• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Mei 2014
    S S R K J S M
    « Apr   Okt »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Perjanjian Batutulis

309451_10150350933363839_505768838_8317203_791298395_nMegawati Soekarnoputri masih bungkam tentang Perjanjian Batutulis yang menimbulkan gugatan tentang moralitas kepemimpinannya. Kalau saya berada pada posisinya, barangkali saya akan melakukan yang serupa. Menari dengan ketukan kendang orang lain yang asing dari kebiasaan sendiri sama saja dengan menyanyikan lagu ber-genre tertentu dengan iringan musik yang beraliran beda.

Berbeda halnya jika perjanjian tertulis yang dibubuhi meterai itu dibawa ke pengadilan, sehingga mewajibkan penggugat dan tergugat berbicara. Di luar itu, sangat mungkin bahwa bungkamnya Megawati justru untuk menjaga ketaatannya pada hukum. Sebagai ketua umum sebuah partai yang terpaksa harus menjalin koalisi dengan partai lain, isi perjanjian tertulis itu niscaya sudah menekan ideologi yang diperjuangkannya. Maka, ketika pasangan capres-cawapres yang disebut di dalamnya gagal dalam Pilpres 2009, ia menggiring kawanannya untuk tetap bertahan sebagai oposan sambil menggencarkan konsolidasi dan kaderisasi di internal partainya. Perjanjian tertulis antarindividu yang bersepakat menjadi satu paket capres-cawapres Pilpres 2009 itu dengan sendirinya gugur. Itu tak lebih dari sebuah pengalaman politik masa lampau.

Konseptor draf perjanjian itu – yang kemudian genit mempersoalkannya – agaknya justru perlu belajar lebih banyak dari ketelitian Megawati yang menolak nama partainya dimasukkan ke dalam klausul butir ke-7 dari konsep yang disodorkan partainya untuk ditandatangani para pihak. Megawati menyepakati persentase 50:50 di antara kedua partai untuk menutup biaya kampanye. Jika pasangan capres-cawapres dalam perjanjian itu menang, ia menerima kementerian ini-itu untuk dikoordinasi oleh wakilnya. Ia tidak pernah tampak mempersoalkan ‘patungan’ itu, dan menganggapnya sebagai risiko usaha kolektif dengan pihak yang terpaksa diterimanya sebagai kawan seperjuangan dalam Pilpres 2009.

Sesudah tak pernah dibicarakan lagi di antara kedua partai, tiba-tiba perjanjian itu diungkap ke publik menjelang Pilpres 2014, justru karena Megawati Soekarnoputri menugasi seorang kader partainya untuk maju sebagai bakal capres. Alih-alih kembali mencalonkan diri dan terjun langsung dalam kontestasi yang disadarinya takkan dimenanginya, Megawati memenuhi keinginan publik untuk mencalonkan Ir. Joko Widodo. Kendati karena sejarah khas partainya maupun berdasarkan kongres ia menjadi pemegang otoritas tertinggi dalam hal pencapresan, ia tak memusingkan kemungkinan tergerusnya pengaruh trah Soekarno yang selama ini menjadi ruh perjuangan partainya.

Karena kecerdikannya, yang sangat mungkin terasah semakin tajam oleh pengalamannya dalam berpolitik, dan didukung karakter pribadinya, Megawati tidak menanggapi polemik tentang perjanjian itu. Terbukti, polemik itu mereda. Jika pihak yang kini memosisikan diri sebagai lawan hendak membawa persoalan itu ke pengadilan, saya mengira ia akan tersenyum kepada semua dan mengatakan dengan tenang, misalnya seperti ini: “Tidak ada yang aneh dengan pernyataan dukungan Megawati Soekarnoputri dalam butir ke-7 perjanjian itu. Siapakah saya ini sehingga merasa berhak melarang atau mencegah orang lain (yang memenuhi persyaratan) untuk menjadi bakal capres? Sebagai pribadi, saya tidak boleh tidak mendukung siapa pun yang ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin negeri ini!”

Referensi berikut tautannya yang lain kiranya akan menjelaskan situasi-kondisi perjanjian tersebut:

Perjanjian Batutulis tak bisa digugat hukum

Bila Batutulis jadi batu belah

Menggugat pepesan kosong

Catatan tambahan:

Ungkapan seperti “Satu meterai tak cukup dalam selembar perjanjian (di bawah tangan) antarpartai politik!” tampaknya tak lebih dari sekadar memperolok diri sendiri ketika kelemahannya menjadi rahasia umum justru karena ia terlalu banyak bicara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: