• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Desember 2008
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Iseng dengan Spam

Direktori Spam di mailbox kadang-kadang saya lihat karena berpengalaman ada email dari teman yang nyasar masuk ke situ. Saya tertarik – namanya juga manusia dan di saat krisis pula! – pada satu email yang mengabarkan bahwa email address saya terpilih oleh sebuah perusahaan otomotif terkenal sebagai penerima hadiah yang bikin saya tersenyum: US$ dalam jumlah yang pasti sangat spektakuler bagi seorang seperti saya dan satu unit mobil sport keluaran 2008!

Sebagai seorang yang pernah beberapa kali menerima sms yang menunjuk nomor hp saya sebagai pemenang hadiah pulsa atau uang tunai rupiah, saya merespon email itu sekadar untuk mengetahui bagaimana pengirim spam itu melancarkan kegiatannya. Sebuah produsen otomotif berkelas dunia mau membuang uang percuma dalam situasi krisis semacam ini adalah luar biasa. Dan sasarannya pun email address, bukan peserta kontes atau lotere tertentu (Saya tak pernah ikut/ beli lotere. Dalam undian berhadiah yang biasa diselenggarakan dalam berbagai kelompok atau organisasi tempat saya bersosialisasi pun, saya tak pernah ‘menang’!). Tapi, keesokan harinya saya benar-benar takjub. Saya ditelepon seorang yang mengaku dirinya ‘doktor’ dan ia menyatakan bahwa isi email itu betul-betul benar! Sambungan telepon internasional itu – terus terang – sempat membuat saya bimbang. Tak sama dengan ‘pemberi hadiah’ serupa dari dalam negeri, yang ini sungguh-sungguh mengesankan mau mengeluarkan ongkos!

Hebatnya lagi, hasil pelacakan iseng saya menginformasikan bahwa alamat-alamat yang disebutkan dalam email mereka adalah alamat resmi lembaga ini atau itu. Begitu pula para ‘pejabat’-nya. Bahkan yang terakhir, alamat email orang terakhir dari serangkaian email yang berbalasan dengan jawaban saya juga menggunakan nama lembaga yang berkewajiban mengawasi transaksi keuangan internasional. Teknologi informasi dengan segala plus-minus yang melekatinya telah memberikan banyak kemudahan bagi manusia di seluruh dunia, dan dalam hal apa pun. Minimal, teknik dan teknologi yang digunakan sang ‘doktor’ dan kawanannya sudah berhasil meningkatkan rasa iseng saya menjadi rasa penasaran. Apalagi, ia menelepon saya lagi dan mengatakan banyak hal guna lebih meyakinkan!

Jaringan ini bersifat lintas negara dan acak merambah ruang pribadi secara internasional. Sayangnya, mereka agak silap ketika menemukan calon korban yang antusias merespon penawaran mereka. Sangat mudah terbaca dan terdengar, seolah-olah pemberi hadiah jauh lebih membutuhkan penerima hadiah ketimbang sebaliknya. Ketika mailbox saya segera berisi dua penawaran serupa, saya kehilangan positive thinking saya. Kendati memercayai mukjizat dan anugerah Allah yang sering tak masuk akal, saya tidak percaya keberuntungan yang serupa datang beruntun untuk menjadikan saya – seorang yang sangat biasa – mendadak kaya raya. Syukurlah saya tak pernah bermimpi menjadi milyarder dan sudah terbiasa mendengarkan janji-janji …šŸ™‚

Ketika sang ‘doktor’ menelepon agar saya segera menjawab email yang dikirimkan oleh sebuah bank dan menyatakan bahwa untuk bisa menerima hadiah itu saya harus membayar sejumlah dollar, pada akhirnya saya mengatakan: “No, thank you!” Saya tak punya uang sebanyak itu, kata saya. Memegang dollar sebagai milik pribadi pun sudah sangat lama tidak pernah. Apalagi sudah sejak awal saya menduga (untuk tidak mengatakan bahwa saya yakin) spam itu adalah spam dan isinya adalah gendam. Namun – dasar sedang iseng dan baik hati – saya masih mau menjawab email itu (idhep-idhep berlatih menggunakan bahasa Inggris sebagai alat korespondensi yang memang sangat jarang karena keterbatasan saya). Di dalamnya saya menertawakan diri sendiri, tak sepatah kata pun berisi teguran bagi mereka yang rajin menebarkan mimpi ke seluruh dunia yang sedang menderita krisis ekonomi. Akhirnya mereka berhenti ‘mengganggu’ karena ternyata saya bukan ‘korban’ yang tepat.

Satu lagi kelebihan mereka dibandingkan rekan-rekan seprofesi mereka di dalam negeri: sopan santun. Selain bahasa mereka sangat halus, resmi, dan adanya kontak dengan ‘orang dalam’ di lembaga ini atau itu (atau mungkin juga karena mereka ahli ‘meminjam’ alamat mail maupun email lembaga-lembaga itu), saya masih sempat mendapatkan ucapan: “Have a nice day!” melalui email dan telepon.šŸ™‚

Apakah setelah mengalami hal ini saya takkan pernah peduli lagi pada aneka spam? Tidak juga. Sudah saya sebutkan di awal, kadang-kadang ada email yang bukan spam terpaksa nyasar ke kotak spam. Dalam hal ini saya memuji layanan gratis yang cukup jeli dalam menentukan ini spam dan itu bukan spam. Jadi, sesungguhnya kita sudah sangat terbantu oleh kecanggihan mesin agar tidak membuang waktu percuma (kecuali sedang iseng seperti saya kemarin). Lebih penting dari itu: kita tak usah masuk ke dalam jeratan penipuan. Tapi – saya mengaku – sungguh, … cara dan tatakelola jaringan internasional ini jauh lebih meyakinkan ketimbang para ‘pemain’ dalam negeri.šŸ™‚ Maka saya juga percaya bahwa cyber-crime merupakan tantangan yang luar biasa bagi para penegak hukum. Bukankah orang kita – selain pintar ngakali saudara sebangsa setanah air sendiri – kadang-kadang juga gampang sekali diakali? Beberapa kali saya mendengar para remaja yang mulai asyik membuat situs-situs pribadi atau sekadar menjelajah dunia maya tergiur iklan tanpa membaca terms and condition suatu layanan via internet yang (biasanya) tercetak dengan ukuran huruf yang jauh lebih kecil ketimbang bunyi iklannya yang tampil sangat meriah. Tahu-tahu, pulsa tersedot habis atau rekening membengkak bahkan sudah sempat menyetorkan sejumlah uang, namun layanan yang dijanjikan ternyata nihil. Bisa dibayangkan akibatnya jika nomor (hp, rekening atau kartu kredit) yang dimasukkan adalah milik orangtua, saudara atau siapa pun, benar maupun ngawur – dan dalam ekstase penawaran (yang menyambut baik permintaan maupun ketidaktahuan) – yang bersangkutan merespon dengan penuh semangat untuk mendapatkan layanan bahkan hadiah. Bukankah kecenderungan suka menerima lebih besar daripada suka memberi?

Barangkali ada di antara kita yang bahkan sudah pernah jadi korban penipuan serupa. Boleh jadi, awalnya adalah keisengan, seperti yang saya lakukan, dan terlena sesudahnya. Mudah dimaklumi pula – seperti biasa terjadi di kalangan orang kita – sangat jarang ada yang sudi membagikan pengalaman buruknya agar orang lain tak mengalami hal serupa. Padahal, kalau tingkat kejahatan di negara-negara makmur pun masih tinggi, apalagi di negeri yang sudah semakin sulit tegak mandiri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa. Waspadalah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: