• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Desember 2008
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Disiplin dan Santun Berlalulintas

spbike“Krismon yang melanda kita mungkin merupakan blessing in disguise yang menghambat kemacetan lalu lintas yang lebih parah di jalan-jalan raya kita!” diucapkan oleh seorang teman dalam suatu diskusi saat sama-sama melepas lelah. Andaikan itu bukan gurauan di saat terjepit krisis dan benar, tampaknya keadaan perekonomian kita yang hingga kini – katanya – masih berada di atas fundamen yang kokoh dan segera akan (mbuh kapan) mulai membaik dan seterusnya, membuat jalan-jalan raya di kota kita pun segera seperti Jakarta atau Surabaya: macet, diselimuti polusi, tak nyaman, gampang bikin orang berang.

Kendaraan bertambah banyak, panjang dan lebar jalan tetap. Sementara itu, disiplin dan santun berlalulintas kita juga masih tetap sangat rendah. Tak mau mengalah, menyalip lewat kiri, memotong jalan kendaraan lain secara tiba-tiba dan tanpa tanda pula; menganggap lumrah melanggar marka maupun lampu merah karena para polantas atau aparat lain pun sering tampak melakukannya demi keistimewaan yang melekat pada seragam mereka; menggeber klakson sambil memaki atau bahkan siap berkelahi; di waktu malam tak peduli mata orang lain silau, terus memainkan lampu asalkan mata sendiri lebih jelas melihat ke depan dan bisa memaksa orang lain minggir memberi jalan (mungkin merk lampunya “Cuex” atau “Ojo’iri”🙂 berdaya kelipatan dari yang biasa dan pabrik pembuatnya mungkin justru tidak merekomendasikan penggunaannya di jalan dalam kota, melainkan untuk  jalan belantara yang gulita); berkendara secara ugal-ugalan tanpa peduli keselamatan orang lain, dan seterusnya … adalah pengalaman keseharian kita di jalan raya kota-kota besar. Malang yang dulu sejuk-indah-asri-tenang-tenteram pun dalam hal ini kini kian tak terkecuali.

Kualitas kendaraan umum kita pun payah. Banyak sopirnya yang egois, seolah-olah mereka punya hobi mengajak  orang lain terpaksa berlatih sport jantung. Para calon penumpang kita pun manjanya bukan kepalang. Menunggu mikrolet di ujung persimpangan atau tikungan bertanda larangan berhenti apalagi parkir, hanyalah satu di antara kemanjaan itu. Padahal banyak di antara calon penumpang itu berstatus pelajar atau mahasiswa, bahkan tak sedikit yang sudah bukan keduanya lagi. Perhatikan mikrolet kita yang sering dikemudikan serampangan, menyalip kemudian berhenti tiba-tiba dan baru kemudian menyalakan lampu belok sesudahnya, memutar di jalan sempit padat kendaraan sekadar bisa gampang menaik-turunkan penumpang. Agaknya, kalau hanya disenggol sedikit saja tidak apa-apa karena di sini menabrak bisa lebih susah daripada ditabrak. Yang ditabrak pastilah korban dan penabraklah yang harus disalahkan.

Ada 40% kendaraan di Surabaya yang tidak laik jalan karena emisi gas buangnya melampaui ambang batas. Tapi, apa tindak lanjutnya? Bis dan truk berlomba bandel di jalur kanan jalan meskipun di banyak tempat dipasang peringatan “Lajur kanan hanya untuk mendahului”. Pejalan kaki seenaknya menyeberang jalan sendirian di tempat yang tidak dianjurkan. Sepeda motor seenaknya naik ke trotoar atau berjalan zig-zag berbekal lambaian tangan. Jalan yang rusak parah dibiarkan terus disiksa (dan menyiksa) dengan alasan dana belum cair atau pekerjaan terhalang hujan. Pengendara harus diguncang di jalan yang tak mulus, banyak lubang lebar dan dalam karena memang rusak maupun bekas galian proyek yang tak sempat dibereskan). Padahal, juga sekitar 40% pajak dikemplang, dan banjir umumnya terjadi karena manusia enggan bersahabat dengan alam.

Kalau saja kita tertib, berdisiplin dan santun di jalan raya, rasanya polisi tidak perlu dengan sengaja mengarahkan kita agar tidak patuh pada lampu lalu lintas: jalan terus meskipun merah, berhenti meskipun hijau dan di belakang kita seperti ada demonstrasi keras-kerasan bunyi klakson. Traffic light yang dibeli rakyat untuk menertibkan rakyat dilanggar oleh rakyat dipimpin aparat. Belum lagi hak rakyat untuk leluasa lewat biasa dihambat aparat demi pejabat yang harus sampai di tempat dengan cepat dan selamat meski bukan dalam keadaan darurat. Rakyat pembayar pajak tidak berdaulat terhadap pejabat yang sebagian besar pintar main silat kepada rakyat, main sikat hak rakyat untuk bikin perut sendiri buncit berkilat.

Kalau saja kita tertib, berdisiplin dan santun di jalan raya, polantas tak akan dipandang sebelah mata lagi sebagai cemooh karena sebagian dari mereka sudah biasa minta uang kita sekadar tutup mata terhadap pelanggaran yang kita lakukan. Mereka akan lebih sering membantu dan melayani kita di jalan-jalan padat, rawan kecelakaan atau jalan sepi yang kurang aman ketimbang nyanggong calon pelanggar di sebarang tempat.

Tapi, kapan dan bagaimana kita bisa tertib, berdisiplin dan santun di jalan raya? Itu bisa kita capai sebagai prestasi lokal, regional maupun nasional sekarang juga, mulai dari diri sendiri. Siapa pun agaknya gampang percaya bahwa perilaku kita di jalan adalah cermin kesemrawutan hidup kita dalam bermasyarakat sekaligus dalam berbangsa dan bernegara. Mau dan bisakah kita minta pensiun jadi obyek supaya mulai berbenah jadi subyek? Haruskah disiplin dan santun berlalulintas kita dibina oleh orang lain, misalnya oleh para “penegak disiplin” yang berbekal jaket atau rompi oranye sebagai modal untuk sekadar mencari nafkah belaka? Disiplin dan santun berlalu lintas bisa jadi nomor sekian kalau ada yang memberikan uang lebih. Petugas parkir resmi maupun liar kadang-kadang muncul dengan peluit ditiup hanya ketika akan memungut bayaran yang di beberapa tempat bisa berlipat-lipat.

Perlukah pada setiap kendaraan yang melata di darat, terbang di udara, mengapung di sungai atau laut diterakan stiker bertuliskan, misalnya: “Pengendara mobil/ sepeda motor/ sepeda/ pesawat/ helikopter/ kapal/ perahu ini adalah penegak disiplin bagi dirinya sendiri” atau “Saya akan malu jika melanggar peraturan lalu lintas. Ingatkanlah saya jika salah. Pastikan saya berterima kasih dan tidak marah” dan di dada setiap orang disematkan pin bertuliskan, misalnya: “Siap membantu dan dibantu dalam hal disiplin dan santun berlalu lintas”? Tampaknya stiker bahkan spanduk atau baliho pun percuma. Lebih gagah menempelkan stiker: “Keluarga Pejabat  Anu” atau “Anggota Korps Itu” atau malah sekadar semacam “Nyenggol, Sikat!” ketimbang menumbuhkembangkan semangat berdisiplin pada diri sendiri. Mana sempat? Ikut arus saja, toh orang lain melakukan yang sama!

Dulu pernah ada ketentuan (entah sempat dilaksanakan dan masih berlaku atau tidak), SIM pelanggar peraturan lalu lintas dilubangi setiap kali melakukan pelanggaran. Kalau pelanggarannya ringan, cukup SIM-nya yang dilubangi satu kali. Tiga lubang pada SIM dianggap sama dengan satu pelanggaran berat: SIM dicabut. Tanpa pandang bulu apakah ia sopir mikrolet, konglomerat, aparat, pejabat maupun rakyat melarat. Soalnya, ada yang malu kalau sampai (ketahuan) melanggar, tapi ada juga yang bangga menceritakan pengalamannya melanggar peraturan. Maka, semestinya pembaruan SIM bisa dibedakan antara orang yang tidak pernah melanggar peraturan lalu lintas dan “pelanggan” pelanggaran peraturan lalu lintas. Pemegang SIM tanpa lubang yang sudah tidak berlaku bisa langsung diberi SIM baru setelah membayar ongkos sewajarnya, sedangkan pemegang SIM berlubang harus menjalani serangkaian tes terlebih dulu. Usul ini menuntut disiplin, integritas dan kualitas tinggi aparat polantas. Sebab kalau tidak, mudah sekali terjadi kongkalikong antara aparat dengan pelanggar ringan maupun berat. Maka kita maklum mengapa usul ini tidak diakomodasi.

Wah. Kendati sedang bersantai, pikiran tentang “kita” ternyata membuat kepala saya terasa berat.🙂 Saya akan memulainya dari diri sendiri sajalah. Kalau bisa mengajak serta netter dan blogger di situs ini, lumayanlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: