• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    April 2009
    S S R K J S M
    « Mar   Mei »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Ajaran Gereja Katolik bagi Politisi Katolik

getjePara aktivis katolik awam sering terdengar geram akan ‘kelambanan’ hirarki tentang gerakan politik yang merupakan keniscayaan dalam negara demokratis. Tetapi mereka sering lupa bahwa sesungguhnya Gereja Katolik telah memiliki dasar-dasar politik praktis yang mereka perlukan untuk berperan serta aktif dalam kancah politik yang memperjuangkan kesejahteraan umum (Salus populi est suprema lex).

Dalam konteks keindonesiaan, politisi katolik diharapkan memahami bahwa menjadi 100% orang katolik dan orang Indonesia tak mengharuskan orang-orang Indonesia yang beragama katolik untuk memiliki partai inklusif. Menjadi garam dan pelita di tempat masing-masing berada jauh lebih bermakna ketimbang bergulat dengan kepentingan yang sesaat terdengar hebat namun tak bergema sepanjang masa.

Tidak sedikit orang katolik yang terjun dan menekuni profesi sebagai politisi. Pencapaian kesejahteraan umum dengan dan dalam nilai-nilai universal adalah tujuan yang hendak dicapai Gereja Katolik juga. Menggunakan simbol agama sekadar sebagai pemikat takkan pernah efektif apabila tak menjadi darah daging yang membuat ruh katolisitas itu berdaya guna bagi kehidupan yang lebih baik.

Demikian pula upaya menarik pejabat hirarki untuk berpolitik praktis bukanlah pilihan yang menarik. Jangankan mereka, sebagian aktivis katolik awam pun – enggan berpolitik praktis ketika menyadari kapasitas mereka tak memadai untuk selalu berada dalam akuarium yang tak cukup sedap dipandang mata.

Maka berpikir, berharap dan bertindak a contrario terhadap “Vox populi est vox Dei” yaitu dengan memandang suara Allah sebagai suara Allah dan suara rakyat semestinya juga menggemakan kehendak-Nya dalam keseharian hidup cukuplah ketimbang saling berlomba keras dan banyak suara yang justru berkecenderungan mengingkari hakikat, kodrat dan martabat kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Orang-orang yang demikian kiranya akan menjadi pendukung politisi yang benar-benar menyuarakan aspirasi dan keyakinan mereka dalam kancah politik praktis, bukan yang sekadar mendekati mereka pada saat meminta dipilih dan kemudian – sama saja dengan lainnya – bermetamorfosa menjadi ‘pemimpin’ yang mengambil hampir semua bagi diri sendiri dan atau kelompoknya, mengabaikan panggilan menjadi pelayan sesamanya.

Berikut ini beberapa ajaran Gereja mengenai hal-hal yang dianggap perlu disebarluaskan dalam ensiklik “Mater et Magistra” 15 Mei 1961 dan “Pacem in terris” 11 April 1963 dari Paus Yohanes XXIII yang dikutip dalam buku kecil “Politik 1” terbitan Sekretariat Nasional Kongregasi Maria (1964). Buku tersebut diterbitkan dengan harapan agar orang-orang katolik yang terjun ke dalam dunia politik pada masa itu memahami yang dikatakan oleh Pimpinan Gereja tentang situasi dunia dan masalah-masalahnya.

Tentu saja, untuk mendalaminya, kutipan ini perlu dipahami dalam konteksnya yang lengkap bersama ensiklik-ensiklik lain yang terbit kemudian. Pengutipan ini sekadar untuk mengingatkan bahwa perihal politik dan moral sudah sejak lama merupakan keprihatinan Pimpinan Gereja. Dan meskipun kedua dokumen Gereja itu sudah cukup tua, sebagian besar isinya tetap relevan hingga saat ini juga.

Aliran-aliran

1. Liberalisme

Liberalisme adalah konsepsi naturalitis sedemikian hingga mengingkari pula setiap hubungan antara kegiatan ekonomi dan kesusilaan. Satu-satunya dorongan untuk ekonomi ialah keuntungan perseorangan. Peraturan tertinggi ialah persaingan bebas tanpa batas. Bunga modal, harga barang dan jasa, keuntungan dan upah ditentukan oleh hukum pasar. Negara harus menjauhkan diri dari semua campur tangan dalam bidang ekonomi. Serikat-serikat buruh dilarang atau hanya sebagai urusan pribadi. “Dengan demikian timbullah suatu tertib ekonomi yang kacau balau.” (Mater et Magistra, hal.6-7)

2. Sosialisme

Paus XI menjelaskan bahwa orang-orang katolik tidak diperkenankan menjadi pendukung sosialisme yang moderat, sebab konsepsi hidup sosialis dibatasi oleh waktu dengan menempatkan tujuan tertinggi hanya dalam kesejahteraan masyarakat, struktur bentuk sosial yang diarahkan kepada produksi melulu sehingga mengakibatkan kerugian yang besar bagi kemerdekaan manusia dan karenanya tidak memiliki prinsip kewibawaan sosial yang sejati. (Mater et Magistra, hal.10)

3. Komunisme

Paus XI menandaskan bahwa pertentangan antara komunisme dan agama kristen adalah azasi sifatnya (fundamental, a matter of principle). (Mater et Magistra, hal.10)

Soal-soal pribadi

4. Kegiatan duniawi

… Keliru bila putra-putra kami, terutama kaum awam, berkesimpulan bahwa lebih bijaksana untuk mengurangi kegiatannya di dunia ini; malahan sebaliknya, mereka itu harus memperbarui dan memperbesar kegiatannya … Sesuai benar dengan rencana Allah bila setiap orang mengembangkan dan menyempurnakan dirinya sendiri melalui pekerjaannya sehari-hari yang bagi hampir semua makhluk manusia bersifat duniawi.

Dewasa ini Gereja dihadapkan dengan suatu tugas yang mahaberat untuk memberikan suatu ciri manusiawi dan kristiani kepada peradaban modern; suatu ciri yang diminta dan hampir dituntut oleh peradaban itu sendiri untuk perkembangannya lebih lanjut, bahkan juga agar tidak dimusnahkan.

Tetapi kami tandaskan bahwa Gereja memenuhi tugas ini terutama melalui putra-putra awamnya, yang dengan demikian harus merasa sanggup untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan jabatan mereka, sebagai penunaian suatu kewajiban, sebagai suatu pengabdian dalam persatuan batiniah dengan Allah dan dengan Kristus dan untuk kemuliaan-Nya. (Mater et Magistra, hal.56-57)

5. Hak milik pribadi

Hak milik pribadi atas barang-barang termasuk alat-alat produksi itu tetap sah justru karena itu adalah hak kodrat didasarkan atas prioritas yang ontologis dan finalistis dari makhluk manusia individual, apabila dibandingkan dengan masyarakat. Tambahan pula, akan sia-sialah untuk berpegang teguh pada inisiatif bebas dan perseorangan di dalam bidang-bidang ekonomi jika inisiatif yang sama untuk secara bebas menyusun alat-alat yang diperlukan untuk mencapai inisiatif bebas dan perseorangan tidak diperkenankan.

Sejarah dan pengalaman membuktikan bahwa di dalam rezim-rezim politik yang tidak mengakui hak milik pribadi atas barang-barang, termasuk alat-alat produksi, pernyataan yang azasi dari kemerdekaan, tertindas atau tercekik. (Mater et Magistra, hal.26)

6. Pekerjaan dan syarat-syaratnya

Setiap orang berhak atas kerja dan memilih lapangan kerja dalam bidang ekonomi. Tetapi dengan hak-hak semacam ini terikat erat hak atas keadaan-keadaan pekerjaan yang tidak merugikan kesehatan, tidak merusakkan keutuhan akhlak dan tidak menghalangi perkembangan yang wajar dari kaum muda; dan mengenai kaum wanita juga atas hak-hak keadaan pekerjaan yang selaras dengan tuntutan-tuntutan jenis mereka dan dengan kewajiban-kewajiban mereka sebagai istri dan ibu. (Mater et Magistra, hal.8-9)

7. Gaji dan upah

Kami menegaskan bahwa pemberian upah kerja itu … harus ditentukan sesuai dengan keahlian. Hal ini menuntut agar pekerja-pekerja harus diberi upah yang memungkinkan mereka itu hidup sebagai manusia yang sesungguhnya, dan mampu menghadapi tanggung jawabnya terhadap keluarganya.

Dituntut pula supaya penetapan upah itu dijalankan dengan memerhatikan sumbangan mereka yang efektif kepada produksi dan keadaan ekonomi perusahaan; diperhatikan pula tuntutan kesejahteraan semua dalam negara yang bersangkutan, teristimewa dalam hubungannya dengan usaha pengerahan seluruh tenaga di seluruh negeri itu; akhirnya harus diperhatikan pula tuntutan-tuntutan kesejahteraan dunia, yaitu kesejahteraan masyarakat internasional dari aneka macam sifat lingkungan. (Mater et Magistra, hal.19)

Setiap pekerja harus diberi gaji yang ditetapkan menurut norma-norma keadilan dan mengingat kemampuan majikan, upah itu harus memungkinkan pekerja dan keluarganya mendapat taraf hidup layak yang memadai martabat manusia. (Pacem in terris, hal.9)

8. Hak atas hidup yang layak

Tiap makhluk insani memiliki hak atas hidup, atas keutuhan badan dan atas upaya-upaya yang perlu dan cukup untuk hidup yang layak, khususnya yang mengenai pangan, sandang, perumahan, istirahat, pengobatan dan pelayanan sosial.

Oleh karenanya manusia berhak atas jaminan pada waktu sakit, cacat, menjadi janda, usia lanjut, pengangguran dan tiap-tiap kali kehilangan mata penghidupan yang disebabkan oleh keadaan di luar kemauannya sendiri. (Pacem in terris, hal.7)

9. Beberapa hak azasi yang lain

Setiap makhluk insani berhak atas dihormati pribadinya, nama baiknya, kebebasan dalam mencari kebenaran, dalam menyatakan dan menyebarkan pikirannya, dalam menciptakan karya seni dengan mengingat tatasusila dan kepentingan umum. Ia pun berhak atas penerangan obyektif. (Pacem in terris, hal.7)

10. Hak dan kewajiban

Serentak dengan hak-hak azasi itu, manusia juga dilekati kewajiban-kewajiban. Demikianlah misalnya, hak manusia untuk hidup serentak mengandung kewajiban untuk memelihara hidup itu; hak atas hidup yang layak membawa pula kewajiban untuk berlaku secara sopan; hak mencari kebenaran dengan bebas disertai kewajiban untuk memperdalam dan memperluas pencarian kebenaran itu. (Pacem in terris, hal.10-11)

Soal-soal masyarakat

11. Dasar masyarakat

Dasar setiap masyarakat yang teratur baik dan subur ialah azas setiap makhluk insani adalah suatu pribadi, suatu kodrat yang diberi akal dan kehendak bebas. Karena itu pada dirinya ia memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang mengalir langsung dari dan bersama-sama dengan kodratnya, bersifat universal, tak dapat diganggu gugat dan tak dapat dipindahkan. (Pacem in terris, hal.6-7)

12. Masyarakat adil

Bagaimanapun kemajuan teknik dan ekonomi, tidak akan terjadi dan tercapai keadilan maupun perdamaian dunia hingga manusia kembali pada suatu kesadaran akan martabatnya sebagai makhluk dan putra Allah, alasan hidup yang sesungguhnya dan terakhir dari semua realitas yang diciptakan-Nya. (Mater et Magistra, hal.49)

13. Gotong royong

Sebagai makhluk yang pada hakikatnya mesti bermasyarakat, manusia harus hidup bersama dengan manusia yang lain dan melayani kepentingan satu sama lain. Hidup bermasyarakat tidak hanya menjamin tata tertib, tetapi juga harus membawa keuntungan bagi anggota-anggotanya. Hal ini meminta mereka untuk saling menghormati hak-hak dan kewajiban-kewajiban sesama; menuntut kerjasama semua orang menurut pelbagai cara yang dimungkinkan, diinginkan atau diharuskan oleh perkembangan peradaban pada waktu itu. (Pacem in terris, hal.11)

14. Perbedaan kelas-kelas

Hati kami penuh kesedihan yang mendalam, menyaksikan pemandangan yang menyedihkan bahwa sejumlah besar pekerja di banyak negara dan di segenap bumi mendapat upah kecil sehingga hidup mereka bersama keluarga mereka berada di bawah martabat manusia … Di beberapa negara bercokollah keadaan yang kejam dan mencolok mata, yaitu kemiskinan kebanyakan orang di hadapan kemewahan yang berlimpah-limpah dan tak terbatas dari sekelompok kecil orang yang berkedudukan istimewa.

Di negara-negara lain lagi, generasi sekarang ini dipaksa mengalami penindasan yang tak berperikemanusiaan untuk memperbesar hasil ekonomi nasional pada taraf kecepatan yang melampaui batas-batas keadilan dan perikemanusiaan, sedangkan di negara-negara lain lagi sejumlah besar persentase pendapatan nasional dipergunakan untuk membangun atau memperbesar prestise nasional yang keliru atau jumlah-jumlah yang amat besar dipakai untuk persenjataan. (Mater et Magistra, hal.18)

15. Liberalisme dan perjuangan kelas

Para pekerja dan majikan haruslah mengatur hubungan mereka satu sama lain di bawah ilham prinsip perasaan setia kawan manusiawi dan persaudaraan kristen, sebab baik persaingan dalam pengertian liberal maupun perjuangan kelas dalam pengertian Marx, kedua-duanya bertentangan dengan kodrat dan ajaran kristen. (Mater et Magistra, hal.3)

16. Kebudayaan nasional

Sesungguhnya Gereja sedemikian bijaksana sehingga tidak mengurangi atau meremehkan kekhususan dan perbedaan yang menandai bangsa yang satu dari yang lain. Sudah selayaknya bila bangsa-bangsa itu memperlakukan perbedaan-perbedaan itu sebagai warisan yang keramat dan mempertahankannya sekuat tenaga. Gereja menghendaki persatuan, persatuan yang ditentukan dan dipertahankan hidupnya oleh cinta yang adikodrati. Ia tidaklah menghendaki kecenderungan kodrati dari bangsa-bangsa yang bersangkutan.

Setiap bangsa memiliki bakatnya sendiri-sendiri, memiliki sifat-sifatnya sendiri yang memancar keluar dari akar-akar tersembunyi. Memperkembangkan kekhususan itu dengan bijaksana dan menekankannya di dalam batas-batas, tidaklah merugikan. Dan jika suatu bangsa mengambil kebijaksanaan untuk menetapkan peraturan-peraturan ke arah itu, maka Gereja setuju. (Mater et Magistra, hal.42)

Soal-soal ekonomi

17. Sistem ekonomi

Oleh sebab itu, jika struktur, pelaksanaan dan suasana sistem ekonomi demikian rupa sehingga menindas martabat manusia yang turut serta di dalamnya, atau secara sistematis mematikan rasa tanggung jawab, atau merupakan rintangan atas perkembangan inisiatif perseorangan, maka sistem semacam ini tak dapat dibenarkan, sekalipun jika kekayaan yang dihasilkan – seandainya dapat – dengan sistem itu mencapai suatu taraf yang tinggi dan jika kekayaan itu dibagikan secara adil dan merata. (Mater et Magistra, hal.21)

18. Ekonomi terpimpin

Haruslah selalu ditegaskan prinsip bahwa campur tangan negara di dalam lapangan ekonomi, tidak peduli betapa luas dan mendalamnya, tidak boleh mengurangi kebebasan dan inisiatif warganegara individual, akan tetapi harus menjamin kelonggaran sebesar mungkin kepada hak-hak azasi perseorangan dan melindunginya secara efektif untuk setiap orang dan semuanya. (Mater et Magistra, hal.15)

19. Peranan swasta

Sungguhlah pengalaman telah menunjukkan bahwa di mana tak ada inisiatif perseorangan dari individu-individu, di sana terdapatlah tirani politik, tetapi juga terdapat kemacetan di dalam sektor-sektor ekonomi yang berhubungan dengan produksi barang-barang konsumsi dan jasa-jasa yang dibutuhkan untuk kepentingan-kepentingan material sekaligus oleh tuntutan rohani: untuk mendapatkan barang-barang dan jasa-jasa ini secara istimewa diperlukan bakat-bakat mencipta dari individu-individu. (Mater et Magistra, hal.15-16)

20. Hak milik negara

Di zaman modern ini terdapat kecenderungan untuk makin lama makin mengambil alih kekayaan dan dijadikan hak milik negara atau badan-badan pemerintah lainnya. Hal ini dijelaskan berdasarkan kenyataan bahwa kesejahteraan umum semakin lama semakin besar tuntutannya. Akan tetapi juga dalam hal ini prinsip subsidiaritas hendaknya diikuti.

Karena itu negara dan badan-badan hukum lainnya tidak boleh memperbesar hak milik mereka kecuali jika dengan jelas dan nyata dituntut oleh alasan-alasan kesejahteraan umum, dan tidak bertujuan untuk mengurangi apalagi menghapuskan hak milik pribadi. (Mater et Magistra, hal.28)

21. Dewan perusahaan

Oleh sebab itu sepantasnya atau sudah seharusnya jika di antara para pengusaha atau lembaga-lembaga semacam itu, selain para pemegang modal atau wakil-wakil kepentingan mereka, para pekerja atau orang-orang yang mewakili hak-hak tuntutan dan hasrat mereka, harus juga memiliki suara. (Mater et Magistra, hal.24)

Soal-soal politik

22. Tugas pemerintah

Tugas pokok kewibawaan politik ialah melindungi hak-hak manusia yang tak dapat diganggu gugat dan berusaha sedemikian rupa hingga setiap orang dapat menunaikan fungsinya masing-masing dengan lebih mudah. (Pacem in terris, hal.18)

Jadi, tidak boleh tidak pemerintah harus bersibuk memajukan pengaturan sosial, sejajar dengan kemajuan ekonomi. Demikian pun sepadan dengan penghasilan nasional haruslah pemerintah mengembangkan pelayanan yang diperlukan, seperti jaringan jalan, alat-alat pengangkutan dan perhubungan, pembagian air minum, perumahan, pengobatan, pengajaran, keadaan yang menguntungkan bagi ibadah-ibadah keagamaan dan libur.

Pemerintah harus pula mengusahakan pelbagai sistem pertanggungan dalam kecelakaan, bertambahnya beban keluarga, supaya jangan seorang pun sampai kekurangan akan upaya-upaya yang sangat perlu untuk hidup yang layak.

Harus diusahakan pula supaya buruh yang mampu bekerja, mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kecakapannya; supaya setiap buruh menerima upah yang sepadan dengan keadilan dan kelayakan, supaya buruh dapat merasa dirinya bertanggung jawab di dalam perusahaan; supaya pada saatnya yang tepat dibentuk badan-badan perantara yang dapat membantu memudahkan dan menyuburkan hubungan sosial; akhirnya supaya benda-benda kebudayaan dapat dicapai dalam bentuk dan taraf selayaknya. (Pacem in terris, hal.19-20)

23. Demokrasi

Sekalipun kewibawaan (pemerintah) itu berasal dari Allah, namun hal itu tidak menghilangkan kekuasaan manusia untuk memilih sendiri pemerintahannya, menetapkan bentuk negaranya atau menentukan patokan-patokan dan batas-batas dalam menjalankan kewibawaan itu. Demikianlah ajaran yang hendak kami uraikan itu, sesuai benar dengan bentuk segala pemerintahan yang sungguh demokratis. (Pacem in terris, hal.17)

24. Demokrasi terpimpin

Sosialisasi melakukan dua hal sekaligus: memperbanyak bentuk-bentuk organisasi dan memperkeras pengawasan hukum sampai hal-hal kecil … Sebagai akibatnya wilayah kemerdekaan individu untuk bertindak lebih dibatasi. Karena alat-alat yang digunakan, metode-metode yang diikuti menciptakan suatu iklim yang menyulitkan setiap orang berpikir bebas dari pengaruh-pengaruh luar, untuk bekerja atas inisiatifnya sendiri, memikul tanggung jawabnya, serta memperkuat dan memperkaya kepribadiannya.

Kalau begitu haruslah kiranya disimpulkan bahwa sosialisasi … tak dapat tidak menurunkan manusia sebagai alat-alat otomatis? Pertanyaan itu harus dijawab secara negatif … Kami berpendapat bahwa sosialisasi itu dapat dan harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga dapat ditarik keuntungan-keuntungan yang terkandung di dalamnya dan dapat dihapuskan atau dibendung segi-segi negatifnya. (Mater et Magistra, hal.17)

25. Golongan minoritas

Sejak abad XIX ditegaskan dan disebarluaskan suatu kecenderungan masyarakat-masyarakat politik untuk menjadi tepat sama dengan masyarakat-masyarakat nasional. Karena berbagai sebab tidak selalulah mungkin menyamakan batas-batas geografis dengan batas-batas etnis; dari sini timbullah gejala-gejala minoritas dan masyarakat yang pelik.

Dalam hubungan ini kami harus menerangkan sejelas-jelasnya bahwa setiap politik yang berusaha menindas kesegaran hidup serta perkembangan golongan-golongan minoritas, merupakan suatu kesalahan yang berat melawan keadilan, lebih berat lagi apabila usaha-usaha itu dimaksudkan untuk melenyapkannya sama sekali.

Sebaliknya tak sesuatu pun yang lebih sesuai dengan keadilan dari tindakan di bawah pimpinan kekuasaan umum untuk memperbaiki keadaan-keadaan hidup minoritas etnis, khususnya mengenai bahasa, kebudayaan, adat istiadat, sumber-sumber serta usaha-usaha ekonomi mereka. Namun orang mengkonstatasi juga, bahwa golongan-golongan minoritas itu … sering terdorong untuk melebih-lebihkan kekhususan mereka, bahkan sampai melampaui nilai-nilai kemanusiaan universal, seakan-akan kepentingan seluruh keluarga manusia harus diletakkan di bawah kepentingan bangsa mereka. (Pacem in terris, hal.26)

26. Nasakom

Kerjasama dengan orang komunis

Umat katolik yang bergiat dalam bidang sosial-ekonomi sering berada dalam kontak yang erat dengan orang-orang lain yahng tidak berpandangan hidup yang sama dengan mereka. Dalam hal sedemikian itu, putra-putra kami yang terkasih haruslah selalu sangat berhati-hati supaya tetap konsekuen dan tidak pernah menerima kompromi apa pun yang merugikan keutuhan agama atau kesusilaan … Hendaklah mereka bekerjasama dengan setia dalam segala hal yang pada dasarnya baik atau mengarah kepada kebaikan. (Mater et Magistra, hal.53)

Adalah adil, jika kita selalu membedakan antara kesesatan dan orangnya yang sesat, sekalipun itu mengenai orang-orang yang gagasan-gagasannya keliru atau kekurangan pengertian tentang agama dan kesusilaan. (Pacem in terris, hal.41)

Ajaran dan gerakan komunis

Demikian pula orang tidak boleh mempersamakan teori-teori filsafat yang palsu mengenai alam, asal dan tujuan dunia dan manusia, dengan gerakan-gerakan historis yang bergerak di bidang ekonomi, sosial, kebudayaan atau politik, sekalipun gerakan-gerakan itu berasal dari dan masih diilhami oleh teori-teori itu. Suatu ajaran yang sekali ditetapkan dan dirumuskan, tidak berubah lagi, sedangkan gerakan yang hidup dalam keadaan konkrit yang berubah-ubah, tidak dapat tidak terpengaruh luas oleh perubahan itu.

Selanjutnya siapakah gerangan yang mau menyangkal bahwa gerakan-gerakan itu, di mana mereka sesuai dengan azas sehat dari akal dan memenuhi hasrat-hasrat yang adil dari manusia, tidak memuat unsur-unsur postif dan yang patut dibenarkan?

Pertemuan dengan gerakan komunis

Oleh karenanya dapatlah terjadi, bahwa pertemuan-pertemuan tertentu di bidang pelaksanaan praktis, yang hingga kini dianggap tidak tepat dan tanpa guna, sekarang dapat menghasilkan sesuatu yang nyata atau dapat diharapkan berguna di masa depan. Tetapi memutuskan apa saatnya sudah tiba atau belum, dan menetapkan cara-cara dan luasnya suatu koordinasi usaha-usaha dalam hal ekonomi, sosial dan kebudayaan atau politik menuju sesuatu yang berguna bagi kesejahteraan yang benar, itu terserah kepada kebijaksanaan.

Jika mengenai orang-orang katolik, maka keputusan tadi bergantung pada orang-orang yang paling berpengaruh dalam masyarakat dan yang paling kompeten dalam bidang yang bersangkutan, asal saja mereka dengan tetap setia kepada azas-azas hukum kodrat, mengikuti ajaran sosial Gereja dan mematuhi petunjuk-petunjuk pembesar Gereja.

Hendaklah sungguh-sungguh diingat, bahwa hak-hak dan kewajiban Gereja tidaklah terbatas untuk mempertahankan ajaran mengenai iman atau kesusilaan saja, tetapi kewibawaannya atas putra-putranya meluas, juga sampai ke bidang profesi, yaitu apabila mengenai penerapan ajaran Gereja dalam hal-hal konkrit. (Pacem in terris, hal.41-42)

27. Revolusi

Tidak kuranglah orang-orang yang dengan murah hati, dalam menghadapi situasi-situasi yang kurang sesuai atau bertentangan dengan keadilan, didorong oleh semangat untuk mengusahakan pembaruan lengkap, yang entusiasmenya dengan melewati taraf-taraf itu, lalu mengambil kecepatan yang seakan-akan revolusioner.

Kami hendak mengingatkan mereka bahwa kemajuan adalah hukum segala hidup dan bahwa lembaga-lembaga manusia pun tidak dapat diperbaiki, selain dengan syarat bahwa itu dilakukan dari dalam dan dengan cara yang progresif.

Paus Pius telah memperingatkan: “Bukannya revolusi, melainkan evolusi yang harmonislah, yang akan membawa keselamatan dan keadilan. Kerja dengan kekerasan selalu berarti merusak, bukannya membangun; berarti membakar hawa nafsu, bukannya mengalahkannya. Lebih merupakan induk kebencian dan kerusakan daripada mempersatukan secara persaudaraan; kerja dengan kekerasaan itu menjerumuskan orang-orang dan golongan-golongan ke dalam keharusan yang pahit untuk membangun kembali secara lambat setelah pengalaman-pengalaman yang menyedihkan di atas reruntuhan yang ditumpuk oleh perselisihan.” (Pacem in terris, hal.42)

Catatan: Ingatlah perkataan Bung Karno: “Perkataan revolusioner jangan dihubung-hubungkan dengan kekerasan senjata.” Apa yang dinamakan revolusioner suatu umgestaltung von grund aus (Pedoman untuk melaksanakan Ampera, hal.2305 dan 2307)

Persoalan-persoalan internasional

28. Perdamaian dunia

Perdamaian yang didambakan umat manusia segala zaman tidak dapat diciptakan dan dipertahankankan apabila tata tertib yang ditetapkan oleh Allah tidak ditaati dengan khidmat. (Pacem in terris, hal.5)

29. Kecurigaan internasional

“Orang-orang, dan karenanya juga negara-negara, takut satu sama lain. Mereka merasa takut bahwa yang lain menyembunyikan rencana-rencana perebutan, dan sedang menantikan saat yang tepat untuk melaksanakan rencana-rencana itu. Oleh sebab itu masing-masing membangun pertahanan-pertahanan dan mempersenjatai dirinya, tidak usah menyerang – begitulah katanya – tetapi untuk menakutkan calon agresor terhadap setiap penyerbuan efektif.” (Mater et Magistra, hal.47)

30. Bantuan luar negeri

Dalam Mater et Magistra kami telah menganjurkan kepada negara-negara yang lebih mampu untuk mulai memberikan bantuan dalam pelbagai bentuk kepada negara-negara yang sedang berkembang. Kami merasa gembira dan puas sekali, menyaksikan bahwa seruan kami mendapat sambutan yang sangat baik … Tetapi baiklah kami tandaskan lagi supaya bantuan yang diberikan kepada bangsa-bangsa itu jangan disertai dengan pelanggaran kemerdekaan mereka. (Pacem in terris, hal.31-32)

31. Nekolim

Masyarakat politik yang sudah maju perekonomiannya, jika memberikan bantuan haruslah mengakui dan menghormati ciri pribadi (bangsa yang diberi bantuan) itu dan mengalahkan godaan untuk mendesakkan dirinya pada masyarakat yang sedang berkembang ekonominya melalui pekerjaan mereka.

Akan tetapi yang harus diperangi oleh masyarakat politik yang sudah berkembang ialah godaan yang lebih besar untuk menarik keuntungan dari kerjasama teknik dan keuangan mereka, seperti memengaruhi situasi politik negara-negara yang kurang berkembang dengan tujuan menjalankan rencana-rencana menguasai dunia.

Jika hal itu terjadi, maka haruslah dinyatakan dengan tegas bahwa perbuatan itu merupakan bentuk baru kolonialisme yang belakangan ini berhasil dielakkan oleh bangsa-bangsa, dan perbuatan itu akan memengaruhi secara negatif hubungan-hubungan internasional mereka, dan merupakan suatu ancaman dan bahaya bagi perdamaian dunia. (Mater et Magistra, hal.40-41)

32. Perlombaan persenjataan

Keadilan, kebijaksanaan dan rasa perikemanusiaan menuntut supaya perlombaan persenjataan itu dihentikan; menuntut juga pengurangan yang sejajar dan serentak dari persenjataan yang ada di pelbagai negara, pemusnahan senjata nuklir dan akhirnya perlucutan senjata dengan persetujuan umum dan dengan disertai pengawasan efektif.

Hal ini meminta supaya aksioma yang mengatakan bahwa perdamaian adalah hasil keseimbangan dari persenjataan itu, diganti dengan azas bahwa perdamaian sejati hanya dapat diciptakan dalam saling memercayai.

Kami menganggap bahwa itulah suatu tujuan yang dapat dicapai, sebab hal itu sekaligus dikehendaki oleh akal sehat, dan amat sangat diinginkan serta amat besar kegunaannya. (Pacem in terris, hal.30)

33. Kerjasama internasional

Kemajuan ilmu dan teknologi dalam segala sektor kehidupan melipatgandakan dan memperbesar hubungan-hubungan di antara masyarakat politik dan karena itu masyarakat saling bergantung secara dalam dan vital.

Akibatnya, dapatlah dikatakan bahwa masalah-masalah penting, – betapapun juga isinya – ilmiah, teknik, ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan dewasa ini menampakkan diri dalam dimensi supranasional dan sering seluas bumi.

Oleh sebab itu, negara-negara yang berbeda-beda itu tidak dapat lagi secara memadai memecahkan masalah-masalah mereka yang utama di dalam lingkungan mereka sendiri dan dengan kekuatan mereka sendiri, bahkan juga negara-negara terkemuka karena kebudayaannya yang tinggi dan terbesar, karena jumlah dan kerajinan warganya, karena efisiensi sitem-sistem ekonomi mereka, dan karena luas dan kekayaan mereka.

Masyarakat politik itu saling menimbulkan reaksi-reaksi terhadap satu sama lain, dan bolehlah dikatakan bahwa setiap masyarakat berhasil dalam mengembangkan dirinya dengan membantu perkembangan masyarakat lainnya. Oleh sebab itu pengertian dan kerjasama sangatlah diperlukan. (Mater et Magistra, hal.46)

34. L’exploitation de l’homme par l’homme, dan nation par nation

Pengalaman menunjukkan kita akan sering adanya perbedaan-perbedaan yang jelas sekali mengenai pengetahuan, kebajikan, kecakapan akal dan kekayaan material, yang membuat orang-orang berbeda satu sama lain. Tetapi adanya kenyataan itu tidaklah memberikan hak kepada orang-orang yang lebih beruntung untuk mengeksploitasi orang-orang yang lebih lemah. Hal itu justru menimbulkan bagi semua dan bagi masing-masing suatu kewajiban yang sangat mendesak untuk bekerjasama guna mencapai kesempurnaan bersama.

Demikian pula beberapa negara tertentu mungkin lebih maju daripada yang lain-lain dalam bidang ilmu, kebudayaan dan perkembangan ekonomi. Kelebihan itu bukanlah lalu memberikan hak untuk menguasai secara lalim bangsa-bangsa yang kurang beruntung, tetapi justru mewajibkan untuk menyumbang lebih banyak guna kemajuan bersama bangsa-bangsa. (Pacem in terris, hal.24-25)

35. Konflik internasional

Pastilah dapat terjadi, dan nyatanya juga terjadi, bahwa negara-negara bersaingan dalam aneka kepentingan mereka. Tetapi persaingan ini tidak boleh diselesaikan dnegna kekuatan senjata atau dengan tipu muslihat atau dengan kebohongan, melainkan sebagaimana layaknya manusia, dnegan saling memahami, dengan mengharapkan bakat-bakat secara obyektif dan dengan mengusahakan kompromi yang adil. (Pacem in terris, hal.26)

Tugas Gereja, agama dan moral dalam persoalan-persoalan ini

36. Ajaran Gereja untuk umum

Gereja, terutama selama abad yang terakhir ini, telah menyusun bersama dengan imam dan awam yang kompeten, suatu doktrin sosial yang secara jelas mengemukakan jalan yang pasti untuk membangun kembali hubungan-hubungan sosial sesuai dengan norma universal alam kodrat, sesuai dengan kebutuhan kodrat manusia dan sesuai dengan ciri-ciri masyarakat modern, oleh karena itu suatu doktrin yang diterima oleh semua orang. (Mater et Magistra, hal.50)

37. Kepentingan nilai-nilai rohani

Pengalaman tragis bahwa kekuatan-kekuatan raksasa yang disediakan oleh teknologi dapat dipergunakan untuk tujuan-tujuan baik yang konstruktif maupun yang desktruktif, membuktikan pentingnya nilai-nilai rohani, agar kemajuan ilmiah dan teknik dapat mempertahankan sifatnya yang esensial sebagai alat untuk membangun kebudayaan. (Mater et Magistra, hal. 48)

38. Tanpa agama, soal-soal sosial tak dapat dipecahkan

Pada permulaan uraian Leo XXII tentang ajaran katolik mengenai soal-soal sosial, beliau menerangkan: “Kami menyinggung pokok-pokok persoalan ini berdasarkan keyakinan bahwa kami berwenang untuk menguraikan hal-hal ini, karena tidak akan pernah ditemukan pemecahan praktis tentang masalah-masalah ini tanpa bantuan Agama dan Gereja.” (Mater et Magistra, hal.7)

39. Tanpa Allah, tata tertib dunia tidak dapat disusun

Sungguh benarlah bahwa aspek khusus yang paling merusak pada zaman modern ini ialah usaha yang tidak masuk akal untuk menyusun kembali tata tertib duniawi yang kukuh dan bermanfaat, terlepas dari Allah, yang merupakan dasar satu-satunya bagi bertahannya tata tertib itu … Setiap hari pengalaman terus menerus menyaksikan kenyataan, di tengah-tengah kekecewaan yang paling pedih dan tidak jarang dalam istilah-istilah berdarah, bahwa sebagaimana telah dinyatakan di dalam Kitab Suci: “Jika sekiranya bukan Tuhan yang mendirikan rumah itu, niscaya sia-sialah pekerjaan mereka yang membangunnya.” (Mater et Magistra, hal.50)

40. Masyarakat dibangun atas kebenaran, keadilan, cinta kasih dan kebebasan

Inilah keempat nilai yang harus menjiwai segala sesuatu dan harus memberikan arah kepada segala sesuatu, yakni: kegiatan kebudayaan, hidup perekonomian, perkumpulan-perkumpulan sosial, gerakan-gerakan dan pemerintahan-pemerintahan politik, pembentukan undang-undang dan seluruh pernyataan lainnya dari kehidupan sosial dalam evolusinya yang terus menerus. (Pacem in terris, hal.13)

Satu Tanggapan

  1. hello,

    i registered because i do believe this is the right place for me.

    bye🙂

    competitive intelligence

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: