• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Mei 2009
    S S R K J S M
    « Apr   Jun »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Pilih Capres-Cawapres yang mana ya?

3393056_792a19e0d7_mSBY Berbudi: PD

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tampaknya sangat yakin akan memenangi kontestasi pemilihan presiden untuk masa jabatan kedua. Hasil survei oleh lembaga-lembaga penelitian memang menempatkannya sebagai figur berelektabilitas tertinggi dibandingkan tokoh-tokoh lain. Amien Rais, misalnya, bahkan pernah mengibaratkan SBY akan menang kendati dipasangkan dengan sandal jepit sekalipun. Kepercayaan diri yang sedemikian tinggi itu terdongkrak pula oleh kemampuan partainya meraih suara terbanyak dalam pemilihan umum legislatif yang lalu.

Dalam Deklarasi Capres-Cawapres SBY-Boediono yang diselenggarakan secara besar-besaran di Bandung malam ini, pidato SBY disampaikan dengan gaya yang biasa ditunjukkannya. Sambutan Boediono sudah barang tentu menambah nilai deklarasi itu. Keributan yang sempat meramaikan media massa akibat penunjukan ekonom itu agaknya sudah dapat diredam. Partai-partai yang semula dikabarkan akan mempertimbangkan lagi niat berkoalisi dengan PD karena penunjukan Boediono itu agaknya sangat mudah diatasi oleh kepiawaian SBY yang ‘punya segalanya’. Tercatat 20 parpol yang menjadi mitra koalisi PD menghadiri acara deklarasi tersebut, termasuk PKS.

Selain itu, ada yang perlu dicatat: kehadiran Gamawan Fauzi, Gubernur Sumatera Barat, bukan hanya sebagai undangan, melainkan menjadi pembaca dukungan ‘seluruh rakyat Indonesia’ terhadap pasangan Capres-Cawapres itu. Peran Gamawan dalam acara tersebut mengundang aneka pertanyaan. Salah satunya: bagaimana mungkin seorang gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat di provinsinya tampil dalam acara partisan dan menjadi corong ‘perwakilan seluruh rakyat’ dari Sabang sampai Merauke untuk mendukung satu pasangan Capres-Cawapres? Pernyataan dukungan – yang diucapkan oleh seorang pejabat publik – semacam ini mengingatkan kita pada ‘tradisi rekayasa’ Orde Baru. Tampak jelas bahwa para elit kita masih belum mematuhi etika politik dan mudah memanipulasi kepercayaan rakyat.

Masa’ SBY dianggap tidak punya apa-apa?

Pidato SBY dalam deklarasi itu – melalui pujiannya kepada Cawapres yang ditunjuknya – juga mengingatkan kita pada pidatonya dalam acara syukuran partainya beberapa waktu lalu. Demikian pula beberapa komentarnya tentang calon pesaingnya. Masih segar dalam ingatan kita, pidato SBY di hadapan para pengikutnya, menasihati mereka agar tetap santun seperti gayanya – yang selalu ditampakkan pula oleh para petinggi PD:  ‘setelan’ ucapan mereka kompak merendah untuk meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri – namun, sayang, menggunakan pula jargon pesaingnya untuk balik menyerang.

Demikianlah pidato-pidato ‘reaktif’ SBY menunjukkan bahwa pemimpin kita ini masih saja mengandalkan jurus ‘teraniaya’ untuk melanggengkan karir politik yang diawalinya setali tiga uang dengan perilaku pesaingnya sekarang maupun yang sudah jadi masa lalu. Bukankah masyarakat kita lebih mudah bersimpati kepada yang tampak ‘teraniaya’ daripada kepada yang sekadar ingin diakui jati diri dan jasa-jasanya? Ke mana tujuan pidato itu jika SBY juga perlu mengatakan: “Masa’ SBY dianggap tidak punya apa-apa?” seraya tertawa kecil dan juga mengaku bahwa ucapannya di hadapan raker gubernur se-Indonesia beberapa waktu lalu itu mungkin keliru? Tampaknya, jargon politik “Lebih Cepat, Lebih Baik” telah menyinggung perasaannya.

Entah sampai kapan pola pengelolaan kritik – kalau JK dianggap mengritik – menjadi ‘penganiayaan’ untuk mengeruk simpati ini digunakan sebagai ganti upaya kolektif mencerdaskan rakyat dengan pemaparan data yang sebenarnya beserta visi-misi-strategi yang harus diperjuangkan bersama, pengendalian diri dalam mendayagunakan kepercayaan rakyat dan pengakuan serta sikap ksatria (termasuk mundur jika terbukti tak mampu atau bersalah dan keberanian untuk mempertanggungjawabkannya, ketimbang terus menerus membela diri dan mempertahankan kekuasaan dengan cara-cara yang memalukan). Mungkin kesadaran baru akan tiba ketika para pemimpin kita tercengang oleh keniscayaan lain yang juga tumbuh: masyarakat kita gampang bosan, gampang berkomentar sekaligus gampang berubah dan bahkan lupa, namun selalu berusaha membangun kecerdasannya sendiri. Sebagian besar secara diam-diam, dan bersabar hingga suara mereka bisa digunakan untuk memilih sekaligus menghukum.

Menimbang Capres-Cawapres

Pasangan Capres-Cawapres yang sudah mendeklarasikan diri hingga catatan ini diunggah adalah SBY-Boediono dan JK-Win. Mungkin akan segera menyusul pasangan terakhir: Megawati-Prabowo Subianto. Belum ada tokoh baru. Partai-partai yang modern dan diawaki orang-orang muda masih belum muncul. Belum jelas benar apakah benar BEM se-Indonesia menolak tiga pasangan itu dan apa saja alasannya. Catatan pribadi ini sekadar pengingat untuk menentukan pilihan pada tanggal 8 Juli 2009 nanti.

SBY-Boediono. Pribadi SBY sudah sangat jelas merupakan magnit bagi sebagian rakyat Indonesia. Sosok militer belum (tampaknya tak mungkin) luntur dari pribadi ini, meskipun lambaian dan tutur katanya tampak dan terdengar lemah lembut.🙂 Kepercayaan dirinya sangat tinggi, responsif (kadang-kadang bahkan terkesan reaktif), dan incumbent. Boediono sebagai Cawapres pilihannya tampak serasi dengan kriteria ‘matahari tunggal’. Kalau SBY-Boediono menang, maka SBY tak perlu terlalu repot menimbang kekuatan koalisinya di parlemen maupun di kabinetnya nanti. Dalam masa jabatan kedua, ia akan dapat lebih leluasa melanjutkan ‘pengabdian’-nya bagi bangsa dan negara. Secara khusus, janji Boediono patut digarisbawahi.

JK-Win. Ketika Gus Dur menjabat Presiden, sekurang-kurangnya kita mencatat adanya kesan ‘desakralisasi’ jabatan dan fasilitas kenegaraan. Feodalisme dan diskriminasi mulai cair. Dikotomi ‘mistis’ Jawa-Nonjawa, Nasionalis-Agamis tak laku. Publik mencatat JK sebagai real president (mungkin karena itulah dia dianggap ‘cari muka’). Slogan “Lebih Cepat, Lebih Baik” tampaknya memang cocok disandang saudagar ini. Ia ceplas-ceplos, tak terlalu protokoler, berani, penampilannya sederhana dan apa adanya, sama sekali jauh dari kesan flamboyan. Ia menjawab lugas pertanyaan, bertindak cepat terhadap tantangan. Sedangkan Wiranto, Cawapres pendampingnya, adalah pendiri dan Ketua Umum Partai Hanura, salah satu ‘pecahan’ Partai Golkar. Purnawirawan jenderal ini pernah memenangi konvensi sebagai Capres dari PG, berpasangan dengan Gus Sholahuddin Wahid, tapi gagal dalam pemilihan umum presiden 2004, di putaran pertama. Rivalitasnya dengan Prabowo Subianto, bawahannya semasa masih aktif di militer, pernah menjadi isu nasional. Demikian pula dengan aneka isu pelanggaran HAM semasa tahun-tahun terakhir rezim Presiden Soeharto dan Presiden B.J. Habibie.

Megawati-Prabowo Subianto. Megawati sudah pernah ‘kehilangan hak’-nya karena upaya Poros Tengah yang dimotori Amien Rais sehingga baru menjadi Presiden sesudah Gus Dur dilengserkan poros yang sama. ‘Nasib buruk’ kembali menimpanya ketika dua pembantu dekatnya – SBY-JK – mendeklarasikan diri sebagai kompetitornya dan menang dalam pemilihan umum presiden 2004. Prabowo Subianto, mantan the raising general, saat ini adalah Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, pendiri dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Tak seperti Wiranto, jenderal ini dipaksa pensiun dini menyusul chaos yang terjadi pada akhir Orde Baru.

Tentu saja catatan di blog ini tak selengkap yang ada di dalam kepala dan hati saya dan Anda. Apalagi, seperti saya, Anda pun mungkin sudah punya pilihan. Kalau gejala peningkatan jumlah golputers semakin jelas bahkan setelah DPT diperbaiki KPU (karena target pemilihan umum legislatif secara relatif sudah tercapai), maka saya mungkin akan bertimbang lagi. Mau pilih pasangan mana ya?

Tak ada yang sempurna

Ketiga pasangan Capres-Cawapres sudah mendeklarasikan diri. Hari Sabtu, 16 Mei 2009 mereka akan mendaftarkan kepesertaan mereka dalam pemilihan umum presiden ke KPU. Di era pencitraan sekarang ini dan di negara kita ini, yang berpotensi menang adalah mereka yang pandai memanfaatkan peluang untuk beriklan. Sebagian besar masyarakat kita masih sangat mudah dibelokkan oleh pencitraan yang serba baik, tanpa cacat, menghibur indra penglihatan dan pendengaran kita. Masih jauh lebih banyak – dan saya khawatir akan semakin banyak – yang lebih suka menonton ketimbang membaca, lebih banyak yang berpikir singkat daripada bertimbang panjang, lebih banyak yang suka bertindak praktis-pragmatis daripada berlandaskan kepentingan masa depan.

Pemilihan pasangan turut diperkirakan memengaruhi tingkat elektabilitas kontestan. Bicara tentang pemilihan pasangan, tampaknya SBY telah memilih orang yang tepat untuk mendampinginya. Dalam sistem presidensial, sekali lagi, mestinya ia tak perlu repot tentang akan mantap atau goyahnya koalisi di parlemen dan pemerintahan. Tampaknya SBY sangat menyadari posisinya sehingga tak kelabakan ketika mitra koalisinya tersinggung karena tak diajak bicara tentang pilihannya. Agaknya ia tahu benar bahwa popularitasnya dapat diandalkan untuk menarik mereka ke dalam pusaran kekuasaan yang membuatnya semakin percaya diri. SBY dilawan …🙂

Kalau menang, ia takkan dapat mencalonkan diri lagi sebagai presiden setelah mengakhiri masa jabatan keduanya. Masih belum jelas apakah dalam pemilihan umum 2014 nanti partai-partai yang mendukungnya akan berjaya atau sebaliknya. Apabila pemerintahannya dipandang sukses, mungkin saja mereka akan kembali ikut bersama PD meraup suara rakyat untuk partai masing-masing. Tentu hal itu dipengaruhi pula oleh faktor kinerja figur kader mereka di lembaga eksekutif dan legislatif nanti.

Dapat diduga, para pembantu SBY akan lebih banyak diambil dari kalangan profesional. Ia tak perlu khawatir akan digoyang di parlemen kalau program pemerintahannya didukung rakyat. Dalam ‘masa tenang’ pemerintahannya itu, citra kenegarawanan SBY akan semakin ditonjolkan. Sementara itu, ia dapat membina kader dari partainya sendiri untuk kompetisi berikutnya. Bukankah PD – entah sampai kapan – adalah miliknya? Tetapi kalau ia tak melanjutkan ‘gaya’-nya, bukan tidak mungkin kontestan yang dikalahkannya dalam pemilihan umum presiden nanti – koalisi oposisi (?) – justru akan menangguk keuntungan karena kader-kader partai mitra koalisinya sudah jelas menunjukkan watak asli mereka sebagai pendamba kekuasaan.

Bagaimana dengan pasangan JK-Win? Sayang sekali. PG adalah partai yang berisi kader-kader berkualitas yang terpecah belah dalam banyak faksi. Kepentingan mereka mengandaikan pengendalian posisi penguasa ada di tangan mereka. Yang melihat pasangan JK-Win takkan dapat mengalahkan SBY tentu akan lebih suka merapat kepada calon pemenang. Mesin politik PG yang canggih terbukti tak dapat diandalkan ketika terjadi benturan berbagai kepentingan di internal partai itu.

Sangat mungkin, pemilih PH akan solid. Figur Wiranto juga sangat dominan dalam partai ini. Tetapi jumlah suara mereka belum cukup signifikan dan mesin partai baru ini masih belum cukup teruji. Para tokohnya dikenal memiliki keberanian untuk kalah dan menjadi oposan yang juga terhormat. Agaknya tak demikian dengan kader-kader PG.

Pasangan terakhir, Mega-Pro (?) adalah pasangan yang paling kontroversial dalam pandangan saya. Megawati pun sangat dominan dalam PDI Perjuangan kendati tak bisa disamakan dengan dominasi SBY di PD, Wiranto di PH dan Prabowo Subianto di Partai Gerindra. Konsistensinya terhadap NKRI, Pancasila, dan anggapan bahwa partainya adalah partai wong cilik membuatnya dihormati oleh para pendukungnya dan disegani lawan politiknya. Keberaniannya mengambil posisi sebagai oposan – kendati tak cukup efektif karena hanya sendirian – patut dihargai. Pencitraan negatif oleh lawan politiknya terutama berkisar pada ‘takdir’-nya: perempuan, bukan sarjana.

Prabowo Subianto dikenal sangat ambisius kendati dalam istilah Jawa ia – diakui atau tidak oleh para lawan politiknya – tergolong sembada. Setelah melepaskan karir militernya, ia bergiat dalam bisnis dan berhasil. Ia pun memimpin HKTI yang semestinya menjanjikan elektabilitas yang cukup tinggi mengingat bagaimanapun juga Indonesia adalah negeri agraris. Kalau yang akhir-akhir ini dilakukannya demi kesejahteraan rakyat bisa mengubah pencitraan negatif terhadap dirinya sebagai militer dengan berbagai atribut buruk sekaligus bekas menantu Soeharto, penampilannya juga memikat banyak kalangan muda.

Ketiga pasangan Capres-Cawapres masing-masing mengandung unsur militer masa Orde Baru dengan berbagai cap masa lampau yang masih melekat dan kecenderungan kultur yang tak mudah luntur. Pasangan JK-Win dan Mega-Pro menempatkan sosok bernuansa militer sebagai Cawapres. Tentu saja – seperti pernah dikatakan JK tentang dirinya yang dianggap seperti tentara – faktor kepribadian asli bisa meruntuhkan adagium Hasnan Habib bahwa “militer sejati bukanlah demokrat sejati”. Apalagi mereka sudah pensiun. Tapi, penampilan SBY akhir-akhir ini justru menunjukkan kemelekatan kultur militer itu pada dirinya. Tidak apa-apa, sejauh terbukti sebagian besar rakyat Indonesia justru lebih suka dipimpin mantan militer dengan berbagai kecenderungannya.🙂

Secara resmi, masa kampanye belum dibuka. Tetapi dua pasangan yang terlebih dulu mendeklarasikan kepesertaan mereka sudah lebih dulu beriklan. Tunggu saja sampai mereka menawarkan program masing-masing. Semoga pemenangnya adalah yang program dan pelaksananya paling mampu memikat rakyat, bukan karena penampilan fisik, asal-usul, dan sebagainya atau sekadar ‘pokoknya’. Semoga pemilihan umum presiden kali ini sungguh-sungguh berlangsung sesuai dengan harapan kita semua: luber dan jurdil. Kendati para pasangan calon mungkin tidak ideal, rakyat Indonesialah yang akan menentukan pilihan minus malum: yang paling sedikit unsur negatifnya. Semoga.

2 Tanggapan

  1. Sayang pilhan capres dan cawapres masih disi orang-orang lama dan perlu dicatat bahwa mereka termasuk dalam

    Daftar Capres-Cawapres Penerima Dana Korupsi DKP
    Trims

    Terima kasih atas kunjungan Anda. Nusantaraku telah memberikan pendidikan politik secara berbeda dengan yang ‘diajarkan’ oleh sebagian besar parpol dan para elitnya.🙂

  2. siapapun presidennya yang penting rakyat sejahtera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: