• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Mei 2014
    S S R K J S M
    « Apr   Okt »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Melawan Lupa

JokowiLupa adalah ‘penyakit’ manusiawi. (lihat Strategi Kognitif dan Lupa) Seorang orator, pengkhotbah atau jurudakwah bisa tiba-tiba lupa alur kalimatnya sendiri, misalnya karena terganggu tepuk tangan pendengar yang tak disangkanya. Pendengarnya mungkin ada yang lebih parah. Kontan lupa substansi sesudah selesai mendengarkan ilustrasi. Contohnya mungkin masih sekejap dibahas, sedangkan isinya dilepas.

Lupa juga menjadi alasan yang mujarab untuk – sekurang-kurangnya sementara – menghindari pertanyaan yang tak diinginkan. Dan lain-lain. Lupa itu manusiawi.

Ingatan manusia memang terbatas. Mereka yang dikenal beringatan kuat pun kadang-kadang juga lupa, atau pura-pura lupa. Jarang ada kreditor melupakan kredit yang pernah diberikannya (biasanya tercatat rapi) sementara debitor lebih sering lupa melaksanakan kewajiban yang sudah disanggupinya, dengan lisan maupun tulisan. Maka wajar bila ada yang gagal paham tentang kesalahpahaman yang disangka seseorang yang semestinya memahami konsekuensi tak selarasnya sumpah atau janji dan tindakannya. Ada pula yang gagal paham tentang perilaku seseorang yang mengaku paham tatacara penanganan masalah yang menurutnya bukan urusannya dan sudah ada pihak lain yang menanganinya. Biasa-biasa saja, toh tak lama kemudian kebanyakan orang sudah lupa.

Peristiwa yang dialami sendiri atau yang akibatnya dirasakan dalam jangka panjang lebih mudah diingat ketimbang yang hanya didengar atau dibaca kisahnya. Waktu yang panjang atau pendek sangat memengaruhi ingatan kita. Hujan deras yang turun sesudah kemarau yang panjang akan segera membuat kita melupakan panas terik, sedangkan cuaca cerah dengan mudah membuat kita lupa pada keluh kesah sepanjang musim penghujan.

Diakui atau tidak, bangsa kita memang mudah lupa dan suka berpura-pura, bahkan dengan alasan yang seolah-olah demi kebaikan. Kita tidak teruji untuk punya ingatan yang panjang karena lebih mudah terpesona pada hal-hal baru yang menghibur mata dan mengaduk-aduk rasa, ketimbang merawat kebudayaan kita sendiri. Bukankah sekadar untuk melihat-lihat pun, sebagian besar kita lebih suka mengunjungi mal ketimbang, misalnya, museum? Pertumbuhan ekonomi kita masih diukur dengan menjamurnya banyak mal dan pertokoan swalayan, belum sampai menggugah kesadaran akan pentingnya museum.

Sebagai upaya kolektif, efektifkah gerakan melawan lupa? Dimaklumi, tak ada yang senang mengingat-ingat kesedihan dan pedih perih, apalagi jika kenangan itu – sejenak pun – merampas sukaria yang sedang dan kita ingin nikmati tanpa bosan. Siapa pun yang mengajak orang lain – terutama yang tidak mengalaminya sendiri – untuk melawan lupa akan mudah dianggap sebagai lawan sesamanya. Perjuangan menghadapi tantangan tersebut tampaknya jauh lebih berat daripada meletakkan ingatan di sebarang tempat dan kemudian ikut melupakannya.

Ahok (Basuki Tjahja Purnama, Wagub DKI Jakarta) mengingatkan kita bahwa isu-isu HAM yang ‘menyerang’ Prabowo Subianto sudah basi. Ia benar, terutama ketika membandingkan waktu terjadinya negative campaign maupun black campaign. “Justru yang bahaya Pak Jokowi dong, orang bersih dan bagus, masyarakat cari-cari fitnahnya. Kalau masyarakat percaya kan bahaya waktu begitu pendek,” tuturnya.

Selain mudah lupa, kita juga mudah percaya pada isu yang tak pernah dijelaskan perkaranya oleh pihak yang berkewajiban melakukannya. Persetan maupun permalaikat (!) kita juga mudah memaafkan orang dan – celakanya! – sekaligus perbuatannya. Akibatnya, petuah leluhur “Mikul dhuwur, mendhem jero” pun diterapkan secara ngawur dan berulang pada kesempatan lain di tempat lain oleh orang yang sama maupun berbeda.

Isu HAM ((terutama tentang penculikan dan penghilangan paksa para aktivis) yang dilekatkan pada pribadi Prabowo Subianto memang sudah basi karena tak pernah benar-benar diselesaikan para pemimpin bangsa ini. Kasusnya mandek setelah anak buahnya diadili dan dihukum, sedangkan ia pergi ke luar negeri (Yordania) dan kembali setelah pemerintahan berganti. Ia melenggang masuk parpol, ikut konvensi capres, tapi gagal. Kemudian, ia keluar dan mendirikan parpol sendiri. Jabatannya di dalam parpol besutannya itu adalah Ketua Dewan Pembina, sedangkan Ketua Umum dijabat orang lain, seorang profesor yang belum pernah terpilih sebagai wakil rakyat. Tapi ketum parpolnya itu kalah moncer dibandingkan waketum yang sangat setia membela tuannya dan sangat rajin menyerang lawannya.

Fakta bahwa Prabowo Subianto pernah diloloskan KPU sebagai cawapres dalam Pilpres 2009 tak bisa dimungkiri. Itu berarti ia – sekurang-kurangnya – tak dianggap pernah melakukan perbuatan tercela! Pemberhentian seorang jenderal berbintang tiga dari dinas kemiliteran atas rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang dibentuk Panglima ABRI (TNI) kala itu hanyalah peristiwa biasa, bukan aib – sekurang-kurangnya – bagi TNI! Tidak ada yang ‘membuka kutang’-nya sendiri apalagi orang lain, karena semua saling tahu isi kutang itu setali tiga uang: hutang yang sama terhadap keadilan dan kebenaran.

Atau, KPU saat itu tidak menganggap pemberhentian tersebut sebagai akibat tindakan tercela? Mengapa hingga kini tidak pernah ada klarifikasi dari DKP, Panglima ABRI/ TNI, atau Presiden semasa yang orang-orangnya masih hidup dan sebagian juga jadi politisi? Kalau mereka tak bisa melakukannya sebagai pribadi karena sudah pensiun atau karena alasan lain, bukankah Komnas HAM sudah merekomendasikan pembentukan Pengadilan Ad Hoc?Ada pembiaran atau kasus di penghujung jatuhnya pemerintahan Orde Baru itu terklasifikasi sebagai rahasia militer, rahasia negara, atau sekadar “Mikul dhuwur mendhem jero” lain guna menjadikan Prabowo Subianto kambing hitam belaka? Belum saatnya dibuka, menunggu orang-orang kritis dan tahu berkurang jumlahnya dan atau lelah lalu lupa?

Sungguh unik negeriku ini! Dan satu keunikan melahirkan keunikan lainnya. Sangat jelas melalui aktivitas politiknya, Prabowo Subianto merasa tak bersalah tentang berbagai isu HAM yang selama ini dikaitkan kepadanya. Para pembelanya juga selalu menyatakan bahwa hal itu sudah menjadi masa lalu yang sudah selesai. Terbaru, Manifesto Politik yang didengungkan parpolnya menyuratsiratkan hal itu. Menurutnya, pengadilan HAM adalah berlebihan (overbodig) dan purifikasi agama adalah kewajiban NKRI yang berlandaskan Pancasila. Ada bayang kengerian di dalamnya!

Karena tidak pernah mau jadi golput (golongan putih maupun golongan penerima uang tunai) dan juga tak pernah menyesali pilihan saya sesudah melaksanakan hak pilih pada setiap pemilu yang saya ikuti, saya yakin Pilpres 2014 tidak akan menyulitkan saya. Pilihan saya pun tak perlu menunggu selesainya masa kampanye, karena saya menghargai preferensi saya sendiri terhadap para capres-cawapres. Tampaknya, masa kampanye nanti akan lebih diramaikan dengan saling tuding, saling sindir di antara para kontestan dan pendukung masing-masing terhadap pesaing. ‘Porsi’ adu program sangat mungkin akan kalah besar dibandingkan kecenderungan mengumbar ‘kebebasan menyatakan pendapat’. Kita memang masih akrab dengan main okol, bukan akal.

Para tokoh yang bergabung ke tim sukses kedua pasangan kontestan Pilpres 2014 bagi saya adalah gambaran yang jelas tentang semangat kerelawanan berbanding rekrutmen strategis untuk meraih kemenangan. Rekam jejak capres-cawapres dan orang-orang di sekitar mereka menjelaskan kehendak baik untuk bekerja atau sekadar berkuasa.

Maka, karena hanya ada dua ‘paket’ capres-cawapres, saya mewajibkan diri sendiri untuk memilih bukan Prabowo Subianto dan pasangannya sebagai presiden dan wakil presiden kita lima tahun ke depan. Kita tidak sedang mencari manusia setengah dewa yang serba sempurna, melainkan sekadar memilih orang-orang baik dan bisa kita percayai untuk mengemban tugas berat sebagai presiden dan wakil presiden.

Pilpres 2014 hendaklah tak memecah belah kita. Sekadar canda, kalau Jokowi menang, barangkali ia hanya perlu bantuan seorang pengarah gaya agar – salah satunya – tubuh kerempengnya tidak melengkung ketika menghadiri acara-acara resmi kenegaraan. Mengapa? Karena ternyata masih ada yang mengukur kepantasan menjadi pemimpin hanya selayang pandang: punya presidential look atau tidak? Pengarah gaya tampaknya tak diperlukan Prabowo Subianto yang disebut Amien Rais sudah mirip Bung Karno, dari samping dan dari depan (bagaimana dari belakang dan dari atas?). Tapi, sekali lagi menurut saya, kita tidak sedang mencari idol dan siapa pun yang terpilih nanti adalah gambaran keunikan kita sebagai negara-bangsa. Presiden dan Wakil Presiden terpilih pun tidak serta merta akan mengubah hidup Anda dan saya menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Saya pasti bukan pemilih Prabowo Subianto, meskipun ia mungkin memiliki kualitas istimewa untuk menjadi pemimpin. Pertimbangan saya sangat sederhana. Konstitusi kita mengamanatkan bahwa secara ex officio, Presiden adalah Panglima Tertinggi TNI. Terlebih sebagai anak seorang tentara (almarhum ayah saya anggota KKO/ Korps Marinir TNI AL yang juga pernah bertugas di daerah-daerah konflik), saya merasa ganjil bila memilih capres yang berpenampilan gagah perkasa, tegas, pemberani, keras dan lantang bersuara, tapi sebelumnya sudah dikeluarkan dari dinas ketentaraan.

Namun, jika ia nanti terpilih, saya takkan melotot apalagi melempar orang lain dengan telepon seluler saya (eman-eman), apalagi memuntahkan peluru dari pistol (karena saya sipil tak bersenjata). Seorang yang punya hanya satu kesempatan dan sudah mati-matian menjadikan dirinya yang – menurutnya – terbaik, pastilah sudah habis-habisan menguras sumber daya dan dananya sehingga tak akan benar-benar rela kalah: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita (saya), siapa lagi?”

Catatan pribadi ini saya simpan di sini sekaligus untuk meneladani Prof. Sahetappy, yaitu tak ingin lupa mengingatkan diri sendiri agar selalu eling lan waspada: mengatakan kebenaran yang saya yakini bukanlah untuk mencari permusuhan. Kalau terlanjur lupa, saya percaya akan ada yang berbaik hati mengingatkan saya.

Yang lupa perlu diingatkan. Yang tidak tahu perlu diberitahu. Yang sengaja melupakan dan tak mau tahu biarkanlah berlalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: