• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Oktober 2009
    S S R K J S M
    « Sep   Apr »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Bhagawadgita (Sebuah Petikan)

180px-ArjunAlkisah pada awal Bharatayuda, Arjuna terduduk lemas tak bertenaga di dalam kereta kuda yang dikusiri Batara Kresna. Semangat tempurnya seolah terbang melihat saudara-saudaranya berperang melawan Kurawa, kerabat mereka sendiri. Alangkah sedih hatinya menyaksikan para prajurit di kedua belah pihak yang gugur membela negara masing-masing. Padang Kurusetra menyuguhkan pemandangan yang memilukan. Peperangan yang serba membinasakan, membunuh atau dibunuh, mengusik perasaan sang ksatria penengah Pandawa.

Melihat keadaan Arjuna itu, Kresna berkata: “Adikku Arjuna, mengapa engkau bersedih hati? Saat ini kita sedang berada di medan pertempuran. Angkatlah busurmu dan lepaskan anak panahmu kepada musuh. Sayangilah para prajuritmu yang sudah gugur. Belalah para panglimamu. Balaskan kematian Seta dan lain-lain. Jika engkau tak segera bertindak, para prajuritmu akan berkecil hati sedangkan Kurawa akan bergirang meraih kemenangan. Bangkit dan berjuanglah, Adikku!”

Arjuna menjawab: “Kakanda yang sangat hamba hormati, rasanya hamba tak mampu meneruskan perang Bharatayuda ini. Jika hamba meneruskannya, apa nanti kata dunia dan siksa apa yang akan hamba derita? Sebagai seorang ksatria, haruskah hamba berperang melawan saudara-saudara sendiri demi keduniawian, berebut negeri? Hamba tak dapat tegak berhadapan dengan para saudara hamba sendiri, dengan Resi Druna, guru hamba, dan Resi Bhisma, kakek hamba. Segeralah Kakanda menghentikan perang ini. Hati hamba telah memutuskan rela tak memiliki negeri bila harus membelinya dengan menumpahkan darah saudara-saudara hamba sendiri. Hamba takkan mulia jika kemuliaan itu hamba peroleh dengan membunuh saudara-saudara hamba. Bagaimanakah sorak dunia jika hamba berperang dengan saudara hanya berebut kemuliaan duniawi? Siksa apakah yang akan hamba dapat bila hamba mengganggu kemuliaan dan kehormatan para guru dan pinisepuh yang sewajibnya hamba hormati? Ksatria macam apakah hamba bila membunuh eyang hamba, yang telah mendidik kami sejak kecil hingga dewasa? Hamba sangat malu kalau harus meneruskan peperangan ini!”

Mengertilah Kresna kegundahan Arjuna. Maka ia pun berkata: “Adikku 180px-Kresna-klArjuna, bagi orang biasa, segala perkataanmu itu memang baik dan benar. Dunia takkan menyalahkan, bahkan akan memuji. Namun, orang yang menolak kebaikan berarti sengaja mengerjakan kejahatan. Ksatria hendaklah tak berpikir sependek itu. Sepintas lalu, banyak hal yang tampak baik, tetapi jika diselidiki dengan kearifan, hal-hal itu menyimpang dari prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran. Segala sesuatu hendaklah dikerjakan melalui pemikiran yang matang dengan hati yang tenang dibimbing akal sehat dan nurani bening. Maka heningkanlah ciptamu sejenak!

Adikku Arjuna, dengarkanlah perkataanku ini. Terjadinya perang Bharatayuda mungkin dikatakan tak baik oleh sebagian orang karena merupakan perang saudara. Engkau bahkan mengatakan tak sanggup melaksanakannya. Namun, perang itu ada baiknya juga dan mesti ada. Terjadinya peperangan adalah karena adanya tujuan yang bertentangan. Orang yang berwatak angkara murka dan sejenisnya selalu berusaha merugikan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Tapi orang yang mengemban keadilan selalu berusaha mengerjakan kebenaran dan keutamaan. Di mana terdapat pertentangan tujuan, di sanalah terjadi peperangan karena kedua belah pihak selalu berusaha supaya cita-citanya tercapai.

Kita sekarang telah berada di medan pertempuran. Ksatria yang sudah berada di medan pertempuran hanya memegang satu tekad, yaitu membinasakan musuh, tidak memandang saudara atau teman. Dalam hatinya bukan akan membunuh saudara atau teman itu, melainkan membunuh watak angkara murka yang selayaknya diberantas dari permukaan dunia. Walau saudara, guru atau pinisepuh itu patut dihormati, tetapi bila mereka memihak keangkaramurkaan, maka mereka adalah musuh. Ksatria yang menjalankan kewajibannya tak perlu memandang siapa musuhnya itu. Tempat berterimakasih kepada Resi Durna dan Resi Bhisma bukanlah di sini dan saat ini. Karena memihak musuh, mereka adalah musuhmu. Kita harus berbuat baik kepada orang baik, tetapi orang yang jahat harus diberantas.

Walaupun saudaramu sendiri, Kurawa berwatak jahil dan angkara murka. Karena itu, mereka adalah musuh para ksatria. Duryudana memungkiri janjinya, tak mau mengembalikan separuh negeri Hastinapura yang menjadi hak Pandawa. Perbuatannya itu tak ubahnya seperti negeri yang terus menerus berperang demi meluaskan daerah jajahannya. Maka, jika tidak diberantas, negeri itu makin lama makin kuat dan makin besar angkara murkanya sehingga tak segan merampas hak orang lain. Adikku maju ke medan perang ini tak lain adalah untuk membela negeri tumpah darahmu dan memerangi keangkaramurkaan. Itulah kewajiban para ksatria!

Segala nasihat sudah tumpah di hadapan para Kurawa. Mereka tak hendak mendengarkan orang lain kecuali keangkaramurkaan yang telah merajai pikiran dan niat jahat mereka. Orang yang sentosa budinya menganggap bahagia dan celaka itu sama saja. Badan hanya bersifat sementara. Ksatria yang tewas di medan pertempuran akan naik ke sorga. Jika menang, ia akan berkuasa. Tetapi ksatria yang mengelakkan darmanya akan dihukum dan dianggap hina oleh seluruh dunia. Hendaklah setiap orang mengarahkan batinnya semata-mata kepada darma bakti kehidupannya, tugas-tugas yang diserahkan sebagai tanggung jawab martabat dan jabatannya. Ia harus bersikap lepas bebas dari hal-hal lainnya. Manusia tidak boleh hanyut oleh perasaan sedih maupun gembira. Ia harus membebaskan diri dari segala kemurungan. Maka, Adikku, majulah ke medan pertempuran untuk menepati darmamu sebagai ksatria!”

Setelah mendengarkan penuturan Kresna itu, bangkitlah semangat Arjuna. Ia mengangkat busurnya dan melepaskan anak panahnya kepada para musuhnya, melaksanakan darma ksatria: memberantas keangkaramurkaan dunia.

Sumber: 1) M. Saleh (1992). Mahabarata. Jakarta: Penerbit Balai Pustaka; 2) P.J. Zoetmulder (1983). “Bhismaparwa” dalam Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Penerbit Djambatan. 3) Gambar wayang Arjuna dan Kresna diperoleh dari: http://id.wikipedia.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: