• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    April 2013
    S S R K J S M
    « Jan   Mei »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Titi DJ

capsNama salah seorang penyanyi terkenal yang saya jadikan judul sharing ini sering diucapkan sebagai pengganti harapan yang lebih jelas bagi siapa pun: “Berhati-hatilah di jalan!” Harapan itu sangat tepat, karena semua maklum bahwa jalan raya kita memang rawan kecelakaan lalu lintas. Perilaku pengguna jalan kita konon menggambarkan ‘kepribadian’ bangsa ini, sekarang ini. Berdasarkan peristiwa sekaligus jumlah korban nyawa, ada yang bahkan menggolongkan kecelakaan lalu lintas sebagai kejahatan kemanusiaan yang tempat kejadiannya di jalan raya.

Berbekal Titi DJ ternyata tidak cukup. Pengendara/ pengemudi yang sudah terbiasa berhati-hati pun bisa mengalami kecelakaan lalu lintas. Tak sedikit yang mengalaminya. Ada yang menganggapnya sebagai musibah, ada pula yang seperti saya, menganggapnya kecelakaan biasa, dengan kelaziman sebab-akibat masing-masing.

Senin, 22 April 2013, sekitar pk.19.30, saya berada di dalam mobil di salah satu jalan menanjak di kota saya. Dari arah berlawanan meluncur laju sebuah sepedamotor bebek. Tiba-tiba, sepedamotor itu melintas jalur dan menabrak mobil saya. Mesin mobil mati dan klakson terus berbunyi, sehingga saya pun memutar kunci ke posisi netral.

Segera saya turun untuk memberikan pertolongan. Masyarakat sekitar segera berkerumun. Bagian depan sepedamotor itu ringsek. Pengendaranya tergeletak di dekatnya, berteriak-teriak kesakitan. Ia masih bereaksi memberikan dompetnya ketika saya tanyakan identitasnya dan siapakah yang perlu dihubungi. Tapi, belum sempat membuka dan memeriksa identitasnya, mobil Ranger polantas sudah datang. Rupanya, pemilik warung di depan tempat kejadian langsung menghubungi polisi. Sebuah kesigapan yang patut dipuji!

Saya serahkan dompet itu beserta SIM dan STNK saya kepada petugas polantas. Sebuah pick-up datang menolong membawa penabrak saya ke rumah sakit, sekitar satu kilometer dari tempat kejadian. Bersama pemilik warung itu, saya membantu polisi menaikkan sepedamotor penabrak saya ke bak mobil Ranger polantas. Kerumunan masyarakat berangsur-angsur berkurang dengan komentar dan kisah masing-masing tentang laju sepedamotor yang menabrak, bunyi tabrakan yang sangat keras, sepedamotor yang bannya tak standar dan sudah nyaris rata, dan sebagainya. Tak satu pun menyalahkan saya. Mobil saya berada di jalur yang benar, bahkan cenderung ke kiri, mungkin karena naluri alamiah untuk menghindari sepedamotor yang dari kejauhan sudah tampak tak beres.

Sambil menunggu mobil penghela yang akan membawa mobil saya ke Polres, saya memeriksa keadaan mobil saya. Astaga! Kerusakan terjadi tepat di tengah. Aksesoris tanduk berantakan. Radiator pecah. Kap penutup mesin melesak. Peranti listrik korslet. Sebuah kecelakaan yang lazim disebut bilahi slamet oleh orang Jawa, dan saya cenderung membenarkannya sesudah melihat kondisi penabrak saya di rumah sakit.

Sesudah mobil saya dihela ke Polres, saya pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan penabrak saya. Hasil rontgen menyatakan kaki dan tangan kanannya retak. Saya tak sampai hati bicara dengannya. Ayahnya saya ajak bicara. Ketika beliau meminta penyelesaian secara kekeluargaan, saya mengiyakan. Dalam situasi kekinian penegakan hukum di negeri ini,  penyelesaian secara kekeluargaan tampaknya  menjadi pilihan yang lebih baik ketimbang mengurusnya hingga ke pengadilan. Posisi saya sudah tak mencari benar-salah lagi. “Menang jadi arang, kalah jadi abu.”  Lebih penting dari itu adalah membantu penabrak saya agar lekas pulih.

Meskipun demikian, ketika seseorang yang mengaku sebagai atasan dari penabrak saya di tempat kerjanya ikut bicara, saya menolak berbicara dengannya. Saya tak menyukai gaya dan nada bicaranya yang hendak mengarahkan saya untuk menganggap kecelakaan itu sebagai musibah (supaya saya tidak menuntut penabrak untuk membiayai perbaikan mobil saya) dan karenanya saya harus ikut bertanggung jawab (membantu biaya penyembuhan penabrak saya). Sudah terbayang bahwa uang santunan dari Jasa Raharja akan diterimakan kepada penabrak saya apabila ia memiliki surat-surat kendaraan lengkap beserta SIM C atas namanya. Maka, jika santunan itu tidak cukup untuk membiayai operasinya, saya mewajibkan diri sendiri untuk mengusahakan pemenuhannya.

Tapi, orangtua penabrak saya memilih menandatangani formulir penolakan tindakan medis lanjutan oleh rumah sakit. Ia akan mengobatkan anaknya – berusia 18 tahun – secara tradisional. Alasannya, biaya rumah sakit takkan tertanggung olehnya kecuali saya bersedia menutup seluruh biayanya. Sedangkan biaya pengobatan tradisional lebih kurang hanya sepertiganya. Mendengar perkataannya itu, perasaan saya mungkin seperti pesakitan menerima vonis hakim. “Sudah jatuh, tertimpa tangga.”

Berhadapan dengan orangtua semacam itu, saya tidak bisa berbuat lain kecuali mempersilakannya memilih yang paling baik bagi keluarganya. Penjelasan saya, dokter jaga  maupun petugas polantas yang mencoba membujuknya tak mempan. Maka, sekitar tengah malam, penabrak saya diambil dari rumah sakit untuk dibawa pulang dengan mobil pick-up ke desanya. Sebelumnya saya sempat bertukar nomor telepon dengan orangtua penabrak saya dan berjanji akan datang ke Mapolres pada pk.07.00 untuk melancarkan urusan peminjaman barang bukti (sepedamotornya dan mobil saya) agar dapat segera diperbaiki. Mengapa sepagi itu? Sebab, dua petugas yang menangani pemberkasan kasus kecelakaan itu akan digantikan petugas lain pada pk.08.00. Tujuannya adalah untuk membuat pernyataan tertulis bahwa kedua belah pihak bersepakat menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.

Selasa, 23 April 2013, pk.07.00, saya sudah berada di Mapolres. Kepada petugas jaga – yang menangani kasus kecelakaan itu – saya melaporkan kedatangan saya, sesuai perjanjian. Saya juga sempat bertemu dengan Kanit Lakalantas. Beliau menjelaskan prosedur penanganan masalah yang sebelumnya sudah dijelaskan oleh anak buahnya. Bahwa semuanya perlu waktu, iya, saya memakluminya. Saya mengatakan bahwa kedatangan saya untuk memenuhi perjanjian dengan orangtua penabrak saya karena kami memilih penyelesaian secara kekeluargaan itu difasilitasi oleh petugas yang berwenang.

Namun, hingga pk.12.05, orangtua penabrak saya tidak hadir. Berkali-kali saya menghubungi nomor teleponnya nyaris seperti teroris sekadar untuk menanyakan mengapa beliau belum hadir, sampai di mana dan sesungguhnya pukul berapa beliau bisa hadir. Banyak sekali alasannya dan berubah-ubah. Sesudah menelepon terakhir kali dan mendapatkan janji baru bahwa beliau akan sudah hadir di Mapolres pada pk.12.00, saya masih bersedia menunggu. Tapi, setelah membuang waktu saya lima jam, ternyata beliau belum juga hadir. Maka saya berpamitan pulang kepada petugas jaga (yang sekali lagi menjelaskan prosedur dan mengeluhkan banyaknya berkas yang harus mereka selesaikan).

Sekitar pk.15.00, seorang teman yang juga teman pemilik warung di dekat tempat kejadian perkara (TKP) menelepon saya bahwa orangtua penabrak saya ada di warung itu dan meminta saya datang. Saya pun pergi ke warung itu. Tujuan pertemuan ternyata untuk meminta bantuan biaya pengobatan. Karena orangtua penabrak saya menyebut angka yang lebih daripada perkiraan yang telah dikatakannya semalam di rumah sakit, saya mengingatkan orangtua penabrak saya tentang perkataannya itu. Dalam hati saya mengeluh, “Teganya orang ini memanfaatkan derita anaknya!” Saya menyanggupi bantuan separuh dari biaya yang sudah dikatakannya di teras rumah sakit, bukan angka baru yang disebutkannya di warung. Setelah disetujuinya, kami berjanji untuk bertemu lagi esok sore di Mapolsek di wilayah tempat tinggalnya untuk bertemu dengan petugas yang menangani kecelakaan itu. Saya meminta agar semua hadir tepat waktu.

Rabu, 24 April 2013, pk.17.00, saya sudah tiba di Mapolsek itu. Syukurlah, ternyata orangtua penabrak saya sudah hadir. Tapi, kini giliran petugasnya yang tak bisa hadir. Apabila tidak ditelepon, barangkali ia akan membiarkan kami menunggu sia-sia. Ternyata, katanya, ia harus melembur di Mapolres sehingga tidak bisa datang ke Mapolsek, tempat tugas jaganya hari itu.

Saya tidak bisa bersabar lagi. Orangtua penabrak saya ajak ke rumah saya untuk membuat surat pernyataan kesepakatan yang akan dimintakan tandatangan dan cap kantor Kepala Desa tempat tinggalnya. Konon, tandatangan Kepala Desa itu diperlukan guna menghindari kemungkinan adanya intervensi dan atau ketidakpuasan masyarakat setempat atau pihak lain atas penyelesaian masalah.

Di rumah, saya persilakan orangtua penabrak saya untuk menikmati kopi sementara saya membuat surat dan mencetaknya. Saya bubuhkan meterai secukupnya pada surat yang disetujuinya untuk kami tandatangani bersama para saksi, seorang dari pihaknya dan seorang dari pihak saya. Pada bagian terbawah saya sediakan tempat untuk tandatangan dan cap kantor Kepala Desa. Selain itu, saya juga meminta orangtua penabrak saya untuk menandatangani kuitansi bermeterai cukup bahwa ia sudah menerima bantuan saya untuk pengobatan anaknya. Melihat tandatangan dan caranya menuliskan namanya sendiri, saya menanyakan pendidikan terakhir putranya. “Namung lulus SD. Mboten purun nglajengaken amargi badhe tani kemawon,” jawabnya. Saya menganjurkan agar ia mendorong anaknya untuk terus belajar dan – kalau bisa – mengikuti ujian persamaan tingkat SMP dan seterusnya.

Saya berikan map dan tas plastik kepadanya agar surat pernyataan kesepakatan itu tidak dilipatnya. “Supados Pak Kepala Desa Panjenengan kersa paring tapak asta.” Dan karena pengalaman kemarin, keesokan harinya saya menelepon beliau, menanyakan ‘perjalanan’ surat itu. Entah benar atau tidak, terus terang, saya lega mendengarkan jawabannya: “Sampun kula aturaken … (menyebut nama salah seorang petugas polantas yang menangani kasus kecelakaan anaknya dan saya).”

Selesai? Belum. Bagaimana proses selanjutnya? Saya harus ‘meminjam barang bukti’ dari Mapolres, agar mobil saya yang ditabrak segera bisa dihela ke bengkel dan diperbaiki. Itu kisah lain lagi. Konon, polisi wajib memastikan bahwa tabrakan itu adalah kecelakaan murni, tidak ada unsur pidana. Dan  seterusnya, dan sebagainya. Maka, kendati Titi DJ tak mencukupi, tetaplah bersamanya setiap kali mengawali perjalanan berkendara!

Saran:

  1. Jika mengalami peristiwa serupa, berusahalah tetap tenang. Berikanlah pertolongan jika kecelakaan itu mengakibatkan ada yang terluka sedangkan Anda sendiri tidak;
  2. Meskipun posisi Anda (menurut Anda dan atau saksi mata) benar, artinya Anda adalah ‘saksi korban’, siapkan mental Anda untuk (sementara) menjadi ‘tersangka’ karena memang begitulah prosedurnya. Bahkan jika kendaraan Anda sedang parkir dan Anda tidak berada di dalam/ atasnya pun, mungkin saja dijadikan ‘barang bukti’. Demikian pula kerusakannya, kalau ada, mungkin akan jadi beban Anda sendiri;
  3. Jangan biarkan orang yang tidak tahu menahu kejadiannya untuk ikut berbicara kecuali petugas polantas yang karena tugas dan wewenang yang disandangnya memang wajib mengetahui peristiwa tersebut sebenar-benarnya;
  4. Rundingkanlah cara penyelesaian perkara hanya dengan yang terlibat dalam kecelakaan itu atau pihak keluarganya. Jika pihak ‘lawan’ Anda seperti pihak ‘lawan’ saya, bersiaplah untuk  menguji kesabaran Anda sendiri;
  5. Meskipun UU Lalu Lintas Tahun 2012 sudah lebih maju daripada sebelumnya, ternyata bahwa pemahaman sebagian besar masyarakat pengguna jalan masih belum beranjak dari ego dan sikap ‘pokoknya’. Apakah kecelakaan dipandang sebagai musibah atau sekadar benar-benar kecelakaan dengan segala sebab-akibatnya, sangat bergantung pada persepsi masing-masing. Saya sendiri cenderung tidak menganggap bahwa kecelakaan lalu lintas adalah musibah. Sayangnya, membayangkan penyelesaian di pengadilan pun – seperti sudah saya katakan – biasanya tak menjadi pilihan utama dan pertama. Padahal – menurut saya pula – di dalam semangat kekeluargaan, benar-salah dan keadilan adalah nomor sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: