• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Desember 2008
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Lahirnya Pancasila

Catatan

gpTranskrip pidato Bung Karno tentang “Lahirnya Pancasila” ini mungkin jarang dibaca oleh generasi kita sekarang. Kendati naskah ini bisa ditemukan di beberapa situs, saya merasa perlu mengetiknya sendiri, bukan sekadar copy & paste dari situs lain. Ada sebuah ‘gaya’ yang tidak saya temukan pada kutipan-kutipan yang lain. Naskah terlampir saya transkripsi dari sebuah buku koleksi yang keadaannya sudah mengenaskan. Tentu dengan permohonan maaf jika ada kesalahan karena perbedaan ejaan atau mistype.

Hal serupa juga dimaklumi oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, salah seorang yang karena perannya dalam sejarah bangsa Indonesia, menyaksikan dan mendengarkan secara langsung saat Bung Karno mengucapkan pidato tersebut. Tujuan saya adalah sekadar agar bisa menyimpan ‘naskah pidato’ itu lebih lama. Mungkin juga bermanfaat bagi siapa pun yang membutuhkannya. Yang berminat dipersilakan mengunduhnya. Klik saja gambar Garuda Pancasila di awal catatan ini, unduh berkas pidatonya (PDF, 13 halaman A4) dan … selamat membaca!

Kesan Pribadi

Sejak pertama kali membacanya saat masih duduk di bangku SMP, saya dibuat terkagum-kagum oleh talenta berpidato Bung Karno. Ia adalah seorang orator yang jarang ada dalam sejarah bangsa kita. Berbicara runtut dalam jangka waktu panjang tanpa teks tapi tetap cerdas, bernas, kadang-kadang juga kocak, sambar sana-sini, bukan hanya tak menghindar melainkan justru mengusahakan penampilannya komunikatif-interaktif, tampaknya masih sulit dicari duanya.

Pengetahuan beliau sangat luas dan mendalam. Bicaranya pun santun, berisi, dan – sama sekali tidak lamban – berkobar-kobar. Gayanya sangat wajar, gesture beliau juga seperlunya, tidak tampak wagu, memesona bukan karena dibuat-buat atau dilatihkan dalam waktu singkat (mungkin karena saat itu belum ada “jabatan pelatih efek pencitraan tokoh”🙂 atau apalagi “sekolah kepribadian”). Penguasaan bahasanya luar biasa. Mengingat suaranya pada pidato-pidato lain yang rekamannya semakin jarang diperdengarkan, bisa dibayangkan suasana batin di dalam sidang BPUPKI sewaktu mendengarkan naik-turunnya nada dan gaya bicara Bung Karno dalam peran aktif melayani Ibu Pertiwi yang melahirkan Pancasila. Semuanya mengagumkan.

Isi pidatonya itu hingga kini masih terasa relevan. Justru karena digali dari khasanah budaya bangsa sejak tempo doeloe, nilai-nilai yang beliau rangkum dalam pidato itu masih ‘hidup’ dalam keseharian bangsa Indonesia. Ketika semangat kebangsaan kita rawan terkoyak oleh primordialisme, fanatisme sempit, fundamentalisme, terorisme dalam berbagai bidang kehidupan yang merendahkan kemanusiaan, seruan Bung Karno tentang nasionalisme kita semestinya ‘terdengar kembali di dalam kita punya jiwa’ dan menggerakkan usaha bersama untuk merdeka.

Adalah tugas para sejarawan untuk mengungkap kebenaran ‘kelahiran’ Pancasila yang sesekali masih diperdebatkan. Orde Baru tak henti-hentinya melakukan upaya desoekarnoisasi, antara lain melalui falsafah Jawa mikul dhuwur mendhem jero yang diberi makna tunggal. Padahal, orang memahami  mikul duwur mendhem jero sebagai kebajikan individual akan atasan atau orang yang dituakan demi kebaikan atasan atau orang tua itu. Penganut kebajikan mikul duwur mendhem jero sejatinya mau berkorban dengan penghormatan yang tetap sambil melupakan berbagai kesalahan atasan atau orangtua terhadap dirinya sendiri, bukan orang lain.

Mikul dhuwur mendhem jero yang disosialisasikan kepada masyarakat luas untuk melindungi diri sendiri adalah penggunaan kebajikan itu secara salah kaprah. Tapi itulah salah satu keahlian sebagian kita: mencomot kebajikan yang terpilih dan menggunakannya secara parsial  sesuai keperluan untuk membungkus kesalahan atau sekadar yang perlu disembunyikan. Bangsa pelupa ini gampang diakali dengan bungkus yang serbabagus. Yang esensial gampang diganti dengan yang artifisial. Orang yang lapar dan haus dihibur dengan kata-kata manis sambil bahunya tetap ditekan supaya mau duduk diam.

Prof.Dr. Nugroho Notosusanto dalam buku Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara yang melengkapi buku Naskah Proklamasi yang Otentik dan Rumusan Pancasila yang Otentik (kedua-duanya diterbitkan PN Balai Pustaka) antara lain menggunakan logika bahasa guna meyakinkan pembaca buku-buku tersebut bahwa Bung Karno bukan satu-satunya penggali, apalagi pencipta Pancasila. Dalam berbagai kesempatan, Bung Karno sendiri pun membenarkan hal itu. Anjuran Prof.Dr. A.G. Pringgodigdo (1970) agar tidak lagi memperingati hari lahirnya Pancasila diikuti rezim Orde Baru.

Sayang, kebiasaan Orde Baru membentuk his story – tentang Supersemar yang tetap misterius, misalnya – tampaknya belum menggerakkan para sejarawan – yang tak terkooptasi kepentingan tertentu – untuk mencerahkan kita tentang berbagai hal yang hinga kini dibiarkan tak cukup jelas. Adalah menarik bahwa dalam awal pidatonya, Bung Karno (1 Juni 1945) mengatakan ini:

“Maaf, beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda: Philosofische grondslag dari pada Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fundamen, filsafat, pikiran-yang-sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.”

Menarik juga bahwa Prof.Dr. A.G. Pringgodigdo justru mengajukan usulnya itu segera sesudah Bung Karno wafat. Tak kalah menarik bahwa Pancasila dipersonifikasikan ‘lahir’ hanya nama atau istilahnya, dan sesudahnya ada sekian Pancasila sehingga Prof. Dr. Nugroho Notosusanto pun masih bertanya: “Pancasila yang mana?” Padahal, dasar negara Indonesia Merdeka yang dibahas BPUPKI sejak tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1945 itu mengalami proses perkembangan hingga disepakati sebagai satu konsensus dalam naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang di setiap kepanitiaannya selalu menghadirkan pula Bung Karno, pribadi kompromis yang selalu gandrung pada persatuan, sebagaimana diakui oleh Panitia Lima (Mohammad Hatta, Ahmad Subardjo Djojoadisurjo, A.A. Maramis, Sunario, A.G. Pringgodigdo) bahwa pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 itu telah meneduhkan kegelisahan bahkan pertentangan yang mulai tajam di antara para anggota BPUPKI waktu itu.

Sesudah Instruksi Presiden Republik Indonesia No.12 Tahun 1968 yang menyeragamkan penyebutan, tata urutan dan rumusan Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, masih saja bisa ditemukan dalam keseharian kita ada di antara kita yang tak dapat menyebutkan sila-sila itu sesuai dengan tata urutan dan rumusannya yang benar. Dan … itu hanya dianggap sebagai suatu kelucuan yang biasa saja. Salah siapa?

Tak seorang pun sempurna. Tetapi membesar-besarkan kesalahan kolektif sezaman yang disampirkan hanya kepada pribadi Bung Karno tidaklah adil. Saya bisa merasakan getar perkataan Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat tentang jiwa merdeka. Dan jiwa Bung Karno itu adalah anugerah tak ternilai bagi bangsa Indonesia. Merdeka!

Kata Pengantar oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat

Dengan perasaan gembira saya terima permintaan penerbit buku ini untuk memberikan sepatah dua patah kata pengantar, serta dengan segala senang hati saya penuhi permintaan tersebut.

Sebagai Kaitjoo (Ketua) dari Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) saya mengikuti dan mendengar sendiri diucapkannya pidato ini oleh Bung Karno, sekarang Presiden Negara kita.

Oleh karena itu sungguh menggembirakan sekali maksud penerbit, untuk mencetak pidato Bung Karno ini, yang berisi “Lahirnya Pancasila”, dalam sebuah buku kecil.

Badan Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai itu telah mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945 dan yang kedua dari tanggal 10 Juni 1945 sampai dengan tanggal 17 Juli 1945.

“Lahirnya Pancasila” ini adalah buah stenografisch verslag dari pidato Bung Karno yang diucapkan dengan tidak tertulis dahulu (voor de vuist) dalam sidang yang pertama pada tanggal 1 Juni 1945 ketika sidang membicarakan Dasar (Beginsel) Negara kita, sebagai penjelmaan daripada angan-angannya. Sudah barang tentu kalimat-kalimat sesuatu pidato yang tidak tertulis dahulu kurang sempurna tersusunnya. Tetapi, yang penting ialah ISINYA!

Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sedang ada di bawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang!

Selama Fascisme Jepang berkuasa di negeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya.

Mudah-mudahan “Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pegangan, dijadikan pedoman oleh Nusa dan Bangsa kita seluruhnya, dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.

Walikukun, tertanggal 1 Juli 1947

Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat

2 Tanggapan

  1. wahaha………….. gk

    ?

  2. makaasiiiii……hehehe….. lanjutkan…!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: