• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    April 2009
    S S R K J S M
    « Mar   Mei »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Pemilihan Umum 2009

tiredPemilihan umum legislatif sudah berlangsung. Hasil quick-count telah menunjukkan kedigdayaan swing-voters, the real single-silent majority dalam lapisan masyarakat kita. Merekalah yang biasanya mengeluh dalam diam ketika pemerintah tak berpihak kepada rakyat. Paling banter yang biasa mereka lakukan hanyalah saling kasak-kusuk di antara teman-teman dekat agar tak gampang dicap sebagai liyan. Sedangkan saudara dekat mereka, golputers – baik yang ideologis maupun yang terpaksa bahkan yang tak peduli sekalipun – sesungguhnya adalah pemenang pemilihan umum yang tak mengharapkan apa-apa kecuali perbaikan bagi diri sendiri dan semua tanpa sedikit pun mau repot, sampai ada pemilihan umum yang bisa menggerakkan minat dan peranserta mereka.

Sistem politik yang sarat beban kompromi berbagai kepentingan parpol menjadikan pemilihan umum kali ini dianggap sebagai pemilihan umum yang paling amburadul. Diketahui luas bahwa kelemahan utama melekat pada Daftar Pemilih Tetap (DPT). Sesuatu yang sudah ditengarai bermasalah sebelum pemilihan umum diselenggarakan. Di zaman sekarang, sangatlah mengherankan bila pembaruan DPT justru menghapus hak warga negara dan sebaliknya mencantumkan nama-nama yang sudah kehilangan hak pilih secara alamiah (meninggal dunia) maupun yang juga secara alamiah belum berhak (di bawah umur) dalam jumlah dan sebaran yang besar dan luas. Sistematik disengaja maupun tidak, tetaplah berjudul pengabaian hak politik rakyat dalam negara demokratis dan merupakan pelanggaran hak azasi manusia yang seharusnya serius. Hal demikian tak bisa dibiarkan dan cukup diredam dengan jawaban normatif: “Akan diakomodasi dalam pemilihan umum berikut!”

Tidaklah mudah menjawab pertanyaan: “Siapakah yang diuntungkan DPT yang amburadul?” Bahwa DPT harus diperbaiki untuk pemilihan umum presiden adalah keniscayaan. Tapi, kalau sudah sejak lama sebelumnya diingatkan dan terus diabaikan dengan berkilah bahwa masyarakat pemilih tak cukup proaktif, saling melempar tanggung jawab antara KPU dan Depdagri, kiranya proses penetapan DPT perlu dirunut ke belakang. Mungkin justru harus sampai pula ke proses rekrutmen komisioner KPU dan seterusnya …

Sedangkan ke depan, kita bisa menyaksikan bagaimana ‘nasib’ para komisioner KPU sekarang dan pejabat puncak Depdagri. Pertanyaan berikutnya, apabila kisruh DPT diajukan ke pengadilan: “Siapakah yang akan menjadi kambing hitam atau yang rela ‘pasang badan’?” Mudah ditebak, namun sulit dibuktikan kebenarannya. Kejujuran memang ‘hal’ mahal, terutama dalam perpolitikan kita. Validasi DPT untuk pemilihan presiden sudah pasti akan dilakukan sekadar menenteramkan mereka yang mengecam. Sudahlah, yang lalu biarkan berlalu, dan permen ini buatmu … jangan ribut lagi! Bukankah kita ini satu? (iklan salah satu departemen). Iklan dan gebyar pencitraan yang serba bagus dan pengakuan akan ketidaksempurnaan akan mudah menawan hati yang gampang memaafkan kesalahan yang terus berulang. Yang masih ribut akan segera dicap liyan dan atau berasal dari pihak yang tak mau mengakui kekalahan. Masih selalu saja begitu.

Siapakah yang dirugikan DPT yang amburadul? Sejumlah sangat besar pemilik hak suara yang tidak tercantum dalam DPT. Apakah amburadulnya DPT itu juga merugikan parpol peserta pemilu? Ya dan tidak. Bukankah pemungutan suara dilakukan secara rahasia? Tapi, bagaimana dengan potensi pengurangan suara yang dialami parpol di kantong-kantong andalannya? Bagaimana pula dengan dugaan penggelembungan suara? Juga, bagaimana dengan kesalahan dan atau kerusakan surat suara yang merugikan calon? Maka tak mengherankan bila ada parpol yang sudah bersiap-siap menggugat. Pos pengaduan pun dibuka 24 jam, berikut konsolidasi, koordinasi, konsultasi dan komunikasi internal partai maupun antarpartai yang punya pandangan sama.

Selain punya kepentingan, langkah hukum yang ditempuh paraparpol ini positif ketimbang tindakan lain yang justru bisa mengurangi simpati masyarakat yang – diakui atau tidak – pada umumnya sangat permisif dan gampang lupa selain mudah berubah, lebih suka menonton daripada membaca, lebih gemar gebyar ketimbang belajar dari pengalaman, tak mau repot dengan urusan yang tak secara langsung berkaitan dengan kepentingannya di sini dan saat ini. Contohnya sudah sangat banyak dan tampaknya masih akan terus berlaku. Bahkan petinggi parpol pun tak lepas dari inkonsistensi sikap politiknya. Kritik terhadap Bantuan Langsung Tunai (BLT), misalnya, dengan segera diralat setelah ada pertanyaan di sela bibir yang tersenyum menang: “Berbuat baik kok tidak boleh?”

Beradu kecerdikan

Dalam tayangan televisi, incumbent president tampak sangat puas akan hasil pemilihan umum yang menempatkan partainya di urutan pertama. Kemenangan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikannya tanpa tanding dalam pemilihan umum presiden. Hasil pooling yang diselenggarakan lembaga-lembaga penelitian pun sudah lebih dulu menempatkannya sebagai calon presiden idaman sebagian besar rakyat Indonesia untuk masa jabatan kedua. Itu sudah sangat meyakinkan. Yang perlu dilakukannya adalah memiliki pasukan yang bisa diandalkan di parlemen agar kerjanya lima tahun ke depan tidak gampang terganjal hal intrinsik apalagi sekadar intrik yang dikembangkan lembaga legislatif, anggaran dan pengawas pemerintahannya itu. Dan strateginya sudah menuai hasil. Kantung mata yang tebal dan gelap itu akan segera pulih setelah ia dapat tidur nyenyak dan membiarkan mesin politik di bawah kendalinya maupun lawannya sama-sama bekerja untuk dirinya. Cerdik!

Tapi, bagaimana dengan cap ‘brengsek’ pemilihan umum legislatif tahun ini? Bukankah itu tanggung jawabnya? Ah. Itu juga gampang hilang. Masyarakat kita mudah bosan jika dihadapkan pada tantangan. Simpati lebih mudah diraih orang yang tenang di hadapan hujatan. Keributan itu akan segera lenyap karena masyarakat masih gampang dininabobokan dengan excuse yang sopan. Bukankah siapa pun presidennya, akan sangat sulit ‘mengembalikan’ Indonesia menjadi negara besar yang dibanggakan warganya karena yang sekarang adalah lanjutan dan atau sisa masa silam?

Meskipun demikian, hendaklah kebrengsekan pemilihan umum legislatif tahun ini dibereskan menurut hukum yang berlaku agar tak menjadi aib yang berulang sebagai penghalang pertumbuhan kematangan demokrasi kita. Kalau komisioner KPU nyata tidak becus, barangkali bukan hanya kesalahan mereka tetapi juga tim seleksi dan DPR 2004-2009 yang kinerjanya tak memuaskan. ‘Pemantauan’ yang dilakukan Ketua KPU di TPS tempat SBY melaksanakan hak pilihnya juga menunjukkan ketidakmatangan sekaligus masih kentalnya feodalisme di negeri ini, bahkan bukan tidak mungkin menunjukkan hal-hal lain pula. Jadi, bagaimana dengan penyelidikannya? Lanjutkan!🙂

Skenario koalisi

Kemajuan bangsa dan negara memang bukan karya perseorangan. Memegang kekuasaan tak lagi bisa sendirian. Sistem presidensial setengah hati membutuhkan koalisi yang kuat agar kaki-kaki eksekutif dan legislatif bisa seiring sejalan. Bagaimana dengan kekuasaan yudikatif? Kekuasaan ini masih pupuk bawang, tak cukup menonjol dibandingkan kedua saudara sekandungnya dari ibu demokrasi dan bapak persatuan-kesatuan. Di negeri ini, kekuasaan itu dibagi, bukan dipisah untuk saling mendewasakan. Bagaimana kekuasaan itu dibagi? Ia dibagi dalam ikatan persaudaraan. Kalau mau makan bersama di meja kekuasaan, harus punya undangan dan ikut urunan! Kalau punya ‘selera’ yang berbeda, bersiaplah makan angin saja!

Sudah sangat banyak analisis koalisi diwacanakan. Pilihan tentu ada di tangan pemenang. Apakah koalisi itu dibangun demi kesejahteraan rakyat atau lebih dulu berbagi kekuasaan untuk kemudian tetap berlomba lari di atas penderitaan rakyat adalah hal yang jelas jawabannya sejak koalisi itu dibangun hingga lima tahun ke depan.

Sebelum pemilihan umum legislatif, saya yakin bahwa perolehan suara Partai Demokrat akan melejit, meskipun kenyataannya justru jauh lebih hebat daripada yang saya duga. Bahkan para petinggi partai ini pun kaget. Untunglah mereka sudah belajar dari pembina mereka untuk tetap tampak santun! Terlepas dari pro-kontra isinya, iklan pencitraan SBY memang lebih gampang melekat daripada upaya serupa yang dilakukan para pesaingnya.  Gesture dan ucapannya tampak terlatih baik.

Barangkali dalam masa jabatan keduanya nanti, kalau terpilih lagi (ini catatan, bukan ramalan), para pembantunya perlu menambahkan gaya yang lebih variatif. Saya pribadi mengharapkan beliau tampil lebih gagah dan tegas, baik dalam ucapan, perilaku maupun tindakan, dan bukan hanya dalam iklan! Begitulah dalam hal beriklan ini, saya justru melihat yang lain sekadar mengikuti langkahnya dan tetap tertinggal di belakang. Sebagian mungkin tertatih-tatih karena tak memiliki dana iklan sebesar SBY. Dari mana saja ya dana itu diperolehnya? Apakah nanti akan ada penyelesaian secara kekeluargaan lagi kalau di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan? Sudah lupa jugakah kita bahwa seorang Amien Rais pun kemudian diam setelah bertemu dengannya setengah jam saja di bandara?

Kembali ke soal koalisi, sangat mungkin Partai Golkar akan merapat lagi ke Partai Demokrat. Sebab kalau tidak, tak bisa dibayangkan percepatan kehancuran partai senior ini, dan … terjadi dari dalam pula! Faksi di dalam partai itu akan mudah terpecah lagi oleh kepiawaian SBY yang memulai penggembosannya melalui dorongan bagi JK untuk merebut kepemimpinan partai itu. Bukankah sepanjang sejarahnya, partai ini tidak pernah tidak berkuasa dan di manapun, pemilik modal adalah pemegang kekuasaan? Sungguh saya heran bahwa partai yang sangat berpengalaman dan diawaki banyak orang pintar itu begitu mudah ‘diakali’. Meskipun demikian perlu disadari pula oleh petinggi Partai Golkar bahwa dengan koalisi berbasis aturan yang ketat, SBY takkan sulit melepasceraikannya bila kemudian ternyata kemesraan mereka tak dapat dipertahankan untuk memelihara kepentingannya. Hari gini nyari orang setia? Ke laut aje …

Selain dengan Partai Golkar, SBY tentu bertimbang mengkukuhkan kekuasaan koalisinya dengan partai-partai menengah dan kecil. Koalisi yang berkekuatan 70% suara di parlemen akan memuluskan langkah-langkahnya. Tampaknya itu tidak sulit dilakukan. Kendati partai-partai itu sering ‘nakal’ – tidaklah sulit ‘membina’ mereka, terlebih karena yang biasanya mereka suarakan sesungguhnya bukanlah kepentingan rakyat banyak, melainkan pembagian rezeki yang lebih bagi kelompok dan golongan mereka sendiri. Bukankah sudah sangat lama, rakyat dipandang sebagai obyek dan ‘pelengkap penderita’ oleh para pemimpin yang hanya lima tahun sekali mengelu-elukannya?

Bagaimana dengan koalisi ‘oposisi’ dalam pemerintahan banci ini (presidensial iya, parlementer iya)? Oposisi yang juga setengah hati tentulah gampang diredam ketika ia ternyata ikut menari dalam rampak kendang yang ditabuh koalisi penguasa. Kalau jadi, koalisi PDI-P, Gerindra, Hanura dan partai-partai lain tampaknya takkan mampu menandingi kekuatan koalisi penguasa bila yang dijual tetap sama dengan kepentingan dasar yang sesungguhnya berbeda satu sama lain. Tautan chemistry yang sekadar ingin mengalahkan lawan tanpa grand design bersemangat kenegarawanan untuk kemajuan bersama dan semua sudah terbukti mudah luntur ketika masing-masing menonjolkan kepentingannya sendiri. Seandainya solid pun, kalau masih kalah cepat-tepat dalam perang pencitraan, jangan harap akan dapat mendulang suara yang signifikan untuk mengganti kepemimpinan nasional.

Pemilihan Umum 2014

Pemerintahan 2009-2014 agaknya akan lebih ‘rileks’ ketimbang sebelumnya. Ini positif karena tantangan masa depan menuntut perhatian penuh terhadap berbagai kesulitan yang menghadang, terutama di bidang pemulihan perekonomian nasional dan global. SBY akan dikenang sebagai presiden yang hebat karena hadir di saat yang tepat. Apalagi bila dalam masa jabatan keduanya nanti ia karep, kaop, kober (mau, tahu dan mampu, serta punya waktu) untuk meletakkan dasar-dasar kehidupan berdemokrasi Pancasila dengan nafas yang baru. Penegakan hukum, reformasi birokrasi, kedisiplinan nasional, semangat persatuan-kesatuan yang tak menyamaratakan, peningkatan kesejahteraan rakyat (terutama di bidang pendidikan dan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh segenap lapisan masyarakat), pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, menjaga kelestarian hutan dan lingkungan, adalah beberapa tugas berat yang semestinya relatif lebih ringan dilakukannya. Kalau koalisinya solid, siapa pun wakil dan para menterinya, semestinya orang-orang yang memiliki kapabilitas dan integritas moral yang dapat diandalkan untuk menjadi pemimpin yang mengabdi bangsa dan negaranya.

Program parpol lain yang diminati rakyat (tidak dipatenkan kan?), misalnya, bisa diapdosi untuk menyempurnakan program pembangunan nasional yang dipimpinnya. Pilih orang-orang yang tepat di tim ekonomi; menteri pendidikan nasional yang sungguh-sungguh memahami masalah pendidikan, bukan birokrat yang silau pada atribut dan gengsi internasional tapi secara prinsipal mengabaikan potensi keluhuran bangsa sendiri, dan seterusnya. Jangan pilih orang yang mendekat, tetapi kejarlah yang bermutu hingga dapat. Zaken Kabinet adalah pilihan terbaik untuk bekerja keras dan cerdas. Rakyat pasti akan mendukung bila kebaikan digoyang oleh pihak-pihak yang mengutamakan kepentingan sesaat. Masalahnya … apakah ia pengendali kemauannya sendiri atau pengabdi kepentingan lain?

Dan … bagaimana sesudahnya? Lima tahun ke depan adalah waktu yang singkat untuk menyiapkan ‘putra mahkota’, suksesor kepemimpinan nasional dari ‘partai pribadi’-nya. Mampukah si ‘putra mahkota’ dan barisannya nanti bersaing dengan mereka yang sudah lebih dulu bersiap-siap untuk menjadi orang nomor satu di negeri unik ini? Percayakan saja pada dinamika demokrasi di antara orang-orang yang berpikir dan bertindak makin hebat karena dilayani pemerintahan yang kuat. Kalau Partai Demokrat benar-benar demokrat, takkan sulit mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Para petualang dan politisi yang sekadar mengharap bayaran semestinya gampang ditendang … Beda antara bambang dan bambung sangat tipis.

Bagi saya, pemilihan umum tahun ini sangat tidak menarik. Pemenangnya sudah jelas, sejelas karut-marut pelaksanaannya. Semoga pemilihan umum 2014 nanti lebih mantap seiring dengan semakin tingginya kesadaran politik masyarakat bahwa rakyatlah pemegang kedaulatan sejati, dan siapa pun yang mereka pilih adalah orang-orang yang mengabdi kepentingan umum, – sekali lagi – bukan kepentingan diri dan golongan sendiri. Kalau pemilihan umum 2014 nanti masih amburadul juga – sangat mungkin – DPR 2009-2014 lebih banyak berisi politisi muda yang setali tiga uang dengan seniores mereka! Kalau begitu, barangkali lima tahun ke depan ini kita perlu berpikir ulang tentang ‘semuanya’. Nonton action mereka yuuukkk …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: