• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Blogger’s Netiquette: Perlukah?

Pengertian Jurnalistik dan Publisistik

Suetonius, seorang ahli sejarah pada zaman Romawi Kuno mencatat bahwa pada tahun 59 SM, saat dinobatkan sebagai Konsul, Julius Caesar memerintahkan agar di Forum Romanum dipasang papan pengumuman guna mengabarkan catatan kegiatan harian forum itu kepada warga Roma. Dengan demikian, warga yang membaca Acta Diurna (Catatan Harian) itu bisa menyebarluaskannya ke seluruh lapisan masyarakat. Orang yang menyebarluaskan informasi itu kemudian lazim disebut diurnarius (Drs. Sunaryo, 1983:2). Dengan tujuan yang sama, Senat Romawi juga memajang catatan tentang kegiatan hariannya (Acta Senatus) termasuk segala produk peraturan yang telah disahkannya pada papan pengumuman di depan gedung Senat Romawi. Di lingkungan keagamaan, Imam Agung juga menginformasikan hal-hal yang perlu diketahui masyarakat melalui pengumuman serupa yang disebut Anales. Ketiga pusat informasi itu berlangsung hingga lima abad lamanya.

Penyebaran informasi ketiga acta itu dipelihara demi membina arus informasi vertikal antara penguasa dengan rakyat/ umat. Para bangsawan juga sering menugasi budak mereka yang cukup cerdik untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting dan aktual yang terjadi di wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Dari situlah tumbuh istilah slave reporter (kemudian lebih dikenal dengan sebutan kuli tinta hingga sepanjang masa yang lalu, kuli disket, atau sebutan yang lebih biasa sekarang: reporter/ wartawan).

Dalam perkembangan selanjutnya, di Jerman digunakan istilah jurnalistik (berasal dari acta diurna). Prof.Dr. Karl Bucher pertama kali mengajarkan ilmu persuratkabaran (Jer. Zeitungswissenschaft – Bld. Dagbladwetenschap) di Universitas Bazel, Swiss sejak tahun 1884, dan di Universitas Leipzig, Jerman sejak tahun 1892 (Drs. Ton Kertopati, 1981:27).

Di Amerika Serikat, jurnalistik dikembangkan sebagai ilmu oleh Joseph Pulitzer (1847-1911) yang pada tahun 1903 menjadi editor St. Louis Dispatch dan New York World. Pada tahun 1912, Universitas Columbia membuka School of Journalism bagi para calon wartawan Amerika Serikat. Setelah Perang Dunia II, journalism dan press tak lagi diartikan secara sempit karena memasukkan pula jenis mass-media lain seperti radio (sejak tahun 1920), film dan televisi (1948 adalah tahun dimulainya sejarah pertelevisian) dalam ruang lingkupnya. Pengubahan School of Journalism menjadi School of Communication mengembangkan ilmu baru yang disebut Ilmu Komunikasi atau Ilmu Komunikasi Massa.

Sekarang, jurnalistik dimengerti sebagai kegiatan yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita atau ulasan mengenai berbagai masalah, peristiwa, atau kejadian sehari-hari yang umum dan aktual dalam kurun waktu yang secepat-cepatnya. Jadi, unsur-unsur utama jurnalistik adalah:

  • penyampaian informasi tentang peristiwa atau kejadian sehari-hari;
  • kejadian atau peristiwa itu aktual (hangat dibicarakan masyarakat);
  • teknik penyampaian: secepat mungkin agar informasi itu tidak basi atau kedaluwarsa.

Publistik juga berasal dari kata dalam bahasa Jerman: publizistik, pengembangan dari kata kerja Latin publicare yang berarti mengumumkan, memberitahukan atau menyebarluaskan informasi. Prof.Dr. Walter Hagemann pada tahun 1946 menyarankan perubahan istilah Zeitungswissenschaft menjadi Publizistik terkait dengan meluasnya perkembangan ruang lingkup mass-media yang tidak hanya berkisar pada hal persuratkabaran (media cetak). J.G. Stappers berpendapat bahwa publisistik lebih luas jangkauannya daripada komunikasi massa.

Djamaludin Adinegoro adalah salah seorang tokoh yang memperkenalkan publisistik di Indonesia. Menurut Adinegoro (1961:36), publisistik adalah ilmu pernyataan tentang manusia yang umum dan aktual serta bertugas menyelidiki secara ilmiah pengaruh pernyataan tersebut dari awal mula sampai tersiar dalam pers, radio serta akibatnya kepada si penerima pernyataan-pernyataan itu.

Pengertian Komunikasi

Charles H. Cooley: Komunikasi ialah mekanisme hubungan antarmanusia untuk mengembangkan isi pikiran dengan lambang-lambang yang mengandung pengertian dan dengan cara yang leluasa serta tepat pada waktunya.

Carl I. Hovland: Komunikasi adalah proses pengoperan perangsang (lambang-lambang bahasa) dari komunikator kepada komunikan untuk mengubah tingkah laku individu-individu komunikan.

William Albig: Komunikasi adalah proses pengoperan lambang-lambang yang berarti di antara individu-individu.

Sir Gerald Barry: Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, pengetahuan dan pengalaman agar timbul saling pengertian, keyakinan atau kepercayaan serta kontrol yang diperlukan.

Wilbur Schramm: Komunikasi ialah usaha untuk mengadakan ‘persamaan’ dengan orang lain.

John R. Wenburg: Komunikasi adalah suatu usaha untuk memperoleh makna.

Donald Byker: Komunikasi (manusia) adalah berbagi informasi antara dua orang atau lebih.

William I. Gorden: Komunikasi secara ringkas dapat didefinisikan sebagai suatu transaksi dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan.

Judy C. Pearson: Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna.

Stewart L. Tubbs: Komunikasi adalah proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih.

Dr. Astrid Susanto (1977) merumuskan perbedaan fungsional komunikator dan komunikan sebagai berikut:

komunikator2

Netiquette

spbusySeorang netter mungkin juga sekaligus menjadi anggota atau bahkan pengelola milis tertentu. Ada kalanya anggota milis yang tak terseleksi menjadi spammer dengan aneka posting yang out of topic khas milis. Banyak pula yang menjadi one liner dengan posting sekadar “ok” atau “hahaha” tanpa menghapus posting yang dijawab pada judul/ topik yang sama, sehingga berkas membesar tanpa hal baru. Saya mengingat beberapa tahun yang lampau seorang anthropolog ragawi terkenal meminta pengelola milis yang semula diikutinya dengan antusias untuk mencoret namanya dari daftar anggota. Mengapa? Beliau mengaku pusing karena setiap hari mail-box-nya dipenuhi aneka posting yang menurutnya tak bermanfaat. Waktunya habis hanya untuk menghapus ratusan posting sampah.

Dunia maya memang menghadirkan kebebasan mengunggah dan mengunduh informasi. Internet bahkan telah menjadi semacam ‘perpustakaan’ yang buka 24 jam sehari, tidak pernah tutup dan bersistem self-service sehingga setiap netter/ searcher tak perlu berhadapan langsung dengan sosok petugas yang sekali peristiwa mungkin dianggap kurang ramah atau bahkan cerewet dengan aneka peraturan tata tertib.

Tapi, benarkah di dunia maya tak ada tata tertibnya? Saya berasumsi, di tengah kebebasan yang ditawarkannya, dunia maya justru mengandalkan pengendalian diri netter terhadap berbagai pengaruh negatif yang – dengan sendirinya – membayang pula di sebalik pengaruh positifnya pada berbagai bidang kehidupan. Sebelum menjadi seorang blogger www.wordpress.com misalnya, kita diminta oleh pengelola layanan gratis ini untuk menerima suatu terms and condition (yang mungkin kurang jelas atau bahkan tak pernah dibaca!). Selain berbagai theme, tersedia pula fasilitas penataan yang memudahkan kita untuk menentukan jenis situs kita. Termasuk di dalamnya keputusan seorang blogger untuk menjadikan situsnya bersifat pribadi atau publik dengan risiko atau konsekuensi masing-masing. Jika seseorang komunikan bisa bebas memilih yang disukai atau diperlukannya saja, bagaimana halnya dengan seorang komunikator?

Seorang blogger di sini berwacana tentang perlunya kode etik blogger. Wacana ini masuk akal karena bagaimanapun juga, blog adalah sebuah media publikasi. Kebebasan berekspresi tidak dengan sendirinya membebaskan setiap blogger dari kewajiban umum yang berlaku bagi setiap orang yang memosisikan dirinya sebagai komunikator (karena telah mengunggah hal tentang diri dan karyanya ke ranah publik) – disadari atau tidak – terhadap masyarakat luas tak terbatas sebagai komunikan (karena telah mengunduh hal tentang diri dan karya sang komunikator publik). Meskipun demikian, perlu pula disadari bahwa demokratisasi apalagi kebebasan selalu mengandaikan dimilikinya kedewasaan pribadi. Kode etik barangkali mudah dibuat, tetapi siapakah yang akan menaatinya? Siapa pula yang akan mengawasi pelaksanaannya? Juga, “Quis custodiet custodem?” (Siapa yang mengawasi pengawas?).

Dari sejarah pembentukan istilahnya, apakah seorang blogger termasuk jurnalis, reporter, wartawan? Melihat fungsinya, apakah seorang blogger termasuk komunikator (sekaligus komunikan)? Jika semua dijawab “Ya”, maka masalahnya hanyalah ke arah mana acuan kode etik blogger. Misalnya ke http://www.indonesianwatch.com/jur_detail.php3?id=18 (Kode Etik Jurnalistik Aliansi Jurnalistik Independen – AJI) atau yang lain? Yang mana? Blogger di sini semestinya independent karena ketergantungannya hanya pada penyedia layanan gratis ini. 🙂 Blogger tidak mengabdi siapa pun kecuali pada diri dan kepentingannya sendiri (yang bisa sekaligus bersifat/ berfungsi sosial). Maka, pertanggungjawabannya pun bersifat pribadi. Sangat jelas, karena blogger bukan profesi (kendati – katanya – ada blogger yang berorientasi finansial), kode etik itu – bila diperlukan – tentu bukan kode etik profesi wartawan menurut UU RI No.40 Tahun 1999 tentang Pers http://www.prssni.or.id/legal/uu_pers.htm Kalau tidak, dan penyedia layanan tidak bertindak, maka netiquette (network etiquette, etiket jaringan, baca: en.wikipedia.org/wiki/Netiquette atau silakan googling dengan keyword nettiquette) sewajarnya saja menurut saya sudah cukup. Mungkin pada saatnya nanti, komunitas blogger bisa mengamalkan sebuah netiquette khusus blogger, baik secara umum maupun berlaku khusus di lingkup masing-masing. Barangkali netiquette semacam itu diperlukan guna meminimalisasi kemungkinan berjangkitnya gegar budaya di antara para netter/ blogger. Saya pribadi berpendapat, aturan yang dibuat penyedia layanan sudah cukup membatasi dan sekaligus menghargai kedewasaan pribadi para pengguna layanannya. Menduplikasinya dalam sebuah ‘peraturan tertulis’ lain tampaknya berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: