa mereka dimanipulasi oleh promosi dalam iklan.

Orang yang larut dalam konsumisme kehilangan jati diri. Ia menilai diri, harganya sendiri, dari kesesuaiannya dengan image-image orang-orang happy, rich, relaxed yang kita lihat di iklan-iklan. Mereka menjadi ketagihan life style yang mahal-mahal, ke disko atau tempat makan yang mahal, perjalanan yang mahal. Tak ada batasnya. Spending habits mereka semakin di luar segala proporsi.

Konsumisme itu mengeringkan kepedulian sosial, perhatian pada bangsa, apa pun yang melampaui dirinya sendiri. Tak ada akhir di lereng miring itu. Orang-orang itu tidak lagi peduli dengan politik – selama ekonomi maju. Konsumisme ini ancaman bagi seluruh masyarakat. Orang kecil pun terpesona, ingin masuk ke kalangan mereka. Kerja keras bertanggung jawab tidak lagi menarik. Mereka mencari jalan pintas, entah lewat kejahatan terorganisasi, misalnya narkoba, entah lewat koneksi dan korupsi, entah lewat dukun atau main judi. Tak dapat diragukan, konsumisme merupakan bahaya besar bagi substansi etis dan sosial masyarakat kita.

(2) Menarik diri dari tanggungjawab politk

Katanya justru di kelas menengah Kristen dan Katolik banyak yang cenderung golput. Entah mereka kecewa dengan seluruh situasi, atau merasa tidak berdaya, merasa tidak bisa ikut menentukan arah perjalanan bangsa, maupun karena barangkali larut dalam kemajuan bisnis, barangkali dalam konsumisme tadi. Pokoknya, mereka cuek terhadap kehidupan politik. Mereka tidak berusaha ikut aktif dan barangkali tidak akan ikut pemilu-pemilu tahun depan. Katanya ada yang mau pergi ke lain tempat agar mempunyai alasan untuk tidak ikut pemilihan.

Ini tentu sesuatu yang fatal dan benar-benar keliru. Menyerah itu selalu salah. Kalau kita membiarkan medan bagi yang lain-lain, jangan kita heran kalau yang lain-lain itu akan mengisinya dengan cara yang lain daripada yang kita harapkan. Golput menjadi pilihan etis di masa pemerintahan Pak Harto karena waktu itu tidak ada pemilihan umum yang betul-betul demokratis. Dalam situasi itu orang yang “golput” menunjukkan penolakannya terhadap sistem Orde Baru, jadi ia justru memilih. Tetapi di demokrasi alasan itu tidak berlaku sama sekali. Sejelek-jeleknya demokrasi kita, keterbukaan dan kebebasan untuk berpartisipasi, untuk menjatuhkan pilihan, hampir tak terbatas. Tidak memakai kesempatan itu, abstain, adalah pengkhianatan terhadap demokrasi, sebuah dosa politik.

Betul, mereka yang dipilih barangkali tidak menggairahkan. Tetapi dalam demokrasi tidak dipilih yang terbaik, melainkan ditolak yang terburuk. Suara yang tidak kita pakai, menguntungkan mereka yang pasti tidak kita kehendaki. Jadi golput menurut saya bukan pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan oleh seorang kristiani, dan oleh siapa pun di negara kita.

4. Dua puluh tahun ke depan

Lalu 20 tahun ke depan, saat kita memperingati, semoga, Harlah ke-100 Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia akan bagaimana? Masih demokratiskah? Masih plural-toleran-Pancasilais? Apakah tetap hampir setengah bangsa kita miskin atau hampir miskin? Apakah negara kita lantas masih bersatu?

Tidak ada gunanya untuk berspekulasi. Tak ada kepastian masa depan. Masa depan tergantung dari kita sekarang, dari apa yang kita kerjakan. Di sini saya hanya mau menyuarakan keyakinan saya bahwa masa depan Indonesia bisa bagus, tetapi juga: hanya akan ada masa depan apabila kita berhasil merealisasikan empat tujuan berikut: Kita harus membuat solidaritas bangsa menjadi nyata. Kita harus membela mati-matian puralisme yang mendasari negara kita. Kita harus mensukseskan demokrasi. Dan kita harus memberantas korupsi.

Beberapa catatan pendek

Solidaritas bangsa

Rakyat tidak untuk selamanya bersedia menonton bagaimana sebagian bangsa maju terus, hidup semakin gemerlap dan cemerlang, dan mereka tetap miskin, tak terjamin, belum terpenuhi kebutuhan paling dasar. Kita harus melakukan yang sampai sekarang hanya diomongkan:Membangun ekonomi rakyat di mana rakyat kecil betul-betul diutamakan bisa maju.

Pluralisme

Pluralisme itu bukan hanya kepentingan minoritas. Bangsa Indonesia adalah plural. Kekayaan budayanya adalah plural. Dan negara hanya jadi lahir dan bersatu karena menyepakati Pancasila yang menyatakan bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibedakan menurut agama, tentu juga tidak menurut etnik, ras, dan kebudayaan. Jadi kita harus menolak segala usaha untuk menyeragamkan masyarakat. Baik secara religius maupun secara ideologis lain. Kita harus menolak segala usaha untuk memaksakan kelakuan beragama kepada siapa pun. Kelakuan itu harus ke luar dari keyakinan dan kemauan masing-masing. Kita harus mempertahankan penataan masyarakat secara inklusif. Setiap golongan dan komponen bangsa harus bisa merasa di rumah sendiri dalam kesatuan negara Republik Indonesia.

Kita harus belajar saling menghormati dalam perbedaan. Kita harus menolak segala kelakuan yang biadab. Kita harus menyepakati kembali bahwa kita ini bangsa yang beradab, bahwa segala kelakuan yang tidak beradab harus dicela dan ditolak, juga kalau atas nama agama.

Demokrasi

Adalah keyakinan penulis bahwa Indonesia hanya mempunyai masa depan sebagai demokrasi. Kita sudah jenuh dengan pengalaman diktator-diktator. Merekalah yang bertanggungjawab atas banyak kerusakan lahir batin yang selama ini dialami bangsa Indonesia. Sejelek-jeleknya demokrasi kita sekarang, tak ada alternatif kecuali untuk membuatnya berhasil. Negara yang seruwet, semajemuk Indonesia tidak bisa dipersatukan dengan paksaan. Indonesia hanya akan tetap bersatu apabila semua komponen bangsa mau bersatu dan mereka hanya akan mau bersatu apabila mereka dapat ikut mengurusnya. Itulah yang dijamin oleh demokrasi.

Terhadap demokrasi hanya ada tiga alternatif: Pemerintahan feodal di mana pemimpin dituruti karena dipercayai telah menerima wahyu. Kediktatoran militer. Dan teokrasi, kediktatoran para pendeta, kaum ideolog agamis, barangkali dalam kombinasi dengan kediktatoran militer. Tiga pola pemerintahan itu tidak bisa membawa Indonesia ke masa depan yang menjanjikan.

Maka mekanisme-mekanisme demokratis, hak-hak asasi manusia, kebebasan-kebebasan demokratis, dan ketaatan terhadap hukum harus kita bela dan kita kembangkan. Bukan mengeluh tentang segala macam kekurangan politik kita yang memang tidak bisa disangkal, melainkan usaha untuk membuat demokrasi kita berhasil, itulah yang dituntut dari kita.

Memberantas korupsi

Saya tidak perlu panjang lebar. Tak boleh ada kompromi. Suatu bangsa yang tidak tahu lagi apa itu jujur tidak bisa maju. Suatu bangsa yang dipimpin oleh kelas politik yang korup sampai tulang sumsum akan kandas. Tak ada pilihan. Korupsi harus diberantas. Kita, masyarakat, civil society, harus membangunn tekanan kepada kelas politik yang tidak membiarkan mereka tenang selama praktik-praktik korup masih berlangsung. Tak ada guna untuk terus sabar saja. Sudah terlalu lama bangsa Indonesia terhambat, sekarang kelihatan ketinggalan terhadap negara seperti Cina dan Vietnam yang semuanya mempunyai juga masalah korupsi, tetapi sekarang menindaknya.

Penutup

Generasi muda

Apa yang dapat dilakukan oleh generasi muda? Mengeluh bahwa negara dijalankan oleh generasi-generasi lebih tua tidak ada gunanya. Tetapi itu tidak berarti bahwa generasi muda tinggal abstain saja. Mereka dapat dan diharapkan melibatkan diri dalam perjuangan bangsa. Mereka harus tahu apa yang terjadi, mereka harus memikirkan nasib bangsa, dan seperlunya mereka harus berjuang. Tidak dengan kekerasan, tetapi dengan memperlihatkan bahwa mereka mempunyai cita-cita, bahwa mereka tidak bersedia membiarkan kezaliman berlangsung.

Dan mereka harus memelopori kerja sama lintas sekat-sekat agama dan budaya. Mereka tidak boleh larut dalam konsumisme hedonistik dan abstain. Dan tentu, mereka mempersiapkan diri secara profesional supaya kemudian dapat mengambil posisi dan memberikan sumbangan berarti bagi kemajuan bangsa.

  • Disampaikan dalam Seminar “Mencintai Tanah Air Indonesia yang Bhinneka”, oleh Alumni  Menwa UK Maranatha, Bandung, 11 Oktober 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: