• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Januari 2009
    S S R K J S M
    « Des   Feb »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Serat Wulang Reh

butterflyRosesDi antara sekian banyak serat piwulang (surat berisi ajaran moral) yang ditulis para pujangga, Wulang Reh tergolong yang paling populer karena kelengkapan isinya dan kesederhanaan bahasanya. Mungkin karena penuturnya adalah seorang raja yang berbicara kepada anak-anaknya dan atau sanak keluarga, sehingga bahasa yang digunakannya pun cukup yang sederhana saja, bahasa sehari-hari, tak perlu menggunakan istilah-istilah yang sulit dimengerti tanpa mengerenyitkan dahi dan tetap kurang mengerti.🙂 Meskipun demikian nilai sastranya tetap tinggi dan isinya sangat dikagumi. Wulang Reh adalah salah satu serat favorit masyarakat Jawa.

Penutur Wulang Reh, Pakubuwana IV (1768-1820), berjuluk Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati ing ngalaga Abdur-rahman Sayidin Panatagama IV. Ingkang Sinuhun Bagus, demikian nama panggilan akrabnya, bertahta di Kasunanan Surakarta selama 33 tahun sejak tahun 1788. Ia beristri 24 orang, dengan jumlah anak 56 orang.

Wulang Reh sering dikutip dan karenanya juga mengalami berbagai perubahan. Drs. Darusuprapta (1982) meyakini bahwa naskah induk Wulang Reh yang asli adalah yang diterbitkan oleh Vogel van der Heyde (1900), selain karena merupakan terbitan tertua, juga karena bersumber pada naskah yang tersimpan dalam Perpustakaan Radyapustaka sejak tahun 1829.

Wulang Reh mengandung berbagai ajaran moral, antara lain mengenai bagaimana cara memilih guru sejati; bagaimana cara bergaul; tentang sifat adigang-adigung-adiguna yang harus dihindari; tatakrama; pembedaan antara baik-buruk dan bagaimana mengenali watak manusia; tentang sembah lima (ayah-ibu, mertua, saudara tua, guru, raja/ pemimpin dan – dalam arti dan bagian tertentu: Tuhan); bagaimana menjadi abdi yang baik; bagaimana mengendalikan hawa nafsu; tentang keluhuran budi, dan sebagainya. Ajaran Pakubuwana IV dalam Wulang Reh ini jelas menunjukkan sifat rendah hati, pengetahuan yang luas, ketegasan, kelugasan bahasa, religiositas, penghormatan kepada leluhur, dan kejenakaan yang dimiliki pribadi penulisnya.

Nasihat-nasihat Pakubuwana IV dalam Wulang Reh ini tak hanya cocok bagi anak-anaknya, tetapi juga bagi kita yang hidup lama sesudahnya. Orangtua, kaum muda, pegawai negeri, politisi, bahkan mereka yang sedang menuntut ilmu agama, semestinya menimba kebajikan yang diajarkan dalam Wulang Reh guna lebih positif memandang masa depan dan selalu berperilaku sesuai dengan martabatnya.

Kendati rangkaian nasihat Pakubuwana IV itu diberinya landasan ajaran agama Islam, kiranya nilai-nilai universal yang dikandung Wulang Reh bermanfaat pula bagi siapa pun. Diakui atau tidak, antara lain melalui serat-serat piwulang semacam Wulang Reh inilah agama Islam benar-benar membumi di Indonesia, sekurang-kurangnya menjawa, dihayati orang Jawa dalam budaya leluhurnya sendiri.

Ringkasan Isi

I. Dhandhanggula

Orang hidup haruslah mengetahui makna hidupnya dan mengusahakan pula agar hidupnya jauh dari cacat dan cela. Hal itu ada dalam Al Qur’an. Walaupun demikian, tidak setiap orang mengetahuinya. Orang yang ingin mengetahui bagaimana hidup tanpa cacat dan cela itu sebaiknya berguru kepada orang yang bermartabat baik, orang yang mengerti hukum dan yang taat beribadah serta hidup prihatin. Akan lebih baik apabila guru itu pertapa sejati, seorang yang sudah tak berminat terhadap hal keduniawian.

Jangan gampang percaya kepada setiap orang yang bicara tentang ilmu ketuhanan. Pertimbangkanlah dan pikirkanlah terlebih dulu, karena sekurang-kurangnya perkataannya itu haruslah sesuai dengan dalil (peraturan dalam Al Qur’an), kadis (riwayat Nabi Muhammad), ijmak (kesesuaian pendapat para ulama) dan kiyas (kias, alasan yang berdasarkan perbandingan atau persamaan tentang hukum Islam, jadi bukan berdasarkan sunah). Penyimpangan tidak dapat dijadikan pegangan, karena pada akhirnya berkecenderungan menyimpang dari syariat (hukum agama Islam yang diamalkan) sehingga merusak peraturan (tata tertib).

Sekarang orang sulit mencari guru sejati (yang pantas kita serap pengetahuan keagamaannya). Banyak orang yang menjajakan ngelmu (ilmu kesempurnaan hidup, ilmu ketuhanan), namun ngelmu-nya itu tak mengikuti peraturan (kebiasaan). Orang yang ngelmu, dan setia pada sarak (hukum, peraturan agama) atau tidak adalah kehendak pribadi masing-masing. Sekarang pandangan orang umumnya terbalik, yaitu guru mencari-cari murid, sedangkan yang berlaku pada zaman dulu adalah murid mencari guru.

II. Kinanthi

Latihlah hatimu agar dapat tajam menangkap isyarat-isyarat gaib. Janganlah engkau terlalu banyak makan dan atau tidur. Kurangilah hal itu. Cita-citakanlah keprawiraan (keluhuran budi) dan mesu-raga (prihatin, mengekang, etc.).

Perihal mengurangi makan dan tidur itu hendaknya dijadikan perilaku sehari-hari, Janganlah kau terlalu banyak berfoya-foya sebab kebiasaan itu akan membawa orang kepada ketaksadaran diri. Orang yang telah ditakdirkan menjadi orang terhormat hendaklah tidak gila hormat, dan tidak bergaul dengan orang jahat. Walaupun keturunan orang yang hina dina, tetapi bila bertabiat baik atau memiliki banyak cerita yang patut diteladani, orang yang demikian itu patut didekati, sebab hal itu akan menambah kebaikan tingkah laku.

Watak anak muda bergantung pada ‘siapa’ yang bergaul dengannya. Apabila ia bergaul dengan seorang bangsat, tentulah ia akan menjadi orang jahat. Apabila ia bergaul dengan seorang penjahat, tentulah ia akan mencuri. Walaupun ia tidak ikut mencuri, setidak-tidaknya ia mengetahui bagaimana tingkah laku mencuri itu, sebab segala perbuatan jahat yang diketahui akan lebih mudah dilakukan. Sesungguhnya perbuatan baik tidaklah sulit dilaksanakan apabila sudah dikerjakan. Apabila belum, memang sulit karena pada umumnya orang malas untuk mulai melakukannya. Padahal bila dikerjakan, perbuatan baik akan bermanfaat pula bagi diri sendiri.

Sekarang anak-anak muda umumnya mengabaikan sopan santun, cenderung brandal, gemar pujian dan percakapan yang tak tentu arah, omong besar, kementhus (congkak) dan kumaki (sombong). Padahal perbuatan buruk dan baik, betul dan salah itu termasuk dalam pembicaraan dan pergaulan sehari-hari. Maka sangatlah baik bila anak muda sering bergaul dengan orang tua yang memiliki banyak cerita yang baik dan patut diteladani. Cerita yang buruk tak patut ditiru. Namun tetaplah berhati-hati karena banyak yang berpamrih sekadar dipandang sebagai orang pandai.

III. Gambuh

Ketidakjujuran yang terus menerus dilakukan akan berakibat kerugian dan ketidakbaikan. Maka carilah orang yang dapat memberikan nasihat yang benar. Nasihat yang benar itu patut diturut walaupun berasal dari orang yang hina dina, sebab apabila baik caranya memberikan nasihat, hal itu patut menjadi pegangan.

Adigang-adigung-adiguna. Lambang adigang adalah kijang, artinya mengandalkan kegesitannya melompat. Lambang adigung adalah gajah, artinya mengandalkan kebesaran dan kehebatan tubuhnya. Lambang adiguna adalah ular, artinya mengandalkan kekuatan bisa/ racunnya. Seorang putra raja (anak orang berpangkat) sebaiknya tidak memiliki ketiga sifat tersebut:

  1. mengandalkan bahwa dirinya putra raja (anak orang berpangkat), “Siapa yang berani kepada saya?”;
  2. mengandalkan kepandaiannya, “Siapakah yang dapat menyamai saya?”; atau
  3. mengandalkan keberanian semu – apabila sungguh-sungguh dihadapi justru tak mampu berbuat apa pun dan bahkan menjadi bahan tertawaan.

Maka orang hidup di dunia seharusnya memiliki tiga macam watak yang baik, yaitu: rereh (sabar, mengendalikan diri), ririh (tidak tergesa-gesa, perlahan-lahan), dan berhati-hati.

IV. Pangkur

Orang hidup di dunia haruslah dapat mengetahui dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mematuhi tatakrama. Dalam hal ini beberapa hal yang tak boleh ditinggalkan adalah deduga (mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak), prayoga (mempertimbangkan hal-hal yang baik terhadap segala sesuatu yang akan dikerjakan), watara (memperkirakan, memikirkan yang akan dikerjakan) dan reringa (berhati-hati ketika menghadapi sesuatu yang belum meyakinkan). Apa pun yang dilakukan dalam keseharian hidup – penting maupun tidak penting, kapan dan di mana pun juga – janganlah mengabaikan empat hal tersebut.

Watak manusia yang pandai atau bodoh, yang terhormat maupun yang hina dina, yang miskin maupun kaya raya, ulama maupun pelaku maksiat, pemberani maupun penakut, yang taat beribadah maupun penjudi, lelaki maupun perempuan, dapat diketahui dari ‘apa saja yang dilakukannya’, ‘kedudukannya’, ‘tingkah lakunya’, dan ‘bicaranya’.

Sekarang banyak orang berwatak drengki (iri hati terhadap keberuntungan orang lain), srei (ingin mengalahkan orang lain), dora (pembohong), iren, meren, dahwen, panasten, open, kumingsun, jail (suka mengganggu), muthakil, besiwit. Keburukan orang lain diungkit-ungkit sedangkan kebaikannya didiamkan saja. Sebaliknya, kebaikan diri sendiri dipamerkan dan disebarluaskan tanpa menyadari bahwa keburukan pribadinya menggunung. Orang yang demikian itu durjana murka (orang jahat yang mengobarkan hawa nafsunya), tak pernah puas, tak mengekang luamah (keinginan hati) dan amarah (nafsu angkara murka), tak pernah mau kalah, tak mau disamai. Orang-orang yang demikian itu janganlah didekati.

Enam watak ini janganlah ditiru: 1) lunyu (lonyo), tidak berketetapan hati; 2) lemer, serba ingin; 3) genjah, tidak dapat dipercaya; 4) angrong prasanakan, mengganggu istri dan atau milik orang lain; 5) nyumur gumuling, tak dapat menyimpan rahasia; dan 6) mbuntut arit, baik di muka, buruk di belakang.

V. Maskumambang

Apabila mengajarkan hal buruk, bahkan orangtua dan sanak saudara sendiri tak pantas ditiru. Sebaliknya, walaupun orang lain – apabila berwatak baik dan tindakannya benar – patut ditiru. Maka sangatlah baik bila ayah dan ibu sendiri yang memberikan pelajaran tentang laku yang baik.

Orang yang tidak mematuhi nasihat orangtua yang baik akan celaka, baik di dunia maupun akhirat. Hal itu menurun pula kepada anaknya. Maka waspadalah, jangan berani pada ayah dan ibu.

Sembah lima:

  1. ayah dan ibu, sebab merekalah yang berperan sebagai prokreator bersama Tuhan: melahirkan kita ke dunia dan mengajari kita berbagai keterampilan hidup;
  2. mertua, sebab kedua orang itu memberi kita kegembiraan dan kenikmatan sejati (melalui istri/ suami);
  3. saudara laki-laki yang tertua, sebab dia kelak akan menjadi pengganti ayah;
  4. guru, sebab ia memberikan petunjuk tentang kebaikan, hidup yang sempurna, nasihat yang kita butuhkan;
  5. raja/ pemimpin (dan dalam hal tertentu langsung menunjuk pada kemahakuasaan Tuhan melalui orang yang terpilih sebagai raja/ pemimpin kita) yang memberi kita kehidupan, sandang-pangan-papan secukupnya, dan sebagainya.

VI. Dudukwuluh

Mengabdi raja tidaklah mudah. Seorang abdi tak boleh ragu, harus pasrah dan setia, mengerjakan segala perintah rajanya. Sebab raja adalah wakil Tuhan yang memerintah dan menguasai tegaknya keadilan di dunia. Maka, siapa pun yang ingin mengabdi raja harus ikhlas lahir dan batin. Jika tidak, janganlah tergesa-gesa. Lebih baik magang dulu, tak susah, tak ada yang iri, bisa belajar bekerja dengan sungguh-sungguh dan belum perlu menghadap raja.

Namun seorang abdi dapat mengetahui kehidupan raja, terhormat, berpangkat dan berjabatan. Ia wajib melaksanakan tugas sebaik-baiknya, termasuk harus menghadap. Semua abdi dalem – tanpa kecuali – harus menghadap pada hari-hari tertentu, saat sang raja miyos (mengadakan persidangan) maupun tidak. Tak seorang abdi pun boleh mangkir dari kewajibannya.

Umumnya orang yang rajin menghadap mengharapkan hadiah. Hal itu tidak dibenarkan. Hadiah tidak pernah diharapkan oleh orang yang berniat tulus mengabdi, membalas budi dan cinta kasih Tuhan. Untung-rugi, terhormat-terhina itu sudah ditentukan Tuhan, pasti dan tak berubah sedikit pun sebagaimana tertulis dalam lochil-machfoel (buku tentang takdir manusia).

VII. Durma

Berlakulah tirakat, jangan terlalu banyak makan dan tidur agar nafsu yang bernyala-nyala tak membakar jiwa-raga dan hati dapat tenang tenteram. Segala sesuatu yang diharapkan akan terlaksana sesuai kehendak-Nya, apabila kita tidak ragu akan keberadaan kita di alam kabir (dunia) ini ada dalam kekuasaan-Nya.

Kebenaran-kesalahan, kebaikan-keburukan, keuntungan-kecelakaan sesungguhnya berasal dari sendiri sendiri. Maka waspadalah dan jauhilah perbuatan yang berbahaya. Singkirkanlah tiga hal ini: 1) memuji-muji diri sendiri; 2) menjelekkan maupun memuji orang lain secara berlebihan; 3) mengritik segala pekerjaan orang dan membicarakan keburukan orang lain.

VIII. Wirangrong

Pandailah menjaga diri, jangan asal bicara walau sepatah kata pun, apalagi bila kata yang terucap itu tak patut, tak mengingat waktu dan tempat. Jangan tergesa-gesa berbicara, berpikirlah sebelumnya dan pertimbangkanlah dengan siapa kita berbicara.

Dalam berbicara pun kita harus mengendalikan diri – janganlah keterlaluan – sebab bila sudah terlanjur diucapkan, perkataan kita tak dapat dibatalkan. Janganlah banyak bersumpah, sebab hal itu akan mengotori tubuhmu. Sayangilah mulutmu dan janganlah mulut itu dibiarkan mencaci maki. Bila memarahi pembantu sebaiknya jelaskanlah duduk perkara kesalahannya.

Ingatlah dan peganglah dengan teguh: jangan menginginkan janda orang lain, saudara, pembantu rumah, tetangga, teman dan sahabat karib, sebab hal itu akan mengejutkan orang lain dan akan memberimu cap jelek, dianggap jorok dan tak bisa dipercaya. Hindarilah empat cacat cela ini: 1) candu (opium, ganja, heroin, etc.); 2) judi; 3) mencuri; 4) komersial. Keempat hal itu sangat tercela dan barangsiapa melanggarnya takkan selamat hidupnya. Selain itu, janganlah suka mabuk, melacur, dan membeberkan rahasia kepada perempuan.

IX. Pucung

Hidup bersaudara hendaklah rukun. Janganlah seperti buah kluwak (nama tumbuhan yang buah mudanya bergerombol, tetapi setelah tua dan dipanen, mereka tersebar ke mana-mana dan jadi bumbu masak ikan pindang – juga bumbu rawon, black-soup, sejenis masakan khas jawatimuran – Ruhcitra).

Kesentosaan yang sejati adalah memiliki banyak saudara. Jangan membeda-bedakan antarsaudara sekadar usia mereka saja. Namun, hendaklah adil, berlaku baik dalam melayani dan mengurus mereka. Pujilah yang rajin dan bekerja dengan baik, sedangkan yang malas bekerja hendaklah diberi penjelasan tentang akibat dari kemalasannya. Sedangkan orang yang bukan sanak saudara yang mengikuti kita hendaknya juga dijaga agar mereka segan-hormat kepada kita.

Hendaklah kita luas dan dalam bagai samudera. Sebagai kakak tertua, kita harus memberikan nasihat yang jernih kepada yang lebih muda. Sebagai adik, kita harus takut dan tunduk kepada nasihat yang diberikan saudara tua. Nasihat yang baik dapat berubah menjadi buruk apabila kita hanya menuruti pikiran kita sendiri.

Apabila membaca buku cerita, janganlah tertarik pada keindahan bahasanya saja, tetapi ketahuilah pula kebaikan dan keburukan yang terkandung di dalamnya. Setelah itu, tirulah yang baik dan kajilah yang buruk. Dengan demikian kita dapat menilai dan mengetahui tentang ‘buruk’ dan ‘baik’ dan pengetahuan itu akan membawa kebaikan bagi kita.

X. Mijil

Ingatlah bahwa seorang ksatria haruslah bijaksana, berwatak sabar, terampil dalam segala pekerjaan yang dipercayakan kepadanya, berani bertanggung jawab dan keberanian itu sebaiknya tidak dipamerkan. Janganlah merasa tak puas pada nasib diri pribadi. Sikap pasrah bermakna ganda: 1) pasrah yang salah: orang bodoh yang pasrah akan kebodohannya, tak berkeinginan bertanya dan meniru yang baik; 2) pasrah yang benar: orang yang menghamba pada kehendak dan belas kasihan Tuhan.

Hamba seharusnya mengambil hati raja, lahir-batin merasa bahwa dirinya wajib berbakti kepadanya, takut dan tunduk pada segala perintahnya, karena begitulah kehendak Tuhan. Jangan ragu bertanya dan jangan malu menunjukkan kebodohanmu, sebab – kecuali nabi – tidak ada orang yang pandai tanpa belajar. Anak muda harus rajin ngelmu untuk dijadikan pegangan hidupnya. Lupa adalah wajar, tetapi orang yang ngelmu akan mudah mengingatnya kembali. Orang yang ngelmu pun memiliki kesabaran yang berbeda dengan yang tidak berilmu. Terlebih dulu belajarlah tentang syariat, sebab hal ini dipergunakan setiap hari dan penting sebagai wadah ngelmu.

XI. Asmaradana

Orang hidup di dunia sedapat mungkin menjalankan rukun Islam yang terdiri atas lima hal, patuh pada peraturan agamanya. Barangsiapa yang tak menjalaninya akan mendapat bala. Patuhlah pada sabda Tuhan melalui nabi Muhammad, sebagaimana disebut dalam dalil dan hadist.

Waspadalah, wahai anak-cucu, jangalah kalian mencintai hidup kalian, jangan tergiur keindahan dunia, siang dan malam ingatlah bahwa orang hidup di dunia itu pada akhirnya akan mati. Maka janganlah bertindak angkuh, bengis, lengus (kurang akrab), lanas, langar, lancang, calak, ladak, sumalonong, ngepak, siya-siya (tak memiliki rasa belas kasihan); jail, para-padu, para-wadulan (suka melaporkan demi mencari muka).

Senantiasa bertenggang rasalah. Apabila memerintah bawahan, perintahmu harus benar dan dapat dikerjakan oleh orang yang diberi perintah. Janganlah mentang-mentang memegang kekuasaan. Berusahalah agar anak buahmu segan dan hormat kepadamu. Pemimpin harus mengetahui bermacam-macam tugas pekerjaan. Dia harus dapat membagi pekerjaan pada anak buahnya masing-masing, dan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Hukumlah yang berbuat kesalahan sesuai dengan kesalahannya agar mereka tidak sebarangan lagi, sedangkan yang terus menerus bekerja dengan baik dan benar diberi hadiah secara merata.

Seorang hamba hendaklah bersyukur dalam hatinya. Siang dan malam hendaklah ia memohon kepada Tuhan agar negaranya selalu dianugerahi aman, tenteram dan kemuliaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan rakyat. Tunjukkanlah kesetiaan terhadap tugas, penyerahan hidup dan mati yang disertai rasa syukur, ikhlas dan puas karena takdirnya. Janganlah mengharapkan balas jasa.

Usahakanlah keamanan di desa sehingga orang desa tenang bekerja dan bertani. Bila demikian, maka yang mereka tanam dapat hidup lestari dan dengan sendirinya akan menambah pendapatan negara. Perintahlah mereka dengan kesabaran. Jangan diperberat. Apabila mengalami bencana atau menderita, bantulah mereka. Orang yang berbuat kebaikan kepada sesamanya tidak tercela.

Sekarang ini anak muda tidak mau mendengarkan nasihat. Mereka senang berbuat sebarangan dan tak berhati-hati, tak mau meniru yang baik. Akhirnya orangtua malas menasihati. Maka, sebaiknya anak muda tidak berlaku begitu. Kalau ada orang bercerita, dengarkanlah dan catatlah dalam hati. Yang baik patut diteladani, sedangkan yang buruk dibuang saja.

XII. Sinom

Orang yang luhur budinya tidak akan begitu saja mengambil kepandaian orang lain lalu menggunakannya untuk mencari untung bagi dirinya sendiri. Orang yang demikian tidak menonjolkan kepandaiannya. Sebaliknya ia tidak ragu menunjukkan kebodohannya dan rela dihina maupun dianggap bodoh oleh orang lain. Kendati demikian, Sinuhun Pakubawana mengaku sulit berbuat demikian walau sudah sejak kecil siang dan malam banyak menerima nasihat para leluhur dan membaca buku-buku.

Patuhilah nasihat, dan gunakan nasihat yang baik dari orangtua sebagai berkah. Janganlah mencela perilaku para leluhur karena mereka tirakat dan karenanya dapat menggapai cita-cita yang tinggi. Cepat atau lambat, orang yang memohon kepada Tuhan dengan bersungguh-sungguh akan mendapatkan yang diinginkannya karena Tuhan itu mahamurah dan senantiasa mengabulkan permohonan umatnya yang bersungguh-sungguh.

Buktinya, Ki Ageng Tarub yang terus menerus memohon kepada Tuhan pada akhirnya menerima anugerah-Nya melalui keturunannya dan berlanjut hingga kini. Mereka yang menjadi raja itu mendapatkan berkah dari laku tirakat para leluhur mereka. Maka kita wajib meniru perilaku leluhur, yaitu tirakat. Tentu saja semampu kita, ibarat hanya sepertiga atau seperempatnya, belajarlah menderita dalam saat bahagia, gembira dalam saat prihatin, dan prihatin dalam saat gembira, serta mati dalam saat hidup. Waspadalah terhadap wujud bersatunya kawula-Gusti, yang bulat bagaikan butir darah.

Hal itu perlambang jalan yang harus ditempuh apabila ingin mengetahui wujud bersatunya kawula-Gusti: lahir-batin harus bersih, jangan ada nafsu yang menempel, luamah dan amarah harus disingkirkan. Hanya dengan demikianlah kawula akan dapat bersatu dengan Gustinya. Ngelmu yang sejati harus dilaksanakan dengan serius, bisa mudah bisa sulit, bergantung pada keterbukaan hati untuk menerimanya.

Segala pekerjaan yang baik patut ditekuni dengan hati mantap. Jangan gampang bosan, karena lambat laun kita akan menemukan pola para leluhur tatkala memohon kepada Tuhan untuk menerima wahyu memerintah negara dan mereka menerima anugerah itu karena ketekunan mereka. Awalnya dengan dasar sikap merendahkan diri, menyamar sebagai rakyat biasa, bertapa sambil menjadi petani, meninggalkan sifat sombong, sifat suka memamerkan kekuatan dan sifat banyak omong. Begitulah hiasan pertapa yang menginginkan terkabulnya cita-cita yang tinggi.

Ada beberapa wasiat yang berupa sumpah leluhur yang wajib diketahui dan dipatuhi: Sumpah Ki Ageng Tarub, Sumpah Ki Ageng Sela, Sumpah Panembahan Senapati, Sumpang Kangjeng Sultan Agung Mataram, Sumpah Kangjeng Sunan Pakubuwana yang dimakamkan di Semarang, Sumpah Sunan Prabu Mangkurat, Sumpah Kangjeng Sinuhun Pakubuwana II, Sumpah Kangjeng Sinuhun Pakubuwana III, Larangan Sang Dananjaya, dan lain-lain yang berlaku bagi keturunan dan bersifat setempat.

XII. Girisa

Anak cucu, patuhilah nasihat dan pelajaran orangtua. Jangan selalu bersikap tak puas pada nasib diri yang sudah ditentukan, tinggi-rendah, sehat-sakit, bahagia-celaka, mati-hidup, umur pendek – umur panjang. Semuanya sudah digariskan oleh Tuhan dalam lochil-machfoel.

Bertanyalah kepada ulama yang sudah mengetahui makna dan isi Al Qur’an, atau kepada orang yang sempurna, yang banyak mengetahui ilmu ketuhanan berkaitan dengan ilmu jiwa. Bertanyalah kepada mereka tentang larangan Tuhan, keniscayaan wajib manusia, tatakrama, syariat: batal, haram, sunah, perlu. Semuanya kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bertanyalah kepada para sarjana (yang betul-betul sarjana) atau orangtua ahli sastra tentang tatakrama, unggah-ungguh basa (tingkat-tingkat bahasa), kejelasan tentang perbuatan yang hina, madya, utama. Hal itu menerangi hati serta dapat dijadikan pegangan hidup. Rajinlah membaca cerita-cerita kuna (klasik) agar tahu sejarah para leluhur, riwayat para pemberani, para wali, yaitu bagaimana cara mereka mendapat anugerah Tuhan, laku perbuatan dan darma bakti para ksatria.

Tanyakan kepada para orangtua bagaimana cara membedakan perbuatan hina dan utama, rendah-mulia, baik-buruk, agar kepandaian kita bertambah.

Serat diakhiri dengan doa pujian Sri Pakubuwana IV yang merasa dirinya sudah tua, ibarat matahari telah menggelincir ke ufuk barat, “telah dekat dengan waktu tenggelamnya daripada waktu terbitnya”, dengan harapan agar anak-cucu sadar dan sujud kepada Tuhan, memerhatikan nasihat yang baik, mematuhi petunjuk-petunjuk orangtua, baik lelaki maupun perempuan dalam keadaan bahagia di dunia dan akhirat, dijauhkan dari kesengsaraan dan kemelaratan, hidup rukun sesama saudara, kaya akan harta benda dan anak, selalu berkasih sayang, memiliki kepercayaan dalam batin dan dapat menangkap isyarat Tuhan, mengerti perbuatan baik dan buruk, buyarlah segala keinginan berbuat jahat, diberi kesadaran, ditunjukkan jalan yang benar, menjadi teladan bagi sesama, disegani dan disenangi anak buah, segala perintahnya dikerjakan, anak-cucu hidup enak dan dihormati orang, jauh dari incaran maksud jahat dan sering mendapat anugerah dari Tuhan.

Sumber: Tarjamah ing Basa Indonesia oleh Drs. Suripan Sadihutomo dalam Drs. Darusuprapta (1982). Serat Wulang Reh. Surabaya: CV Citra Jaya, Cap-capan kaping I. Bila berminat, jangan ragu mengunduh teks lengkap Wulang Reh (format PDF, 15 halaman A4).

3 Tanggapan

  1. Pamuji Rahayu..

    Mas Ruhcitra, kalau boleh aku minta teks lengkap Wulang Reh-nya (bhsa Jawa). Mohon maaf ngrepoti panjenengan lagi.. he..he..

    Salam Sejati,

    Agung

    Sumangga dipun unduh.🙂

  2. Sampun kula unduh Mas Ruhcitra… matur sembah nuwun.
    Salam saking tlatah kalimantan timur,

    Agung

    Sami-sami. Balikpapan, nggih?🙂

  3. maturnuwun sanget kang mas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: