• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Behavioristik Vs Kognitif-Konstruktivistik

Dua aliran filsafat pendidikan yang memengaruhi arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dewasa ini adalah aliran behavioristik dan kognitif-konstruktivistik. Aliran behavioristik menekankan terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar, sedangkan aliran kognitif-konstruktivistik lebih menekankan pembentukan perilaku internal yang sangat memengaruhi perilaku yang tampak itu.

Teori behavioristik dengan model hubungan Stimulus-Response (S-R) mendudukkan pebelajar pada posisi pasif. Respon (perilaku) tertentu dapat dibentuk karena dikondisikan dengan cara tertentu, menggunakan metode drill (pembiasaan) semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement, dan akan menghilang bila yang dikenakan adalah hukuman. Hubungan S-R, individu pasif, perilaku yang tampak, pembentukan perilaku dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman merupakan unsur-unsur terpenting dalam teori behavioristik.

Teori kognitif-konstruktivistik berupaya mendeskripsikan yang terjadi dalam diri pebelajar. Aliran ini lebih menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa internal. Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru dengan jalan mengaitkannya dengan struktur informasi yang telah dimiliki. Belajar terjadi lebih banyak ditentukan karena adanya karsa individu. Penataan kondisi bukan sebagai penyebab terjadinya belajar, tetapi sekadar memudahkan belajar. Aktivitas siswa menjadi unsur terpenting dalam menentukan kesuksesan belajar.

Analisis Komparatif: Behavioristik vs. Kognitif-Konstruktivistik

tep8

tep9

tep10

tep112

tep122

Catatan Penulis:
Diolah dari makalah seminar “Mencari Paradigma Baru Pemecahan Masalah Belajar, Upaya Meningkatkan Kualitas Profesional Guru di Era Kesemrawutan Global, 2000”, oleh Prof.Dr. Nyoman S. Degeng, M.Pd.

Kesimpulan penting dan menonjol dari pembandingan teori behavioristik dan kognitif-konstruktivistik adalah pada keteraturan dalam teori behavioristik dan ketidakteraturan dalam teori kognitif-konstruktivistik. Sentralisasi pendidikan yang – masih – berlaku di Indonesia saat ini lebih banyak bersumber pada teori behavioristik, sedangkan kaidah-kaidah kognitif-konstruktivistik justru mengutamakan demokratisasi. Pengajar beraliran behavioristik akan mengedepankan keseragaman demi keteraturan dan ketertiban melalui penegakan aturan, sedangkan pengajar beraliran kognitif-konstruktivistik berupaya mengelola keniscayaan keragaman dalam penataan lingkungan belajar yang membebaskan.

Caping Gumun

Bebas: Siapa takut?

Diakui atau tidak, kebebasan selalu dirindukan. Namun, kebebasan tak jarang juga menakutkan orang-orang yang sudah terbiasa tak bebas dan sudah merasa nyaman dalam belitan aneka peraturan yang membuat mereka selalu berada dalam keadaan ‘aman-aman saja’. Ketika pintu dan jendela dibuka lebar, orang yang terbiasa berada dalam gerah dan pengap ketertutupan pun akan mudah terserang demam dan selesma, kemudian meminta yang terbuka segera ditutup kembali.

Sebuah penelitian tentang implementasi pembelajaran kolaboratif bernuansa kognitif-konstruktivistik yang pernah dilakukan ternyata menyenangkan para pebelajar. Ketika diukur dengan ujian individual khas teori behavioristik, hasil belajar mereka pun tak mengecewakan dan bahkan secara signifikan menunjukkan kemajuan dibandingkan penggunaan metode pembelajaran behavioristik yang dilaksanakan sebelumnya maupun pada saat yang sama dengan jam pelajaran dua kali lipatnya di kelas-kelas lain. Namun perasaan sejahtera sesekali tidak cukup berarti jika tak seluruh lingkungan belajar siswa  ditata untuk memberikan ruang, peluang dan warga yang saling memanusiakan sesamanya.

Memperlakukan siswa sebagai subyek belajar – bukan sekadar obyek – disadari sebagai buah kebebasan dari penataan lingkungan belajar yang menyenangkan. Dalam diri siswa yang ‘diorangkan’ bertumbuh kembang prakarsa untuk belajar (the will to learn) karena ia merasa dipercaya mengontrol dirinya sendiri sebagai pebelajar (learner control) lebih daripada menyerah pada sistem kontrol di luar dirinya yang berkecenderungan membelenggunya dalam rasa takut. Ketakutan yang menguasai siswa dengan sendirinya akan mengembangkan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) sehingga yang dipelajarinya bukan pesan-pesan pembelajaran, melainkan cara-cara untuk mempertahankan diri guna mengatasi rasa takut. Siswa yang mengalaminya akan sulit meningkatkan growth in learning dan emotional security dan akan terdorong untuk selalu menyembunyikan ketidakmampuannya dengan berbagai cara yang cenderung negatif.

Padahal, the will to learn perlu didukung realness, kesadaran bahwa selain memiliki kekuatan, siswa juga memiliki kelemahan. Ia juga memiliki keberanian selain ketakutan dan kecemasan, bisa marah tapi juga bisa bergembira, dan seterusnya. Hal itu ada dalam diri siapa pun yang terlibat dalam proses pembelajaran, termasuk guru. Dalam kejujuran sikap masing-masing, mengembangkan sikap dan persepsi yang positif terhadap belajar adalah tugas setiap orang. Belajar akan menjadi aktivitas yang menyenangkan dan menggairahkan, membuat pebelajar betah dan merasakan nikmatnya belajar. Jika tidak, siswa tidak akan merasa nyaman berada dalam kegiatan belajar dan akibat lanjutannya adalah sikap negatif terhadap tugas-tugas belajar. Selanjutnya bisa dibayangkan …

Kemampuan mental yang produktif dapat terbentuk secara optimal hanya apabila siswa mendapat kebebasan yang memadai untuk bertindak secara mandiri tanpa dikekang oleh aturan-aturan yang – banyak terdapat di lingkungan pendidikan kita – secara langsung maupun tak langsung tidak ada kaitannya dengan belajar. Apabila siswa tidak merasa sejahtera di dalam lingkungan belajarnya, tak lagi menemukan manfaat dirinya berada di dalamnya, dan the will to learn dalam dirinya padam, semestinya ada yang salah dalam lingkungan belajarnya itu.

Kenyataannya di sebagian besar sekolah-sekolah kita, aktivitas belajar lebih banyak diarahkan untuk menerima apa saja yang diajarkan tanpa upaya dan peluang mengelaborasi pesan belajar guna menemukan keterkaitan dan kecocokannya dengan kebutuhan siswa. Guru tidak akan berhasil menunjukkan betapa perlu dan nyamannya belajar jika lingkungan belajar menjadi lembaga penyiksaan yang terancang sangat rapi. Maka, sekolah bukan lagi tempat belajar yang menyenangkan karena anak-anak bangsa yang terpaksa berada di dalamnya justru bukan benar-benar belajar, melainkan harus mengembangkan perilaku-perilaku penyelamatan diri dari tekanan dan atau siksaan guru melalui berbagai indoktrinasi dan aturan-aturan.

Meskipun beberapa asumsi demokratisasi pendidikan yang menjadikan siswa sebagai subyek belajar yang bebas membentuk dirinya sendiri sebagai makhluk yang bermartabat, mampu mengontrol dirinya sendiri, memiliki karakteristik yang khas, dan sebagainya – tampaknya – ada keengganan kronis dalam diri para definitor lembaga pendidikan dan sebagian besar tenaga kependidikannya untuk berubah. Meskipun juga disadari bahwa anak-anak muda bangsa ini adalah generasi penerus yang akan melanjutkan pembangunan nasional guna mencapai cita-cita kemerdekaan kita, dalam diri sebagian besar pemimpin bangsa ini dan juga para pendidik masih bercokol keyakinan bahwa generasi muda tak mampu menyiapkan diri mereka sendiri kalau tidak disiapkan dengan cara lama yang diamini di masa lampau dan masih jadi nostalgia hingga kini. Anak-anak muda bangsa ini harus dididik agar manis dan patuh seperti seniores mereka, yang saat ini – katanya – sedang bersama-sama tapi sendiri-sendiri berkiprah dalam perjuangan memakmurkan bangsa dan negara – katanya, dan nyatanya: dengan berkiblat ke negara lain, mendamba bantuan asing, menghamba kepentingan global (yang dalam arti tertentu hanya gombal), dan seterusnya, tapi mengabaikan pemeliharaan kekayaan bangsa sendiri dan terutama: anak-anaknya.

“Tapi,” kata seorang teman, “dasarnya kita memang takut berubah, sih …” Iyakah?

Satu Tanggapan

  1. Kalo ngga’ salah inget, makalah itu disampaikan oleh Prof. Nyoman dan DR. Iskandar di UNM. ya pak?
    Audience-nya mhs Pasca, dan ending dari “peperangan” teori itu kira2 seperti Bapak utarakan. Jadi inget 8 tahun lalu semasa kuliah.

    Begitulah kira-kira. Mereka berdua (Prof. Nyoman dan Dr. Iskandar) sering bekerjasama ‘pura-pura berperang’ di beberapa kampus dan banyak tempat lain di Jatim untuk berusaha mencerahkan dunia pendidikan kita.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: