• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2017
    S S R K J S M
    « Okt    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,964,747 klik
  • Since 2009

    free counters

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

About 55,000 tourists visit Liechtenstein every year. This blog was viewed about 270.000 times in 2012. If it were Liechtenstein, it would take about 5 years for that many people to see it. Your blog had more visits than a small country in Europe!

Click here to see the complete report.

Iklan

Romo Sis dan Nada Minor Alumni

“Mari kita perbaiki kesalahan bersama-sama!”

Selain bertemu dan bergaul dengan alumni yang cinta setengah mati kepada Alma Mater (dan terutama kepada Alm. Pater E. Siswanto, O.Carm.), saya tak bisa menampik kenyataan bahwa ada pula alumni yang berkenangan biasa-biasa saja, bahkan luar biasa negatif terhadap Alma Mater (pada umumnya juga disebabkan pengalaman buruk dengan oknum tertentu yang masih bekerja di atau sudah pensiun dari SMA Dempo). Bagi mereka yang tergolong terakhir ini, segala hal tentang Alma Mater disikapi dingin atau jika terpaksa disuarakan dengan nada minor. Kalau falsetto Leo Kristi atau Iwan Fals bisa dimaklumi justru karena menampilkan ruh lagu yang mereka nyanyikan sehingga terdengar dan terasa lebih indah, menyentuh kalbu, tidak demikian dengan nada minor alumni tentang Alma Maternya.

Isu tentang Dempo memang selalu menarik perhatian alumninya. A bisa jadi A’ atau A+ atau A- dan sebagainya dalam perbincangan di kalangan yang cinta maupun yang biasa-biasa saja apalagi yang berpengalaman pahit tentangnya. Kalau berita miring tentang seorang alumni pun bisa memengaruhi Alma Maternya, berita miring yang disuarakan alumni tentang Alma Mater (pasti diawali maksud baik atau malah tanpa sengaja) justru berpotensi memorakporandakannya. Berikut ini adalah contoh fatal nada minor alumni dan akibatnya.

Selama kepemimpinan P. Michael M. Hartomo, O.Carm., SMA Dempo ternyata masih sangat bernuansa Romo Sis. Segala isu mentah tentangnya tumpah kepada beliau. Cinta yang egois pun cenderung mengaburkan akal sehat. Maka, pembandingan yang sudah tentu tak adil telah menjadikan Romo Michael serba salah, terlebih karena ‘orang dalam’ pun ikut bermain mengail di air keruh. Ketidaksiapan berubah Keluarga Besar Dempo telah mengantarkan Romo Michael sebagai seorang yang gampang dianggap gagal. Bayang-bayang kesuksesan Romo Sis tidak dapat dimanfaatkannya untuk melanjutkan tradisi sukses SMA Dempo karena kebenaran selalu terarah kepada Romo Sis, sedangkan kegagalan adalah kesalahan dan tanggung jawab Romo Michael semata.

Dan ketika dianggap sudah darurat, Romo Sis pun terpaksa ‘turun gunung’. Tiga bulan tampil sebagai begawan di Alma Maternya, beliau wafat dan dielu-elukan bak pahlawan. Dari lubuk hati yang terdalam, saya pun mengakui beliau sebagai seorang kepala sekolah yang tiada banding tanpa tanding. Namun, saya juga menyesalkan bengkoknya sejarah yang menjadikan saudara mudanya – Romo Michael – seolah-olah pecundang! SK pemberhentian yang ditandatangani Romo Sis dibacakan Romo Michael sendiri dengan suara gemetar dan wajah merah padam di aula. Peristiwa itu bagi saya adalah pembalikan meja pesta Dempo. Pesta usai dan porak poranda sisanya adalah sebuah tanggung jawab yang dibebankan kepada kambing hitam: Romo Michael.

Isi SK itu saya kecam dan Romo Sis termenung sesudahnya. Kasihan Romo Sis! “Terima kasih,” kata beliau. “Saya hanya sebentar. Mari kita perbaiki kesalahan bersama-sama!” Karena terlalu mencintainya, saya menunda keinginan saya untuk mundur dari jabatan guru, bukan karena solider kepada Romo Michael yang mengaku dirinya tak sempurna. Saya masih punya harapan tentang kebersamaan dan kekeluargaan yang tetap menyemangati Romo Sis ketika beliau sesungguhnya sudah mulai menderita sakit.

Perbaikan belum dimulai, karena ‘turun gunung’-nya Romo Sis ternyata hanya untuk menjemput haknya: wafat sebagai Kepala Sekolah yang dicintai dan dihormati ribuan murid dan kenalannya. Dari jauh, karena orang-orang terdekatnya mengerumuni makamnya, saya bertanya: “Am I free now, Father?”

Ternyata, jawaban baru muncul ketika Romo Albert menawarkan untuk meralat surat tegurannya kepada saya (yang salah redaksi, salah isi dan sudah diperingatkan saksi, tetapi tetap ditandatangani dan diterimakan kepada saya). Format surat teguran itu masih sama dengan yang dulu saya siapkan untuk dipergunakan Romo Sis hanya dalam hal teguran lisan dianggapnya sudah tak mempan. Maka, saya seperti seorang istri yang tiba-tiba dijatuhi talak tiga. Saya tahu diri, kepala sekolah enggan berbicara langsung dengan saya sebagai rekan kerja. Tidak mungkin – dan kebetulan pula: saya tidak mau – memberikan pengertian tentang kesalahan yang sedang dilakukan kepala sekolah ketika saya melongo takjub tak habis pikir menyaksikan jurus mabuk yang sedang diperagakannya. Yang dianggapnya kesalahan justru saya yakini sebagai keprihatinan yang seharusnya ditanggulangi bersama. Selebihnya adalah dusta yang implisit diakuinya melalui tawaran meralat suratnya yang sudah saya terima. Hehehe … enak aja!

Karena dari pengalaman sebelumnya, bertengkar dengan Romo Sis akan menambah wawasan saya, sedangkan dengan penggantinya itu saya justru akan membuang sia-sia waktu yang berharga, saya berpikir positif dan menganggap dia akan leluasa dalam jabatan yang sudah lama dipersiapkan baginya jika saya tidak berada di sekitarnya. Maka, kepadanya lebih kurang saya mengatakan: “Saya kehilangan kebanggaan menjadi guru Dempo di bawah pimpinan seorang seperti Romo. Dan sebagai alumnus, saya tidak ingin para murid didampingi oleh guru yang kehilangan rasa bangganya. Saya mengundurkan diri.”

Semua saya ucapkan datar saja, karena sikap Romo Albert waktu itu membuat saya merasa kasihan kepadanya. Tetapi karena pengunduran diri saya tidak mungkin mendadak, saya berikan toleransi sampai ada yang bisa mengganti saya. Warga sekolah baru tahu di akhir pekan, ketika di sebuah kelas, saya meminta seorang murid mencatatkan perubahan jadwal pelajaran yang tidak mencantumkan lagi nomor 27, yang saya warisi dari Pak Diro. Pelajaran terhenti karena saya tak mungkin melanjutkannya di hadapan murid-murid yang bertanya: mengapa? Kepada mereka saya mengatakan sudah mendapatkan pekerjaan lain yang tak mungkin saya sambi. Sorenya saya sibuk menjawab sms dan telepon dari para murid yang sebagian memarahi saya. Ketika upacara pelepasan dilakukan, pembawa acara – seorang guru – menyilakan saya berbicara atas nama IKeSA. Alangkah konyolnya guru itu! Apa hubungan IKeSA (kebetulan saja saya Sekretaris Umum IKeSA Malang) dengan phk guru di Alma Mater? Saya tidak tahu mengapa dia lakukan itu. Romo Albert pun terheran-heran. Saya memaklumi ‘kebiasaan’ guru itu tapi tidak mau mengikuti kekonyolannya. Dalam hati, sudah sejak lama, saya sedih tentang hal-hal semacam yang terjadi di Alma Mater.

Bagi segenap civitas academica Dempo waktu itu, saya kutipkan syair lagu “Donna-Donna” dan menyarankan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Konflik antara guru dan kepala sekolah – misalnya – tak harus merusak pula hubungan persahabatan. Dan saya terharu menerima jabat tangan murid-murid dan para guru.

Di bawah kepemimpinan kepala sekolah sekarang dan sepeninggal saya, semoga SMA Dempo lebih maju. Itulah blessing in disguise di sebalik doa saya untuk Romo Albert: “Semoga dia lebih bijaksana, mau mengolah data dan fakta, mendengarkan dengan kepala dan dada terbuka lebih dari sekadar asyik bicara sendiri tentang mimpi dan fantasi tapi lupa kakinya ada di mana, belajar menjadi ‘orang benar’ seperti sponsornya …” Sebelum ‘Amin’ doa itu sangat melelahkan saya!

Kesan seorang guru senior bahwa “Romo Albert terlalu intelek untuk memimpin SMA!” saya tanggapi dengan senyuman. Iyakah? Iya aja, deh!

Romo Sis dan Wibawa

Disiplin dengan hati

Kembalinya Romo Sis memimpin SMA Dempo mengubah perilaku segenap warga sekolah. Dengan hanya berdiri di lorong sekolah setiap waktu istirahat habis, beliau membuat siswa terbirit-birit bersegera masuk kelas. Para guru pun bergegas supaya tidak dianggap terlambat. Suatu saat saya harus melewati beliau untuk masuk kelas. Romo Sis mencegah dan menarik salah satu ujung belakang safari saya ke luar dari dalam celana.

“Yang rapi kalau masuk kelas. Mengko diguyu muridmu!” katanya sambil tersenyum. Saya mengucapkan terima kasih dan meninggalkan beliau melaksanakan tugasnya: mengamati agar bisa segera memperbaiki.

Entah mengapa, para murid pun tampak segan sekali kepada Romo Sis. Padahal mereka ‘tidak mengenal’ beliau sebelumnya. Mungkin sama saja dengan pengalaman guru-guru lain, saya pun sesekali mendapat pertanyaan tiba-tiba dari murid di luar materi yang sedang kami diskusikan di kelas. Kendati tampak angker, Romo Sis telah membuat para murid jatuh cinta karena kewibawaan yang melekati kepribadiannya. Pidato perpisahan yang disampaikan ketua OSIS pada misa requiem Romo Sis seolah-olah menggambarkan besarnya harapan para murid akan kebanggaan bahwa ijazah mereka kelak akan ditandatangani oleh pendidik yang luar biasa itu.

Kabar kembalinya Romo Sis juga sudah merebak di antara para alumni yang segera mengucapkan selamat kepada beliau. Cukup pentolan-nya yang beliau beritahu, maka seluruh dunia akan segera tahu. Beberapa e-mail yang saya terima menyatakan kegembiraan pengirimnya, tetapi ada juga yang mengritik kembalinya Romo Sis sebagai kepala sekolah.

Belum banyak yang bisa beliau lakukan pada masa come back-nya yang hanya sekitar tiga bulan. Komputer sudah harus diganti, ini harus begini, itu harus begitu, barulah rencana yang diucapkannya. Namun dari binar matanya terpancar selaksa harapan yang tak mungkin terhalangi oleh apa atau siapa pun, kecuali panggilan Tuhan untuk kembali, pulang ke haribaan-Nya.

Saya berpapasan dengan beliau yang berjalan terengah-engah, belok ke arah kantornya. Wajah yang tampak menderita itu tidak akan saya lupakan.

“Romo, wajah Romo merah sekali,” kata saya mengamatinya. “Pulang saja, Romo, istirahat!”

“Iya. Sebentar lagi,” jawabnya lemah. Dan beliau kemudian segera minta diantarkan pulang.

Hari itu adalah hari terakhir beliau berdiri sebagai Kepala Sekolah di SMA Katolik St.Albertus. Pada tanggal 13 April 2002, beliau kembali ke Alma Mater di dalam sebuah peti. Semua pelayat bersedih karena ditinggal wafat seorang imam, biarawan, bapak, sahabat, dan pendidik sejati.

Romo Sis telah berpulang.

Kurang dari dua minggu sebelum hari terakhirnya di sekolah, karena sopir sekolah tidak ada di tempat, Romo Sis meminta seorang pegawai Tata Usaha mengantarkan beliau berkunjung ke beberapa sahabat di beberapa tempat. Semuanya serba singkat. Beliau juga minta mampir ke BRI (Bank Rakyat Indonesia). Seolah-olah sudah merasa waktunya tinggal sedikit, Romo Sis hendak mengurus uang pensiunnya sebagai PNS. Pegawai yang mengantarkannya kaget saat diminta menyerahkan KTP untuk membuka sebuah rekening baru bersama Romo Sis guna mengalihkan uang pensiunnya. “Sudah. Daripada bolak-balik dan tak sempat mengajak orang lain, kamu saja yang ikut tanda tangan. Buat jaga-jaga kalau saya nanti mati, kamu bisa membantu mengurus pencairan uang pensiun saya!” kata Romo Sis sebagaimana diceritakan pegawai itu kepada saya.

Setelah Romo Sis wafat, pengurusan uang pensiun Romo Sis di BRI itu ternyata tak semudah yang dikira Romo Sis pada waktu dengan cepat memutuskan membuka rekening bersama pegawai yang mengantarkannya. Untuk membantu mengatasi kegelisahan pegawai itu, saya menganjurkan dan mengajaknya menemui Provinsial Ordo Karmel agar Ordo Karmel mengurus pencairan uang pensiun Romo Sis yang tersimpan di BRI. Provinsial mengucapkan terima kasih dan berjanji akan segera mengurusnya setelah buku tabungan Romo Sis di BRI ditemukan.

Tetapi, ketika bersama seorang pengurus Yayasan Sancta Maria pegawai itu datang ke BRI, mereka tidak mendapatkan kemudahan pengurusannya. Beberapa dokumen yang diminta BRI tidak mereka bawa. Mungkin karena sangat sibuk atau alasan lain, pengurus Yayasan Sancta Maria itu tak berminat menindaklanjutinya. Usul pegawai itu agar rekening Romo Sis (dan dirinya) di BRI tidak usah ditutup karena tak mau repot tentang prosedur penutupannya, melainkan diambil saja sampai habis ternyata tak digubris sampai sekarang.

Sayang sekali! Seandainya Ordo Karmel tidak berminat mengurus pencairannya karena nominalnya dianggap terlalu kecil dibandingkan dengan keruwetan prosedur yang wajar di negeri ini dalam prosesnya, menurut saya tidaklah adil mengabaikan niat baik dan tulus pegawai itu untuk menghapus kegelisahannya selama menjadi ‘ahliwaris tidak sah’ dari Romo Sis yang sangat mungkin pada waktu itu sudah mulai kehilangan kewaspadaannya akan kesulitan masa depan.

Hidup yang diisi Romo Sis dengan kerja keras dan tak pernah mau menganggur itu pastilah sudah melatih beliau untuk selalu waspada. Namun, langkah kaki dalam masa come-back-nya yang tampak sekali tak seringan lima tahun sebelumnya, senyumnya yang makin lebar dan sering, kebijaksanaan (seorang guru menggambarkannya seolah-olah ‘begawan’) dan kelemahlembutannya pada waktu itu telah menyembunyikan derita karena sakitnya bersamaan dengan kebahagiaan yang akan diraihnya: wafat sebagai Kepala Sekolah, dikunjungi ribuan kenalan, sahabat, alumni, murid dan disemayamkan di Alma Mater yang dibanggakannya, diantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya dalam iringan yang sangat panjang dan dijemput para malaikat yang membimbingnya bernyanyi: “Aku akan berjalan di hadapan wajah Tuhan, di dunia orang hidup!”

Diproteksi: Romo Sis dan Seputar “Turun Gunung”-nya

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Romo Sis ke Romo Michael

Sambutan Dua Kepala Sekolah

“Tolong siapkan serah terima jabatan Kepala Sekolah antara saya dengan Romo Michael,” kata Romo Sis.

“Wah, jadi pensiun juga akhirnya!” sahut saya.

“Romo Dibyo diundang ya,” perintah Romo Sis selanjutnya, tidak menghiraukan ledekan saya. Romo A.J. Soedibjo S., O.Carm. saat itu menjabat sebagai Provinsial Ordo Karmel, sekaligus – ex officio – Ketua Yayasan Sancta Maria.

Berita acara sudah selesai. Romo Sis memeriksanya sejenak, kemudian bertanya siapa saja yang bertanda tangan.

“Yang diganti dan penggantinya, Ketua Yayasan dan dua orang saksi.” Beliau kemudian menentukan siapa saja saksinya. Selain itu beliau juga meminta saya menggantikan Romo Michael sebagai Kepala Tata Usaha. Saya menyatakan keberatan saya karena menurut saya ada orang lain yang lebih tepat.

“Nanti, kita lihat tahun depan!” jawabnya.

Maka, dua jabatan diserahterimakan pada waktu yang sama. Tahun berikutnya, jabatan Kepala Tata Usaha pun saya serahkan kepada Fr. Herman Yosef S., O.Carm. tanpa upacara serah terima.

“Tolong buatkan juga sambutan saya!” perintah Romo Sis. Sejak lama saya memang berperan sebagai konseptor pidato Romo Sis untuk acara-acara formal. Syaratnya adalah tidak lebih dari dua halaman spasi rangkap dengan font berukuran 14. Saya pun harus memberikan tanda jeda, penekanan, bahkan gaya pengucapan. Kalimatnya juga harus pendek-pendek. “Kalau kepanjangan, saya bisa meniran!” kata beliau beralasan.

Lain halnya jika saya menuliskan sambutan Romo Sis untuk buku kenangan Dempo Fair, Pekan Seni Dempo, atau kegiatan kesiswaan lainnya. Semua serba terserah saya, dan Romo Sis tak pernah berkeberatan. Beberapa kali Romo bahkan meminta agar saya mengulang kembali kalimat-kalimat yang dianggapnya bagus diucapkan atau ditulis oleh Sang Direktur SMA Katolik St.Albertus.

Saya pun membuatkan sambutan untuk dibacakannya dalam acara serah terima jabatan. Romo Michael yang melihat itu minta agar saya sekaligus membuatkannya sambutan Kepala Sekolah pengganti. Jadilah saya seperti dalang, sehingga dua sambutan Kepala Sekolah itu bersinergi, saling sambung. Dan itulah yang terjadi dalam acara serah terima jabatan mereka. Setelah Romo Sis, ganti Romo Michael memberikan kata sambutan.

Ketika Romo Sis melihat teks sambutan Romo Michael di meja kerja saya, seolah-olah sudah tahu yang terjadi, beliau berkomentar: “Lain kali, suruh Romo Michael membuat sendiri sambutannya. Jangan malas selagi muda!” Saya tak perlu memberitahu Romo Michael tentang hal itu karena Romo Michael selanjutnya tak pernah perlu membuat teks pidato kecuali sambutannya untuk buku kenangan Dempo Fair maupun Buku Tahunan yang tetap merupakan tugas saya. Meskipun juga bukan seorang yang suka bicara, Romo Michael terbukti lebih luwes dalam bertutur.

Romo Sis dan Ekspansi

“Kalau saja semua bisa selancar dikatakan!”

Suatu saat, sepulang beliau dari suatu kunjungan ke Jakarta, Romo Sis tampak sulit menyembunyikan kegembiraannya.

“Ada sekelompok orang, sebagian besar alumni, menginginkan agar saya membuka sekolah di Jakarta. Tolong kamu buatkan proposalnya, kalau perlu lengkapi dengan blue-print pembangunannya. Mereka nanti akan menyediakan tanah dan dana.”

Segera saya laksanakan perintahnya. Antusiasme Romo Sis menulari saya. Bukan main, pikir saya waktu itu. Ini pasti superserius, karena telah membuat Romo Sis sangat bersemangat!

Setelah proposal beserta kelengkapannya selesai, Romo Sis kembali ke Jakarta dengan bahan-bahan yang saya siapkan. Dengan hati sering berdebar-debar, saya menantikan Romo Sis kembali ke Malang dengan membawa kabar gembira. Tetapi hal itu tidak terjadi. Orang lainlah yang diminta beliau memberitahu saya bahwa rencana besar itu tidak jadi dilaksanakan.

“Apakah proposal itu terlalu ideal?” tanya saya kepada beliau.

“Ndak,” jawab beliau pendek. Saya mengerti bahwa Romo Sis tidak suka membicarakannya.

Dalam beberapa obrolan tatkala senggang, saya menyinggung perlunya Yayasan Sancta Maria memiliki SMP sendiri, bahkan juga perguruan tinggi. Tetapi jawaban Romo Sis selalu kembali pada alasan: tidak ada tenaga.

“Mengapa selalu berpikir tidak ada tenaga? Bukankah tak harus melaksanakannya sendiri? Yayasan bisa mengangkat seorang untuk menjadi delegatus atau direktur karya pendidikan untuk melaksanakan supervisi, sedangkan pimpinan unit karya bisa diserahkan kepada awam profesional. Itu justru akan bisa menghindarkan Romo dari rasa ewuh pekewuh yang tidak perlu dalam pembinaan unit-unit karya itu. Pemeliharaan katolisitas dan atau nilai-nilai kependidikan Ordo Karmel saja yang menjadi tanggung jawab Yayasan, sedangkan operasionalisasinya menjadi urusan orang lain. Dengan begitu, profesionalitas justru akan berkembang di unit-unit karya itu!” Tetapi bukan Romo Sis kalau tidak bisa mendengarkan sampai tuntas perkataan orang lain sebelum menanggapinya dengan ringan untuk menutup percakapan: “Kalau saja semua bisa selancar dikatakan!”

Romo Sis dan Rapat Yayasan

“Apa saja yang harus dibicarakan?”

Membuat agenda rapat untuk Romo Sis sudah biasa saya lakukan. Biasanya, beliau memberikan kepada saya catatan-catatan kecil untuk saya elaborasi sehingga Romo Sis terbantu ketika mengemukakan pokok-pokok pikirannya di dalam rapat. Tetapi saat itu beliau hanya memberitahukan bahwa besok sore akan diselenggarakan rapat pengurus yayasan bersama para kepala sekolah.

Saya segera menyusun semacam DIM (Daftar Inventarisasi Masalah) untuk dijadikan agenda rapat itu. Salah satu butir penting yang saya masukkan sebagai usul adalah bahwa Ketua Yayasan Sancta Maria seharusnya dijabat oleh orang yang berpengalaman mengurus sekolah. Dan karena saya tahu bahwa Romo Sis sesungguhnya tak mungkin melepaskan diri dari karya persekolahan Ordo Karmel, secara implisit jabatan itu mengarah kepada beliau. Saya yakin bahwa rapat itu akan memilih Romo Sis sebagai Ketua Yayasan meskipun pada saat yang sama ada Romo F.X. Sulistyo, O.Carm., mantan Kepala SMA Katolik St.Paulus, Jember.

Begitulah hasil rapat. Romo Sis adalah ketua, didampingi Romo Sulis sebagai sekretaris merangkap bendahara setelah Fr. Vianney S., O.Carm. kemudian dipindahtugaskan sebagai Kepala SMP Katolik Alvares, Flores. Formasi itu menghasilkan efek yang tak nyaman karena saya diharuskan ‘merangkap’ sebagai pelaksana tugas ini-itu. Tetapi saya senang membantu. Apalagi saya juga tahu bahwa para pengurus yayasan itu adalah orang-orang yang sangat sibuk. Dan di masa depan, dengan semakin ketatnya persaingan, pemberlakuan undang-undang tentang yayasan yang baru dan lainnya yang berkaitan, tuntutan yang pada waktu itu pun sudah mulai terang-terangan diajukan organisasi profesi guru tentang perbaikan kesejahteraan mereka, dan sebagainya, yayasan yang tak terurus dengan baik sudah pasti akan menyulitkan sekolah-sekolah yang dikelolanya dan atau sebaliknya.

Suatu siang, Romo A.J. Soedibjo S., O.Carm. memanggil saya agar datang ke Provinsialat dan meminta agar peran saya dikonkritkan. Saya tahu, pemanggilan ini adalah permintaan Romo Sis yang sudah lebih dulu saya tolak. Kepada Romo Dibyo yang pernah menjadi Rektor saya di Postulat Stella Maris dan Prior di Biara Karmel, Batu, saya menyatakan bahwa saya tetap suka membantu tanpa harus diformalkan. “Saya tidak ingin masuk ke dalam situasi tawar menawar dengan Ordo Karmel, Romo. Menurut saya, formalitas itu belum perlu. Yang lebih penting untuk Romo dan para pengurus yayasan lakukan adalah membereskan kepengurusan di dalam. Peran orang luar adalah pembantu. Nanti, kalau semua dasar dan sistem sudah terbentuk, akan mudah merekrut pegawai untuk membantu tugas para Romo dan frater.”

Romo Dibyo yang sejak saya kenal selalu lekat menatap lawan bicaranya dengan dagu terangkat, tidak mendesak saya. Tawanya yang ringan ketika kami berjabatan tangan mengandaikan kepercayaan beliau akan perkataan saya. “Ya sudah, kamu atur saja bagaimana baiknya!”

Tak lama kemudian beberapa lemari, meja, kursi dan tumpukan berkas dipindahkan dari Dempo ke sebuah ruang di Provinsialat, Kayutangan. Saya gembira. Yayasan Sancta Maria akan memiliki pengurus yang mantap.

Namun, kegembiraan saya itu tak berlangsung lama. Saya diminta oleh Romo Michael untuk menggantikan tugas mengajar yang ditinggalkan Pak Soesilo karena pensiun. Maka, dengan berat hati Romo Sis harus memenuhi anjuran saya: membebaskan saya dari tugas ‘Sekretaris Eksekutif’ Yayasan Sancta Maria.

Sampai sekarang, tampaknya kegiatan yayasan baru bersifat aksidental, reaktif terhadap isu kekinian, kausal, dan sekolah-sekolah yang di atas kertas ‘dikelola’-nya tetap berlangsung seperti semula. Padahal, dulu sudah ada pemikiran bahwa yayasan harus lebih ‘bergigi’. Ke depan, perlu lebih banyak lagi anggota Ordo yang berkarya di persekolahan, bukan sekadar menjadi kepala sekolah atau pengajar agama.

Pandangan itu didukung oleh kenyataan bahwa banyak kolese terkenal di luar negeri yang diasuh serikat kebiaraan menghadirkan imam/ biarawan juga sebagai guru matapelajaran yang disegani. Musik, teater, bahkan pelajaran menunggang kuda pun diampu biarawan. Kehadiran lebih banyak biarawan di sekolah antara lain diharapkan dapat menjadi penyeimbang berbagai kecenderungan negatif yang mungkin saja juga tumbuh di sekolah. Selain itu, kehadiran (bukan sekadar fisik) para biarawan pun merupakan daya tarik bagi anak muda dan orangtua mereka untuk bekerja sama demi kepentingan bersama pula: pendidikan yang bermutu baik.

Saya tidak sependapat dengan alasan klise: kekurangan tenaga. Saya juga tak setuju bahwa tugas di sekolah bagi imam lebih ringan daripada di paroki atau karya pastoral lain. Hal-hal yang diurus Romo Sis dalam masa pengabdian yang panjang di SMA Dempo menunjukkan bahwa tugas seorang kepala sekolah memang tak berat – apalagi jika kepemimpinannya benar-benar efektif dalam sistem yang berjalan baik dan rekrutmen yang tidak serba asal atau sekadar dilandasi faktor like or dislike. Yang berat adalah pertanggungjawaban sebagai seorang direktur dan pendidik. Kalau dua peran ini diabaikan pelakunya, maka benar: terlalu sayang mengorbitkan seorang imam menjadi kepala sekolah! Ia akan mudah senewen karena mendidik itu tak semudah berorasi ilmiah di mimbar kuliah atau biblis-teologis di mimbar khotbah. Ia akan mudah gundah karena manajemen berbasis sekolah menuntutnya menguasai berbagai keterampilan yang mungkin bertentangan dengan gratia status-nya: imam dan biarawan.