• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Mei 2014
    S S R K J S M
    « Apr   Okt »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Pemilihan Umum Telah Memanggil Kita (Lagi)

animated_-_question_mark01Pasti bukan karena pesanan, tapi sekadar ingin tahu sebelum ‘regane tahu krispi rasa kentaki tambah larang’. Hari ini saya mengadakan penelitian berskala minisekali, tanpa metoda maupun peranti yang lazim kecuali berlagak ‘rada kempling’ dan ‘bandha kuping’.

Ternyata 100% tanpa margin of error, masyarakat tidak mengenal calon wakil rakyat! Temuan ini pasti tak lebih mengejutkan ketimbang 1000% (penyebutan ini sekadar meniru, lho!) asumsi bahwa calon wakil rakyat pun tak kenal yang diwakilinya.

Boleh jadi para caleg sudah habis daya dan dana untuk memperkenalkan diri, tapi yang mereka serukan di panggung kampanye adalah visi-misi sendiri atau partainya. Bagaimana mereka dikenal kalau yang diperkenalkan justru bukan diri mereka? Dari referensi berbau ilmiah, yang mereka sebut visi-misi itu sesungguhnya hanya janji-janji yang masih menunggu giliran untuk ditepati. Entah kapan terealisasi, karena calon petahana pun mengulanginya sekali lagi.

Padahal, sejatinya visi misi Indonesia Raya itu sudah dilengkapi founding fathers kita. Sayangnya, saya tak berkompetensi menerangkannya di sini. Kok mereka tidak bicara tentang strategi pencapaiannya, tapi malah sibuk berlitani dan mendaraskan janji-janji? Satu dua janji bahkan mudah terbaca dan terdengar mustahil terjadi sebelum Pancasila jadi meterai setiap pribadi di NKRI yang disebut harganya mati.

Itu tentang para caleg, calon pekerja, eh, legislatores di gedung parlemen (di sini namanya Dewan Perwakilan Rakyat, jadi para anggotanya disebut juga wakil rakyat, meskipun – boleh jadi – sesungguhnya mereka itu hanya mewakili partai masing-masing yang sudah berhasil merebut suara rakyat dengan cara yang juga masing-masing). Tentang mitra mereka dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat, yaitu para Senator (Dewan Perwakilan Daerah), sudah patut diduga jauh lebih ‘demokratis’ lagi.

Barangkali mereka hanya setor nama dan ‘kalah cacak, menang cacak’ mencoba peruntungan dicoblos karena bernama enak dibaca dan dari fotonya tampak berkepribadian sesuai dengan isi nama berikut gelar di depan dan atau belakangnya. Tapi, orangnya yang mana? Dan kalau sudah terpilih melalui proses demokrasi elektoral yang semakin kental bernuansa NPWP (Nomer Pira Wani Pira), Golput (Golongan Penerima Uang Tunai) dan sebagainya, melakukan apa demi konsitusi dan konstituen mereka? Satu dua memang pernah terbaca, terdengar, tertonton sebagai mantan ini atau itu, purnabakti atau purnawirawan yang sudah menerima pensiun dari institusi ini atau itu (dan kalau terpilih nanti boleh mengharapkan ada tambahan uang pensiun sebagai mantan anggota dewan yang terhormat). Tapi, selain masih terus bersaing dengan mitra mereka di MPR, sebenarnya mereka sendiri benar-benar mau mengabdi atau sekadar mengaktualisasi diri?

Jadi, Pak/Bu/Oom/Tante/Mas/Mbak … sesungguhnya Sampeyan milih apa? “Kalau bingung, coblos partainya saja!” kata seorang kepada lainnya. Calon anggota DPD kan tak berpartai? Salah seorang menyahut: “Pilih yang berasal dari kota kita!” Tapi, mereka sudah lama sekali tidak tinggal di sini? “Iya ya … terus, bagaimana?”

Ya ya ya … Kita sudah bolak-balik menyelenggarakan Pemilu yang masih tetap sama saja … Ya sudahlah. Sekali lagi, selamat memilih yang mana suka! Sumprit, lagu bertempo mars masa lalu menurut saya lebih bagus: “Pemilihan Umum telah memanggil kita …” Sayangnya, yang menjawab kok itu-itu dan begitu-begitu saja. Dan yang merasa tak terpanggil kok ya sama … begini-begini saja … Kapan merdeka ini selesai ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: