• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2017
    S S R K J S M
    « Okt    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,961,906 klik
  • Since 2009

    free counters

Metafora Guru

Dalam makalah yang disampaikannya pada pertemuan tahunan American Educational Research Association, Rodney H. Clarken (1997), Director of Field Experiences and Professor School of Education, Northern Michigan University, memberikan lima metafora bagi pendidik, yaitu sebagai: orangtua, petani, nabi, kerang mutiara dan tabib. Sementara itu, Bobbi DePorter et.al. (2000) menambahkan satu metafora: guru sebagai konduktor (dirigen) suatu orkestra.

Metafora guru sebagai orangtua, petani, nabi, kerang mutiara dan tabib, sebagaimana diakui Clarken sendiri, memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Salah satu aspek yang tampak bagi penulis dalam kelima metafora itu adalah otoritas yang masih terlalu besar pada diri guru. Apalagi tak jarang guru harus memerankan kelimanya secara bergantian, sesuai dengan keperluan. Itu mengandaikan kehebatan guru dalam menghayati multiperannya. Baca lebih lanjut

Iklan

Pendidikan Nilai: Quo Vadis?

MonalisanimaSlamet Iman Santoso ( 1998 ) dalam artikel “Quo Vadis Pendidikan di Indonesia” menyatakan bahwa penyelenggaraan sistem pendidikan banyak disetir oleh potical will. Sistem pendidikan di Indonesia mengacu pada kecenderungan politis. Maka, “ganti pejabat, ganti kebijakan” seolah-olah menggambarkan situasi keajekan dinamika kurikulum di Indonesia dalam arti negatif, yaitu suatu status quo, bahwa perubahan sekian kali terhadap kurikulum dengan segenap aspek bawaannya ternyata tidak pernah secara holistik mengubah sistem pendidikan di negara kita ini untuk menyesuaikan diri sendiri dengan tuntutan perkembangan zaman. Sistem persekolahan dan segenap komponennya tak lebih dari sekadar kendaraan untuk mengangkut kepentingan politik penguasa. Para pengamat dan praktisi pendidikan mengalami bahwa pemerintah terlalu banyak mencampuri dan mengarahkan sistem pendidikan untuk mendukung transmisi sosial membangun kehidupan bersama yang sesuai dengan keinginannya. Bahkan tentang batas nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) pun perlu dikatakan seorang Wakil Presiden guna mengukur kebenaran dan keberhasilan pendidikan nasional melalui sederet angka seragam, untuk semua. Baca lebih lanjut

Pembelajaran Kolaboratif

 

Pembelajaran Kolaboratif versus Kooperatif

Dalam sebuah artikelnya Ted Panitz (1996) menjelaskan bahwa pembelajaran kolaboratif adalah suatu filsafat personal, bukan sekadar teknik pembelajaran di kelas. Menurutnya, kolaborasi adalah filsafat interaksi dan gaya hidup yang menjadikan kerjasama sebagai suatu struktur interaksi yang dirancang sedemikian rupa guna memudahkan usaha kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Pada segala situasi, ketika sejumlah orang berada dalam suatu kelompok, kolaborasi merupakan suatu cara untuk berhubungan dengan saling menghormati dan menghargai kemampuan dan sumbangan setiap anggota kelompok. Di dalamnya terdapat pembagian kewenangan dan penerimaan tanggung jawab di antara para anggota kelompok untuk melaksanakan tindakan kelompok. Pokok pikiran yang mendasari pembelajaran kolaboratif adalah konsensus yang terbina melalui kerjasama di antara anggota kelompok sebagai lawan dari kompetisi yang mengutamakan keunggulan individu. Para praktisi pembelajaran kolaboratif memanfaatkan filsafat ini di kelas, dalam rapat-rapat komite, dalam berbagai komunitas, dalam keluarga dan secara luas sebagai cara hidup dan dalam berhubungan dengan sesama. Baca lebih lanjut

Seandainya Saya Seorang Guru

Seandainya sekarang saya seorang guru di sekolah dan boleh memilih, saya lebih suka mengajar di Play Group atateacheru TK. Tapi karena sudah tak leluasa lagi memanggil anak-anak balita dan baseta “Adik-adik …”, jika mengajar di SD/ SMP/ SMA, saya ingin mengampu Pendidikan Seni atau Bahasa. Mengapa? Saya suka membantu orang lain bahagia, sejahtera. Lebih dari itu, pendidikan seharusnya memang sesuatu yang menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan. Saya sudah mengalami sulitnya menyenangkan, membuat murid asyik dan berpikir cerdas ketika mengajarkan Tata Negara, apalagi PPKn! Padahal, salah satu prasyarat negara demokratis adalah pendidikan kewarganegaraan (Civics Education). Kepada teman-teman muda saya yang sering mengritik “Pak, kita kok belajar teori melulu? Kapan praktiknya? Di sini kita bicara tentang hal-hal ideal, padahal kenyataan dalam masyarakat bangsa dan negara tak seperti itu!” saya sering terpaksa mengulangi sisi excuse akhir bait sebuah lagu nasional: “Itulah Indonesia …” Baca lebih lanjut