• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2017
    S S R K J S M
    « Okt    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,870,263 klik
  • Since 2009

    free counters

Ekstrimisme vs Kebhinnekaan Indonesia

Ekstrimisme vs Kebhinnekaan Indonesia

Oleh: Masdar Farid Mas’udi (Ketua PBNU)

KEBHINNEKAAN adalah karakter bangsa INDONESIA seperti tertera dalam simbol GARUDA PANCASILA. Sebagai negara dengan takdir kebhinnekaan (plurality) baik dalam hal tradisi, etnis, budaya, agama dan keyakinan, jika tidak ditopang oleh kecintaan dan kedewasaan mudah terperosok dalam  bahaya perpecahan yang dapat meruntuhkan bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Dalam konteks ini, munculnya gejala ekstrimisme, lebih-lebih yang bernuansa agama, harus sama-sama dicermati. Gejala ini tidak bisa ditangani dengan baik tanpa penelusuran sebab-musababnya. Karena gejala apa pun, termasuk ekstrimisme tidak lahir di ruang hampa, dan tiba-tiba. Dengan mencoba memahami sebab-musababnya secara komprehensif, baru dimungkinkan kita dapat mengatasi dan mencabut pohon radikalisme kekerasan itu dari akarnya. Baca lebih lanjut

Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme Indonesia: apa mempunyai masa depan?

Oleh: Franz Magnis-Suseno, SJ

1. Nasionalisme Indonesia

Sepuluh tahun sesudah reformasi, 63 tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan dan 100 tahun sesudah permulaan Kebangkitan Nasional. Intoleransi masih dan bahkan semakin menjadi masalah. Tetap masih 40% bangsa Indonesia hidup dalam kemiskinan atau hanya pas di luar kemiskinan. Tahun berat 2009 sudah melemparkan bayang-bayangnya, menunjukkan bahwa kehidupan demokratis tidak beres. Gregetnya KPK – suatu kemajuan – memperlihatkan betapa kelas politik dan sistem yudisial pun sudah kerasukan korupsi. Rakyat mengharapkan kepemimpinan yang menunjukkan jalan ke luar, tetapi tidak kelihatan. Semakin banyak orang bertanya: Bangsa Indonesia berada di mana? Apa masa depan bangsa yang sepertinya semakin ketinggalan dari beberapa bangsa Asia Timur dan Tenggara lain? Di mana bangsa ini 20 tahun lagi? Baca lebih lanjut

Mau atau Malu Korupsi?

156x117_crimeOrang bilang, korupsi di Indonesia sudah membudaya. Mohammad Hatta, misalnya, pernah mengatakan bahwa korupsi sudah menjadi bagian dari kebudayaan kita. Mau korupsi, tidak malu. Malu korupsi, tidak mau. Upaya pemberantasan gencar dilakukan. Banyak koruptor sudah ditangkap, diadili, dipenjarakan. Mampukah berbagai contoh hasil upaya kreatif dan selektif itu memberikan efek jera? Tampaknya tidak. Sekurang-kurangnya, belum. Baca lebih lanjut