• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Maret 2009
    S S R K J S M
    « Feb   Apr »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Grooming

mandelaclinton1)Pengalaman ini milik seorang Indonesia ketika untuk pertama kalinya mengikuti Misa Malam Natal di sebuah kapel (gereja kecil) di Australia Selatan. Karena kebiasaan di kota tempat asalnya, dia mengenakan jas lengkap. Namun, selama mengikuti ibadat itu dia dibuat resah oleh suhu udara sekitar 43o Celcius. Keringatnya mengucur deras, membasahi pakaiannya. Bahkan bangku yang didudukinya pun basah. Ternyata, hanya dia yang mengenakan setelan ‘lengkap’. Yang lain mengenakan pakaian casual, berlengan pendek, atau panjang tapi digulung hingga di atas siku. Malah ada pula yang mengenakan t-shirt dan bercelana pendek. Saat itulah – di dalam setelan jas yang mahal – dia justru merasa ndeso tenan! Apalagi, setelah berkat penutup, sang imam bergegas dengan langkah lebar menghampirinya di barisan paling belakang dan mengulurkan tangan. Tapi yang terlebih dulu diucapkan sang imam sambil menyalaminya dengan senyum yang tampak ganjil bukanlah “Merry Christmas”, melainkan … “Gak kepanasan?”

2)Dalam sebuah pelatihan bertema “Grooming” yang diadakan sebuah perusahaan pemasaran, instrukturnya – seorang perempuan – meminta seorang peserta – lelaki yang terpaksa ikut pelatihan itu demi kebersamaan – berdiri. Peserta ini mengenakan kemeja berwarna marun dengan dasi yang nyaris sewarna kecuali motif garis-garis kecil simetris putih perak. “Seandainya Anda mengenakan dasi berwarna lebih cerah, kuning, misalnya,” kata sang instruktur, “… mungkin saya akan lebih sering menoleh ke arah Anda! Sayang sekali pilihan dasi Anda sewarna, sehingga orang lain takkan tertarik untuk sekali lagi dan lagi memandang Anda.” Lelaki itu tersenyum dan sambil kembali duduk ia berbisik kepada teman di sebelahnya: “Saya tidak minta dia melihat saya!” Temannya menjawab jenaka: “Tapi justru Andalah yang lebih sering diliriknya sejak tadi!”

3)Seorang guru perempuan di sebuah sekolah menengah terpaksa pulang untuk berganti pakaian karena sebagian warga sekolahnya sulit menahan tawa ketika melihatnya melenggang di hadapan mereka dengan rok putih ketat yang ‘mencetak’ jelas bayangan pakaian dalamnya yang berwarna merah.

Tiga kisah pendek itu kiranya cukup menggambarkan pentingnya pemilihan pakaian yang sesuai dengan keadaan, waktu dan tempat yang tepat. Pakaian menunjukkan kepribadian pemakainya. Tiga paragraf pertama artikel ini menunjukkan hal itu. Pertama, kebiasaan baik yang tak disesuaikan dengan keadaan, waktu dan tempat yang tepat ternyata bisa bikin orang merasa saltum (salah kostum). Dalam hal ini boleh jadi konsistensi pemakainya justru menimbulkan kekaguman orang lain. Serupa tapi tak sama, kita tak bisa menebak isi hati Nelson Mandela ketika ia disambut Presiden dan jajaran pejabat Pemerintah RI yang semuanya mengenakan jas sedangkan sang tamu agung yang murah senyum itu mengenakan kemeja batik sutra buatan Indonesia. Entahlah pula yang ada di benak para pejabat kita tentang pilihan pakaian mereka dibandingkan dengan sang tamu negara. Sedangkan yang kedua, pilihan pribadi peserta pelatihan “Grooming” itu menurut hemat saya tak layak dikomentari instrukturnya sekadar karena si instruktur berselera beda tentang penampilan orang lain apalagi bila hanya daripada tidak bicara tentang sesuatu yang boleh jadi justru menarik perhatiannya! Busana menunjukkan kepribadian orangnya. Dan ketiga, sudah sangat jelas si guru perempuan berlaku sembrono tentang pakaiannya.

Grooming: apa itu?

John M Echols dan Hassan Shadily (1983): groom /gruwm/ kb. 1 pengantin/mempelai laki-laki. 2 tukang kuda. – kkt. mengurus, merawat (a horse). He is always well-groomed Dia senantiasa kelihatan rapi sekali. That horse is well-groomed Kuda itu dipelihara baik-baik.

Pada umumnya grooming dipahami sebagai konsistensi upaya memelihara penampilan dan atau perilaku pantas, rapi, tertib, dan teratur berdasarkan kebiasaan yang berlaku dalam pergaulan hidup manusia modern. Dalam bahasa sehari-hari, grooming bahkan sering disepadankan dengan etiket pergaulan atau sekurang-kurangnya sebagai salah satu bagiannya yang penting.

Berikut beberapa butir pedoman etiket yang barangkali bermanfaat untuk mengingatkan kita agar tidak mengalami saltum dan menghargai orang lain melalui penghargaan kita terhadap penampilan diri sendiri. Kendati setiap butirnya tak diberi penjelasan, kiranya kita sudah dapat memahami maksudnya dari pengetahuan dan pengalaman pergaulan kita di lingkungan tempat kerja. Noblesse oblige! Setiap orang selayaknya berperilaku sesuai dengan martabatnya.

Etiket Berkomunikasi

  • Tatap lawan bicara
  • Suara jelas
  • Hindari mencela
  • Sesuaikan dengan usia, latar belakang pendidikan, keluarga, status, tempat
  • Hindari memotong pembicaraan
  • Hargai pendapat orang lain
  • Berikan kesempatan orang lain berbicara
  • Dengarkan dengan seksama

Etiket Berbusana

  • Keserasian dengan tubuh (terutama: bentuknya)
  • Warna kulit
  • Usia
  • Cuaca
  • Kesempatan
  • Jenis bahan

Pelengkap (alat bantu)

  • Tas
  • Sepatu
  • Topi

Aksesoris

  • Menambah rasa percaya diri
  • Menimbulkan kesan yang indah
  • Disesuaikan dengan situasi, tempat, waktu dan model busana
  • Macam aksesori: gelang, kalung, arloji, kancing, dasi, ikat pinggang, scarf, etc.

Parfum

  • Timur
  • Bunga/ klasik
  • Aroma buah
  • Modern
  • Hijau daun
  • Rempah-rempah
  • Beraroma kulit
  • Wewangian hutan

Ciri-ciri orang yang menghayati tata busana

  • Percaya diri
  • Ucapannya mencerminkan perhatian kepada orang lain
  • Sopan
  • Ramah
  • Menguasai diri
  • Berusaha tidak mengecewakan orang lain

Busana dapat ‘berbicara’ tentang Anda tanpa orang lain mengenal Anda

Busana dapat mencerminkan kepribadian, pekerjaan dan status seseorang. Citra seseorang antara lain memang dipengaruhi oleh busananya. Menurut sebuah penelitian yang dikutip Ratih Poeradisastra (2002) dalam buku “Busana Pria Eksekutif”: 76% orang menilai kita dari penampilan dan 59% orang berpendapat bahwa busana mencerminkan status sosial kita. Penelitian serupa di AS menunjukkan kecenderungan sebagai berikut:

  • 55% kesan pertama dipengaruhi oleh penampilan visual (busana, rambut, ekspresi dan gerak tubuh)
  • 38% dipengaruhi faktor verbal (nada bicara dan suara)
  • 7% dipengaruhi isi pembicaraan

Pakaian kerja pria

  • Kemeja
    • Polos: sebaiknya putih, abu-abu, biru muda, krem, tidak berlogo dan tidak mengilap
    • Bermotif: sebaiknya motif garis halus, kotak-kotak halus, geometris halus
  • Dasi
    • Polos: hindari logo (merk), tidak mengilap, hindari putih
    • Bermotif: sebaiknya bergaris, kotak-kotak, polos, reguler
  • Ikat Pinggang: sewarna dengan celana, tidak berlogo; hindari warna merah dan putih
  • Celana: polos, bergaris halus, kotak-kotak halus; hindari logo, warna merah, putih dan mengilap
  • Kaos Kaki: hindari putih, merah, logo, kilap dan sheer (tipis)
  • Sepatu: hindari putih, merah, logo, half boots dan sol karet

Etiket duduk

  • Badan membuat sebuah sudut dengan kursi
  • Dari depan tubuh membentuk huruf ‘S’
  • Pundak bergeser sedikit ke samping
  • Kepala berpaling sedikit dari pundak
  • Lutut ke arah yang sama dengan pundak
  • Kaki ke arah yang berlawanan dengan pundak
  • Menyilangkan kaki di pergelangan kaki
  • Satu tangan berada di tangan kursi yang lain di pangkuan

Etiket berdiri

  • Memiringkan tubuh sedikit
  • Kaki depan lurus ke muka
  • Kaki belakang membentuk sudut 45 derajat
  • Berat badan hendaknya seimbang
  • Jika berdiri lama, biarkan lutut agak bengkok

Etiket berjalan

  • Kaki bergerak sejajar
  • Bahu ditegakkan
  • Tangan bergerak gemulai menghadap ke arah baju
  • Jari menyentuh sedikit baju
  • Ayunkan langkah dengan rileks
  • Angkatlah kaki, usahakan tidak menyeret alas kaki

Etiket berkenalan

  • Tatap dan ulurkan tangan dengan senyum
  • Jabat tangannya dengan erat
  • Sebutkan nama dengan jelas
  • Tambahkan beberapa keterangan seperlunya
  • Saat memberikan kartu nama, hadapkan pada lawan bicara

Etiket makan

  • Serbet dibuka dan diletakkan di pangkuan
  • Jangan terlalu penuh mengisi mulut
  • Pegang alat makan dengan santai dan elegan, tidak mencengkeram
  • Pegang gelas dengan satu tangan
  • Mulut tidak berbunyi saat mengunyah
  • Jangan berbicara saat pada saat mengunyah
  • Lepaskan sendok dan garpu jika diajak berbicara
  • Jika bersin, tutuplah mulut dengan tangan
  • Jangan minum sewaktu mulut masih penuh makanan
  • Jangan meniup makanan yang panas
  • Posisi pisau dan garpu dekat dengan tubuh
  • Angkat dengan pisau atau garpu makanan yang terjatuh ke meja
  • Jangan mendorong piring setelah selesai makan
  • Jangan menggunakan tusuk gigi setelah selesai makan
  • Perhatikan kebutuhan orang lain, layanilah orang lain

Tips mengundang makan

  • Kenali Pelanggan
  • Cari restoran yang mudah ditemukan/ dicapai
  • Hindari restoran yang ramai pengunjung jika pertemuan bersifat resmi
  • Pilih ruangan/ meja yang sesuai dengan keperluan
  • Datanglah lebih dulu
  • Berikan kartu nama kepada manajer restoran
  • Serahkan uang muka
  • Tanyakan menu utama/ unggulan
  • Setelah selesai makan, temui lagi manajer restoran

Satu Tanggapan

  1. gt ya,. penampilan prima its Grooming,.. hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penampilan fisik apa saja,.. apakah bau badan, kumis, janggut yang terpelihara rapih,. atau cenderung klimis ?? kalu utuk perempuan, make up ataw perhiasan, sebaiknya seperti apa..??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: