• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Desember 2008
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Sifat Tenaga Kerja Indonesia

J. Ravianto (1985). Produktivitas dan Manusia Indonesia, Lembaga Sarana Informasi, Usaha dan Produktivitas, Jakarta.

Sifat dan tenaga kerja atau masyarakat tradisional adalah sifat-sifat yang membudaya sejak lama, dan perincian sifat-sifat tersebut kurang lebih adalah sebagai berikut:

  • Ramah, baik budi pekertinya, tidak suka ribut-ribut, mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang baru, setia kawan, dan penurut. Implikasi watak tersebut terhadap produktivitas adalah positif, karena kedamaian kerja terbina.
  • Sungkan, rendah diri, jiwa budak, nrimo dan pasrah (menerima apa adanya). Karakter demikian cenderung menyebabkan mereka kurang kreatif dan kurang semangat untuk maju, dan berarti tidak menunjang produktivitas.
  • Mencintai keindahan, estetika, dan kesenian. Perangkat nilai ini mengakibatkan pembuatan keputusan selalu dihubungkan dengan perasaan atau dengan nilai estetika, sehingga kurang rasional dan tidak menunjang produktivitas. Namun di bidang seni pahat, seni patung, seni perak, seni lukis sarung, dan sebagainya, hasil kerja orang Indonesia dapat dikatakan produktif.
  • Suka mistik, tahyul, dan angka-angka keramat, tetapi taat pada agama. Implikasinya ialah kurang dapat memandang ‘jauh’, merencanakan pekerjaan, adanya ketakutan dan pemikiran tidak rasional.
  • Suka menolong orang lain, gotong royong, sepi ing pamrih rame ing gawe (bekerja keras tanpa mencari keuntungan), atau kurang mengharap imbalan. Perangkat nilai ini sepihak seperti kerja keras dan upah yang rendah adalah positif bagi peningkatan produktivitas dalam arti yang sempit. Namun, dipandang dari nilai ekonomi, kurang mendukung pemupukan modal, cenderung boros. Dapat dikatakan sifat ini memiliki nilai-nilai yang lebih tinggi daripada nilai kebendaan.
  • Patuh dan takut pada atasan yang berkuasa. Implikasi watak demikian yang cenderung mempunyai nilai disiplin berdasarkan rasa takut, bukan berdasarkan disiplin pribadi. Selain itu watak tersebut mendorong timbulnya jiwa budak dan feodalisme yang hanya bekerja bila ada instruksi. Mereka biasanya tidak kreatif dan tidak bermotivasi maju, karena takut melakukan kesalahan.
  • Banyak anak banyak rezeki, tiap anak membawa rezekinya masing-masing. Pandangan ini ikut menyebarkan kemiskinan, terutama pada stratifikasi masyarakat kelas bawah yang berpendidikan dan berpenghasilan rendah.
  • Mangan ora mangan kumpul, tahan menderita, tirakat. Implikasinya ialah pada nilai keterbatasan atau motivasi berafiliasi yang tinggi, sedangkan motivasi terhadap prestasi menjadi rendah. Di samping itu, semangat untuk mempertahankan kerja menjadi lemah. Istri dan anak, pada keluarga lapisan bawah, berkewajiban untuk bekerja membantu suami mencukupi nafkah, karena penghasilan suami umumnya kurang. Seorang pekerja yang kehilangan pekerjaan masih dapat hidup dalam sistem sosial yang demikian, karena masih ada kerabat yang lain akan membantu hidup pekerja tersebut. Implikasi lain ialah dorongan berkumpul setahun sekali pada saat lebaran dengan mengorbankan tabungan keluarga. Hal ini cenderung dikatakan pemboros. Tirakat dan tahan menderita, berkaitan dengan makanan dan daya tahan tubuh yang menjadi lemah, dengan maksud untuk meninggikan nilai kejiwaan. Perangkat nilai tersebut tidak mendukung produktivitas kerja.
  • Masih ada hari esok, takkan lari gunung dikejar, alon-alon waton kelakon. Perangkat nilai ini berasal dari negara-negara tropis yang tidak mengenal musim salju. Di sana panen harus dikumpulkan sebelum musim dingin tiba. Implikasinya ialah waktu dipahami sebagai tidak berjalan lurus, yaitu tidak punya awal dan akhir. Oleh karena itu setiap saat ia datang dan pergi. Hari ini pernah menjadi esok, dan esok pernah menjadi kemarin. Begitulah jalannya waktu. Jadi, mengapa tergesa-gesa? Akibat pandangan terhadap nilai waktu yang demikian, maka tenaga kerja Indonesia (dan beberapa negara tropis lain seperti Mexico, Afrika, Amerika Selatan dan lain-lain) menjadi lamban, baik secara fisik maupun mental. Kurang cekatan dan kurang menghargai waktu, baik waktu dirinya maupun waktu orang lain. Kecepatan adalah salah satu faktor produktivitas, sedangkan lamban tidak mendukung produktivitas.
  • Semangat kerja yang tidak terus menerus, hangat-hangat tahi ayam. Keadaan itu merupakan ciri pula dari orang Indonesia yang menyebabkan kurang produktif. Hal ini pula yang menyebabkan kerja yang tidak tuntas atau meninggalkan sisa-sisa pekerjaan.
  • Kerja tangan itu kerja kasar. Banyak orang Indonesia terutama pada stratifikasi golongan sosial ekonomi menengah ke atas memandang kerja tangan itu rendah. Orang Indonesia golongan ini lebih suka bekerja di belakang meja yang mempunyai status, dan kurang senang bekerja di lapangan. Tampak pada banyak lulusan sarjana teknik yang bekerja di bidang manajemen dan lain-lain. Dalam hal ini dapat dikatakan orang Indonesia kurang menyukai atau kurang mencintai kerja.
  • Mental Pegawai. Hal tersebut tampak pada lulusan-lulusan sekolah menengah maupun perguruan tinggi yang umumnya menempatkan bekerja di pemerintahan sebagai prioritas utama. Setelah diterima bekerja, kemudian tidak kreatif dalam bekerja. Lebih cenderung menunggu pekerjaan daripada menciptakan kerja. Dapat dikatakan bila tidak diperintah, maka mereka lebih banyak diam dan tidak bekerja. Akibat sifat tersebut, jiwa kewiraswastaan tidak berkembang, tenaga penjual (salesman) adalah langka. Demikian pula halnya dengan orang-orang desa yang umumnya mengharapkan bekerja di pemerintahan atau di ABRI (Ruhcitra: sekarang TNI).
  • Mudah puas. Akibat dari mental kurang mencintai kerja, maka orang Indonesia mudah puas bila kebutuhannya telah terpenuhi. Tindakannya biasanya ingin cepat mendapat untung besar atau dapat uang banyak, kemudian beristirahat sampai uang diperlukan lagi, maka ia akan bekerja lagi. Demikian siklusnya.
  • Mudah iri akan kemajuan orang lain. Sifat ini menonjol terutama di antara para pekerja mandiri, yaitu iri hati bila ada orang lain maju. Pada pekerjaan yang memerlukan banyak tenaga kerja terdapat indikasi yang demikian pula, yaitu tidak menyukai pekerja lain yang menonjol prestasinya, kecuali bila yang menonjol itu atasannya.
  • Tidak disiplin. Mengenai tidak disiplin telah diuraikan pada bab terdahulu, dan jelas tidak menunjang produktivitas kerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: