• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Moral Adalah Masalah Rasionalitas

Fronti nulla fides!

Masih sesekali terkenang ketika saya masih di SMA, Direktur/ Kepala Sekolah tiba-tiba masuk kelas dan mengajarkan table-manner (etiket/ sopan santun di meja makan), lengkap dengan beberapa alat dan bahan peraga. Penampilan beliau yang biasanya ‘menyeramkan’, pada saat itu berubah menjadi … mungkin saat ini bisa disepadankan dengan Pak Bondan ‘Mak Nyus’ Winarno saat membawakan acara Wisata Kuliner di salah satu stasiun televisi swasta. Ramah. Santai. Riang. Banyak humornya. “Potonglah daging dengan pisau, jangan dengan sendok, supaya tidak mencelat ke piring tetangga!” mungkin tak terlalu lucu, tetapi kami – para murid – sangat menikmati penampilan langka Direktur kami!

“Ojo nglungguhi bantal, mengko udunen!” barangkali ajaran orangtua sekadar agar anaknya tidak menganggap bantal untuk kepala sama saja dengan bantal sebagai alas duduk. Demikian pula halnya dengan “Don’t talk to a stranger!” mungkin merupakan peringatan dini orangtua agar anaknya tidak menjadi korban tindak kejahatan karena terbujuk rayuan atau iming-iming orang yang belum dikenal baik. Masih banyak contoh lain. Anda punya? Bagikanlah!

Menyaksikan sendiri sekelompok orang menerobos masuk lift sehingga menyulitkan orang-orang yang akan keluar, membaca dan melihat foto di suratkabar tentang orang-orang yang naik kereta api tanpa karcis dan bertengger di atapnya – lepas dari masalah lain yang menyebabkannya – apalagi kalau dibuat jengkel oleh perilaku sebagian pengendara di jalan raya, boleh jadi membuat kita menggelengkan kepala, mengelus dada dan membatin saja atau bahkan sampai hati mengumpat. Perilaku tidak baik yang pelakunya masih kanak-kanak biasa melahirkan pertanyaan: “Anak siapa? Sekolah di mana?” Dan … bagaimana tentang pelaku yang sudah dewasa?

Seorang blogger mungkin akan bangga bila blognya dikunjungi banyak netter dan isinya berguna pula bagi orang lain. Rasanya, kebanggaan itu lebih bermakna bila membuatnya lebih memerhatikan blognya ketimbang membiarkan dirinya dicengkeram kecemburuan karena jumlah pengunjung situs-situs lain – misalnya dan terutama tentang seks – jauh lebih spektakuler. Bukan tak mungkin, mereka yang rajin mengunjungi situs-situs ngeres itu pun sesekali juga memberikan komentar negatif dan atau sebaliknya: yang rajin berkomentar negatif, sesekali (atau malah lebih rajin?) mengintip situs-situs itu juga. Kendati pada saat masih diperdebatkan sebelum pengesahannya sempat terlintas di benak, saya tak ingin mengembangkan perkiraan bahwa UU Antipornografi didukung oleh orang-orang yang merasa serbabersih dan orang-orang yang menolaknya bisa enteng dianggap serbatakbersih.

Maka, lebih baik mematuhi nasihat kuno “Fronti nulla fides!” (Jangan percayai yang tampak di permukaan!) yang setara dengan “Don’t judge a book by its cover!” dan memelihara serta mengendalikan diri sendiri ketimbang mengenakan topeng untuk menghardik orang lain. Seperti dikatakan John Wilson, moralitas menuntut interpretasi rasional, bukan pandangan sepintas atau kesan sesaat.

Etika Fenomenologis dan Etika Normatif

Manusia terikat dalam jaringan berbagai norma, yang memberinya acuan tentang apa saja yang seharusnya dilakukan, sebaiknya dilakukan, atau sepantasnya dilakukan. Dalam kehidupan bermasyarakat, ada berbagai norma yang berlaku: norma agama, norma hukum, norma adat/ kesusilaan, dan norma moral. Setiap norma memiliki sumber, cakupan, kekuatan ikatan dan sanksi masing-masing. Meskipun demikian, norma-norma itu sering berlaku secara komplementer, tumpang tindih. Dalam hal terjadi benturan antarnorma, norma moral biasa dipandang sebagai dasar berpikir rasional tentang suatu perilaku. Thomas Aquino, misalnya, mengatakan bahwa hukum yang bertentangan dengan norma moral akan kehilangan segala kekuatannya. Rasionalitas manusia memberinya kesadaran moral yang mengikat batinnya untuk melakukan yang menurutnya harus, wajib ia lakukan (istilah Immanuel Kant: imperatif kategoris) apa pun akibatnya, untuk membuatnya merasa bebas (baca artikel lain di blog ini: Kewajiban: ikatan yang membebaskan) dan demi kebahagiaan orang lain.

Kata moral diturunkan dari kata Latin mos, mores yang berarti adat istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak. Kemudian moral pun mengalami perkembangan makna sehingga juga diartikan sebagai kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik (susila, dan lawannya adalah asusila). Dengan demikian lazim dipahami bahwa moral adalah ajaran tentang kesusilaan.

Nilai adalah harga, hal yang dianggap penting atau berguna bagi manusia. Fraenkel menyebutnya sebagai standar penuntun perilaku seseorang dalam menentukan indah, efisien dan berharga atau tidaknya sesuatu. Karena itu dapat dimaklumi pula pembagian nilai menjadi nilai estetik, nilai ekonomis, nilai logis, nilai vital, dan nilai moral.

Hanya perilaku manusia yang bernilai moral, namun tak semua perilaku manusia dapat diberi penilaian moral karena penilaian moral hanya dapat dikaitkan dengan perilaku yang dilandasi kemauan dan pengetahuan pelakunya. Meskipun demikian, tak semua perbuatan yang disengaja merupakan perbuatan yang bernilai moral. Hanya tindakan yang langsung berkenaan dengan nilai pribadi manusia dan atau masyarakatlah yang bernilai moral. Perilaku bermoral adalah perilaku yang menjunjung tinggi harkat manusia, bertitik tolak pada nilai-nilai moral yang diyakininya. Setiap manusia yang memandang dirinya qua talis seharusnya selalu berlaku sesuai harkatnya, dan bertanggung jawab sesuai martabatnya: “Noblesse oblige!”

Sedangkan etika adalah ilmu tentang norma-norma, nilai-nilai, dan ajaran-ajaran moral. Tembang Wulangreh, Wedhatama, Serat Centhini, misalnya, adalah ajaran moral, karena langsung mengajarkan rumusan-rumusan sistematik kepada manusia bagaimana ia harus hidup. Etika lebih daripada itu karena merupakan cara rasional dalam menjawab pertanyaan “Bagaimana manusia harus hidup?”

Secara jelas dan tegas, ajaran moral mengajarkan bahwa manusia harus selalu berlaku jujur, sedangkan etika mempersoalkan mengapa dan apakah memang harus demikian. Maka etika merupakan bantuan bagi kita untuk memastikan suara batin atau kesadaran moral itu secara rasional.

Franz von Magnis (1977) membedakan etika menjadi etika fenomenologis dan etika normatif. Etika bersifat fenomenologis jika menggali fenomen atau fakta kesadaran moral sebagaimana dinyatakan dalam perbuatan manusia. Tentang peranan etika fenomenologis itu dikatakannya: “Justru dengan pekerjaan itu etika fenomenologis membantu untuk memastikan kedudukan keyakinan moral terhadap semua lembaga normatif dalam masyarakat seperti orangtua, sekolah, pemuka agama, negara, pimpinan kelompok, adat istiadat, ‘pendapat umum’ dan lain sebagainya. Etika fenomenologis menunjukkan adanya kesadaran bahwa tidak ada otoritas masyarakat apa pun yang berhak untuk mewajibkan secara mutlak. Kentaralah otonomi kesadaran moral: kewajiban-kewajiban yang dipasang oleh otoritas-otoritas masyarakat hanya berlaku dengan syarat, bahwa oleh yang bersangkutan sendiri disadari sebagai kewajibannya.”

Selanjutnya dikatakannya pula bahwa etika fenomenologis saja tidak cukup. Kita tidak boleh menggantungkan penilaian kita terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya hanya kepada otonomi kesadaran moral individu, atau sebaliknya hanya kepada otoritas lembaga normatif dalam masyarakat dan negara, walaupun lembaga tersebut berkompetensi memaksakan norma-normanya kepada siapa saja yang berada di bawah yurisdiksinya sekaligus menindak pelanggarnya. Adalah tugas etika normatif untuk mengadakan penelitian kritis terhadap norma-norma yang betul secara obyektif berhadapan dengan norma-norma lain yang secara subyektif maupun obyektif tidak dapat serta merta dikalahkan. Dengan bantuan dan kerjasama antara akal budi dan suara hati, etika normatif tidak menilai suatu perbuatan hanya berdasarkan gejalanya yang jelas bertentangan dengan ajaran moral, melainkan menerima juga pendapat dan hal-hal faktual tentang perbuatan tersebut dan norma individual serta norma-norma lain yang mendasarinya, kemudian saling mempertemukannya dalam dialog yang jujur dengan norma konkrit dan dasariah yang sudah lebih dulu ada.

Moral adalah masalah rasionalitas

Serat Centhini, Wulangreh, dan sebagainya hingga Serat Syekh Siti Jenar adalah ajaran moral. Kendati mengagumi para penulisnya, saya sependapat bahwa ajaran moral saja belum cukup memadai. Tingkah laku baik (morally good) atau tingkah laku buruk (morally bad) dalam diri seseorang bisa muncul secara insidental atau aksidental kendati dalam garis besarnya kita mengenal orang itu baik atau sebaliknya. Karena itu, saya pun berusaha memahami makna “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga” (umumnya tak berlaku sebaliknya). Orang yang semula kita kenal sangat baik, tiba-tiba saja bisa berperilaku tidak baik dan kita mulai berpikir terbalik tentang orang itu. Padahal, etika justru mengajarkan agar setiap orang menjadi orang benar (anthropofilia): mencintai sesamanya. Perilaku yang tidak baiklah yang harus kita hindari, bukan pelakunya. Susah? Memang. Siapa bilang mudah? Tetapi melaksanakannya dalam keseharian hidup kita adalah tantangan yang menjadikan kita semakin manusiawi. Sangat mungkin ada banyak alasan yang menyebabkan seorang yang kita kenal baik suatu saat berperilaku yang tergolong tak baik, dan demikian pula seorang yang sudah ‘dicap’ bukan orang baik-baik suatu saat berperilaku yang tergolong baik.

Penelitian Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg dapat memberikan gambaran bagaimana kesadaran moral bertumbuh kembang dalam diri seorang anak. Penelitian mereka menunjukkan terjadinya semacam perubahan struktur kognitif yang mendorong perkembangan pemikiran yang lebih memadai tentang baik dan buruk. Kesimpulan inti dari penelitian Piaget adalah bahwa pertimbangan moral anak berkembang melalui serangkaian reorganisasi kognitif dari tahap heteronomi ke tahap otonomi sesuai perkembangan usianya. Sedangkan penelitian Kohlberg menghasilkan pengetahuan bahwa pertimbangan moral anak berkembang melalui tahap-tahap orientasi: punishment-obedient, instrumental-relativist, interpersonal concordance or “good boy-nice girl”, law and order, social-contract legalistic, dan universal ethical principles.

Kohlberg kemudian menyimpulkan bahwa dalam perkembangan pertimbangan moral berlaku dalil sebagai berikut:

  1. Perkembangan moral terjadi secara berurutan, dari satu tahap ke tahap berikutnya;
  2. Dalam perkembangan moral, orang tidak dapat memahami cara berpikir lebih dari dua tahap berikut di atasnya;
  3. Dalam perkembangan moral, secara kognitif orang tertarik kepada cara berpikir dari satu tahap di atasnya;
  4. Dalam perkembangan moral perlu diciptakan suatu cognitive-disequilibrium agar dalam diri seorang anak yang sudah mapan dalam suatu tahap terjadi guncangan kognitif yang merangsangnya untuk berpikir lebih memadai atau memikirkan kembali prinsip-prinsip yang sudah diyakininya.

Maka, dalam situasi pilihan moral antara yang buruk dengan yang buruk, pengendalian diri dan berpikir rasional diharapkan dapat mengarahkan kita untuk menentukan pilihan minus malum (memilih yang keburukannya kurang dibandingkan yang lain). Memerhatikan tahap perkembangan moral yang diteliti Piaget maupun Kohlberg, tampaknya yang membaca artikel ini semestinya sudah berada dalam tahap internalisasi nilai-nilai moral heteronom menjadi nilai-nilai moral otonom dan atau sudah belajar menjadikan prinsip-prinsip universal sebagai miliknya sendiri dan bersama dengan orang lain pula. Sekurang-kurangnya, artikel ini bermanfaat sebagai cognitive-disequilibrium guna mengguncang pemikiran saya sendiri tentang baik dan buruk, bertimbang tentang aneka nilai dan norma, dalam upaya menjadi semakin manusiawi dari hari ke hari. Menuding orang lain dengan satu telunjuk mengandaikan jari-jari lainnya mengarah kepada si penunjuk sendiri. Jangan pernah kehilangan akal sehat dan nurani bening!

Meski suatu contoh atau perumpamaan juga masih mengundang tanya, saya hendak mengakhiri artikel ini sambil mengingat ‘usul’ Yesus kepada kerumunan orang yang hendak merajam seorang perempuan yang tertangkap basah berbuat dosa. Kerumunan itu pelan-pelan bubar, dimulai dari yang paling tua.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: