• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Metafora Guru

Dalam makalah yang disampaikannya pada pertemuan tahunan American Educational Research Association, Rodney H. Clarken (1997), Director of Field Experiences and Professor School of Education, Northern Michigan University, memberikan lima metafora bagi pendidik, yaitu sebagai: orangtua, petani, nabi, kerang mutiara dan tabib. Sementara itu, Bobbi DePorter et.al. (2000) menambahkan satu metafora: guru sebagai konduktor (dirigen) suatu orkestra.

Metafora guru sebagai orangtua, petani, nabi, kerang mutiara dan tabib, sebagaimana diakui Clarken sendiri, memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Salah satu aspek yang tampak bagi penulis dalam kelima metafora itu adalah otoritas yang masih terlalu besar pada diri guru. Apalagi tak jarang guru harus memerankan kelimanya secara bergantian, sesuai dengan keperluan. Itu mengandaikan kehebatan guru dalam menghayati multiperannya.

Seorang guru sekolah menengah berkebangsaan Hungaria pernah menceritakan kepada penulis upaya-upaya yang dilakukannya agar kehadirannya di antara para siswa selalu tampak segar dan ‘baru’ sehingga dapat memikat perhatian mereka. Dalam sehari ia – kebetulan sekaligus seorang artis – dapat berganti peran beberapa kali sesuai dengan tuntutan skenario yang dirancangnya guna memperoleh hasil belajar mengajar yang optimal. Perlengkapan rias, beberapa pakaian dan peralatan demonstrasi selalu memenuhi tasnya setiap kali berangkat ke sekolah. Jika perlu, dalam satu sesi pelajaran pun ia dapat berganti peran beberapa kali, seperti penari Didik Nini Thowok dalam pergelaran tari topengnya.

Sharing kenalan itu, kendati sangat menggoda, tampaknya sulit ditiru para guru kita di sini karena mempertimbangkan kerepotan diri sendiri, satuan jam pelajaran yang sangat singkat, kegaduhan yang mungkin timbul sehingga mengganggu kelas lain, dan sebagainya. Termasuk di dalamnya adalah keraguan akan kemampuan diri sendiri untuk bersikap konsisten terhadap keputusan yang bagi para sejawat bisa dianggap ‘aneh’ meskipun mereka mungkin juga mengakuinya sebagai hal yang positif.

Metafora guru sebagai pimpinan orkestra mungkin terasa lebih sesuai bagi sebagian guru di sini. Harmoni yang menjadi buah dari sinergi berbagai perbedaan insani/ alami yang terkendali di dalamnya dapat menjadi gambaran yang cukup melegakan pemahaman terhadap prinsip dan prosedur quantum teaching. Hanya ‘cukup melegakan’ karena disadari bahwa sebesar apa pun keinginan seorang guru untuk menjadi seorang quantum teacher, pengakuan tentang hal tersebut tidak mungkin berasal dari dirinya sendiri. Sedangkan untuk menjadi seorang lone ranger di belantara pendidikan nasional yang masih belum cukup demokratis dibutuhkan integritas pribadi yang berkualitas tinggi agar ia tidak mudah diserang frustrasi di hadapan kenyataan yang tak selalu berjalan seiring dengan berbagai harapan.

Kurikulum sebagai partitur

Masih tampak pengaruh filsafat idealis sebagai bagian dari filsafat pendidikan tradisional pada kurikulum yang menganggap semua isi pokok bahasan (subject matter) sebagai ‘kebenaran’ yang tidak boleh tidak diajarkan kepada semua siswa. Hanya dengan demikianlah ‘warisan budaya’ yang perlu diteruskan dan dilestarikan kepada siswa agar mereka dapat memasuki kehidupan bermasyarakat dan menjadi warga masyarakat yang baik. Para penganut filsafat ideal agaknya lupa bahwa pewarisan nilai budaya bangsa tidak terjadi sebagaimana hukum Mendel tentang pewarisan genetika, apalagi hanya dengan menuangkan seluruh bahan selengkapnya kepada siswa untuk menjadikannya manusia yang berkepribadian utuh dan mampu mandiri. Dengan berlaku demikian, sesungguhnya mereka tak lebih daripada tengkulak yang menuntut hasil sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya yang jauh melampaui biaya yang sudah dikeluarkan sebagai kontribusinya untuk mencapai tujuan tersebut.

Pengaruh aliran filsafat perenialis dalam filsafat pendidikan tradisional juga tampak dalam kurikulum yang mengajarkan bidang-bidang studi secara terpisah. Tidak ada ilmu yang mengintegrasikan bidang-bidang ilmu kealaman dengan ilmu-ilmu sosial maupun bahasa. Semua yang dianggap penting harus diajarkan tanpa ada kejelasan manfaatnya dalam kaitannya satu sama lain. Pengaruh aliran structure of discipline yang mensublimasikan penekanan pokok bahasan secara tentatif dan dinamis tampaknya juga tidak menjadikan kurikulum luwes untuk mengimbangi percepatan kemajuan dan tantangan zaman di segala aspek kehidupan dalam era reformasi dan globalisasi.

Tekanan pembelajaran dalam filsafat pendidikan modern lebih pada bagaimana membantu siswa aktif membentuk pengetahuannya sendiri dan bukan bagaimana mendesakkan pengetahuan kepadanya dengan tak peduli apakah pengetahuan itu diperlukannya atau tidak. Maka, isi pengetahuan pun semestinya ditentukan bersama siswa pula. Dalam pendekatan ini, yang penting adalah bagaimana siswa menggeluti bahan, mengolah, menganalisis dan merumuskannya. Itu harus menjadi latihan dalam praksis keseharian agar siswa dapat terlibat secara langsung dan aktif dalam demokratisasi yang melanda dunia sekarang dan masa depan. Siswa yang terbiasa aktif, terlatih kemandiriannya, mampu mengembangkan pengetahuan sendiri dan berani mengungkapkan gagasan dan pengertian yang diperolehnya kepada teman dan gurunya diharapkan dapat bersikap lebih demokratis pula di kemudian hari.

Menjadikan kurikulum sebagai ‘partitur’ kegiatan belajar mengajar yang mengorkestrasi seluruh potensi pebelajar merupakan keniscayaan dari keberhasilan kurikulum yang memenuhi syarat:

  • mengembangkan pemahaman sosial;
  • mendukung pengembangan pribadi secara maksimal;
  • mengusahakan terbinanya pengalaman-pengalaman yang berkesinambungan;
  • mengelola upaya pencapaian seluruh tujuan pendidikan;
  • mengurus keseimbangan di antara tujuan-tujuan pendidikan;
  • terwujud dalam situasi belajar;
  • menggunakan pengalaman-pengalaman belajar yang berdayaguna.

Tapi, kurikulum yang mana? Berdasarkan keberdampakannya pada siswa, menurut T. Raka Joni (2000) terdapat lima tataran kurikulum yang berbeda, yaitu: 1) kurikulum ideal; 2) kurikulum formal; 3) kurikulum instruksional; 4) kurikulum operasional; dan 5) kurikulum eksperensial.

Kurikulum ideal mengandung segala sesuatu yang dianggap penting oleh setiap orang, sehingga cakupannya sangat luas, kandungan isinya tidak sistematis dan bebannya menjadi sangat besar sehingga tidak mungkin diwujudkan. Namun kurikulum ideal tetap diperlukan, yakni sebagai pencerminan aspirasi konstituen yang perlu diperhatikan, disaring, ditata serta dikemas dalam sosok yang tepat oleh semua pihak yang terlibat dalam urusan pendidikan formal, mulai dari pengembang kurikulum dan pengelola pendidikan sampai dengan guru sebagai fasilitator pembelajaran.

Kurikulum formal adalah kurikulum yang – akhirnya – disahkan oleh yang berkewenangan dan kemudian ditampilkan sebagai dokumen resmi kurikulum.

Kurikulum instruksional adalah terjemahan dari kurikulum formal menjadi seperangkat skenario pembelajaran dari jam pertemuan ke jam pertemuan oleh guru yang bertugas mengimplementasikan suatu kurikulum formal dalam suatu konteks kelembagaan tertentu. Dengan kata lain, kurikulum instruksional adalah kurikulum yang mencerminkan niat para guru sebagai implementator kurikulum.

Kurikulum operasional adalah perwujudan obyektif dari ‘niat’ kurikulum instruksional dalam bentuk interaksi pembelajaran segala sesuatu yang dilaksanakan guru, siswa dan bagaimana interaksi di antara keduanya. Keterwujudan kurikulum operasional dapat diverifikasi oleh pengamat ahli sehingga kesesuaiannya dengan hajat yang tertampilkan sebagai tujuan kurikulum formal itu dapat dinilai secara obyektif.

Sedangkan kurikulum eksperensial adalah makna pengalaman belajar yang terhayati oleh siswa sementara mereka terlibat dalam berbagai kegiatan dan peristiwa pembelajaran yang dikelola guru dan atau sekolah. Oleh karena itu, kurikulum eksperensial inilah yang akan membuahkan dampak dalam bentuk perubahan cara berpikir dan cara bertindak para siswa, yaitu ketika kurikulum instruksional diimplementasikan oleh guru sebagai fasilitator langsung pembelajaran (direct mediator of student learning) dalam pelaksanaan tugasnya dari ke hari.

Ditinjau dari sudut pandang keberdampakan kurikulum terhadap tingkah laku siswa, pada dasarnya yang eksis hanyalah kurikulum lokal yang berupa pengalaman belajar yang digelar oleh guru dari hari ke hari. Ini berarti bahwa kurikulum formal tidak banyak bicara tanpa penerjemahan yang setia di lapangan. Pada gilirannya, penerjemahan secara setia kurikulum formal menjadi kurikulum eksperensial Рtanpa dapat ditawar-tawar Р menuntut penerjemahan kurikulum formal hingga menjadi kurikulum eksperensial yang menggelar berbagai pengalaman yang mendidik, yaitu pengalaman yang tidak sebatas mengacu pada substansi, namun lebih kepada proses keterbentukan berbagai pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai yang tersurat dan tersirat sebagai tujuan utuh pendidikan yang dimaksud dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Guru sebagai konduktor orkestra pembelajaran

Implementasi kurikulum eksperensial yang dikehendaki tak dapat dilepaskan dari peran ujung tombak pelaksana orkestrasi pembelajaran, yaitu guru. Ciri khas yang masih dominan di lingkungan pendidikan adalah bahwa guru memainkan peranan sebagai operator kurikulum dengan kinerja following direction dan sendiri saja. Dengan demikian guru hanyalah pelaksana petunjuk pelaksanaan, ‘pengabar isi buku teks’, termasuk jika isinya kurang akurat, ‘pengangkut’ pokok bahasan yang terkandung dalam kurikulum formal.

Dari segi teknis, penampilan kurikulum eksperensial yang kurang bermutu dapat dirunut hingga kurangnya penguasaan salah satu atau lebih dari keempat pilar penopang kemampuan profesional keguruan/ kependidikan yang terdiri atas:

  • materi dan metodologi bidang ilmu sumber bahan ajaran (disiplinary content knowledge);
  • cara memilih, menata serta merepresentasikan materi bidang ilmu sumber bahan ajaran sesuai dengan rujukan kurikuler tertentu (curricular content knowledge);
  • proses belajar siswa yang merupakan kelompok layanan (how students learn);
  • prosedur yang membelajarkan siswa (how to facilitate student learning).

Bila demikian, kurikulum eksperensial takkan menjadi komposisi yang menarik pebelajar untuk berperan serta aktif dalam orkestra pembelajaran. Pusat perhatian mereka – mau tak mau – adalah guru yang ‘bermain sendiri’, tak jarang terjadi: dengan berbagai keluguannya. Padahal, rancangan belajar yang disebut kurikulum itu sebenarnya tak hanya merefleksikan isi, melainkan juga bagaimana suatu pembelajaran dilakukan dalam konteks tertentu dan dalam kaitan dengan populasi tertentu (context, analysis, content analysis, target group analysis).

Dengan kata lain, kurikulum eksperensial harus digelar secara tepat sehingga berdampak mengundang para siswa untuk tampil sebagai active, social, and creative learners melalui penyediaan lingkungan belajar yang di satu pihak menantang dan menuntut, tetapi di pihak lain juga memfasilitasi dan memberikan pelayanan yang setimpal kepada mereka. Sebagai active learner, siswa harus diberi kesempatan untuk mengamati, berdiskusi, berargumentasi dan berhipotesis serta menguji kesahihan hipotesisnya itu. Sebagai social learner, siswa harus diajak untuk saling menguji serta mengasah pemahaman, bukan saja dengan rekan melainkan juga dengan guru yang sekaligus berperan sebagai pembimbing. Sedangkan sebagai creative learner, siswa harus diundang untuk create and or recreate knowledge. Semuanya harus berlangsung sedemikian rupa sehingga siswa memiliki perangkat kemampuan emotional intelligence yang mengedepankan deep connection dengan diri sendiri, orang lain di sekitarnya, masyarakat, asal-usulnya secara filosofis, alam dan kemahakuasaan Allah.

Siswa, menurut Howard Gardner (1981), termasuk scholastic learner. Ia menganjurkan untuk menggabungkan antusiasme serta spontanitas belajar dari intuitive learner dengan cara kerja/ belajar disciplinary expert yang memberikan peluang bagi siswa to acquire knowledge, expand and refine knowledge, dan to apply knowledge secara kontekstual. Dengan demikian, life-skills yang berkembang dalam diri siswa tidak menjadi artifisial – sekadar menggalakkan rote learning berupa convergent responses yang hanya cocok untuk menghadapi ujian dalam rangka meraih secarik ijazah – alias hanya menghasilkan ‘macan kertas’ bahkan jika ia hanya dianggap pandai karena memperoleh nilai yang baik pada rapor/ ijazah.

Pada kenyataannya guru memang tidak dapat memaksakan pengetahuannya kepada siswa tanpa peranserta aktif siswa. Subyek belajar bukan bejana yang dapat diperlakukan menurut selera guru, orang di luar dirinya. Siswa bukan tabula rasa dan guru adalah penulisnya, mengisi kepala siswa dengan pengetahuan yang menurut guru diperlukannya. Ernst von Glasersfeld menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat dialihkan begitu saja oleh guru kepada siswa bila siswa tidak aktif membentuknya. Ia tidak percaya bahwa kompetensi pengetahuan dapat dicapai hanya dengan sistem drill (pembiasaan dan kiat instan untuk menjawab soal dengan benar, meskipun tidak cukup dimengerti). “Only the student who has built up such a conceptual repertoire has a chance of success when faced with novel problem. Concepts cannot simply be transferred from teachers to students – they have to be conceived.”

Disiplin

birdSebuah gambar sederhana namun sangat mengesankan berjudul Nature’s True Learning Curve (Young bird’s first flight) memberikan inspirasi tentang kurva belajar secara alami. Betapa pendidikan telah mendesakkan kekuasaannya pada diri anak bangsa dengan menolak adanya kesalahan atau ketidaktahuan. Demikianlah dalam kegamangan belajar yang sesuai dengan jatidirinya pun seorang siswa harus dihadapkan pada sesuatu yang tidak menyenangkan: hukuman.

Menurut M. Scott Peck (1980) dalam The Road Less Traveled, hakikat disiplin adalah “seperangkat peranti dasar yang kita butuhkan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan”. Manusia perlu meraih dan mengejawantahkan disiplin, karena tanpa disiplin ia tidak bisa memecahkan masalah sekecil apapun. Dengan sedikit disiplin, ia bisa memecahkan sedikit masalah. Dengan disiplin lebih banyak, ia mampu memecahkan masalah lebih banyak. Dan dengan disiplin total, manusia akan memecahkan dan mentransendensi semua masalah. Namun, menghayati disiplin hanya sebagai aturan ternyata mendorong ketaatan pada saat ada pengawasan dari luar diri kita saja.

Perkataan Confucius: “Tell me I forget … Show me, I remember … Involved me, I understand” dapat lebih dipahami dalam kenyataan hidup sehari-hari. Terlebih pada saat budaya menonton telah menggeser budaya membaca seperti saat ini. Seseorang mudah melupakan sesuatu yang diterimanya secara verbalistik. Kalau sudah melihat, ia mudah mengingatnya. Dan melihat itu mengandaikan kehadiran seutuhnya. Tetapi untuk bisa mengerti, dibutuhkan keterlibatan. Pengalaman hidup – betapapun sederhananya – adalah keterlibatan kita dengan semua yang ada di dalamnya, bukan hanya yang kita pilih terbaik untuk menipu diri sendiri dan sesama.

Keterlibatan yang berdisiplin dari semua peserta kegiatan belajar mengajar dalam suatu orkestra yang dipimpin seorang guru sebagai konduktornya dapat diharapkan menghasilkan harmoni pembelajaran yang mengindahkan manusia sebagai manusia. Limas Sutanto (2000) menyebut manusia sejak saat terawal eksistensinya di tengah dunia adalah makhluk biopsikososiospiritual (berdimensi tubuh, jiwa, berdimensi relasi dengan sesama dan dunia, serta berdimensi relasi dengan Tuhan). Maka setiap upaya penumbuhkembangan potensi dan kapasitas insani seyogyanya bersifat holistik, melibatkan keempat matra eksistensial itu tanpa kecuali.

Sehubungan dengan itu, lebih daripada sekadar menjadikan dirinya sebagai seorang quantum teacher, guru perlu berusaha mengembangsuburkan semangat para siswanya agar menjadikan diri mereka sendiri sebagai quantum learners. Berlangsungnya pembelajaran yang terbuka terhadap terjadinya deep dialogue dan critical thinking dalam suasana bebas-pantas, santai, apresiatif, menyenangkan dan menggairahkan itu mengandaikan terjadinya komunikasi yang sama dan sebangun. Dalam suasana yang demikian, setiap siswa belajar bertanggung jawab atas seluruh kegiatan belajar dirinya sendiri dan sesamanya, mengarahkannya kepada kemandirian belajar dengan melatih kemampuan to learn how to learn (belajar bagaimana mempelajari sesuatu), meningkatkan self-adequacy (kemampuan diri) yang sekaligus menumbuhkembangkan self-confidence (kepercayaan diri) sedemikian rupa sehingga “buluh yang terkulai takkan dipatahkan, dian yang berkedip takkan dipadamkan”. ZazitaStoryboard.wmv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: