• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Pendidikan Nilai: Quo Vadis?

MonalisanimaSlamet Iman Santoso ( 1998 ) dalam artikel “Quo Vadis Pendidikan di Indonesia” menyatakan bahwa penyelenggaraan sistem pendidikan banyak disetir oleh potical will. Sistem pendidikan di Indonesia mengacu pada kecenderungan politis. Maka, “ganti pejabat, ganti kebijakan” seolah-olah menggambarkan situasi keajekan dinamika kurikulum di Indonesia dalam arti negatif, yaitu suatu status quo, bahwa perubahan sekian kali terhadap kurikulum dengan segenap aspek bawaannya ternyata tidak pernah secara holistik mengubah sistem pendidikan di negara kita ini untuk menyesuaikan diri sendiri dengan tuntutan perkembangan zaman. Sistem persekolahan dan segenap komponennya tak lebih dari sekadar kendaraan untuk mengangkut kepentingan politik penguasa. Para pengamat dan praktisi pendidikan mengalami bahwa pemerintah terlalu banyak mencampuri dan mengarahkan sistem pendidikan untuk mendukung transmisi sosial membangun kehidupan bersama yang sesuai dengan keinginannya. Bahkan tentang batas nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) pun perlu dikatakan seorang Wakil Presiden guna mengukur kebenaran dan keberhasilan pendidikan nasional melalui sederet angka seragam, untuk semua.

Tujuan pembangunan bangsa dan negara menuntut konvergensi perilaku, tetapi kecenderungan uniformitas yang aman bagi penguasa telah menomorduakan kebhinnekaan yang alamiah. Relevansi kurikulum telah direduksi sedemikian rupa agar memprioritaskan stabilitas dan keseragaman kontinuitas. Sedangkan hal-hal orisinal, baru, lateral dan yang dapat dianggap mengganggu kesamaan tidak diberi ruang yang cukup lapang untuk berkembang. Kurang terpenuhinya kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan manusia unggul yang bisa survive dalam era kesemrawutan global saat ini dan di masa mendatang boleh jadi merupakan bahaya yang berpotensi semakin melemahkan upaya kolektif pelestarian semangat persatuan dan kesatuan bangsa kita. Sejak semula jargon “persatuan dan kesatuan” justru dibina dengan mengabaikan keberanekaragaman, dipelihara dengan berbagai upaya menyeragamkan yang tidak sama dan mengucilkan yang ‘tidak mau’ sama. Persatuan dan kesatuan menjadi wajib karena kebhinnekaan kita ataukah justru kebhinnekaan kitalah hal niscaya yang menjadi daya dorong pentingnya persatuan dan kesatuan? Apakah kita tetap bhinneka dalam persatuan dan kesatuan yang kita pilih bersama sehingga pilihan itu mewajibkan kita sama dalam hal yang menuntut kesamaan dan tetap boleh berbeda dalam hal yang memang tak bisa sama … tanpa curiga?

Kompetensi sumber daya manusia berkualitas unggul

Nyoman S. Degeng (2000) menyatakan bahwa sumber daya manusia yang bisa hidup di era kesemrawutan global hanyalah mereka yang berkualitas unggul dengan kompetensi berikut:

  • berpikir kreatif-produktif
  • pengambilan keputusan
  • pemecahan masalah
  • belajar bagaimana belajar
  • kolaborasi
  • pengelolaan/ pengendalian diri

Berkaitan dengan pandangan itu, berikut ini beberapa kenyataan yang kita hadapi sekarang. Alangkah lemahnya sebagian besar anak bangsa ini dalam hal berpikir kreatif-produktif, justru ketika dunia semakin menuntut keterampilan itu. Tidak hanya siswa, tetapi juga guru dihinggapi keengganan (atau kemalasan?) untuk mendayagunakan segenap kemampuan nalar yang dianugerahkan Allah guna memikirkan hal-hal baik yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Kebiasaan menunggu perintah, meminta petunjuk, memberikan laporan ABS (Asal Bapak Senang), “lempar batu sembunyi tangan”, “mencari kambing hitam”, antara lain merupakan kendala kultural yang tidak mendukung pembinaan keberanian mengambil keputusan sendiri dan mempertanggungjawabkannya. Demikianlah brainstorming dalam pendidikan bersistem banking telah menampakkan hasilnya.

Karena itu pula anak-anak bangsa ini juga lemah dalam pemecahan masalah, apalagi yang bersemangat win-win solution. Ketidakberanian menghadapi tantangan, menimbun masalah, menghindari atau menutupinya telah kita alami bersama sebagai suatu bangsa yang sedemikian terpuruk dalam pergaulan antarbangsa ketika timbunan masalah itu meledakkan krisis yang tak kunjung teratasi. Betapa kita alami sulitnya memutuskan sesuatu dan mempertanggungjawabkannya secara pribadi! Keputusan yang baik dan benar pun masih perlu dirundingkan dengan atasan guna memelihara ‘kebaikan dan kebenaran dalam skala yang jauh lebih besar’.

Kecenderungan paper-pencil test-oriented di lingkungan pendidikan kita telah menyebabkan pendidikan tak lebih dari sekadar industri. Latihan soal, yang hanya memacu siswa menghafal dan menguasai konsep secara dangkal, menjadi kebiasaan yang sulit disangkal. Sekolah dengan “nama harum’-nya tinggal menetapkan target pencapaian kurikulum dan memberikan pembelajaran yang bersifat teacher-centred, sedangkan siswa dipersilakan melatih hafalan dan penguasaan materi belajar sendiri, entah cara mana yang dipilih sesuai kemauannya dan atau kemampuan finansial orangtuanya: mengikuti bimbingan belajar atau mengundang guru les ke rumah sekadar untuk belajar kiat memilih jawaban yang tepat dari soal pilihan ganda. Siswa tidak didorong dan dilatih merekonstruksi pengetahuan dan konsep berdasarkan proses mencari dan mengalami sendiri, misalnya melalui eksperimen, penyelidikan, pemecahan masalah dan kegiatan praktikal lainnya.

Pengukuran kemampuan kognitif yang melalaikan basic skills siswa tidak menjadikannya mampu belajar bagaimana belajar cepat-tepat pada setiap saat di segala tempat. Pengubahan susunan options pada soal pilihan ganda pun sudah menjadikannya kebingungan. Sebagian besar guru hanya menjadi operator kurikulum, dan target di dalamnya menjadikan guru berkinerja ‘kejar setoran’. Pemahaman adalah kewajiban siswa sendiri sedangkan guru tak lebih daripada seorang pengantar paket-pos. Semua dianggapnya beres sesudah paket diterimakan kepada yang berhak.

Belum lagi bicara tentang kemampuan bekerjasama yang proaktif terhadap kebutuhan diri sendiri dan sesama. Yang penting adalah diri sendiri, kemudian baru kelompok sendiri, golongan sendiri. Yang berbeda adalah liyan yang selalu harus diwaspadai sebagai ancaman. Keberhasilan adalah milikku dan kegagalan adalah milik – atau minimal: disebabkan oleh – oleh orang lain. Keberhasilan pembangunan adalah klaim pemerintah, sedangkan kegagalan atau berbagai kendalanya – termasuk korupsi yang masih (makin?) marak, ketidakpercayaan terhadap rupiah – adalah ekses, dampak resesi global, dan sebagainya, di luar kemampuan atau bukan kesalahan pemerintah.

Akhirnya, dunia pendidikan kita ternyata juga tidak melatih anak-anak bangsa ini untuk mengendalikan diri. Keramahtamahan yang terkenal di seluruh penjuru dunia ternyata hanya topeng yang menutupi bopeng wajah bangsa kita. Kekerasan, kejahatan, bahkan kebiadaban orang Indonesia kini lebih terkenal ketimbang keramahtamahan semu yang selama ini diagung-agungkan. Cara berunjuk rasa damai ternyata masih jauh dari kenyataan yang terjadi di negeri kita. Bahkan gerombolan bonek yang notabene hanya pendukung fanatik klub sepakbola pun sudah sedemikian menakutkan. Unjuk rasa yang semula berlangsung damai bisa tiba-tiba menjadi anarkhis hanya karena provokasi ringan. Bahkan pekerja media massa pun tak mampu mengendalikan diri untuk tetap berpegang pada kode etik ketika berhadapan dengan tuntutan pemberitaan sekadar menaikkan rating dan memberikan insentif lebih bagi pelaksananya.

Demikianlah pada kenyataannya, kompetensi-kompetensi tersebut tidak tercapai melalui sistem pendidikan yang sentralistik dan pendekatan behavioristik yang mengagungkan pembentukan perilaku keteraturan, ketertiban, ketaatan dan kepastian, justru ketika seluruh dunia memasuki suatu era yang nyaris seluruhnya tak setia pada prinsip-prinsip itu. Strategi pembelajaran behavioristik mengarah pada aktivitas berpola stimulus-response sehingga terjadi otomatisasi. Keberhasilan (benar) mendapatkan hadiah (reward), sedangkan kegagalan (salah) mendapatkan hukuman (punishment). Keberhasilan atau kebenaran dalam hal ini serba ditentukan oleh penguasa. Penerapannya di sekolah menjadikan belajar sekadar sebagai aktivitas mengingat kenyataan-kenyataan yang tersebar di luar diri sebagaimana disajikan oleh seorang ahli. Bukankah fenomena “Dead Poet Society” yang sedemikian erat menghinggapi dunia pendidikan kita di masa lampau – dan masih saja berlangsung hingga sekarang – yang mematikan pengembangan individu dan dengan demikian sekaligus juga mengurung kebebasan yang bertanggung jawab dan berdampak sosial, kini telah mengharuskan kita membayar terlalu mahal? Betapa gaya hidup yang oleh Ivan Illich disebut hidup convivial (saling menghidupi, saling bersahabat, solider dan saling memekarkan) telah diberangus oleh kecenderungan status quo di segala bidang kehidupan kita?

Pembelajaran kognitif-konstruktif mengarah pada tanggung jawab pebelajar yang aktif berada dalam kontrol proses pembelajaran dan membentuk pengetahuannya sendiri lewat pemaknaan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya dengan aneka ragam sudut pandang. Pebelajar kognitif-konstruktif menjadi partisipan aktif yang berpikir dalam kendali proses pembelajaran yang berlandaskan pengetahuan sebelumnya. Gugusan belajar terdiri atas contoh-contoh otentik dan berasal dari berbagai sudut pandang. Yang lebih dipentingkan adalah proses dan bukan produk belajar. Keberhasilan atau kegagalan, kemampuan atau ketidakmampuan dalam pembelajaran kognitif-konstruktif dilihat sebagai interpretasi yang berbeda dan tetap perlu dihargai juga. Nobody’s perfect.

Keunggulan pendekatan kognitif-konstruktivistik

Tujuan utama pendidikan adalah pembentukan life-skills, bukan penguasaan materi pengetahuan. Aneka matapelajaran yang sedemikian banyak itu pun tidak dengan sendirinya membentuk life-skills dalam diri pebelajar. Apalagi, betapapun menariknya seorang guru dalam menyajikan pengajarannya, pendidikan nilai tak pernah efektif jika verbalistik belaka. “Gajah diblangkoni, wani kocah nora nglakoni” (hanya berani bicara, tapi tak melaksanakannya). Verbalisme dalam pendidikan nilai hanya akan menambah kekecewaan para siswa jika mereka tidak menemukan idola yang hidup dalam nilai-nilai yang diajarkan. Siswa akan mudah tersinggung atau tersindir, kendati guru yang mengalirkan nasihat-nasihat indah itu tidak bermaksud demikian – atau seandainya demikian – tak terdapat kepastian adanya perubahan tingkah laku terjadi hanya oleh perkataan guru. Sebaliknya, disharmoni antara guru-siswa justru akan menjadi kendala yang lebih berat untuk diatasi daripada kebosanan yang wajar. Temuan Jack Canfield yang dilaporkan DePorter dan Hernacki (2000) seharusnya disadari oleh para orangtua dan guru bahwa ketidakbahagiaan seorang anak dalam belajar untuk kehidupannya adalah sangat berbahaya, kendati orangtua dan atau guru atau siapa pun tak pernah sengaja meremehkannya.

A.S. Neill (1971), pendiri Summerhill School, Inggris, percaya bahwa penggunaan kewenangan dalam hal pendidikan pun salah: “I believe that to impose anything by authority is wrong. The child should not do anything until he comes to the opinion – his own opinion – that it should be done. The curse of humanity is the external compulsion, whether it comes from the Pope or the state or the teacher or the parent. It is fascism in toto. Most people demand a goal , how can it be otherwise when the home is ruled by tin gods of both sexes, gods who demand perfect truth and moral behaviour? Freedom means doing what you like, so long as you don’t interfere with the freedom of others. The result is self-discipline.”

Paul Suparno (2000) merinci keunggulan pendekatan kognitif-konstruktivistik yang prasyaratnya jelas berbeda dengan pendekatan behavioristik. Penulis mengolahnya bersama pengalaman pribadi sebagai berikut:

Pertama, siswa aktif. Indoktrinasi diganti dengan model pembelajaran yang memberikan kebebasan untuk menanggapi bahan secara kritis. Kesempatan itu terbuka luas bila siswa merasa setara. Pendayagunaan seluruh fasilitas lembaga pendidikan termasuk komputer dan internet untuk menunjang pembelajaran juga mendorong terbentuknya masyarakat mini berwawasan keilmuan dan melek terhadap perkembangan pesat teknologi informasi. Peran guru berubah dari sekadar pengajar menjadi fasilitator, mediator dan komunikator.

Kedua, model multinilai dan multikebenaran. Pembatasan pada suatu nilai kebenaran harus dihindari. Siswa diberi kesempatan mengembangkan alternatif untuk menyelesaikan persoalan dengan berbagai cara yang rasional guna mencari kebenaran. Pilihan moral yang bersifat individual dikomunikasikan dengan hati nurani obyektif berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang hidup dalam praksis. Kinerja dan hasil belajar siswa tidak hanya dinilai guru, melainkan juga oleh teman-teman sekelas dan dirinya sendiri. Dengan demikian siswa sekaligus belajar bersikap obyektif.

Ketiga, kebebasan berbicara. Pada awal kegiatan, umumnya siswa masih perlu dibantu agar mau dan berani mengungkapkan gagasan dan idenya, bertanya, mengajukan usul. Dalam hal ini, diskusi\ kelompok atau pleno ternyata telah memberikan keyakinan kepada siswa bahwa mereka dapat merumuskan gagasan sendiri dan menanggapi gagasan orang lain. Bahkan siswa yang sebelumnya biasa ‘tenggelam’ dalam kegiatan belajar mengajar top-down instructional menjadi aktif bertanya dan mengemukakan gagasannya sendiri.

Keempat, boleh salah. Kesalahan adalah unsur penting dalam pengembangan ilmu. Yang penting adalah guru dapat mengerti letak kesalahan siswa sehingga dapat membantunya menemukan kebenaran dengan cara yang lebih baik. Jika para ahli pun masih sering membuat kesalahan, mengapa siswa yang sedang belajar tidak boleh salah?

Kelima, metode ilmiah dengan pencarian bebas. Siswa dilatih untuk aktif membuat hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis secara sederhana dan mengambil kesimpulan. Bahan-bahan yang tersedia tanpa batas di internet – misalnya – dapat digunakan setelah disaring secara jujur, teliti dan cermat untuk mendukung temuan ilmiahnya.

Keenam, berpikir kritis. Siswa perlu dilatih untuk tidak mudah mengiyakan begitu saja gagasan atau pernyataan guru maupun orang lain. Latihan berpikir kritis ini kiranya sangat penting untuk pendewasaan emosional agar tak mudah percaya pada isu murahan. Tidak semua mail-list atau situs berita, misalnya, menyajikan fakta. Konfirmasi dengan sumber lain dan cross-check dengan temuan orang lain menjamin prinsip check and balance. Confucius mengajarkan: “Jika Anda memercayai semua yang Anda baca, sebaiknya Anda tidak pernah membaca!”

Ketujuh, masalah masyarakat dibahas secara terbuka. Sekolah bukanlah pulau yang terapung sendiri. No man is an island. Menghindari pembahasan ketidakadilan, konflik, gejolak politik dalam masyarakat menurut Freire membuat siswa tidak kritis terhadap sistem yang ada sehingga mereka mudah dimanipulasi oleh ‘penentu policy‘ maupun pihak lain. Bukankah sebagaimana dikemukakan John Dewey, sekolah adalah masyarakat mini?

Kedelapan, hubungan guru-siswa dialogis. Hubungan yang demikian ternyata sangat ideal untuk meminimalisasi kecenderungan sok kuasa dalam diri guru sehingga siswa tak berani terbuka untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, pendapat dan keinginannya kepada guru. Padahal, menurut filsafat Jawa, “Guru iku wong atuwa karo” (Guru adalah orangtua kedua). Dan dalam beberapa hal pun, guru dapat belajar dari siswa.

Nah … Anda berkewenangan? Berbuatlah baik dan benar! Tidak? Berbuatlah baik dan benar! Noblesse oblige!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: