• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Februari 2009
    S S R K J S M
    « Jan   Mar »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Investasi dan Biang Keladi Krisis Keuangan

capsNegara-negara di seluruh dunia menyiasati krisis perekonomian global dengan berbagai langkah yang bersifat nasional, regional maupun internasional. Bagaimana orang perorang menyiasati krisis keuangan? Yang tegar dan tetap berusaha ‘waras’ di tengah badai krisis yang mendera tak berhenti memikirkan dan melaksanakan aneka upaya untuk dapat survive dan mengatasi krisis keuangan pribadi dan atau keluarganya. Di antara mereka yang tak mampu berpikir panjang ketika terbelit kesulitan ada yang memilih mengakhiri hidupnya. Orang yang demikian mungkin tak dapat lagi memandang kehidupannya sebagai anugerah yang wajib dikembangkan, melainkan tak lebih dari sekadar siksaan yang tak tertahankan.

Tentu saja tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengritik mereka yang telah memilih ‘bebas’ dari tekanan dengan cara yang sedemikian mengenaskan, karena ada banyak faktor yang memengaruhi pilihan seseorang tentang hidupnya sendiri. Kemiskinan dalam arti sempit maupun luas, termasuk ketidakpedulian orang lain terhadap penderitaan sesamanya hanyalah salah satu faktor yang multidimensional pula sifatnya. Selain faktor internal, ada juga faktor eksternal. Apabila seseorang mampu mengatasi faktor internal, belum tentu ia sekaligus juga mampu mengatasi faktor eksternal yang memengaruhi pilihannya. Begitu pula sebaliknya. Apalagi, keputusan yang sudah terlanjur dilaksanakan tak bisa diralat.

Padahal, krisis keuangan tak hanya menyerang pada saat krisis perekonomian global seperti sekarang, melainkan bisa setiap saat bak tamu yang tak diundang. Yang diserang pun tak hanya yang benar-benar miskin. Padahal, yang sudah terbiasa berpola hidup sederhana kadang-kadang justru lebih tegar dalam menghadapi krisis ketimbang orang yang relatif biasa tercukupi segala kebutuhannya. Sebuah sigi (A.C. Nielsen dan Citibank, 2004) yang dilakukan terhadap para manajer profesional, eksekutif dan pebisnis Indonesia berpenghasilan Rp 15,2 – Rp 20,7 juta perbulan menggambarkan fenomena yang mengejutkan. Ternyata, kemiskinan mengintai 80% di antara mereka yang memiliki penghasilan sebesar itu. Pastilah tak seorang pun di antara mereka yang berencana gagal. Barangkali mereka justru gagal membuat rencana. Bila demikian, alangkah sayangnya!

versusMenabung adalah cara terbaik untuk mempersiapkan ketahanan pribadi dan keluarga ketika krisis datang. Orang yang rajin menabung agaknya menyadari  keniscayaan gejala alamiah yang tergambar di sebelah. Tetapi, tabungan konvensional juga tidak menjamin ketenteraman ketika suku bunga bank terus merosot dan atau bila inflasi terus membubung tinggi. Para ahli perencanaan keuangan keluarga menganjurkan diversifikasi portofolio investasi guna memperkecil risiko merugi tatkala fluktuasi instrumen-instrumen investasi semakin mendebarkan jantung mereka yang menaruh semua telurnya dalam satu keranjang saja. Mereka juga menyarankan agar sebelum menginvestasikan uang, sebaiknya kita menjadikan pengetahuan sebagai investasi yang terus dikembangsuburkan dalam diri kita terlebih dulu.

Biang keladi krisis keuangan

Apa sajakah biang keladi krisis keuangan kita pada umumnya? Berikut diuraikan empat di antara banyak sekali biang keladi krisis keuangan yang bisa melanda siapa pun dalam keseharian hidup kita. Yang pertama adalah inflasi (inflation). Kalau kita berharap suatu saat nanti dapat membeli satu unit mobil yang sekarang harga barunya sekitar Rp 100.000.000,oo sedangkan uang kita di bank baru terkumpul separuhnya, maka harapan itu tidak cukup realistik. Tingkat inflasi yang jauh melampaui suku bunga bank takkan terkejar oleh jumlah uang yang kita miliki. Harga yang sekarang akan terus terkoreksi bersama dengan terkoreksinya nilai uang kita di masa depan. Ketidakmampuan meredam laju inflasi di sebalik berbagai upaya yang sekadar menghibur bahkan pernah disebut sebagai sebab terjadinya ‘pemiskinan terstruktur’.

Yang kedua adalah pajak (taxes). Sebagaimana diketahui, Ditjen Pajak mengeluarkan dana yang sangat besar untuk menyasar para calon wajib pajak dengan mengirimi mereka NPWP tanpa diminta dan membuka kantor hingga larut malam guna melayani masyarakat. Apa pun tujuan positifnya yang layak didukung oleh setiap warga negara, di sebalik upaya itu terdapat tuntutan eksternal bagi setiap warga negara yang berpenghasilan untuk menyisihkan sebagian penghasilannya bagi upaya kolektif penyelenggaraan negara. Perkara apakah ‘sumbangan rakyat’ itu terwujud dalam pelayanan negara yang semakin adil dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia atau tidak, tampaknya masih jauh dari pengawasan para pembayar pajak. Yang jelas tampak justru sebaliknya. Infrastruktur di seluruh negeri yang tak kunjung semakin baik ketika jumlah wajib pajak dan obyek pajak semakin banyak adalah salah satu ironi penyelenggaraan negara kita.

Yang ketiga adalah kebiasaan menunda (procrastination). Repotnya, jarang di antara kita mau mengakuinya sebagai salah satu kelemahan. Memang, sebagian orang menyadari bahwa sesungguhnya investasi pun adalah penundaan: menunda sebagian kenikmatan yang bisa dinikmati sekarang untuk memperoleh imbal hasil yang maksimal guna dinikmati di masa depan. Namun, kalau bisa menikmati hidup di sini dan sekarang, mengapa harus menunggu besok? Bukankah hari ini punya hari ini dan hari esok itu soal nanti? Yang keempat – merupakan sisi lain dari matauang yang sama dengan yang ketiga – adalah kebiasaan menghabiskan (spending habits). Ini pun sering mendapat excuses sehingga terus dilakukan dan biasanya baru akan disesali di kemudian hari.

Inflasi dan pajak adalah dua faktor eksternal yang berada di luar kendali pribadi kita. Undangan yang datang tiba-tiba dan berjumlah banyak dalam rentang waktu bersamaan bisa membuat persediaan uang bulanan kita pun langsung menyusut. Demikian pula aneka ‘retribusi’, sumbangan maupun pungli yang tak jelas peruntukannya, tak jarang juga merupakan gangguan yang tak terelakkan ketika pembayarannya merupakan kewajiban guna mendapatkan pelayanan tertentu. Sedangkan faktor ketiga dan keempat – yang ada dalam ruang kendali pribadi kita – semestinya menjadi lampu kuning yang mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya untuk dan selesai hari ini juga.

Berinvestasi sejak muda, bersahabat dengan waktu

Penundaan dan kebiasaan menghabiskan dengan sendirinya merupakan kendala untuk belajar berinvestasi sejak dini. Padahal, investasi yang dimulai sejak usia muda melatih kedisiplinan dan penghargaan terhadap anugerah hidup. Berinvestasi sejak dini tidak berarti pelit terhadap diri sendiri dan atau merendahkan kualitas hidup yang sewajarnya bisa dinikmati. Tabel perbandingan Investor A dan Investor B berikut barangkali akan mengingatkan Anda akan pentingnya berinvestasi sejak muda sehingga dapat menikmati hasilnya (ketika masih) dalam masa produktif dan masa tua.

investor

Instrumen investasi

Ada banyak instrumen investasi. Tetapi salah satu kunci berinvestasi adalah memilih instrumen investasi yang memberikan imbal hasil yang mengatasi persentase laju inflasi, relatif aman dan tak merepotkan. Transaction motive mendorong kita untuk menabung di bank yang memberikan fasilitas kelancaran dan keamanan bertransaksi sehari-hari. Namun, bank tidak memberikan bunga yang mengembangkan simpanan kita. Demikian pula simpanan dalam deposito sebagai perwujudan precautionary motive (motif berjaga-jaga terhadap kebutuhan darurat). Investment motive (motif berinvestasi) mengandaikan pemilihan instrumen investasi yang dapat diharapkan keuntungannya secara maksimal untuk dinikmati di masa mendatang. Tabel berikut hanya menampilkan empat pilihan: menabung di bank/ deposito, pemilikan properti, terus bekerja, dan berinvestasi melalui produk unit link (asuransi). Pertimbangkanlah pilihan cara berinvestasi Anda …

investasi

Apapun jenis yang kita pilih mengandung risiko positif maupun negatif. Sangatlah baik melakukan diversifikasi (penyebaran) potensi investasi kita melalui portofolio yang relatif aman. Kalau belum mendapatkan untung atau bahkan merugi pada satu atau beberapa jenis investasi, kita masih dapat menutup kerugian itu melalui keuntungan yang tetap bisa kita dapatkan dari instrumen investasi kita yang lain. Jangan lupa memproteksi investasi kita dengan asuransi! Mereka yang tidak mau repot mempercayakan investasinya pada produk unit link yang dikelola perusahaan asuransi jiwa karena dua hal yang bisa didapatkan sekaligus: keuntungan investasi dan perlindungan terhadap kerugian ekonomis kehidupan. Polis asuransi tidak dibeli karena setiap pembelinya pasti juga akan mati, melainkan karena orang-orang yang ditinggalkannya harus tetap melanjutkan hidup hingga saat mereka sendiri tiba, dengan kualitas yang tak jauh berbeda.

Tapi, telitilah sebelum membeli produk unit link asuransi! Selain faktor kredibilitas, bonafiditas, dan berbagai fasilitas perusahaan asuransi jiwa yang menawarkan aneka produknya kepada Anda melalui para agennya (yang juga perlu diwaspadai: berlisensi resmi dan sah atau tidak, berintegritas pribadi atau tidak), pertimbangkan pula produk yang ditawarkan dengan tingkat toleransi Anda terhadap risiko investasi unit link (reksadana yang dikelola perusahaan asuransi jiwa). Jangan membeli tanpa pengetahuan yang cukup apalagi sekadar tergiur pada janji-janji muluk yang tak masuk akal! Pada umumnya, ‘janji surga’ yang ditawarkan di dunia justru berujung malapetaka. BAPEPAM menganjurkan pilihan instrumen investasi reksadana disesuaikan dengan tingkat toleransi para investor terhadap risiko investasi dan tujuan mereka berinvestasi sebagai berikut:

reksadana

Memang benar, kebahagiaan tidak dapat diukur dengan kepemilikan uang dan atau kekayaan, tetapi kita dapat memberdayakan uang dan atau kekayaan itu untuk mendukung kehendak baik dan tulus kita untuk hidup berbahagia dengan membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Selamat mengendalikan faktor internal yang menghalangi kesadaran berinvestasi demi masa depan yang lebih baik! Selamat berinvestasi dan menikmati anugerah hidup!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: