• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2009
    S S R K J S M
    « Jun   Sep »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Pilpres 2009

70x50iltAPemungutan suara sudah 10 hari lewat. Penghitungan cepat yang dilakukan berbagai lembaga survei nyaris serupa: Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2009 tampaknya memang berlangsung hanya satu putaran dengan pasangan Soesilo Bambang Yudhoyono dan Boediono sebagai pemenang kontestasi capres-cawapres tahun ini. Para kandidat lain pun tampaknya sudah bersiap-siap tak disebut sebagai pemenang (kurang suara). Benarkah demikian? Sabar sajalah. Tunggu sampai KPU mengumumkan hasil Pilpres 2009 sesuai kewenangan konstitusionalnya. Lembaga-lembaga survei yang paling dekat dengan hasil penghitungan manual (real-count) KPU tentu akan mendapatkan credit-point tambahan dalam rekam jejak masing-masing. Sedangkan yang meleset, sudah jelas nasibnya.🙂

Yang jelas, rakyat Indonesia sudah menentukan pilihan masing-masing. Pilpres 2009 disebut telah berlangsung lancar, aman, damai. Karenanya kita patut bersyukur kepada Tuhan yang mahaesa. Namun, rasa syukur kita itu hendaklah tidak mengabaikan proses ruwet di sebaliknya. Sewajarnya Pilpres 2009 dimenangi kandidat yang paling siap untuk membuat sebagian terbesar rakyat berhak pilih sah mencontreng nomor urut atau gambar dirinya di kartu suara yang mereka terima di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Pemimpin terpilih sekurang-kurangnya menggambarkan keadaan dan kehendak pemilihnya atau keberhasilan mencitrakan kebaikan yang lebih memikat para pemilihnya ketimbang pencitraan yang diusahakan kandidat lain.

Yang tidak (atau kurang?) jelas adalah hal-hal yang saya catat berikut guna mengingatkan – sekurang-kurangnya – diri sendiri apakah lima tahun ke depan fenomena serupa masih muncul dalam Pemilihan Umum di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.

1Iklan pencitraan incumbent sudah merasuki ruang-ruang pribadi para calon pemilih jauh sebelum masa kampanye. Berapa biayanya? Dari mana uangnya? Bukan hanya iklan pribadi untuk meraih kursi masa jabatan kedua, tetapi departemen-departemen strategis pun ikut beriklan mendukung juragan mereka.

2Kinerja KPU yang buruk: a) Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang bermasalah, diakui namun tak tuntas diperbaiki. Dalih bahwa KPU (Pusat) sudah meminta KPUD membereskannya di wilayah kerja masing-masing, alur DPT dari DPS yang merupakan akibat langsung dari sistem ‘politik’ kependudukan Depdagri yang belum pernah beres di Nusantara kita akan ‘menyelamatkan’ KPU dari perasaan bersalah dan tanggung jawab moral tentang hak pilih rakyat yang tak terakomodasi; b) Jumlah pemilih bertambah, jumlah TPS justru dikurangi tanpa penjelasan yang dimaklumi; c) Netralitas yang diragukan; d) Pasif, tak proaktif dalam mengatasi permasalahan; e) Pemungutan suara tak dilaksanakan serentak; f) Dugaan penyusupan lembaga asing IFES (International Foundation for Electoral Systems) dalam proses tabulasi nasional; dsb. Seandainya di antara komisioner KPU nanti ada yang terhukum seperti beberapa komisiner KPU periode lalu, tampaknya kinerja KPU yang amburadul itu takkan mengurangi legitimasi apa pun yang jadi kewenangannya. Siapa sih yang memilih mereka?🙂

3Panwaslu dan Bawaslu ‘tak bergigi’, Polri dan Kejaksaan terkesan ‘enggan’ menindaklanjuti laporan pelanggaran pidana pemilihan umum kecuali bila pelakunya gampang dihukum. Pelanggaran administrasi mudah diabaikan dengan serangkaian excuse dan kekompakan khas Indonesia. Aroma money politics selalu hanya bisa dirasakan tapi sulit dibuktikan. Kalau terbukti pun, akan ada pembenaran sistematik untuk mengabaikan ‘perkara-perkara kecil’. Ada atau tidaknya grand design, sistematik atau terjadi secara kebetulan serupa hantu: dirasakan keberadaannya karena bikin merinding, tapi keadaannya tak kasat mata. Begitu pula dengan ‘nasib’ mereka yang sudah rela bekerja keras dan menjadi perisai siang maupun malam bagi yang diuntungkan: apakah jabatan mereka di pemerintahan baru nanti?

4Mahkamah Konstitusi memutuskan ‘kebijakan tanggung’ tentang penggunaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan paspor di saat akhir (injury-time). Putusan MK yang seperti itu tak cukup menolong masyarakat yang memiliki hak pilih tapi tak terdaftar pada DPT karena pada umumnya orang menyimpan Kartu Keluarga di rumah, tak dibawa ke mana-mana seperti membawa KTP, SIM, KTA, kartu kredit, dll. Tak ada lagi TPS khusus maupun keliling yang melayani para calon pemilih di rumah-rumah sakit, terminal dan stasiun maupun tempat-tempat lain sehingga banyak yang kehilangan hak pilih.

5Media massa (terutama televisi) yang ‘memihak’: memuat iklan ini dan membatalkan kontrak iklan itu secara sepihak; penayangan exit poll sebelum saat yang diizinkan undang-undang, pemberitaan yang kurang berimbang, dsb. Tampaknya, lima tahun ke depan setiap parpol dan atau pasangan capres-cawapres perlu bertimbang untuk punya stasiun televisi sendiri. Bangsa yang lebih suka menonton ketimbang membaca memang membutuhkan tontonan, bukan ajakan untuk berpikir analitik apalagi merenung. Tontonan gampang dinikmati sambil meneruskan kesibukan kerja sehari-hari ketimbang ikut memikirkan hal-hal di luar jangkauan dan urusan masing-masing.

6Jumlah pemilih ideologis makin terkikis oleh ketidakmampuan para pengemban ideologi dalam mengembangsuburkan keyakinan mereka akan keunggulan ideologi parpol. Masyarakat semakin pragmatis, kepedulian terhadap nilai-nilai luhur bangsa pun mudah hangus oleh tampilan iklan yang enak dilihat. Kalau materi iklannya tak benar, pada umumnya tak banyak yang berani terus terang bersikap kritis. Kebaikan dan keberhasilan selalu mudah diwartakan secara berlebihan, sedangkan keburukan dan kegagalan sangat gampang dicarikan kambing hitamnya.

7Penampilan fisik pemimpin, kepandaian berolah wicara dan memainkan peran lebih memikat ketimbang yang sudah bersusah payah tapi kurang terampil bicara dan bleger yang enak dilihat. Aneka test case yang dilakukan para politisi elit seolah-olah menjadi pembenaran bahwa bangsa kita ini masih nyaman menjadi sekumpulan bebek ketimbang sekawanan elang apalagi garuda. Kesalahan yang jelas akan sangat mudah dimanfaatkan oleh aktor yang cerdas untuk menggambarkan keteraniayaan semu yang dialaminya sehingga menghasilkan dukungan yang dibutuhkannya untuk dipikul dhuwur sekaligus mendhem jero segala kesalahannya. Pencitraan figur selalu menguntungkan para pengusaha salon politik, sehingga – bisa dimaklumi – mereka tumbuh kembang makin subur di arena pertunjukan akbar.

8Penampilan sebagian besar politisi muda belum menjanjikan perubahan yang diperlukan bangsa ini. Perkataan mereka juga mudah berubah. Gembar-gembor mereka yang menjanjikan perubahan perilaku berpolitik yang lebih  ideal ternyata gampang ditenangkan dengan negasi sublimatif dari pucuk pimpinan parpol. Keadilan dan kebenaran yang mereka suarakan ngglethek, segera lenyap tak berbekas. Pada waktunya nanti, mereka akan muncul kembali dengan polesan isu baru dan gaya yang serupa.

9Parpol yang mendapatkan simpati masyarakat sudah belajar dari kesalahan parpol yang terlalu lugu mengusung suara rakyat dalam pemerintahan. Sopan santun ternyata jauh lebih efektif untuk membungkus tujuan jangka panjang ketimbang tampil apa adanya. Dalam dunia wayang, Petruk memang bisa jadi ratu karena wolak waliking zaman, tapi hanya sekejap, karena penonton menganggapnya sekadar selingan dari alur yang sudah terlanjur dianggap benar.

10Jumat, 17 Juli 2009 pagi, Hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, diguncang bom bunuh diri. Dalam siaran pers-nya, Presiden Republik Indonesia mengutuk kejahatan kemanusiaan itu. Kita semua sependapat. Tapi SBY ternyata juga nunut memberitahu rakyat bahwa ia terancam pembunuhan terkait dengan proses Pilpres 2009. Wah. Kasihan ya Presiden kita?

Semoga saya masih bisa mengalami demokrasi kita yang lebih bermartabat!

Satu Tanggapan

  1. Tampaknya sudah diatur, agar aman dan damai dengan cara melanjutkan…

    Tampak begitu ya, Pak? Yang mengatur pinter banget ya?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: