• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Januari 2009
    S S R K J S M
    « Des   Feb »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Javanese Sex Education

loroblonyo-javaheritagecomSeks selalu menarik perhatian. Tidak ada yang tak percaya jika katakunci seks dan yang berkaitan dengannya selalu disebut menempati peringkat tertinggi mesin pencari internet yang mana pun. Dari hal yang sangat serius, ilmiah, hingga yang bersifat humor apalagi yang melulu cabul, tema ini paling banyak dicari orang, baik yang sedang serius belajar dan terutama yang sedang iseng dan atau punya waktu luang yang berlimpah maupun yang sekadar (sedang) kecanduan tema seks.

Seks juga bisa membingungkan sekaligus menggelikan. Bisa dimaklumi bila seorang ayah sontak khawatir ketika putrinya yang masih kelas I Sekolah Dasar bertanya: “Ayah, sex itu apa sih?” Karena memandang sex-education sebagai keniscayaan hidup di dunia modern sekaligus tanggung jawab ‘memelihara’ putrinya, sang ayah mengerahkan segenap kemampuan sekaligus kewaspadaannya guna menjawab pertanyaan si putri yang tiba-tiba mengejutkannya.

Mendengar penjelasan ayahnya yang panjang lebar dan istilah-istilah yang baru sekali itu didengarnya, si putri mengeluh: “Yah … Ayah, jangan panjang-panjang dong … Terus, apa yang harus Putri tulis di sini?” sambil menunjukkan buku tulis pembagian dari sekolah yang sampulnya berlabel: Name, Sex, Class, Subject.

Seks kadang-kadang juga jadi tema atau subtema nasihat. Dalam pesta perkawinan adat Jawa, sebagai contoh, biasanya ada ular-ular, nasihat perkawinan yang disampaikan oleh seorang ulama dan atau seorang yang dituakan. Mungkin karena penyelenggaraan adat perkawinan selengkapnya itu ribet, memakan waktu lama (sekaligus ongkos dan ‘pengorbanan’ yang lebih besar), dan sebagainya … termasuk semakin langka pula orang yang pantas dituakan (benar-benar ahli perkawinan, bukan ‘tukang kawin’) dan tidak hanya pandai nyerempet (supaya tidak bikin hadirin mpet) tanpa pernah berani masuk ke kedalaman nilai butir-butir nasihatnya🙂 sekarang ini jarang sekali ada calon pengantin yang menginginkan perhelatan pernikahan mereka dirayakan dalam adat leluhur selengkapnya.

Semua ingin serba praktis, pragmatis dan kalau bisa – di tengah krisis ini – sekaligus ekonomis. Yang penting semua yang diharapkan datang sudi hadir memberikan doa dan ‘restu’. Acara resmi bertajuk tak resmi SMP (Sudah Makan Pulang) atau SMA (Sudah Makan Amblas) saja sudah melelahkan apabila yang hadir sangat banyak karena sungkan kepada yang dicantumkan dalam undangan sebagai ‘yang turut mengundang’. Datang, salaman, cipika-cipiki (padahal tak kenal!), makan, bubar. Pengantin pun ingin segera mengakhiri acara resmi dan beracara sendiri, saresmi. Berdua saja. Sangat mungkin, serupa saja nuansanya dengan acara resepsinya. Capek tauk!

Gereja Katolik di Indonesia, selain mengadakan penyelidikan kanonik (penyelidikan yang diadakan Gereja untuk meyakinkan para calon dan Gereja sendiri bahwa perkawinan itu tak berhalangan untuk disahkan berdasarkan hukum Gereja Katolik) terhadap sepasang kekasih yang akan menikah secara Katolik, juga menyelenggarakan ‘kursus perkawinan’ yang wajib diikuti para calon pengantin. Di dalam kursus itu mereka belajar bagaimana menghayati hidup perkawinan dan memahami tanggung jawab besar yang mereka sandang dalam kebersamaan sebagai prokreator. Sex-education biasanya diberikan oleh seorang dokter atau tim yang terdiri dari pasutri (pasangan suami istri) tua yang dipandang patut diteladani, ahli hukum moral, dan lain-lain.

Namun, pada umumnya, baik ular-ular dalam pesta perkawinan maupun ‘kursus’ semacam itu tidak membahas detil peran pasutri sebagai prokreator dalam melanjutkan keturunan mereka. Barangkali, para calon pengantin sudah dianggap ‘dewasa’ secara biopsikologis sehingga pembahasan yang demikian biasanya dihindari. Juga, bukankah sekarang ini setiap orang bisa mendapatkan sex-education di mana pun, dari apa/ siapa pun, dan kapan pun? Dan … bukankah sebagian dari kita cenderung menahan diri untuk membicarakannya secara terbuka kendati ingin?🙂

Anak-anak SD pun sekarang sudah diberi pendidikan seks. Upaya itu semestinya dipandang positif bukan sekadar untuk menghindarkan mereka dari pengetahuan yang salah tentang seks, apalagi sekadar mengampanyekan seks yang ‘sehat’ dengan menayangkan gambar-gambar yang mengerikan tentang akibat seks yang ‘tidak sehat’. Dimaklumi, alangkah sulitnya menyusun ‘kurikulum seks’  yang sesuai dengan psikologi perkembangan pebelajarnya!

Mengandaikan kedewasaan pencari tema ini, saya memetik teks berikut dari catatan tambahan dalam buku R.M. Soewandi (tt). Falsafah Centhini. Solo: Toko Buku “Sadu Budi”. Semula terbit keinginan saya untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia agar dapat lebih mudah dipahami oleh siapa saja yang kebetulan tertarik pada artikel ini. Tapi, saya segera disadarkan oleh ketidakmampuan saya sendiri dan kekhawatiran bahwa terjemahannya justru bisa menjadikan tema naskah ini terbaca cabul (sebab saya tergolong yang merasa ngeri, eh, geli pada definisi yang digunakan UU Pornografi), kendati sesungguhnya saya selalu melihatnya sebagai ‘pembelajaran’ yang sangat berguna dalam bahasa yang wajar saja. Begitulah, saya mengagumi kelenturan bahasa Jawa … yang tetap indah tatkala digunakan untuk melukiskan anatomi tubuh (bahkan organ seks), teknik ‘bikin anak’ yang berkualitas baik, termasuk bagaimana mengeksplorasi kenikmatan yang memberikan manfaat bagi lelaki-perempuan dalam senggama yang bertujuan prokreatif dan bahkan … pembatalannya yang juga bertujuan baik sekaligus meminimalisasi kekecewaan kedua belah pihak.

Sungguh, pengetahuan yang semacam ini – dipercaya atau tidak – pastilah bermanfaat bagi para pasutri yang menginginkan anak-anak mereka berkualitas warga negara Indonesia sekaligus warga dunia yang baik. Semoga posting ini bermanfaat.

Untuk memahaminya, yang sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa – bahkan ngoko, ragam bahasa yang digunakan penulis teks ini – saya persilakan bertanya kepada teman yang sehari-harinya berbahasa Jawa atau yang pernah belajar bahasa Jawa di SD dan SMP. Agaknya, sedikit pemahaman saja cukuplah untuk menimba pengetahuan yang disampaikan penulis teks ini. Sex-education selengkap ini (biopsikospiritual dalam terang nuansa filsafat Jawa) terlalu sayang diabaikan. Tetapi juga dimaklumi: memikirkannya buang waktu saja. Sex-education? Sudah ‘kenyang’. Sekarang praktiknya. Naluri sudah bicara tentangnya secara berbeda! Benarkah?

Bab Lakune Nitisake Wijining Dumadi Murih Tumuruning Wiji Kang Becik

Amratelakake lakune nitisake wijining dumadi, nyumurupi wewijangane wiji lan peprincening piranti. Mungguh lakune nitisake wijining dumadi, iku ana petang prakara, iya iku: lila, narima, temen, utama.

  1. Lila, iya iku wong priya kudu lila yen kelonglongan, ing kene karepe nuruti panjaluke rabine, amarga panjaluk mau, yen kapiturutan, dadine rabine banjur dhemen marang lakine, ing wusana bisa mantep.
  2. Narima, iya iku wong priya kudu narima marang suka-pirenaning rabine (kang arupa leladi saka rabine), amarga ing atase laden iku yen katarima, tegese katampa kalayan seneng, mesti bakal gawe legane kang leladi, ing wusana dadi madhep lan sregep.
  3. Temen, iya iku wong priya kudu nuhoni ing semayan utawa sesanggeman, amarga manawa netepi ing janji, iku bisa mahanani katresnan, ing wusana dadi kedep.
  4. Utama, iya iku wong priya kudu demen ngapura marang kaluputane rabine, amarga dadi wong priya iku manawa sabar demen ngapura marang kaluputan kang remeh-remeh, iku bakal mahanani tumemening rabine, ing wusana dadi gelem labuh.

Ana dene nyumurupi wewijangane wiji, iku kudu ngreti marang lakuning wektu karon-sih, dene lakune karon-sih iku uga ana petang prakara, iya iku: eneng, ening, awas, eling.

  1. Eneng, iya iku wektu karon-sih atine kudu eneng (menep), dene paedahe bisa suwe wetuning rahsa, lan gawe kandeling wiji,. Amarga ati kang menep mau bisa ngenthelake wiji (jiwa), kentheling jiwa bisa mahanani kandeling wiji, ing wusana dadining anak ing tembe bisa dawa umure.
  2. Ening, iya iku atine kudu ening, dene paedahe bisa nikmat rasane lan manfaat. Amarga kaweningan mau bisa gawe weninging wiji (tetep trimurti), wiji kang tetep trimurti mau ing wiji ala apa becik, dene panengerane wujud cahya kaya kawasa.
  3. Awas, iya iku kudu mulat kedep-liringing rabine, wektu karon-sih, kendho apa mempeng, utawa ngulatake tumitising wiji ala apa becik, dene panengerane wujud cahya kaya kang wis kapratelakake ing dhuwur.
  4. Eling, iya iku aja mikir liya-liyane, kajaba eling yen wektu iku lagi nitisake wiji, mula yen rabine semu kendho ing karon-sih, wajib eling, manawa durung binuka bakuning rasa, tumuli duweya osik sumedya mbuka kadatoning rahsa, supaya rabine mau gumregut rasane, lan maneh yen nyumurupi cahyaning wiji ala kang bakal tumitis, banjur enggal-enggal bisa nglebur sarana laku nusupake utawa mutahake menyang ing jaba. Dene manawa uninga wiji becik kang bakal tumitis, iya banjur bisa mrenahake ing papan samestine.

Mungguh tuwuhing rasa iku jalarane ana loro prakara, iya iku: marahi lan meruhi.

  1. Marahi, iya iku sadurunge tumindak karon-sih, kang priya miwitana mbuka rasa sarana kekembangan saprayogane, dene paedahe bisa mempengake atining rabine, yen wis katon mempeng rabine tumuli tumindaka karon-sih, iku rabine saka katuju karepe dadine banjur lega kanti suka rena. Mula sadurunge karon-sih luwih dhisik mangsetiya tumuruning wiji kang becik (teteping trimurti), kapantenga ana ing cipta.
  2. Meruhi, iya iku aja nganti nerak wewalere, nanging malah mbumbonana kang prayoga. Dene wewaler iku: nyumurupi wewadining wanodya lan wewadining wiji. Kang diarani wadi mau katerangane mangkene: bab kang diarani tumindak rusuh, iya iku rusuh arep nyumurupi marang wewadining wanodya. Dene kang diarani elok, iya iku arep nyumurupi wewadining wiji.

Dene wadining wanodya bakuning rasa, iku wijang-wijange mangkene: ing sajroning baga iku ana kulite alus sarta sangisoring batuk baga ing jero uga ana kulite kang diarani daging song, song mau gedene pada lan batuking baga, mangisoring song ana urate loro (diarani purana), urat iku lengket ing semu katone mung siji, iya iku kang minangka let-letan banyu telung warna, iya iku: satengening urat iku dalan banyu sene, sakiwane urat iku dalan banyu suker (getih), mung tengahing urat loro mau iku dalaning banyu rahsa pita (kama). Dene urat loro iku ing dhuwur gathuk karo song, terusane anjog ing lawang kadatoning rahsa, lawang mau ngrukubi Sang Hyang Kamajaya (uwel), kang diarani uwel iku lawang kekandhanganing jabang bayi, wujude mung bening kaya kaca.

Mungguh kahanane song mau iya iku poking rasa, amarga samasa kagosok (kagepok) banjur mekrok, kaya dene kewan kintel saben kagepok banjur mlembung, mekroking song mau jalaran saka rasa keri, yen wis krasa keri iku bisa narik rosaning rasa nikmat. Dene lawang yen wis menga banjur kawawa nduwa, uwel, iya iku narik kekandhanganing bebayi. Kekandhanganing bayi mau yen nganti nyaut utawa nadhahi kamaning priya, iku adate tumrap wanodya awake mesti banjur krasa keri, gumriminging rasa temahan dadi cape (marlupa).

Saiki mratelakake kekandhanganing bebayi, mungguh wewijangane mangkene: ing sadurunge kaisenan wiji saka wong priya, kekandhangan mau wujude isih kimpes, sarta mawa urat dumunung ing pucuk minangka gantilan. Urat mau ana loro, kang siji urat urut-urutane kang anjog ing jantung, dene sijine urat urut-urutane kang anjog ing wadhuk.

Urat kang anjog ing wadhuk iku kasamadan dening genining manusa kang arane Yitnamaya. Geni mau gedhene mung samrica, iya iku kang kawawa matengi pangan sajroning wadhuk, sarta kawawa nyepuhi wiji kang wis ngumandhang ing kekandhanganing bayi. Kandhang bayi iku manawa panyaute bener ora luput, nganti bisa ngamedi pucuking pasta-purasa (ngepuh kam), ing mangka kapinujon kasusupan wiji, iku banjur bisa kalebon mani, dene mani kang wis kumpul lawan wiji ana sajroning kandhang kono, iku mratandhani yen wiji bakal dadi, mula wong wanodya banjur ngandheg.

Ing sajroning ngandheg, upama kinaron-sih ing priya liyane iku wis ora bisa kasusulan wiji kang dadi maneh, kajaba kang nitis sapisan mau. Yen kurang pracaya katerangane kene ginawe kosok bali, kang minangka tandha seksine iya iku bapa manawa wis mati kajupuka balunge, anak kang isih urip kairisa wetokna getihe katetesna ing bebalunging bapa mau, mesti getihing anak banjur amblas (kasesep), manawa dudu getihing anak dhewe iku mesti ora kasesep (ora ambles ing bebalung).

Ambaleni wiji kang wis ngumandhang ing kekandhangan, ing kono mani saya suwe saya tambah matimbun-timbun, yen wis kebak banjur malembung. Yitnamaya urube saya banget, sasuwene kasalad urubing Yitnamaya wusanane banjur kenthel, samasa wis kenthel banjur kumulit, yen wis kumulit banjur gana, nanging isih kakum ing banyu. Sajroning gana kakum ing banyu, iku banjur nurut bolonganing urat kang gandeng karo wadhuk. Mungguh kumambanging gana iku kaya dene banyu kang dumunung ing godhong lumbu.

Sawise mangkono gana banjur gatra kaya pepukiran ing manusa, gatra mau saya suwe saya mundhak gedhe lan mundhak kekuwatane, ing kono banyu kang kakuman gana banjur njendhel, jendhelaning banyu uga banjur mundhak sumaring maneh, ampase pada kelet ing kuliting bayi, dene sarine dadi kawah. Mula pepelinge wong tuwa-tuwa, tumrap wong wanodya kang ngandhut lagi masane gana, iku aja sok ngajangake solah-bawaning raga, awit manawa kepleseting wiji, iku bisa njalari gagar (kluron).

Samengko genti mratelakake wewadi wadining wiji ing nalika arep tumitis, sajatine sengseming atining bapa kang ketarik dening dayaning wiji mau mangkene: Manawa arep nitisake wiji iku kang luwih dhisik manuksma ana ing utek, lebuning wiji nurut lebuning napas, tumuli nuksma ana ing panon, banjur manggon ana ing pramana, ing kono wis kawawa narik maya (sengseming ati sakaloron bapa lan biyung), temahan kelakon karon-sih iku wiji banjur manuksma ana ing rasa, dene tumibane ing biyung iku mbarengi wetune rahsaning bapa, kang banjur katampan ing papane.

Lakuning wiji mau miturut wetuning swasana, ing kono banjur tempuk karo metuning rahsa (mani) banjur kacatok dening kandhangan, sawise mangkono wiji tumuli tumempel, ing kono kudrating Pangeran wis ora owah maneh, tumrap kadadiyane bocah ing tembe, lelakone sarta wewatekane, miturut tanceping cipta sarta rasaning karep wektu pepasihan, ana kang minangka tandha-yektine, iya iku wujuding rupa mesti mirib (memper) bapa lan biyung, sabab wektu sih-sinihan sisi lan sijien tunggal padha nancepake katresnan, kaya rahsa narik jiwa, mula anak iku uga kena sinebut layanganing jiwa, dadi wis tetela tanceping warna kang ana ing cipta iku mahanani warna, rahsaning karsa lan greneking cipta mahanani wewatekan lan lelakon, mula iya ana paribasan: Kacang manut lanjaran. Utawa: Ora ana banyu mili mandhuwur. Kang mesthi banyu mili mangisor. Karepe bebasan iku mangkene: Rupaning anak iku mesthi mirib wong-tuwane.

Samengko mratelakake wewijangane wiji kang katarik saka dayaning bapa, ing nalika lebuning wiji mbarengi lebuning napas, nuli sumimpen ana ing utek, banjur rembes marang panon. Kang diarani panon iku banyu sari iya sarining utek, pamanggone sajroning manik. Sawise wiji ana ing kono kawawa manuksma ing pramana sarta kawawa amor sarasa, rasaning pramana ndayani tunggal karep, yen wis nunggal garepe wiji narik daya surenging karon-sih, mangkono iku manawa cinegah dadi paedah, yen linantur dadi batur.

Tegese: Sing sapa nuju kasusupan wiji, mangka bisa nanggulangi karepe iku sayekti bakal tambah muncaring cahyane lan padhanging pamwas, dene yen tinurutan bakal kawawa mahanani anak, dadi tetela wijining anak iku manut empaning cipta, sarta urubing pramana minangka bahu (nguled), bumbu yen wis kauled ing bahu banjur kumpul, dene matenge saka daya Yitnamayaning biyung, dadi matenging panganan mau jenenge wis mapan, mulane mangkono, amarga urubing pramana iku manut mapaning cipta.

Terange mangkene. Saupama tanceping cipta welas asih, urubing pramana sarta wiji mesthi maya-maya, iku mahanani wewatekaning anak ing tembe linulutan ing sapada-pada, sarta jatmika alus ing budi, nanging kurang lantip ing panggraita.

Saupama tanceping cipta matutuk rumasa kabeneran ing sapolah-polahe, urubing pramana sarta wiji mesthi biru muyek marakata, iku mahanani wewatekane anak ing tembe bodho ing budi, nanging becik atine.

Saupama tanceping cipta kadereng ing kabudayan, urubing pramana sarta wiji mesthi warna abang mbaranang mblerengi, iku mahanani wewatekane anak ing tembe landhep ing panggraita sarta berbudi, nanging getapan sarta panas baranan.

Saupama tanceping cipta drengki, urubing pramana sarta wiji mesthi warna dadhu bureng marakata, iku mahanani wewatekane anak ing tembe culika, ndaluya, dora-cara, kang mangkono iku adate sok kataman lara owah (gingsir).

Saupama tanceping cipta kang lagi nungkul ing puja brata, mangke katarima, urubing pramana sarta wiji mesthi warna ijo nom mancur maya-maya, iku mahanani wewatekane anak ing tembe demen ngapura ambek paramarta, sarta wicaksana, kang mangkono iku adat sok bisa kasinungan darajat kawiryan.

Mungguh kang kasebut ing dhuwur kabeh mau, tumrap ala beciking wiji. Dene kandel-tipising wiji iku manut wancining karon-sih, nalika terangke mangkene: Yen wanci awan, wijine tipis, sabab ing wanci mau pramana nedhenge amer. Yen wanci bengi, wijine kandel, sabab ing wanci mau pramana nedhenge kenthel. Mulane sabisa-bisa manawa karon-sih, miliha wanci lingsir wengi tumekaning bangun esuk, iku wijine mesthi kandel kang njalari dawa umure.

Kapriye carane nyumurupi wujuding wiji, sarehne wiji iku bangsaning alus, dadi enggone nyumurupi iya sarana alusing pandulu. Kang diarani alusing pandulu iku ana limang prakara, iya iku saka beninging ati, sirnaning kekarepan, sarehing pangganda, lereming pancadriya, jatmikaning solah bawa. Yen wis bisa netepi laku limang prakara iku, lagi bisa nyumurupi wiji kang sawantahe.

Bab panengeraning wiji

Tumrap panengeraning wiji, iku kena disumurupi, mungguh beda-bedaning wiji lanang utawa wiji wadon, bakal dadining anak, wantu utawa kembar, apa dene dhampit. Terange mangkene: Yen wiwit arep karon-sih ngawasna lakuning napas, manawa lakuning (metuning) napas santer ing lenging irung kang tengen, iku mratandhani cumitaking wiji ana ing panon kiwa, iya iku pratandha wiji lanang.

Manawa napas santer ing lenging irung kang kiwa, iku mratandhani cumitaking wiji ana ing panon tengen, iya iku pratandha wiji wadon. Manawa napas santer ing lenging irung loro pisan (padha santere), iku mratandhani cumitaking wiji ana ing tengah-tengahing panon (manon), iya iku pratandha wiji wandu. Manawa eninging cipta rong pandurat suwene, iku bisa narik wiji loro, nalika karon-sih greget-santing sakarone tempuk (padha karepe), iku bakal mahanani anak kembar utawa dhampit. Nanging manawa kembar wijine cumitaking panon kang sasisih, yen dhampit wijine cumitaking panon kang kiwa tengen.

Lan maneh kanggo panengeran sawise wiji tumiba ing biyung, manawa bakal dadi lanang sang bapa katara swatata, anadene yen bakal dadi dhampit sakarone mempeng (padha andrenge) ing swatata.

Ing dalem layang Pangracutan amratelakake kawruh kang aran: Sajatining Lanang lan Sajatining Wadon, iku genahe mangkene:

Kang ingaranan roh Idlafi, iku rohing wadon, nanging dumunung ana ing lanang. Sajatining wadon iku roh Kudus mulya, nanging rohing lanang, mapan ing wadon, kang mahasucekake ing jinem, padha mapan sajroninng junup, mula kawasa anuwuhake karkat dhewe-dhewe, amarga rohing wadon kaango lanang, rohing lanang kaanggo wadon, dadi saka anggone arep narik rohe dhewe-dhewe, ing wekasan aliru lambang sari padha carane, temah kawasa anganakake sifat, mula ingaran sanggama, tegese benering sawiji balaka, utawa saresmi, pikarepe campuring sari wor syuh dadi padha mareme, awit kasamadan dening Dzat-ing Pangeran Kang Amahasuci, anggone arep cumitak warnaning bapa-babu, mula kang pancen waskita marang rahsaning karon-sih, yekti bisa angarani sadurunge kababar.

  1. Kaya ta, ing dalem salapan dina, sakaloron mau kang anduweni kumenyut dhisik sapa, saupama wanodya kang ngrasakake kangen dhisik marang priyane, tumekaning kalakon anitisake wiji yekti bakal lair putra priya.
  2. Kaya ta, kang anduweni kumenyut dhisik kang priya, kangen marang rabine, tumekani nitisake wiji, sayektine bakal lair putra wanita, ananging kudu banjur ditimbangi careme, supaya sakaro-karone atunggal, awit manawa kurang dhauping cipta, rasane bakal sulaya, sanadyan bakal tumuwuh ing tembe wijine anduweni cacad, mungguh wujuding cacad iku warna-warna.
    • Manawa ana lelabet cuwaning panggalih, kurang sarujuking saresmi mau, tembene anumusi wewatekaning putra kerep kacuwan ati, tarkadhang nandhang susah ing uripe;
    • Manawa ing dalem saresmi mau anduweni ngeres ing panggalih semu duka, nanging ora kawedhar, ing tembe wijine kalabetan watak sugih napsu hawa, tarkadhang tiwas uripe.
    • Manawa salah sawiji ing dalem arep ngangkat saresmi, ana kang duwe ati sisip sathithik, ing tembe uga tumus wewatekaning putra, yen kang sisip kang wanodya, tumus marang wiji priya, manawa kang sisip kang priya, tumus marang wewatekaning wiji wanita, kabeh iku kalebu paniitihan, ing dalem salapan dina iku wajib katitika titikaning cipta, sarta rasa pangrasa ing dalem salapan dina mau, mula bayi lair iku angetung salapanan, manawa wis tumeka sataun aran bocah tawa lare, tegese kuwat, mula banjur angetung taun.

      Saka wasiyat dhawuh wewelinge Kangjeng Susuhunan ing Kalijaga, prakara panitikan ora kena sembrana ngarah apa, malah ing sabisa-bisa angestiya peta, tegese ing dalem karkat mau bisaa banjur tampa-tinampaning cipta sasmita, dadi aran sakaroning atunggal, sarta kudu suci supaya becik tumusane, utawa bisaa pasang gelaring salulut, tegese kang wanodya aja nganti liya pancipta pangalembana marang priyane, sanadyan priyane iya anyiptaa marang wanodyane, aja angrasakake liya-liyane, iya iku wiji sajati premati.

      Sawenehing wong sajroning saresmi karo bojo, ora mawa pepantengan sakaroning atunggal, malah anduweni liya panyipta, tarkadhang anggagas kasenengane dhewe, kang mangkono iku upama bisa dadi wiji, sok ambilaheni wong tuwa, iya iku kang ingaran anak agawe rusak, yoga karya rengkaning praja.

      Dene prataping wong ajejodon mau, bisaa cadhang-cinadhang, tegese wajibing wanodya ora kena adreng ing panedya kudu dianggo wadi, priya iku wewenange angon cipta-sasmitaning wanodya, sakira ing dalem sadina kono ora ana sebab apa-apa, tanpa labet susah, apa dene sepi pakewuh, iku tandha yen Pangeran Kang Amahasuci anggone bakal nitahake wiji, wiji ing sasama, iya iku jatining Trimurti, akeh kang dadi anak anung angungkuli bapa. Sanadyan para luhur manawa kabeneran pakartining budi, kalayan nastiti, yekti bisa dadi. Dene kang agawe rusaking nagara, iya saka kurang saranta, temahane kurang prayoga lelegetaning ngaurip.

      Bab pangleburing wiji ala

      Sanadyan wis bisa narik wiji, ing mangka wiji kang sumurup mau wiji ala, iku uga kena dilebur sadurunge dadi wiji kang dumadi. Dene pratikele mangkene: ing sajrone karon-sih among ulahing swatata, manawa duwe niyat arep nurunake wiji, lan maneh ilafating wiji kang bakal tumiba kurang becik, mangka sajroning ulah swatata sem-ing karsa mau, utawa sajroning karon-sih nalika lagi kadereng kadhesek mempenging karep, iku kasurehna, aja kabacutake, ora-orane iya kagaweya gela utawa kemba, iya iku saran wudharing rahsa kasilipna mangisor utawa kawutahna ing sajabaning lawang. Sarana mangkono adate wiji ora bisa dadi amarga ora bisa katampan ing wadhahe ing wasana gagar utawa sonya.

      Satu Tanggapan

      1. Salut,
        sudah saya klik, baru baca sebagian. Bahasa Jawanya tinggi “tenan,” macane ndrudug-ndrudug. Nanti kalau udah baca lengkap baru berani beri koment lebih panjang. Tapi yang ini merupakan dorongan hati yang kagum dan pengen cepat menghargai karya yang indah. GBU

      Tinggalkan Balasan

      Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

      Logo WordPress.com

      You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

      Gambar Twitter

      You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

      Foto Facebook

      You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

      Foto Google+

      You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

      Connecting to %s

      %d blogger menyukai ini: