• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    November 2017
    S S R K J S M
    « Okt    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,964,747 klik
  • Since 2009

    free counters

Rasionalisme, Empirisme, dan Metode Keilmuan

Rasionalisme

Kaum rasionalis mulai dengan suatu pernyataan yang sudah pasti. Aksioma dasar yang digunakan untuk membangun sistem pemikirannya diturunkan dari idea yang jelas, tegas dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran manusia mampu ‘mengetahui’ idea itu, kendati manusia tidak menciptakannya maupun tidak mempelajarinya lewat pengalaman. Idea itu sudah ada sebagai bagian dari kenyataan dasar yang tertangkap oleh pikiran manusia yang menalar. Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus ada – artinya, prinsip harus benar dan nyata. Ketiadaan prinsip itu tidak memungkinkan manusia menggambarkannya sebagai ada. Prinsip itu dianggap sebagai suatu apriori atau pengalaman. Prinsip itu tidak dikembangkan dari pengalaman karena pengalaman hanya dapat dimengerti jika ditinjau dari prinsip itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Pembelajaran Kolaboratif

 

Pembelajaran Kolaboratif versus Kooperatif

Dalam sebuah artikelnya Ted Panitz (1996) menjelaskan bahwa pembelajaran kolaboratif adalah suatu filsafat personal, bukan sekadar teknik pembelajaran di kelas. Menurutnya, kolaborasi adalah filsafat interaksi dan gaya hidup yang menjadikan kerjasama sebagai suatu struktur interaksi yang dirancang sedemikian rupa guna memudahkan usaha kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Pada segala situasi, ketika sejumlah orang berada dalam suatu kelompok, kolaborasi merupakan suatu cara untuk berhubungan dengan saling menghormati dan menghargai kemampuan dan sumbangan setiap anggota kelompok. Di dalamnya terdapat pembagian kewenangan dan penerimaan tanggung jawab di antara para anggota kelompok untuk melaksanakan tindakan kelompok. Pokok pikiran yang mendasari pembelajaran kolaboratif adalah konsensus yang terbina melalui kerjasama di antara anggota kelompok sebagai lawan dari kompetisi yang mengutamakan keunggulan individu. Para praktisi pembelajaran kolaboratif memanfaatkan filsafat ini di kelas, dalam rapat-rapat komite, dalam berbagai komunitas, dalam keluarga dan secara luas sebagai cara hidup dan dalam berhubungan dengan sesama. Baca lebih lanjut

Seandainya Saya Seorang Guru

Seandainya sekarang saya seorang guru di sekolah dan boleh memilih, saya lebih suka mengajar di Play Group atateacheru TK. Tapi karena sudah tak leluasa lagi memanggil anak-anak balita dan baseta “Adik-adik …”, jika mengajar di SD/ SMP/ SMA, saya ingin mengampu Pendidikan Seni atau Bahasa. Mengapa? Saya suka membantu orang lain bahagia, sejahtera. Lebih dari itu, pendidikan seharusnya memang sesuatu yang menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan. Saya sudah mengalami sulitnya menyenangkan, membuat murid asyik dan berpikir cerdas ketika mengajarkan Tata Negara, apalagi PPKn! Padahal, salah satu prasyarat negara demokratis adalah pendidikan kewarganegaraan (Civics Education). Kepada teman-teman muda saya yang sering mengritik “Pak, kita kok belajar teori melulu? Kapan praktiknya? Di sini kita bicara tentang hal-hal ideal, padahal kenyataan dalam masyarakat bangsa dan negara tak seperti itu!” saya sering terpaksa mengulangi sisi excuse akhir bait sebuah lagu nasional: “Itulah Indonesia …” Baca lebih lanjut