• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Oktober 2014
    S S R K J S M
    « Mei    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Presiden Pilihan Rakyat

Ragaruda_pancasila1kyat Indonesia sudah tiga kali memilih langsung Presiden dan Wakil Presidennya. Namun Pilpres 2014 sangat fenomenal. Tokoh yang tak berdarah biru, bukan elit partai, dicalonkan dan terpilih! Pantaslah jika para elit politik terkejut dan merasa terancam oleh munculnya pemimpin baru yang berwajah dan berpenampilan ndeso, hanya pengusaha mebel, bicaranya plegak-pleguk tak selancar mereka yang menu sehari-harinya adalah kekuasaan, dan seterusnya. Menyadari suara hati rakyat – the silent majority – sulit dibendung, meluncurlah berbagai fitnah yang sia-sia: ia keturunan Tionghoa, agamanya tak jelas, akrab dengan komunisme, sponsornya asing dan ‘aseng’, penyokongnya sembilan taipan, anak sulungnya haram, perjalanan karir politiknya diwarnai korupsi yang tak pernah diusut, dan sebagainya.

Pesaingnya marah ketika mengetahui kekuatannya kalah. Bagaimana mungkin rakyat memilih pemimpin yang dianggap para perkasa klemar-klemer dan cengengesan? Ketika keputusan KPU dan MK yang dikawal spontanitas rakyat tak bisa ditolak, maka berbagai upaya menghambat-menjegal Presiden Pilihan Rakyat itu pun dilancarkan di lembaga-lembaga perwakilan rakyat maupun melalui berbagai komentar pedas, nyinyir dan berbau anyir. Mereka lupa bahwa Presiden Pilihan Rakyat itu disokong jauh lebih banyak ketimbang jumlah suara yang mereka raih dengan banyak cara biasa dan luar biasa untuk menempatkan mereka sebagai ‘wakil rakyat’ yang sangat mungkin justru tak dikenal apalagi mengenal rakyat kecuali ‘atas nama’.

Kini Presiden Pilihan Rakyat itu sudah dilantik dan mulai bekerja sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Alih-alih mendukungnya dengan doa dan kerja bersama demi kepentingan nasional, masih banyak yang ‘asbun’ demi kepentingan personal, primordial, hingga sekadar ingin tetap terkenal. Pemilihan anggota kabinet kerja itu tidak mudah karena kebanyakan elit kita sudah terbiasa banyak bicara ketimbang bekerja, menganggap rakyat masih bodoh dan harus terus dibikin bodoh, memercayai statistik pesanan ketimbang hal-hal intrinsik di lapangan, asyik mengolah intrik ketimbang memerhatikan kritik, sibuk berkonferensi pers ketimbang mendengarkan jeritan hati rakyat dan menuntaskan permasalahan.

Presiden Pilihan Rakyat itu melibatkan KPK dan PPATK agar para pembantunya nanti benar-benar bersih dari sononya dan bisa menjaga integritas masing-masing dan bersama-sama. Pada saat pengumuman dan pelantikan, menteri boleh membawa keluarganya untuk saling mengenal dan dikenal. Yang tahu dirinya tak beres takkan mudah menerima tawaran untuk mendadak terkenal kemudian tercemar. Hak prerogatif semestinya tak perlu dipersoalkan. Barangkali justru demi menegakkan hak itulah Presiden Pilihan Rakyat itu melibatkan KPK dan PPATK yang pimpinannya tak pernah takut bicara benar untuk bikin gentar mereka yang merasa paling pantas. Aspek lainnya biarlah diurus diam-diam demi penghormatan terhadap azas praduga tak bersalah atau karena tak termasuk persyaratan menjadi menteri. Kalau sampai lolos dan sempat mengucapkan sumpah jabatan, biarlah hukum dunia dan akhirat mengurus menteri bahkan Presiden Pilihan Rakyat itu! Barangkali juga, karena ekspektasi rakyat yang sedemikian besar, yang tak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar atau terbukti tak berintegritas sesuai jabatannya akan berani mundur, bukan hanya karena sudah ditetapkan sebagai tersangka atau menjawab “Terserah Presiden, yang punya hak prerogatif!”

Komentar pating sliwer maupun yang sekadar pating pecothot tak dilarang di negeri demokrasi. Tak usah heran kalau wartawan yang mengaku profesional pun gemar mengerubungi tokoh yang gampang bicara untuk mengomentari ini-itu yang bukan bidang keahliannya maupun urusannya. Tersangka, terdakwa, bahkan terpidana pun dikejar komentarnya oleh wartawan yang menjadikan berita berkualitas ‘tajam-terpercaya’ tanpa menghiraukan siapa narasumbernya. Bukankah berita adalah nafkah dan cum untuk perjalanan karirnya? Celakalah wartawan (atau media) yang mutatis mutandis tak lupa mengingatkan pembaca/ pemirsanya: “Jika Anda memercayai semua yang Anda baca, sebaiknya Anda tidak membaca!” (Confucius)

Atribut Presiden Pilihan Rakyat mungkin akan jadi beban berat sepanjang masa bakti kepresidenan Ir. H. Joko Widodo. Ia bukan sosok yang menakutkan. Kewibawaan jabatan tak menjauhkannya dari siapa saja yang ingin mendekatinya. Bahkan anak-anak kecil pun ringan meneriakkan “Jokowi!” tanpa takut menyinggung perasaan orang yang dalam acara resmi kenegaraan di luar negeri dipanggil “Yang Mulia” dan di dalam negeri cukup “Saudara Presiden Republik Indonesia”. Memang banyak tokoh yang (merasa) lebih pintar, lebih hebat, lebih patriotik, gelarnya lebih panjang, lulusan luar negeri … tapi ingat, Presiden Pilihan Rakyat itu adalah Ir. H. Joko Widodo, yang kiranya takkan menderita pathek jika ada yang tak sudi memasang fotonya di rumah atau kantor pribadinya!

Maka, karena Jokowi adalah kita, dan Presiden Pilihan Rakyat itu bukan ningrat yang berhadapan dengan rakyat sebagai abdinya (melainkan sebagai sesama yang diabdinya dalam jabatan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan), setiap rakyat boleh bicara apa saja tentangnya asal isi dan caranya tak melanggar hukum dan dengan demikian sekaligus merendahkan dirinya sendiri dan bangsanya.

Selamat bekerja, bekerja, bekerja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: