• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Strategi Kognitif – Lupa

Strategi Kognitif

Secara etimologis, istilah cognitive-strategy diturunkan dari kata kerja Latin co-agitare yang antara lain berarti memikirkan, merencanakan, merancang, mereka-reka; dan kata strategema, atis yang berarti siasat. Dengan demikian, strategi kognitif adalah siasat untuk mengerti. Tetapi strategi kognitif tidak identik dengan intellectual skill (keterampilan intelektual). Keterampilan intelektual lebih berorientasi pada interaksi pebelajar sebagai individu dengan lingkungan belajarnya, yaitu angka, kata-kata (bahasa), simbol, rumus, prinsip, prosedur dan sebagainya. Sedangkan strategi kognitif merupakan kemampuan seseorang untuk mengontrol interaksinya dengan lingkungan.

Menurut Robert M. Gagne (1974), strategi kognitif adalah kemampuan internal yang terorganisasi, yang dapat membantu pebelajar dalam proses belajar, proses berpikir, memecahkan masalah dan mengambil keputusan. Jenis-jenis strategi kognitif menurutnya adalah (1985): 1) cognitive strategies in attending; 2) cognitive strategies in encoding; 3) cognitive strategies in retrieval; 4) cognitive strategies in problem solving; 5) cognitif strategies in thinking.

Sedangkan Bell-Gredler (1986) mendefinisikan strategi kognitif sebagai proses berpikir induktif. Ketika mempelajari sesuatu, seseorang membuat suatu generalisasi berdasarkan fakta atau prinsip yang telah diketahuinya.

Hasil belajar setiap orang berbeda dari orang lain karena strategi kognitif setiap orang pun tak pernah benar-benar sama. Kemampuan internal yang dimiliki dan atau dilakukan setiap orang berbeda dari orang lain. Keunikan setiap orang dalam mengolah informasi hingga pengambilan keputusan itu lazim disebut sebagai executive control, kontrol tingkat tinggi. Perbedaan itu disebabkan oleh adanya faktor-faktor pendukung perkembangan kognitif setiap orang, yaitu: 1) kedewasaan (maturasi); 2) pengalaman fisik; 3) pengalaman logiko-matematik; 4) transmisi sosial; dan 5) pengendalian diri (ekuilibrasi).

Strategi kognitif bermanfaat bagi pebelajar untuk belajar mandiri, yakni dengan mendayagunakan segala keterampilan intelektual yang pernah dipelajari. Masalah yang dihadapi seseorang tak selalu persis sama dengan yang sudah pernah dialami. Maka keterampilan intelektual saja sering tidak memadai. Seorang pebelajar membutuhkan pengorganisasian dan kontrol terhadap proses belajarnya untuk dapat memilih alternatif strategi pemecahan masalah yang paling tepat di antara sekian pilihan.

Meskipun West, Farmer dan Wolf (1991) mengatakan bahwa dalam proses belajar mengajar strategi kognitif dapat dipadukan dengan materi bidang ilmu, pada kenyataannya terdapat perbedaan proses di antara pendayagunaan keterampilan intelektual dengan kemampuan memilih dan melaksanakan strategi kognitif tertentu, sebagaimana ditunjukkan beberapa contoh ekstrimnya dalam tabel berikut.

strategi

Lupa

Lupa adalah penyakit manusiawi. Sesuatu yang sudah pernah dicamkan dalam ingatan (long-term memory) pada umumnya akan menjadi milik pribadi dan tidak mudah hilang. Jika pada suatu saat seseorang tak dapat mengingatnya, tidak selalu berarti bahwa hal itu telah hilang sama sekali dari ingatannya. Pada umumnya pula, hasil belajar kognitif, misalnya: pengetahuan, konsep, kaidah, prinsip atau strategi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah lebih mudah terlupakan karena tersimpan dalam rumusan verbal. Sedangkan keterampilan psikomotorik dan sikap cenderung bertahan bahkan menjadi semakin kuat dalam pembiasaan yang tak lagi berkadar kesadaran yang tinggi seperti pada awal pembentukannya.

Menurut W.S. Winkel, fase-fase yang dapat ditemukan dalam proses belajar adalah: 1) fase motivasi; 2) fase konsentrasi; 3) fase mengolah; 4) fase menyimpan; 5) fase menggali; 6) fase prestasi; dan 7) fase umpan balik.

Berkaitan dengan proses belajar, terjadinya lupa menyangkut penggalian (retrieval) materi pelajaran yang telah diolah (encoding) dan dimasukkan ke dalam ingatan (long-term memory). Dengan kata lain, lupa terjadi dalam penggalian karena adanya kesulitan dalam fase-fase belajar tersebut. Keluar (hilang) menyangkut fase konsentrasi karena unsur-unsur dalam materi pelajaran yang tidak relevan tidak akan diperhatikan lagi. Dalam fase pengolahan, materi yang tidak diolah dalam short-term memory akan terdesak keluar. Fase penyimpanan (storage) belum menunjukkan gejala adanya informasi yang terlupakan karena hanya menunjuk pada retensi. Demikian pula fase motivasi dan fase umpan balik tidak berkaitan dengan persoalan kapan terjadinya keluar dan lupa. Maka, keluar hanya terjadi sebelum ada yang dimasukkan ke dalam long-term memory, dan lupa dapat terjadi sesudah hasil pengolahan dimasukkan ke dalam long-term memory.

Lupa dapat terjadi karena pebelajar tidak mendapat kunci yang tepat untuk membuka ingatannya. Gejala setengah lupa atau lupa-lupa ingat dapat terjadi jika tidak seluruh materi yang telah dipelajari sama sekali terlupakan. Pemanfaatan teknik jembatan keledai (menyingkat dan atau menghubungkannya dengan kenyataan sehari-hari, menggambarkan peta pikiran, etc.) barangkali bisa menggali lagi ingatan terhadap sesuatu atau seseorang.

Mengatasi lupa dapat dilakukan dengan cara menggali ingatan (evokasi) tentang hal yang dilupakan, yakni mengaktualisasi pengetahuan yang pernah diserap (fiksasi) dan tersimpan dalam ingatan (retensi). Aktualisasi itu dapat berupa upaya mengenal kembali (recognition) atau mengingat kembali (recall). Sedangkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi lupa antara lain:

  • Menumbuhkembangkan motivasi belajar intrinsik yang kuat, kesadaran akan tujuan yang harus dicapai dan mendorong keterlibatan pebelajar;
  • Memberikan perhatian khusus pada unsur-unsur yang relevan pada fase konsentrasi;
  • Mengolah materi pelajaran dengan baik dan segera, sedapat mungkin mengurangi penundaan pengolahan karena informasi lain yang masuk sesudahnya dapat mendesak keluar materi pelajaran dari short-term memory. Makin baik pengolahan materi (encoding), makin baik pula penyimpanannya (storage) dan proses penggaliannya dari ingatan (retrieval);
  • Mengaktualisasi pengetahuan dengan cara menggalinya dari ingatan, mengolahnya kembali dan menyimpannya lagi ke dalam ingatan;
  • Menggunakan kunci yang tepat/ cocok untuk membuka ingatan dalam fase menggali dan fase prestasi.

lupa

2 Tanggapan

  1. thanks………….alhamdulillah bs bntu bwt nyelesain tgs. tapi syng refeensina g tercantum…

    Sama-sama. Silakan merujuk nama pengarang dan atau tahun terbit bukunya. Selamat mencarinya sendiri.🙂

  2. terima kasih, saya teguk air ilmunya……orang bijak berkata “memberi sepatah ilmu akan menyelamatkan jutaan orang lain dan membuatmu hidup sampai seribu tahun”

    🙂 Sama-sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: