• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    September 2017
    S S R K J S M
    « Okt    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,910,043 klik
  • Since 2009

    free counters

Berpolitik: Mengapa?

zoon1Manusia adalah makhluk individu, sosial dan insan politik. Sejak dalam kandungan, manusia telah dikaruniai Tuhan hak yang sangat mendasar yang disebut hak kodrati atau hak azasi manusia. Hak itu tidak dapat dikurangi atau diminta oleh orang lain, karena jika diberikan kepada orang lain, sifat kemanusiaan akan hilang. Hak hidup, hak bersuara, hak merdeka, misalnya, pada dasarnya harus diberikan dan atau dilaksanakan sendiri oleh setiap orang. Baca lebih lanjut

Iklan

Domain dalam Teknologi Pendidikan

Domain

Secara etimologis, domain berarti wilayah/ daerah kekuasaan atau bidang kajian/ kegiatan/ garapan yang lebih kecil, terinci dan spesifik dari lahan/ lapangan/ cakupan suatu ilmu. Arti kedua dalam bahasa Indonesia disepadankan dengan kata ranah/ aras. Baca lebih lanjut

Problematika Pilihan Teknologi Pendidikan

Sebagaimana teknologi sendiri, teknologi pendidikan telah berkembang secara menakjubkan dalam dua dasa warsa sejak adanya. Berlawanan dengan kepercayaan umum, teknologi tak selalu bermakna seperti yang dikehendaki para pendidik. Hasil teknologi bahkan membawa hal-hal baru tentang dirinya sendiri. Selain berdampak positif, teknologi seolah-olah juga mampu bermetamorfosa sedemikian rupa sehingga menjadi permasalahan moral tersendiri. Dengan lebih lapang membuka aneka kemungkinan, kita sering harus merefleksikan apakah aneka teknologi pendidikan (atau teknologi di dalam pendidikan) yang kita pilih telah dapat memberikan manfaat seperti yang kita kehendaki atau sadari. Baca lebih lanjut

Metafora Guru

Dalam makalah yang disampaikannya pada pertemuan tahunan American Educational Research Association, Rodney H. Clarken (1997), Director of Field Experiences and Professor School of Education, Northern Michigan University, memberikan lima metafora bagi pendidik, yaitu sebagai: orangtua, petani, nabi, kerang mutiara dan tabib. Sementara itu, Bobbi DePorter et.al. (2000) menambahkan satu metafora: guru sebagai konduktor (dirigen) suatu orkestra.

Metafora guru sebagai orangtua, petani, nabi, kerang mutiara dan tabib, sebagaimana diakui Clarken sendiri, memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Salah satu aspek yang tampak bagi penulis dalam kelima metafora itu adalah otoritas yang masih terlalu besar pada diri guru. Apalagi tak jarang guru harus memerankan kelimanya secara bergantian, sesuai dengan keperluan. Itu mengandaikan kehebatan guru dalam menghayati multiperannya. Baca lebih lanjut

Pendidikan Nilai: Quo Vadis?

MonalisanimaSlamet Iman Santoso ( 1998 ) dalam artikel “Quo Vadis Pendidikan di Indonesia” menyatakan bahwa penyelenggaraan sistem pendidikan banyak disetir oleh potical will. Sistem pendidikan di Indonesia mengacu pada kecenderungan politis. Maka, “ganti pejabat, ganti kebijakan” seolah-olah menggambarkan situasi keajekan dinamika kurikulum di Indonesia dalam arti negatif, yaitu suatu status quo, bahwa perubahan sekian kali terhadap kurikulum dengan segenap aspek bawaannya ternyata tidak pernah secara holistik mengubah sistem pendidikan di negara kita ini untuk menyesuaikan diri sendiri dengan tuntutan perkembangan zaman. Sistem persekolahan dan segenap komponennya tak lebih dari sekadar kendaraan untuk mengangkut kepentingan politik penguasa. Para pengamat dan praktisi pendidikan mengalami bahwa pemerintah terlalu banyak mencampuri dan mengarahkan sistem pendidikan untuk mendukung transmisi sosial membangun kehidupan bersama yang sesuai dengan keinginannya. Bahkan tentang batas nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) pun perlu dikatakan seorang Wakil Presiden guna mengukur kebenaran dan keberhasilan pendidikan nasional melalui sederet angka seragam, untuk semua. Baca lebih lanjut

Penyalahgunaan Zat Psikoaktif

Beberapa Pokok Pikiran tentang Pencegahan Penyalahgunaan Zat Psikoaktif

Oleh: Dr. Limas Sutanto, Sp.K.J.

I

Penggunaan ‘zat psikoaktif’, baik yang berupa obat-obatan maupun zat lain, semisal alkohol, memang bisa membuahkan pengalaman ‘aneh’ yang ‘menggetarkan’ (tremendum) namun sekaligus ‘mengasyikkan’ (fascinans). Baca lebih lanjut

Pendidikan: Membina Kualitas dan Kemandirian

Manusia adalah pelaksana dan tujuan pembangunan. Maka pendidikan berperanan penting dalam upaya menjawab tantangan masa depan. Perkembangan ilmu dan teknologi pun berperanan mengubah isi pendidikan agar sesuai dengan tuntutan zaman (fleksibel) dan tidak lekas usang. Unesco doc ED-80/conf.803/7 menyimpulkan: “We are in danger of sacrificing innovation, creative work, leisure, sport and, in general, training in how to achieve happines and develop well-balanced personality. In the years to come, we must try to determine which components of all this content are useful and provide the best preparation for living in a world characterized by changing techniques and the development of information and communication media. In general, priority should be given to material that will develop the ability to anticipate and innovate-qualities essential both for survival in a world as yet unfamiliar and for making that world a more human place.” Baca lebih lanjut