• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Januari 2013
    S S R K J S M
    « Des   Apr »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Mencapai Kepenuhan Hidup

ElephantsLima Langkah Penting

Bagaimana seseorang bisa seperti ini atau itu? Bagaimana kita belajar terlibat sepenuhnya dalam gerak dan irama kehidupan yang memperkaya kita? Ada lima langkah penting untuk menikmati hidup yang lebih penuh. Berikut ini adalah urutan yang disarankan, dengan setiap langkah sebagai kemajuan dari prestasi yang sudah dicapai sebelumnya. Namun, sebagaimana akan jelas dari deskripsi langkah-langkah itu, tidak ada yang pernah sepenuhnya tercapai dan atau akhirnya selesai. Setiap langkah akan selalu ideal untuk memelihara pencapaian kita. Lima langkah itu masing-masing merupakan visi atau kerangka dasar acuan yang menumbuhkembangkan kesadaran baru atau persepsi yang lebih dalam untuk diwujudkan dalam kegiatan nyata guna menemukan kepenuhan hidup.

Kelima langkah penting ke dalam pencapaian kepenuhan hidup adalah:

1) menerima diri sendiri,

2) menjadi diri sendiri,

3) melupakan diri sendiri dalam mencintai,

4) percaya,

5) memiliki.

Setiap pertumbuhan dimulai dengan kegembiraan menerima diri sendiri. Jika seseorang terus menerus terbelenggu di dalam perang batin yang menyakitkan, deritanya pun seperti takkan ada habisnya. Namun, semakin kita menyetujui dan menerima diri kita, semakin kita terbebas dari keraguan tentang apakah orang lain akan menyetujui dan menerima kita. Kita bebas untuk menjadi dan percaya diri sendiri. Sebaliknya bila kita tidak apa adanya, hanya mencintai dan hidup untuk diri sendiri saja, dunia akan terasa kecil dan memenjarakan kita.

Hendaklah kita belajar keluar dari diri kita ketika masuk ke dalam hubungan cinta yang tulus. Tentu saja keaslian hubungan ini secara langsung akan bergantung pada kemampuan seseorang untuk menjadi dirinya sendiri, apa adanya.

Setelah dipimpin keluar dari diri sendiri oleh kasih, maka kita harus menemukan iman. Setiap orang harus belajar untuk percaya pada seseorang atau sesuatu secara mendalam bahwa hidup mesti diisi dengan makna dan serangkai perutusan. Semakin kita mendedikasikan diri untuk makna dan perutusan hidup yang kita yakini, kesadaran pribadi kita akan terbina di dalam lingkungan masyarakat tempat kita berada.

1.     Menerima diri sendiri

Orang yang menikmati kepenuhan hidupnya menerima dan mencintai dirinya sendiri. Ia tidak hidup sekadar untuk memenuhi janji besok atau menantikan beberapa potensi yang baru suatu hari nanti akan bisa terungkap di dalam dirinya. Biasanya orang semacam itu merasa dirinya sama hangat dan gembiranya ketika berjumpa dengan siapa saja. Demikianlah yang kita rasakan ketika bertemu dengan seseorang yang kepribadiannya benar-benar kita sukai dan kagumi.

Orang yang sungguh-sungguh menghayati kepenuhan hidupnya memiliki kesadaran tentang semua yang baik dalam diri mereka sendiri: dari hal-hal kecil, seperti cara senyum atau berjalan, semua bakat alami yang telah diterimanya, dan terutama kebajikan yang didayagunakannya untuk mengembangsuburkan kebaikan.

Ketika ia menemukan ketidaksempurnaan dan keterbatasan dalam dirinya sendiri, ia tetap penuh kasih. Ia mencoba memahami, bukan untuk menghukum dirinya sendiri. “Selain disiplin yang sehat,” kata Desiderata, “jadilah lembut terhadap diri sendiri.” Mata air kepenuhan hidup sesungguhnya memancar dari dalam diri setiap seorang. Dan, secara psikologis, kegembiraan yang ditimbulkan oleh penerimaan diri, citra diri yang baik, dan kesiagaan merayakan kebaikan adalah bebatuan di dasar air mancur yang memberual ke kepenuhan hidup.

2.     Menjadi diri sendiri

Orang yang sepenuhnya hidup dibebaskan oleh penerimaan dirinya untuk menjadi nyata dan apa adanya. Hanya orang yang telah menerima dirinya sendiri dengan sukacita dapat mengambil semua risiko dan tanggung jawab menjadi dirinya sendiri. “Aku harus menjadi diriku sendiri!” seru lirik sebuah lagu. Tetapi kebanyakan dari kita bisa terbujuk untuk mengenakan topeng dan bermain peran. Mekanisme pertahanan diri yang telah lama kita bangun umumnya bertujuan melindungi kita dari kerentanan lebih lanjut. Namun pelindung kita itu justru sering menyembunyikan kita dari realitas dan karenanya juga menghalangi penglihatan dan mengurangi kapasitas hidup kita. Menjadi diri sendiri memiliki banyak implikasi. Kita bebas memiliki dan menyatakan emosi, pikiran, dan persyaratan kita sendiri. Orang yang sepenuhnya hidup mampu mengolah pikiran dan menentukan pilihannya sendiri. Ia telah melewati ambang kebutuhan akan persetujuan orang lain. Ia tidak menjual apa pun dan kepada siapa pun. Perasaan, pikiran, dan pilihannya tidak tergadai. “Menjadi nyata dan apa adanya…” adalah prinsip dan gaya hidupnya.

 3.     Melupakan diri sendiri dalam mencintai

Setelah belajar menerima dan menjadi diri sendiri, orang yang sepenuhnya hidup melanjutkan upayanya untuk menguasai seni melupakan diri mereka sendiri: seni mencintai. Ia belajar keluar dari dirinya sendiri dalam kepedulian yang tulus terhadap orang lain. Ukuran dunia seseorang adalah ukuran hatinya. Kita bisa betah berada di dunia nyata bila kita telah belajar untuk menyukainya.

Orang yang sepenuhnya hidup membebaskan diri dari dunia yang gelap dan egosentrisme yang selalu berpopulasi satu. Ia memenuhi dirinya dengan empati yang memungkinkannya untuk merasa terlibat sangat dalam dan spontan dengan orang lain. Karena ia dapat masuk ke dalam dunia perasaan orang lain – bahkan hampir seolah-olah berada di dalam orang lain dan atau orang lain di dalamnya – dunianya  diperluas dan potensi dirinya untuk pengalaman manusiawi meningkat sangat pesat. Ada orang-orang lain yang sedemikian disayanginya sehingga secara pribadi telah mengalami komitmennya akan “kasih yang lebih besar dari yang bisa dirasakan”. Ia akan melindungi orang yang dicintainya dengan kehidupannya sendiri.

Menjadi orang yang penuh cinta jauh berbeda dari “orang-orang yang suka membantu”. Para pelaku perbuatan baik itu mungkin saja memanfaatkan bantuannya bagi orang lain sebagai peluang untuk melatih tindakan kebajikan, sedangkan mereka sendiri tetap berhitung secara cermat. Orang yang mencintai sesamanya justru belajar untuk mengalihkan fokus perhatian dan kepedulian dari dirinya sendiri kepada orang lain. Ia sangat peduli tentang orang lain. Perbedaan antara orang yang suka membantu dan orang-orang yang mencintai kehidupan adalah perbedaan antara kinerja di atas panggung dan tindakan kasih. Cinta sejati tidak akan berhasil ditiru. Perhatian dan kepedulian kita terhadap orang lain harus asli, atau cinta kita sesungguhnya tak berarti apa-apa. Lebih jelasnya: tidak ada belajar hidup tanpa belajar mencintai.

 4.     Percaya

Setelah belajar untuk mengolah kemurnian keprihatinannya sendiri, orang yang sepenuhnya hidup akan menemukan makna kehidupannya. Makna ini ditemukan dalam – disebut Viktor Frankl sebagai –  panggilan: “panggilan tertentu atau misi dalam hidup”. Ini adalah tentang komitmen atau hal mendasar yang diyakini seseorang dan kepada siapa ia mendedikasikannya. Keyakinan terhadap komitmen itu membina kepenuhan hidup seseorang sedemikian hingga membuat semua upayanya tampak signifikan dan bernilai. Penghargaannya terhadap tugas kehidupan melepaskannya dari jerat kepicikan dan kesiasiaan yang mengubur makna kehidupan.

Tanpa makna tersebut dalam kehidupannya, hampir seluruhnya yang tersisa dalam diri manusia hanyalah seonggok sensasi. Kita bisa saja mencoba-coba hal-hal baru, bereksperimen, mencari “tendangan baru”, dan berbagai cara lain untuk memecahkan monoton dan mandeknya kualitas kehidupan kita. Seseorang yang hidupnya tak bermakna biasanya hilang di hutan delusi kimiawi, pesta pora berkepanjangan, kegelisahan yang memuncak untuk selalu menggaruk bahkan tanpa gatal. Sifat manusia membenci kehampaan. Maka kita harus menemukan alasan untuk percaya atau menghabiskan sisa hidup kita sebagai kompensasi untuk kegagalan.

 5.     Memiliki

Komponen kelima dan terakhir dari kehidupan yang penuh tidak diragukan lagi adalah “tempat yang membuat kita betah tinggal di dalamnya”, rasa komunitas. Sebuah komunitas adalah gabungan dari orang-orang yang “memiliki kesamaan”, yang saling berbagi dalam mutualitas: harta mereka yang paling berharga, yakni diri sendiri. Mereka tahu dan terbuka satu sama lain. Mereka adalah “untuk” satu sama lain. Mereka berbagi cinta dengan sesama dan di dalam kehidupan bersama.

Orang yang sepenuhnya hidup memiliki sebuah rasa – untuk keluarganya, gerejanya, lingkungan sekitarnya. Selalu ada orang lain baginya untuk benar-benar merasa betah dan mengalami rasa saling memiliki. Ketakhadirannya di suatu saat membuat orang lain merasa sangat kehilangan dan kematiannya pun diratapi. Ketika bersama orang lain, orang yang sepenuhnya hidup menemukan kepuasan yang sama dalam hal memberi dan menerima. Sebaliknya, menutup diri, merasa tak cocok dan bertentangan selalu mengikis dan destruktif terhadap makna kehidupan. Itu akan mendorong kita ke dalam lubang kesepian dan keterasingan, tempat kita tak bisa lain kecuali binasa.

Inilah hukum tak terhindarkan yang ditegakkan dalam sifat manusia: kita tidak pernah kurang dari sesosok individu, tapi kita pun tidak pernah hanya individu. “No man is in island” (Tidak ada orang yang merupakan sebuah pulau). Kupu-kupu terbang bebas, tetapi kita membutuhkan hati orang lain sebagai rumah untuk hati kita. Orang yang sepenuhnya hidup memiliki kedamaian yang menenteramkan dan kepuasan hidup yang hanya bisa dialaminya ketika ia berada di rumah yang membuatnya betah.

Demikianlah gambaran manusia yang sepenuhnya hidup. Setelah menapak lima langkah itu, timbul pokok pertanyaan terhadap diri sendiri: Bagaimana aku bisa melengkapi pengalaman hidupku, mengambil dan menikmati hal-hal terbaik dari hari ini, orang-orang yang saya jumpai hari ini, tantangan-tantangan ini? Orang semacam itu berdiri tegak dan bersemangat di puncak pertumbuhan kehidupan. Pada umumnya ia akan serba konstruktif ketimbang kaku apalagi destruktif dalam tutur kata dan perilakunya. Ia ramah, tidak dingin sehingga setiap orang yang bersamanya bisa merasakan hubungan manusiawi yang memuaskan dan bertahan selamanya. Ia akan relatif bebas dari gejala-gejala fisik maupun psikologis yang dihasilkan oleh stres. Ia tampil baik dan dalam proporsi yang wajar dengan bakat alaminya. Ia akan mudah beradaptasi dan tetap percaya diri ketika perubahan memaksanya untuk membuat keputusan yang mungkin akan mengubah arah hidupnya.

Kita semua ingin menjadi orang seperti itu, dan kita semua bahkan bisa lebih daripada itu. Analisis terakhir adalah pertanyaan tentang visi kita. Adalah persepsi kita sendiri yang membuat kita terpecah-pecah atau utuh. Kesejahteraan pada dasarnya adalah sikap batin, visi yang memberi hidup.

Bon Voyage!

Sumber: John Powell, SJ:1995 (terjemahan/ saduran bebas untuk keperluan sendiri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: