• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Oktober 2009
    S S R K J S M
    « Sep   Apr »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Belajar dari Kartini

Mengingat Kartini

RAKartiniKartini adalah salah seorang perempuan Jawa yang beruntung karena dianugerahi pendidikan tatkala sebagian besar kaumnya hanya dianggap sebagai konco wingking kaum lelaki dan harus hanya narima ing pandum dalam kodrat keperempuanannya semasa hidup. Namun, kendati perjuangannya tak seheroik beberapa perempuan pahlawan nasional lainnya, nama R.A. Kartini lebih sering disebut dalam percakapan dan ingatan tentangnya selalu memberikan inspirasi bagi bangsa ini untuk berupaya berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa lain. (vide ensiklopedi ini).

Maka tak sulit dimaklumi mengapa sastrawan Pramoedya Ananta Toer tertarik menulis sebuah pengantar pada Kartini sehingga terbitlah “Panggil Aku Kartini Sadja” (Djakarta, 1962) dalam dua jilid. Tulisan ini sekadar mengutip perkataan Kartini yang dimuat dalam kedua jilid buku itu (berasal dari surat-surat dan catatan-catatan Kartini yang diterbitkan dalam buku Door Duisternis Tot Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang). Tanpa komentar, perkataan itu dikutip berdasarkan tema-tema tertentu, untuk belajar.

Kerja: Melawan Kemiskinan

Tadi siang kami sungguh terharu tersentuh oleh sekelumit derita hidup. Seorang bocah berumur enam tahun berjualan rumput. Si bocah itu tidaklah lebih besar dari misanan kami; bocah itu sendiri tidak kelihatan; seakan ada dua buah unggukan rumput menyeberangi jalan. Ayah memanggilnya, dan dari situ terpampanglah sepotong sejarah, seperti ratusan kalau tidak ribuan lainnya. Si bocah itu tidak berbapak; emaknya pergi bekerja; di rumah ditinggalkannya dua orang adiknya, lelaki semua. Dia sendiri yang tertua. Kami tanyakan kepadanya apakah dia sudah makan. “Belum”, mereka hanya makan nasi sekali sehari, yaitu di sore hari kalau ibunya pulang dari bekerja; di siang hari mereka makan kue sagu aren seharga setengah sen.

Dari si bocah itu aku pun alihkan pandang pada misananku, sama-sama besarnya, aku teringat pada makan kami, tiga kali sehari, dan terasa begitu aneh, begitu asing di dalam perasaanku!

Kami beri dia makan, tetapi dia tiada memakannya; dibungkusnya makanan itu dan dibawanya pulang.

Aku ikuti si bocah yang bersenjatakan pikulan dan arit itu dengan pandangku sampai ia sama sekali tiada tampak. Dan apa saja yang kemudian tidak bertingkah di dalam otak dan hatiku.

Malulah aku terhadap keangkaraanku. Aku renungi dan pikirkan keadaanku sendiri, dan di luar sana begitu banyak derita dan kemelaratan melingkungi kami! Seketika itu juga seakan udara menggetar oleh ratap tangis orang dan rintih orang-orang di sekelilingku. Dan lebih keras daripada orang-orang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu! Baru kemudian kalau kau telah bebaskan dirimu sendiri dengan kerja, dapatlah kau menolong yang lain-lain! Kerja! Kerja! Aku dengar itu begitu jelas, tampak tertulis di depan mataku. (Surat kepada Nyonya Abendanon, 8 April 1902)

Oleh karena kekeringan besar ini hampir di seluruh negeri, berbagai sawah rusak. Di Grobokan, bencana ini lebih-lebih lagi, di sana berjangkit bahaya kelaparan, dan dengan ngeri dan gigil orang di Demak dengan 26.000 bahu sawah gagal dan dalam pada itu mengamuk pula kolera, menghadapi musim hujan yang setiap tahun membenam daerahnya. Kasihan negeri ini, yang kekeringan di musim kering karena bencana air, dan di musim hujan terbenam karena bencana air pula. (Surat kepada Stella Zeehandelaar, 11 Oktober 1901)

Sastra dan budaya Jawa

Barangkali kau sudah mengetahui, buku-buku Jawa sangat susah bisa didapatkan, karena masih tertulis dengan tangan; hanya beberapa di antaranya saja tercetak. Sekarang kami sedang membaca sajak-sajak indah, ajaran-ajaran yang bijaksana tertulis dalam bahasa bunga. Betapa inginku kau mengenal bahasa kami; o, ingin sekali aku berbagi kenikmatan denganmu tentang bahasa ini, membaca dari aslinya; dalam terjemahan tentu tiadalah seperti aslinya.

Tiadakah hasratmu buat mempelajari bahasa Jawa? Bahasa ini sangat sukar, memang, tetapi duh betapa indahnya! Bahasa ini adalah bahasa perasaan penuh puisi dan … tajam. Sering takjublah kami, anak-anak negeri ini sendiri tentang ketajaman orang-orang sebangsa kami. Kau tiadalah dapat bayangkan, apa pun mereka bisa lukiskan. Sebut saja sesuatu, sebarangan saja, tunjuklah sesuatu benda dan seorang Jawa yang cerkas (geestig), yang terutama sekali banyak kau dapatkan di antara rakyat yang sesungguhnya, tahu saja dengan segera untuk menyajakkannya, yang menakjubkan oleh karena ketajamannya dan kecerkasannya (geestigheid). Itulah bakat pada orang Timur barangkali. (Surat kepada E.C. Abendanon, 17 Agustus 1902)

… begitu banyak mengandung simbolik dalam bahasa yang tidak dapat dipahami oleh orang biasa. Dan ini pula lagi: orang Jawa menangkap buku-bukunya secara harfiah, dan karenanya apabila tidak semua maka banyak di antara nilai-nilai lainnya yang praktis menjadi mubazir.

Dalam moral Jawa, misalnya, ada dipujikan mengurangi makan dan tidur sebagai jaan ke arah kesejahteraan kehidupan fana dan baka.

Pikiran-pikiran indah yang menjadi dasar tulisan-tulisan tersebut luputlah bagi massa pembaca.

Maka orang pun berpuasa, berlapar diri, berjaga, dan berkhayal sedemikian rupa, sedang gagasan bagus itu tergelincir darinya. Tidak makan, minum atau tidur menjadi tujuan hidup! – dan – dengan jalan menderita (ikhtiar, penguasaan diri dan pembatasan diri) akan mendapatkan kebahagiaan! Dan demikianlah orang berbuat dalam banyak hal lagi. (Catatan Kartini, Jepara, Januari 1903)

Orang Jawa adalah pembohong turunan yang sama sekali tidak bisa dipercaya?

Kami anggap sepi saja dakwaan itu; kami hanya bertanya: sekiranya seorang bocah melakukan kesalahan karena ketidaktahuannya, dan seorang dewasa melakukan kesalahan yang sama dengan direncanakan sebelumnya, dengan perhitungan, siapakah di antara keduanya yang lebih bersalah? Kadang-kadang kami pun bertanya, kalau begitu: apakah artinya peradaban? Apakah dia tidak lain dari hanya suatu … keunggulan belaka dalam … membohong?

Duh! Apakah yang telah kami kerjakan? Apa telah kami katakan? Maafkan kami, Bunda! Bukanlah maksud kami hendak siksa atau hinakan Bunda, bahwa kami hanya hendak berterus terang kepada Bunda. Bukan? Ketulusan ini bukankah yang menjadi dasar persahabatan kita, cinta kita satu sama lain? Memang sering tampak kurang sopan laku berterus terang itu. Sekiranya tidak karena terpaksa, tak maulah kami kurang bersopan, itulah sebabnya bagi kami orang Jawa ‘sopan’ itu menjadi sifatnya yang khas.

Terang yang Bunda sinarkan kepada kami membuat kami melihat dan juga bertanya: “Apakah makna bentuk tanpa isi?”

Kami berpendapat bahwa Bunda haruslah mengetahui, apa-apa yang kami temukan dalam masyarakat Bunda; karena rupa-rupanya Bunda berpendapat, bahwa kami menganggap dunia Eropa sebagai ideal. Apa yang menurut kami peradaban sebenarnya sudah lama Bunda ketahui; dan kami pun mengetahui, bahwa Bunda pun sependapat dengan kami: peradaban yang sebenarnya sama sekali belum menjadi miliki negeri-negeri peradaban. Yang sebenarnya itu pun terdapat pada rakyat, yang oleh massa besar orang kulit putih yang yakin akan kenomorwahidannya, dipandang hina.

Tentu saja rakyat kami memunyai cacat-cacatnya, tetapi juga kebajikan-kebajikannya, yang mana rakyat beradab dapat juga mengambilnya sebagai contoh. Kami sendiri memang sudah menyebal dari kebiasaan, itu Bunda ketahui sendiri; kalau tidak tentu kami tiadalah akan menyatakan ini, yaitu bukan contoh baik dari sifat-sifat khas rakyat Jawa: ‘rendah hati’.

Sekali waktu Ayah mengatakan kepadaku: “Ni, jangan kau kira banyak orang Eropa yang benar suka padamu. Hanya beberapa orang saja.”

Sebenarnya Ayah tak perlu mengatakan ini; kami tahu sendiri hal ini dan sangat baik pula; kami bisa menghitungnya dengan jari, dan untuk itu tak sampai dibutuhkan dua belah tangan, yaitu mereka yang benar tulus terhadap kami. Sebagian terbesar menyatakan simpatinya, hanya hendak ikut berlagak atau didasarkan atas perhitungan.

… Apakah Bunda berpikir kami tak tahu, mengapa De Echo sangat ingin memuat tulisan-tulisan kami, sekalipun masih begitu pandir? Penerbitan itu akan merupakan reklame bagi majalah itu. De Hollandsche Lelie menyediakan kolom-kolomnya bagiku, dan direktris yang terdulu berkali-kali meminta izin mengumumkan surat-suratku; mengapa? Buat reklame! Surat-surat dari seorang putri Timur sejati, dari seorang ‘gadis Jawa tulen’, pikiran-pikiran seorang setengah biadab lagi pula ditulis dalam satu bahasa Eropa, duh, betapa sangat menarik? Dan apabila kami dengan putus asa tangiskan penderitaan kami dalam bahasa Belanda, itu pun bukan main-main lagi menariknya. Dan – ya Allah semoga dihindarkan oleh-Nya hendaknya – sekiranya kami mati pun karena patah hati disebabkan ideal kami yang terbunuh, maka itu pun akan menjadi sangat, sangat luar biasa menariknya. (Surat kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902)

Kecintaan kepada Rakyat

Ada aku lihat begitu banyak keindahan pada rakyat kami sendiri; ini adalah nikmat percobaan dari apa yang sesungguhnya bakal kunikmati kalau aku hidup di tengah-tengahnya. Kami mencari kesempatan sebanyak mungkin untuk berhubungan dengan rakyat dan apabila kami pergi sendirian, maka kami kunjungilah satu atau lebih di antara rumah-rumah rakyat itu. Mula-mula mereka menerima kami dengan canggungnya, tetapi sekarang telah menjadi biasa.

… Tangan bocah cepat penuh; begitu juga tangan suatu rakyat-bocah. Mereka sangat peka terhadap keramahtamahan, dan juga sangat suka pada lelucon. Demikianlah maka dengan sekali pukul yang mereka dapat tertawa tulus, mereka akan sanggup mengerjakan pekerjaan berat dengan riang gembira.

… Sudah sejak beberapa bulan ini serombongan pekerja dari Jawatan Pengairan bekerja di pekarangan kami. Mereka sedang merombak rumah belakang; kami sedang membuat beranda belakang.

Pada waktu mengaso sering kami datang ke tempat kerja untuk mengobrol dengan rombongan pekerja tersebut. Coba bayangkanlah adik-adikmu duduk di atas bukitan pasir, di selingkungannya pekerja-pekerja yang kelelahan, hampir-hampir tidak berbaju, sambil merokok atau mengunyah sirih. Tentu saja kamilah yang harus memulai obrolan itu; kalau tanpa harus ini, orang-orang bawahan itu lebih suka sepanjang hari membisu daripada memulai bicara terhadap atasannya.

Sungguh menyenangkan; dengan demikian kami dengar satu dan lainnya, yang selama itu tiada terjangkau oleh kuping kami. Rombongan itu bekerja, di bawah pengawasan seorang Indo. Mula-mula dia bertegar hati, memencilkan diri, menegur pun tidak kalau datang atau pun pergi. Sekarang kami telah bersahabat – kamilah yang mula-mula memberinya salam dan kemudian mengajaknya bicara. Mula-mula ia sangat malu, tetapi sekarang ia sudah bisa mengobrol.

Dia baik terhadap rombongan pekerjanya yang bergaul bebas dengannya tetapi tetap sopan. Sering kami dengar mereka berolok-olok pada ‘tuan’-nya, suatu buktinya, bahwa bas itu baik terhadap mereka. Kalau mereka mendapat marah, kalau mereka diperintahkan mengulangi pekerjaan, tiada pernah kami dengar mereka menggerutu. Bagus kan? Sinyo itu bisalah jadi teladan bagi banyak tuan-tuan ‘bas’. (Surat kepada E.C. Abendanon, 21 November 1902)

Seni Rakyat

Kurang lebih seminggu sebelum menerima surat Nyonya, pada suatu malam kami duduk di luar di taman, bulan purnama waktu itu. Nyonya tahu, bukan, bahwa kanak-kanak Jawa menyukai terang bulan purnama, bermain dan bernyanyi di pelataran. Di hadapan kami bermain serombongan bocah-bocah kecil semacam itu. Maka tahu-tahu masa kanak-kanak kami sendiri bermainlah di hadapan kami. Di sanalah tiba-tiba aku mendapat ilham untuk membuat masa berbahagia itu tetap hidup tersimpan dalam kenang-kenangan kami. Aku keluarkan kertas dan potlot, dan di terang purnama itu aku catat dolanan dan nyanyian yang keluar dari mulut kanak-kanak itu. (Surat kepada Nyonya Van Kol, 21 Juli 1992)

… Gamelan tidak pernah bersorak-sorai sekalipun di dalam pesta yang paling gila pun, dia terdengar sayu dalam nyanyiannya, mungkin begitulah seharusnya. Kesayuan itulah hidup, bukan nyanyi bersorak-sorai!

… Malam waktu itu; jendela dan pintu-pintu terbuka; bunga cempaka berkembang di tentang kamar kami dan bersama dengan puputan angin segar, berdesah dengan dedaunannya serta mengirimkan kepada kami ucapan salamnya dalam bentuk bau harumnya – aku duduk di lantai, sebagaimana halnya sekarang ini, pada sebuah meja rendah, di kiriku dik Rukmini, juga sedang menulis, di kananku Annie Glasser, juga di lantai sedang menjahit, dan di hadapanku seorang wanita, yang menyanyikan kami sebuah cerita dari buku. Betapa indahnya! Suatu impian yang mengalun dalam suara-suara yang indah, kudus, jernih dan bening, yang mengangkat roh kami yang menggelatar ke atas ke dalam kerajaan makhluk-makhluk berbahagia.

Betapa inginku waktu itu kau berada di tengah-tengah lingkungan kami, kau akan seperasaan dengan kami, sama-sama menikmati, sama-sama mengimpi. Mengimpi! Tapi hidup bukan impian, tapi kenyataan-kenyataan yang dingin dan telanjang, tetapi kenyataan itu pun tak perlu buruk kalau orang tidak menghendakinya; dia tidak buruk, dia adalah indah, selalu indah selama ada keindahan di dalam batin kita.

Duh, karena itu aku inginkan, hendaknya di lapangan pendidikan itu pembentukan watak diperhatikan dengan tidak kurang baiknya akan dan terutama sekali pendidikan ketabahan. Dalam pendidikan ini harus dapat dikembangkan dalam diri kanak-kanak, terus, terus … (Surat kepada E.C. Abendanon, 15 Agustus 1902)

Feodalisme

Tentang anak-anak amtenar di dalam masyarakat dengan gagasan berkarat, bahwa seorang Raden Mas atau Raden Ajeng dan sebagainya adalah mutlak makhluk-makhluk dari susunan atas, yang berwenang, berhak, mendapatkan penghormatan illahiah dari rakyat, telah banyak tamasya-tamasya tentangnya kami lihat, pemandangan yang menyebabkan kami menggigil karena jengkel. Pada kesempatan-kesempatan semacam itu kami berdiam-diam saja; tiada dapat bicara maupun tertawa; kejengkelan dan rasa kasihan menyumbat mulut kami.

… orang Jawa, terutama kaum aristokratnya, bagi dirinya sendiri lebih suka dihidangi nasi putih di atas meja makannya, tapi tak rela melihat orang lain demikian juga; bagi orang lain dianggapnya nasi merah sudah lebih dari cukup.

“Pertahankan kebodohan khalayak ramai, orang pun akan tetap berkuasa atas mereka!” demikian semboyan banyak, kebanyakan pejabat tinggi, yang makan hati melihat orang lain juga berusaha mendapatkan ilmu dan pengetahuan.

Sayang usaha itu mengalami kekandasan, dan justru karena tentangan orang-orang yang sebenarnya bakal mendapat keuntungan dari pekerjaan mulia itu dan dalam pada itu pun memberikan kebajikan pada seluruh rakyat Jawa. Para bupati, yang dimintai nasihat tentang hal ini, umumnya menganggap, bahwa waktunya belum tiba untuk mendirikan sekolah-sekolah pendidikan buat para putri para pembesar serta para pemuka pribumi.

Tapi bagaimana dalam praktik? Para bupati, yang memberikan nasihat semacam itu, menganggap bahwa waktunya telah tiba bagi putri-putri mereka sendiri, buat menerima pendidikan yang mencerahi, dan telah mulai memberikannya pula. Soalnya adalah: karena pendidikan Eropa belum lagi umum, khususnya bagi gadis-gadis pribumi, maka setiap orang hendak mendapatkannya buat dirinya sendiri, malah kalau bisa pendidikan terbaik yang diberikan pada anak-anaknya sejauh itu bisa diperoleh, tetapi pantang menyarankan pada orang lain, pun mereka tidak menganjurkan, karena orang lebih suka diri sendiri saja terpelajar, tapi tidak suka melihat orang lain demikian juga.

Kalau kini sekolah-sekolah telah dibuka, setiap orang akan dapat kirimkan anak-anaknya, dan mereka akan mendapat pengajaran sama, sedang orang lain lebih suka menjadi satu-satunya penguasa atasnya. (Catatan Kartini, Jepara, Januari 1903)

Sudah umum bahwa kebanyakan dukun yang mengetahui rahasia sesuatu obat terhadap penyakit-penyakit tertentu membawa serta rahasia tersebut ke kubur bila dia mati, kepada anaknya pun tidak sudi ia memercayakannya. Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan rakyat seluruhnya tidaklah mungkin.

Bahwa yang terbaik harus dikangkangi sendiri dan dianggap sebagai hak pribadi kaum aristrokrat, bersumber pada paham sesat, bahwa kaum bangsawan adalah mutlak manusia lebih mulia, makhluk lapisan teratas dari rakyat, dan karenanya berhak mengangkangi segala yang terbaik!

Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tetapi kalau kami mencoba maju, kemudian mereka bersikap menantang terhadap kami.

Aku akan ceritakan kepadamu tentang seorang pribumi yang berbakat dan terpelajar. Orang itu telah menempuh ujian penghabisan, dan nomor satu dari ketiga sekolah HBS di Jawa. Pemuda itu tinggal di Semarang, di mana ia bersekolah, dan di Batavia, tempat menempuh ujian, pintu gedung-gedung mentereng terbuka bagi gymnasias yang zenial dengan sopan santun serta kerendahatiannya yang besar. Setiap orang berbicara bahasa Belanda dengannya, yaitu bahasa, yang dengannya ia dapat menyatakan pikirannya dengan gilang gemilang. Dalam suasana seperti itu ia pulang kembali ke rumah orangtuanya, dan tiada yang dapat diperbuatnya lebih baik daripada mempergunakan masa-tunggunya untuk menghadap para pembesar setempat. Maka ia pun menghadap residen; dan pada kesempatan yang paling mula ia sudah melakukan kekeliruan. Coba, bagaimana dia berani-berani menjawab si tuan besar itu dalam bahasa Belanda? Keesokan harinya, ia menerima surat pengangkatannya, menjadi klerk seorang kontrolir di pegunungan. Dan di sanalah pemuda itu tinggal untuk merenungkan ‘kejahatan’-nya, untuk melupakan segala yang telah dipetiknya dari sekolah-sekolah yang telah ditamatkannya. Beberapa tahun ia berada di sana, datanglah seorang kontrolir baru, atau lebih tepat seorang aspiran kontrolir, dan dia ini menyebabkan penderitaannya bertambah-tambah lagi. Kepalanya yang baru ini adalah kawan sekolahnya dulu, seorang yang justru tidak memunyai sesuatu keluarbiasaan dalam otaknya. Pemuda itu, yang dulu nomor satu dalam segala-galanya, di hadapan kawan sekolahnya yang bodoh dulu kini ia harus jalan merangkak di lantai, harus bicara bahasa Jawa tinggi, sedang si kulit putih itu sendiri bicara bahasa Melayu Babu. Dapatkah kau bayangkan betapa penderitaan yang ditanggungkan oleh hati yang bangga dan megah yang dihina sedemikian rupa itu? Dapatkah kau bayangkan betapa besar kekuatan batin yang selama itu dipergunakannya untuk menahan hinaan dan gangguan semacam itu!

Akhirnya ia tak sanggup lagi menahannya; ia berangkat ke Batavia dan minta didengarkan halnya oleh gubernur jenderal. Ia diterimanya. Hasil audiensi ialah: ia dikirimkan ke Priangan dengan tugas membuat studi tentang pertanian padi. Ia berjasa juga dengan tulisan-tulisannya tentang pertanian di bidang kepalawijaan serta menerjemahkan pula dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa dan Sunda. Pemerintah memberinya hadiah beberapa ratus gulden.

Di sekolah kontrolir di Batavia ada lowongan guru. Seorang guru bahasa Jawa meletakkan jabatan. Kawan-kawannya (pemuda Jawa itu) telah mengusahakan sekuat daya agar ia bisa menduduki lowongan itu, tapi hasilnya nihil. Benar-benar suatu pikiran gila, seorang pribumi harus mengajar murid-murid Eropa, yang kelak jadi amtenar negeri. Buang usul sinting itu! Jadi tanyailah aku, siapakah yang bisa belajar bahasa Jawa lebih baik daripada orang yang sudah sejak lahirnya Jawa? Pemuda itu pulanglah ke kampung halamannya kembali; sementara itu sudah ada residen baru, dan barulah putra bangsa coklat itu diangkat menjadi asisten wedana. Tidak percuma rupanya ia dibuang beberapa tahun lamanya itu; di sana ia mendapatkan kebijaksanaan hidup, di antaranya: tak ada layanan lebih baik kepada amtenar-amtenar Eropa terkecuali merangkak-rangkak di tanah di hadapannya, dan di dekatnya jangan sampai orang mengucapkan sepatah kata pun bahasa Belanda.

Orang-orang lain sekarang telah pegang pimpinan, dan waktu lowongan buat penerjemah bahasa Jawa terbuka, dialah yang untuk sementara dipercaya memegang jawabatan itu. Sekarang tiada seorang menghalanginya! (Surat kepada Estelle Zeehandelaar, 12 Januari 1900)

Terlalu banyak dipergunakan kata prestise sebagai tabir bagi para amtenar negeri yang gila hormat. Aku tak punya perhatian terhadap tingkah mereka ini; aku hanya senang melihat cara mereka menyelamatkan prestisenya terhadap kami, orang Jawa. Dengan beberapa orang amtenar pangrehpraja kenalan kami aku telah diskusikan soal ini. Aku tidak dibantah oleh mereka, sekalipun aku tahu pasti, dalam hatinya mereka benarkan aku. Sekali lagi ini pun dilakukan buat selamatkan prestise. Dapatkah kau mengerti sekarang, mengapa aku tak dapat tahan senyumku pada peristiwa semacam itu? Sungguh mengasyikkan, bagaimana tuan-tuan besar itu mencoba agar mereka kami segani.

Aku terpaksa menggigit bibirku, agar tiada terbahak, waktu baru-baru ini dalam perjalanan melihat seorang asisten residen pulang ke rumahnya dari kantornya dengan di belakangnya seorang opas memayungkan payung keemasan di atas kepalanya yang mulia itu. Bukankah itu suatu pertunjukan yang tolol? Ya ampun, kalau saja dia tahu, bagaimana orang banyak yang waktu itu menyingkir memberikan jalan pada payung yang gilang gemilang itu, tertawa terkikik kakak di belakang punggungnya. Bagaimana pendapatmu tentang banyaknya, ya sangat banyaknya amtenar pangrehpraja kulit putih yang menyuruh cium kaki dan lututnya oleh pembesar-pembesar pribumi? Cium kaki adalah pernyataan hormat tertinggi bagi kami, orang Jawa, yang hanya dipersembahkan kepada orangtua sendiri, atau famili tua, atau kepada pembesar-pembesar sendiri. Hormat itu tidak kami lakukan terhadap bangsa asing, dan hanya dengan muak saja orang melakukannya, kalau terpaksa. Tidak, orang-orang Eropa itu hanya menertawakan saja di mata kami, kalau mereka meminta penghormatan secara pribumi yang hanya ditujukan kepada pembesar-pembesar kami sendiri. Bahwa para residen dan asisten residen minta disebut ‘kanjeng’ bolehlah masih, tapi bahwa sampai-sampai opsiter perkebunan, opsiter jembatan timbang dan besok atau lusa mungkin juga para sep stasiun minta disebut seperti itu oleh bujang-bujangnya, benar-benar sudah sinting. Tahukah orang-orang itu apa artinya ‘kanjeng’? Mereka minta dihormati oleh bawahannya dengan cara-cara hormat yang diberikan oleh rakyat kepada pembesarnya. Mula-mula aku dulu mengira, hanya si Jawa goblok itu yang gila hormat, tapi sekarang aku tahu, bahwa orang Barat yang beradab dan terpelajar itu juga tidak menolaknya, malah mencandu.

… Makan hati benar kebanyakan orang Eropa di sini melihat bagaimana orang-orang Jawa, bawahannya itu, lambat laun menjadi terpelajar, dan saban kali kalau ada saja si kulit putih muncul, yang dapat membuktikan memunyai otak yang sama baiknya di dalam kepalanya, dan hati yang sama baiknya di dalam dadanya, daripada orang kulit putih.

Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu Babu

Silakan, silakan saja, kalian tiada mampu menahan kemajuan zaman. Sebenarnya aku sangat, sangat mencintai orang Belanda dan aku sangat berterimakasih atas banyak hal yang dapat kami kecap darinya. Banyak, banyak di antara mereka yang dapat kami namai sahabat baik kami, tapi juga banyak, sangat banyak, yang menentang sikap kami, tanpa sesuatu alasan, hanya karena kami telah berani mendekati tingkat keterpelajaran mereka. Dengan cara-cara yang sangat menusuk mereka paksa kami rasai permusuhannya. “Aku orang Eropa, kalian Jawa”, atau dengan lain perkataan, “Aku penguasa, kalian yang dikuasai”. Tidak hanya sekali, tetapi telah beberapa kali orang bicara dengan kami dalam bahasa Melayu Babu, sekalipun orang tahu benar, kami bicara juga bahasa Belanda. Aku takkan peduli dengan bahasa apa orang hendak bicara padaku, kalau nadanya benar. Baru-baru ini seorang Raden Ayu juga diajak bicara oleh seorang tuan dan cepat wanita itu menjawab: “Maafkan Tuan, aku minta dengan hormat agar tuan bicara saja dalam bahasa Tuan sendiri. Aku memang bicara dan mengerti Melayu, tapi sayang sekali hanya Melayu Tinggi, Melayu Pasar aku tak mengerti.” Apakah tuan itu mendelik atau tidak, tak tahulah aku.

Apakah sebabnya begitu banyak orang Belanda tidak bersenanghati diajak bicara dalam bahasanya sendiri dengan kami? O ya, sekarang aku mengerti, bahasa Belanda terlalu indah buat diucapkan oleh mulut orang-orang coklat.

Pada hari-hari belakangan ini kami bertamu ke rumah orang totok. Orang-orang yang bekerja padanya adalah sobat-sobat lama kami; kami tahu mereka mengerti dan bicara Belanda juga dan baik pula. Hal ini kami ceritakan kepada tuan rumah dan apa jawab tuan rumah?

“Tidak, mereka tidak boleh bicara Belanda.”

“Tidak? Mengapa?” tanyaku.

“Pribumi tak boleh mengetahui bahasa Belanda.”

Terheran-heran aku tatap pembicara itu, segera kemudian aku tersadar dari keherananku, dan sebuah senyum ejekan menggeletar pada ujung-ujung bibirku. Tuan itu menjadi merah padam, bergumam, dan pandangannya menggerayangi sepatunya, setidak-tidaknya ke sanalah perhatiannya dialihkan.

Sekarang sebuah cerita kecil yang terjadi di Priangan. Sore waktu itu – Bupati X menerima tamu-tamunya di kabupaten. Ada di antara mereka seorang partikelir dan residen wiyalah situ; segera kemudian datang juga seorang aspiran kontrolir. Putra tuan rumah, seorang gymnasias yang sedang berlibur di rumah, masuk ke pendopo. Waktu dilihatnya ayahnya sedang menerima tamu, ia hendak menyingkir, tetapi residen telah melihatnya, dan memanggil. Paduka tuan itu menyambut anak itu dengan ramah tamah dan mengobrol panjang dengannya. Setelah ini selesai, pergilah ia pada pegawai kecil aspiran kontrolir itu dan menghormatinya dengan bungkukan sopan. Si tuan kecil itu rupanya merasa tiada gunanya membalas hormat itu terkecuali dengan anggukan yang hampir-hampir tiada tampak, dan sedang matanya yang dingin mengawasinya menghinakan dari rambut sampai kaki, keluarlah suara dingin dari mulutnya: “Tabik.”

Anak itu menjadi pucat, bibirnya menggelatar, tinjunya terkepal.

Jauh di kemudian hari ia ceritakan pada orang partikelir yang menyaksikan peristiwa ini: “Aku sangat suka pada orang-orang Belanda, Tuan, dan di antara mereka banyak sahabat karibku, tapi tak dapat aku lupakan ‘tabik’ aspiran kontrolir itu, ada kurasai mengiris di dalam jiwa.”

Duh, Stella, pandangku telah kutebarkan pada keadaan-keadaan dalam masyarakat Hindia, dan dengan terpaksa saja aku meninjau yang terjadi di balik tabir dunia kepangrehprajaan. Ada menganga jurang yang sangat dalam, Stella, hanya dari pemandangan itu saja telah kuasa membuat orang merasa gamang! Ya Allah! Betapa penuhnya dunia ini dengan perbuatan-perbuatan tidak senonoh, penuh hal-hal mengerikan! Ada residen-residen dan asisten-asisten residen, apabila dibandingkan, Slijmering-nya Multatuli itu masih dapat disebut orang suci. Tidak, aku takkan buat suratku ini menjadi kronik skandal. (Slijmering adalah tokoh dalam tulisan Multatuli “Max Havelaar”. Ia adalah residen Banten yang berkongkalikong dengan pembesar-pembesar pribumi dalam pemerasan dan perampasannya terhadap rakyat. Dialah yang memecat Max Havelaar sebagai asisten residen Lebak, karena menyalahkan Bupati Lebak yang melakukan pemerasan, perampasan dan penindasan terhadap rakyat)

Duh, sekarang aku mengerti, mengapa orang begitu menentang keterpelajaran orang Jawa. Kalau orang Jawa terpelajar, dia tidak akan jadi pengamin saja, takkan menerima segala macam perintah atasannya lagi. (Surat kepada Estelle Zeehandelaar, 12 Januari 1900)

Percayalah, bukan orang-orang bodoh saja yang bersikap sedemikian tercela terhadap orang Jawa. Beberapa kali aku bertemu dengan orang-orang yang sama sekali tidak bodoh, malah bangsawan-bangsawan pikiran, namun, begitu sombong dan manjanya mereka itu sampai-sampai tiada tertahankan. Terluka benar hatiku, dan orang terlalu sering membuat kami merasa, bahwa kami orang Jawa sebenarnya bukan manusia. Bagaimana mungkin orang Belanda akan disukai oleh kami orang Jawa kalau kelakukannya terhadap kami begitu macam! (Surat kepada Estelle Zeehandelaar, 23 Agustus 1900)

Penghargaan dan cinta

Kami menilainya sebagai permata; tak perlu rasanya kukatakan, berapa kali saja karangan itu kubaca dan tiap kali tetap nikmat rasanya. Dengan mudah aku dapat merasakan perasaan-perasaan seorang Bapa berwarna coklat yang telah Nyonya curi hatinya karena keramahan Nyonya terhadap putra-putrinya. Aku bayangkan Bapa itu menggendong bocahnya yang manis; aku bayangkan wanita putih, yang merasa tiada hina menaruh si bocah coklat pada pangkuannya, mencumbunya, menciumnya; aku bayangkan ia menjabat tangan orang-orang desa biasa, minum jamuan yang disuguhkan dengan ramah itu dalam gelasnya yang sangat sederhana.

Betapa hatinya akan terbelai, takjub! Seorang Jawa sangat perasa terhadap persahabatan, terutama apabila persahabatan itu berasal dari ras putih yang sangat dihargainya itu!

Ah! Kalau saja orang-orang putih tahu, betapa sedikit yang harus diperbuatnya untuk dapat mengambil hati saudara-saudaranya si coklat. Berikanlah padanya cinta, dan orang akan menerima cinta itu kembali. Kata-kata yang ramah tidaklah perlu meminta ongkos, namun dapat berpengaruh begitu besar. (Surat kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902, mengomentari “Oleh-oleh dari Perjalanan”, sebuah jurnal yang ditulis oleh orang-orang Belanda progresif).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: