• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juni 2009
    S S R K J S M
    « Mei   Jul »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Bahasa me+(tunjuk)+kan bangsa?

IndonesiaDi tengah situasi politik nasional yang memanas berkaitan dengan pemilihan umum 2009 – terutama tentang karut marut DPT, hak angket DPR tentangnya, koalisi partai politik, laporan kekayaan capres-cawapres, dana awal kampanye, pencurian start kampanye, polarisasi anggota kabinet karena Presiden dan Wakil Presiden yang sedang menjabat sudah mulai sibuk untuk saling berkompetisi, dan sebagainya – juga tentang janji baru Pemerintah tentang tunjangan profesi bagi para dosen dan guru, kasus kriminal yang melibatkan beberapa pesohor dan petinggi, upaya Malaysia untuk ‘bergoyang’ di blok Ambalat, dan sebagainya, berita Kompas, Rabu 27 Mei 2009, hal.12 (Pendidikan & Kebudayaan) saya catat sebagai salah satu keprihatinan yang tampaknya akan mudah ditenggelamkan isu-isu lain yang lebih menarik perhatian publik.

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tak ada satu bangsa dan negara pun di dunia ini yang memiliki keragaman budaya seperti Indonesia. Salah satunya adalah bahasa daerah. Globalisasi dan perkembangannya sedikit demi sedikit telah mencerabut kita dari akar budaya kita sendiri. Bahkan ketika Bahasa Indonesia – bahasa nasional – pun kalah pamor dibandingkan bahasa asing di indra anak bangsa ini dan di negeri sendiri, maka kepunahan satu demi satu bahasa daerah kita itu adalah suatu keniscayaan yang sulit dihindari. Jangankan dihindarkan, bahkan diperhatikan dan dilestarikan dengan kebanggaan secukupnya pun mungkin tidak lagi.

Tampaknya sebagian orang Indonesia lebih bangga kalau bisa berbahasa asing daripada menggunakan bahasa kita sendiri secara baik dan benar. Istilah dan atau kalimat bahasa asing mudah meluncur dari mulut para petinggi dan pejabat kita. Kadang-kadang tak terhindarkan, namun tak jarang juga berlebihan, kemudian kebablasan sekadar untuk mencitrakan intelektualitas pengucapnya. Dalam acara debat di televisi beberapa tahun lalu bahkan ada tokoh yang mengejek tokoh lainnya masih belepotan bahasa Inggris-nya. Banyak iklan di media kita pun berbahasa Inggris. Iklan lowongan pekerjaan, misalnya, menjadikan penguasaan bahasa Inggris sebagai salah satu syarat utama, bukan nilai tambah yang memang bermanfaat mendukung dan melancarkan pelaksanaan pekerjaan. Padahal para pegawai di lembaga pengiklan itu sejak masuk hingga pensiun nyaris tak pernah melayani orang asing!

Suatu hari di tempat kerja saya beberapa tahun lalu, saya dicari teman-teman sekerja yang buyar ketika serombongan bule datang berkunjung. Mereka, teman-teman sekerja saya, menyerahkan urusan menemui para tamu itu kepada saya. Padahal, ketika saya menemui para tamu itu dan belum sempat menyapa, salah seorang dari mereka sudah lebih dulu menyapa dari jarak beberapa meter dan kemudian bertanya dalam bahasa Indonesia yang fasih, di atas rerata penggunaan bahasa Indonesia oleh orang Indonesia sendiri. Beberapa orang di antara mereka tertawa geli karena kedatangan mereka telah ‘menakutkan’ teman-teman sekerja saya. Kegelian itu mereka ungkapkan juga dalam bahasa Indonesia! Opo tumon?

Saya senang dan kagum karena banyak anak kecil pun sekarang lancar berbahasa Inggris. Di rumah, mereka juga lebih sering berbahasa Inggris daripada Indonesia. Bahasa Indonesia – apalagi bahasa daerah – dianggap ndeso. “Hare gini gak bisa ngomong Inggris?” katrok! Penguasaan bahasa asing ternyata tak sekadar membuat kita lebih suka menganggap lebih segala sesuatu yang berasal dari luar, tetapi sekaligus juga mulai melalaikan milik kita sendiri. Zaman sekarang memang bukan zaman dulu, ketika para orangtua kita tetap bangga berbahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing kendati juga menguasai bahasa-bahasa asing.

Nah … apakah kita akan membiarkan bahasa-bahasa daerah kita punah? Juga … apakah kelak, akhirnya kita akan semakin jarang berbahasa Indonesia pula? Apakah aneka julukan kita perlu ditambah, misalnya dengan … Bangsa Nostalgia?

304 Bahasa Daerah Belum Dipetakan

BANDUNG, KOMPAS – Sebanyak 304 bahasa daerah di Indonesia belum selesai dipetakan baik jumlah pengguna, wilayah penggunaan, maupun struktur bahasanya. Saat ini, Pusat Bahasa baru berhasil memetakan 442 bahasa dari 2.185 daerah.

“Sebanyak 442 bahasa itu sudah kami petakan dalam Peta Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono dalam Seminar Internasional Bahasa dan Pendidikan Anak di Bandung, Jawa Barat, Selasa (26/5).

Ke-304 bahasa daerah tersebut yang sebagian besar di Indonesia bagian timur akan diprioritaskan untuk diteliti dan dipetakan. Penelitan melibatkan 201 peneliti yang tersebar di berbagai daerah, seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

Sejauh ini, perkembangan penelitian sudah menghasilkan beberapa kesimpulan awal, di antaranya penemuan bahasa daerah yang punah karena minimnya penutur.

“Di Papua ada sembilan bahasa yang punah. Selain itu, di Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur masing-masing satu bahasa sudah punah,” katanya.

Hilangkan akar budaya

Kepunahan ini, menurut Dendy, harus segera dihentikan. Alasannya, hilangnya bahasa daerah akan menghilangkan akar kebudayaan suatu daerah. Bahasa kerap menjadi komponen utama yang bisa membentuk kepribadian positif masyarakat.

Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika mengatakan, kepunahan bahasa daerah merupakan kerugian besar bagi pertumbuhan suatu bangsa. Kehilangan bahasa daerah berarti melumpuhkan salah satu pilar pembangun bahasa nasional.

Dodi mengatakan, bahasa daerah sering menjadi penyelamat eksistensi bahasa nasional. Bahasa daerah juga kerap mengisi kekosongan bahasa nasional.

“Contohnya ketika Bahasa Indonesia kebingungan mengartikan istilah download. Bahasa daerah mampu mengisinya dengan kata mengunduh,” katanya.

Indonesia diyakini memiliki 746 bahasa daerah jauh meninggalkan Filipina dengan 147 bahasa atau Malaysia dengan 113 bahasa. (CHE)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: